Termasuk Syirik apabila Beramal Shalih dengan Niat Duniawi

#temanshalih #hijrahyangshahih #teman #sahabat

A post shared by temanshalih.com (@teman_shalih) on

Fiqh Ramadhan – Tanya, “Mengapa Beribadah Wajib Menurut Kepada Ilmu (dalil Kitabullāh & Sunnah/Hadits yang Shâhih)?”:

Jawab: Agar seseorang yang beribadah tidak asal-asalan, tidak berharap kecuali kepada Allāh تبارك وتعال semata dan agar sifat serta cara beribadahnya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allāh عَزَّ وَجَلَّ dan Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم.

‎(الصيام); ash-shiyam; artinya puasa. Makna syar’i-nya yakni; menahan diri (dengan niat ibadah) dari makan, minum, bersetubuh, dan hal-hal lain yang membatalkannya.

Allāh عَزَّ وَجَلَّ berfirman,

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.- Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 183., Kitab suci Al-Qur'an

Seseorang yang bertakwa dengan ia taat beribadah kepada Allāh عَزَّ وَجَلَّ semata, niscaya ia akan terjaga dari berbuat maksiat.

Dari Sahl رضي الله عنه‎‎, dari Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم ia bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di Surga terdapat pintu yang bernama Ar-Rayyan. Darinya orang-orang yang berpuasa akan masuk (Surga) di hari Kiamat, dan tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melalui pintu tersebut. Diserukan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka bangkit dan tidak seorang pun selain mereka yang masuk melalui pintu tersebut. Jika mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak seorang pun selain mereka yang masuk.- Shahih al-Bukhari no. 1896., كتاب الصوم

Apabila puasanya seseorang diterima Allāh عَزَّ وَجَلَّ maka dirinya akan masuk kedalam Al-Jannah (Surga) melalui pintu khusus orang-orang yang berpuasa yakni pintu yang bernama Ar-Rayyan; (الرّيّان).

Abu Abdillah Amir حفظه الله bertutur di dalam majelisnya, “Apabila seseorang (tokoh atau yang ditokohkan atau yang semisal) menyelenggarakan suatu kajian yang mengajak manusia untuk menjadikan suatu ibadah (kemudian ia menyebutkan beberapa contoh) untuk berharap balasan dunia, jauhi, sebab mereka tidak menyeru kepada Tauhid dan Sunnah! Perbuatan itu termasuk kedalam kesyirikan (yakni mengharap balasan dunia, yang tidak ada dalilnya), ini sudah tuntas dibahas di dalam Kitab Tauhid.

Allah عَزَّ وَجَلَّ berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.- Q.S. Huud (Kaum Hud) [11]: 15-16., Kitab suci Al-Qur'an

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shalih yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang dapat merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini dapat menggugurkan amal kebaikan.”

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  1. Kitab suci Al-Qur’an.
  2. Shahih al-Bukhari kitab Shâum.
  3. Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah. 1432 H (2011 M). Kutaib Puasa, Tarawih, I’tikaf, Lailatul Qadr & Zakat Fitrah. Jakarta: Pustaka Ibnu ‘Umar – “Hidup Tentram Bersama Sunnah”.
  4. Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. At-Tafsirul Muyassaru (1437 H. Terjemah Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah. Solo: Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima).

Muraja’ah: Ustadzuna Abu Abdillah Amir حفظه الله.

Ta’lif (Penyusun): al-Akh Hilal Masy. Ramadhan (Abu Shofi as-Salafi).

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

teman shalih

teman shalih

Media online pendidikan aqidah sunnah dan manhaj salaf. Terbit sejak Juni 2016. Semula berkembang di Pontianak, Kaliamantan Barat. Kini telah berpindah home-base ke Bogor, Jawa Barat. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten: Hadits Pendek, Arti Kata, Fatwa Ulama, Murojaah Online, Doa Shahih, Syair Arab, Informasi Akademik & Beasiswa, Kaidah Fiqih.