HomeKabarTashwir dalam Publikasi Digital | Perlindungan Konsumen
tashwir

Tashwir dalam Publikasi Digital | Perlindungan Konsumen

Kabar Perlindungan Konsumen 0 likes 100 views share

Hendaklah seorang muslim/ setiap orang/ badan usaha hukum serta badan usaha non hukum memperhatikan nash-nash berikut, yang berkenaan dengan Tashwir (lukisan atau gambar makhluk hidup bernyawa: manusia dan hewan), tatkala menentukan konten yang dimuat dalam publikasi digital maupun cetak.

Nash Kitabullāh

Allāh عزَ وجل berfirman,

‎إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا

“Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allāh dan Rasul-Nya, Allāh akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan adzab yang menghinakan bagi mereka.” – Q.S. Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) [33]: 57.

Dalam At-Tafsirul Muyassaru mushaf al-Madinah an-Nabawiah dalam menafsirkan ayat ini, ditegaskan bahwa,

“Sungguh, orang-orang yang menyakiti Allāh dengan melakukan kesyirikan atau kemaksiatan lain serta menyakiti Rasulullāh dengan ucapan dan perbuatan, Allāh pasti akan menjauhkan mereka dari setiap kebaikan di dunia dan akhirat serta menyiapkan azab yang menghinakan mereka di akhirat.”

Dalam Hukum Musik & Gambar berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah (Pustaka Ibnu ‘Umar) disebutkan bahwa,

“‘Ikrimah mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang yang menggambar makhluk bernyawa. – Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dalam al-Hilyah.”

Nash Hadits

Dari hadits al-‘Alā bin ‘Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah رضى الله عنه bahwa Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ يَجْمَعُ الله النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَا مَتِ فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَطَّلِعُ عَلَيْهِمْ رَبُّ الْعَلَمِيْنَ وَيَقُوْلُ أَلَا يَتبَعُ كُلُّ إنْسَانٍ مَا كَنُوْا يَعْبُدُوْنَهُ. فَيُمَثَّلُ لِصَاحِبِ الصَّلِيْبِ صَلِيْبُهُ وَلِصَاحِبِ التَّصَاوِيْرِ تَصَا وِيرُهُ وَلِصَاحِبِ النَّارِ نَارُهُ فَيَتْبَعُوْنَ مَا كَنُوْا يَعْبُدُوْنَ

“Allāh mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat di satu tanah datar. Kemudian Allāh Rabb semesta alam menghadap kepada mereka seraya berfirman: ‘Setiap manusia hendaklah mengikuti sesembahan mereka di dunia’. Maka salib dijelmakan untuk para penyembah salib. Gambar pun dijelmakan untuk para penyembah gambar. Dan api pun dijelmakan bagi para penyembah api. Lalu mereka pun mengikuti apa yang mereka sembah.” — at-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih.

Dalam ash-Shahīhaīn (al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, ia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa).” — Hadits Muttafaq ‘Alaih (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما dia berkata: Aku mendengar Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِيْ الدُّنْيَا كُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَا فِخٍ

“Barangsiapa menggambar suatu gambar di dunia, maka (pada hari kiamat) dia akan dibebankan untuk meniupkan ruh kedalam gambar itu, sementara dia tidak akan mampu meniupkannya.” — Hadits Muttafaq ‘Alaih. — Pustaka Ibnu ‘Umar, Hukum Musik & Gambar berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Pustaka Ibnu ‘Umar : 1436 H/ 2015 M), hlm. 23.

Dalam riwayat yang lain,

‎كُلُّ مُصَوِّرٍ فِى النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِيْ جَهَنَّمَ

“Setiap tukang gambar berada di Neraka. Allāh mewujudkan setiap gambar yang digambar oleh si tukang gambar, lalu penampakan gambar-gambar itu menyiksanya di neraka jahannam.” — Pustaka Ibnu ‘Umar, Hukum Musik & Gambar berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Pustaka Ibnu ‘Umar : 1436 H/ 2015 M), hlm. 24.

Sebagaimana juga ditegaskan dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah al-Ifta nomor 18828 bahwa Membuat lukisan dan gambar dalam memberikan pendidikan Agama serta penafsiran Kitabullāh dan Hadits bukanlah metode yang dikehendaki Syara’ (Agama). Begitu juga dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 2 Juni tahun 1988.

Konklusi

Oleh karenanya dapat dimengerti bahwa kaum Muslimin adalah objek dakwah yang dilindungi secara hukum. Maka hendaklah para pembuat konten kreatif (orang/ badan usaha hukum serta badan usaha non hukum) memperhatikan betul asas-asas yang berlaku dalam hukum Islam serta-secara khusus nash-nash yang menunjukkan keharaman Tashwir sebagaimana telah dinukil di atas.

Hal tersebut juga berarti setiap orang yang membuat konten kreatif dituntut untuk memiliki wawasan yang baik atas perundang-undangan nasional, secara khusus Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU PK) pasal 7 huruf b, “memberikan informasi yang benar” serta mengetahui bahwa perbuatan tersebut, Tashwir, adalah perbuatan yang dilarang berdasar Undang-Undang Republik Indomesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 dan 28, “berita bohong dan menyesatkan”.

Sehingga tidak ada lagi alasan ketidaktahuan dan ketidaksengajaan yang dijadikan dalih oleh setiap orang/ badan usaha pembuat konten kreatif tatkala mereka membuat dan-atau menyebarluaskan publikasi yang mengandung konten terlarang yakni Tashwir (lukisan/ gambar makhluk hidup bernyawa: manusia dan hewan).

Catatan Penting

Adapun pelarangan Tashwir disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yakni:

[1] Sebagai bentuk Bara’ah (berlepas diri/ antipati) terhadap kaum kuffar , musyrikin dan ahlu bid’ah dalam menjalani kehidupan Agama dan keduniaan;

[2] Memenuhi asas “laa dharara wa laa dhirara/ menghindari perbuatan yang dapat membahayakan” serta asas “sadd az-zari’ah/ preventif ” dari regresi dan dekonstruksi Tauhid dan Aqidah yang disebabkan oleh Tashwir;

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer