HomeFatwa UlamaFatwa Syaikh 'UtsaiminUsaha Mempercantik (Mempertampan) Diri untuk Menghilangkan Rupa yang Buruk Adalah Dibolehkan
usaha mempercantik diri

Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri untuk Menghilangkan Rupa yang Buruk Adalah Dibolehkan

Fatwa Syaikh 'Utsaimin Fatwa Ulama Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri untuk Menghilangkan Rupa yang Buruk Adalah Dibolehkan.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum melakukan berbagai usaha untuk mempercantik (mempertampan) diri? Juga bagaimana hukum mempelajari ilmu mempercantik (mempertampan) diri?

Jawaban:

Usaha mempercantik (mempertampan) diri dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, usaha mempercantik diri dengan tujuan untuk menghilangkan aib yang terjadi karena suatu peristiwa atau karena sebab lainnya. Usaha mempercantik diri dalam kategori ini tidak berdosa, karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengizinkan seorang shahabat yang hidungnya terputus dalam suatu peperangan untuk membuat hidung palsu dari emas.[1]

Kedua, usaha mempercantik diri dengan tujuan menambah kecantikan dan ketampanan dan bukan untuk menghilangkan aib, tetapi semata-mata untuk kecantikan. Usaha mempercantik diri dalam kategori ini hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم melaknat wanita yang memakai dan yang minta dipakaikan rambut palsu dan wanita yang mencukur dan minta dicukurkan bulu alisnya serta wanita yang membuat dan yang dibuatkan tato.[2]

KETAHUI LEBIH LANJUT: Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri; antara Halal dan Haram.

Hal itu disebabkan tujuannya semata-mata untuk mendapatkan kecantikan yang sempurna dan bukan untuk menghilangkan aib. Adapun berkenaan dengan seorang pelajar yang mempelajari ilmu mengenai operasi kecantikan hingga meraih gelar dalam bidang tersebut, maka tidak berdosa baginya mempelajarinya, tetapi ilmunya itu tidak boleh dipergunakan dalam hal-hal yang diharamkan, bahkan dia harus menasihati orang-orang yang meminta operasi kecantikan agar menghindari perbuatan itu, karena termasuk perbuatan yang diharamkan. Barangkali jika nasihat itu datangnya dari lidah seorang dokter niscaya akan lebih didengar oleh orang-orang yang memintanya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Fatawa, 2/833.[3]

Footnote:

[1] Diriwayatkan an-Nasa’I, bab az-Zinah, nomor 5071.

[2] Diriwayatkan Abu Dawud, bab at-Tarajjul, nomor 3639 serta terdapat syahid (hadits pendukung) yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, nomor 5491 dan Muslim, nomor 3960.

[3] Dinukil dari Khalid al-Juraisi, Fatwa-Fatwa Terkini, (Jakarta : Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hlm. 73. – Kitab terjemah dari judul asli: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah Fi al-Masa’il al-’Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer