Tajassus (التجسس): Arti, Dasar Hukum, Contoh Kasus

Untuk memudahkan anda dalam membaca artikel tentang arti kata tajassus, gunakanlah panduan daftar isi berikut ini untuk memperoleh konten sesuai dengan kebutuhan anda.

Arti Kata Tajassus

TAJASSUS [1]: (تجسس) artinya adalah mencari-cari kesalahan dan aib orang lain, serta memata-matai apa yang mereka sembunyikan (spionase).[2] Pada asalnya semua bentuk tajassus diharamkan; karena hukum asal seorang muslim adalah bersih dari aib dan perkara tercela.

وعن ابن مسعود رضي الله عنه أنه أتي برجل فقيل له، هذا فلان تقطر لحيته خمرًا، فقال‏:‏ إنَّا قد نهينا عن التجسس، ولكن إن يظهر لنا شئ، نأخذ به‏”‏‏.‏ حديث حسن صحيح رواه أبو داود بإسناد على شرط البخاري ومسلم‏.‏

Seorang pria dibawa ke hadapan Ibnu Mas’ud (radhiyallaahu ‘anhu: semoga Allah meridhainya) karena janggutnya mengeluarkan bau khamr (minuman keras). Ibnu Mas’ud berkata: “Kami telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi apabila jelas bagi kami, kami akan menindaknya.” – Hadits Hasan Shahih riwayat Abu Dawud (Bukhari dan Muslim).

Tajassus yang diperbolehkan untuk mewujudkan maslahat tertentu atau menghindarkan mafsadat (kerusakan). Misalnya spionase terhadap musuh negara Islam, mengantisipasi pencurian dan perampokan, menghindarkan aksi teroris dan membasmi penyakit akhlaq di masyarakat.

Hendaklah mengedepankan asas berparasangka baik (khusnu-zhan) dalam bermuamalah terhadap saudara Muslim, terlebih anggota keluarga. Sementara spionase terhadap musuh kaum muslimin adalah hal yang diperbolehkan.

– TemanShalih.Com – “Hijrah yang Shahih”

Di antara dalilnya adalah hadits berikut,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الأَحْزَابِ ‏”‏ مَنْ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ الزُّبَيْرُ أَنَا‏.‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ مَنْ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ الزُّبَيْرُ أَنَا‏.‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ مَنْ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ الزُّبَيْرُ أَنَا‏.‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَإِنَّ حَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ”‏‏.‏

Terjemah hadits: Saat perang Ahzab, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya, “Siapa yang bisa membawa kabar dari musuh (memata-matai mereka)?” Az-Zubair (bin ‘Awwam) berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapa yang bisa mambawa kabar musuh?” Az-Zubair berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapa yang bisa membawa kabar musuh?” Az-Zubair menjawab, “Saya.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Sungguh setiap nabi punya penolong, dan penolong saya adalah az-Zubair.” – Shahih al-Bukhari nomor 4113 (كتاب المغازى) dan Shahih Muslim nomor 2415.

Berdasar kaidah di atas, maka dapat dijawab beberapa masalah sebagai berikut:

Contoh Kasus Tajassus

Istri Tidak Boleh Memata-matai Suami Hanya Karena Kecurigaan Semata (begitu pula sebaliknya)

Hendaknya prasangka-prasangka buruk dihindarkan dari kehidupan berumah tangga, sebab sebagian prasangka adalah dosa. Jangan sampai kecemburuan menyeret kepada prasangka yang dapat merusak bahtera rumah tangga. Nabi صلى الله عليه وسلم melarang kecurigaan seperti ini, sepertidijelaskan dalam hadits,

عَنْ جَابِرٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ أَهْلَهُ لَيْلاً

Terjemah hadits: Dari Jabir رضى الله عنه, beliau berkata “Nabi صلى الله عليه وسلم melarang pulang menemui keluarga pada malam hari (yakni orang yang pulang dari perjalanan jauh).” – Shahih al-Bukhari nomor 1801.

Dalam lafazh yang lain,

عَنْ جَبِرْ، قَالَ: نهَى رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرَقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّ نُحُمْ، أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَ اتِحِمْ

Terjemah hadits: Dari Jabir beliau berkata, “Rasulullah melarang orang yang pulang dari perjalanan jauh untuk mendatangi keluarganya di malam hari dengan tiba-tiba karena menyangka mereka berkhianat atau untuk mencari (memergoki) kesalahan-kesalahan mereka.” – Muslim nomor 715.

Sebaliknya, saling percaya dan mengedepankan asas prasangka baik (khusnu-zhan). Hal itu membuat hubungan suami istri menjadi harmonis. Lebih baik men-doa-kan pasangan hidup agar dijauhkan dari dosa dan maksiat.

Namun jika tanpa tajassus ada bukti yang jelas dan meyakinkan misal mengenai perselingkuhan, hendaknya menempuh jalan yang disyariatkan berupa nasihat dan ishlah melalui orang yang ditokohkan di keluarga atau pengadilan. Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil maka tidak mengapa apabila ingin tholaq (cerai).

Catatan Penting: (i) Bisa jadi seorang suami itu merasa khawatir berlebihan yang kemudian diikuti dengan prasangka buruk dan mengucapkan tuduhan-tuduhan tidak berdasar keapda istrinya, disebabkan kemaksiatan yang ia perbuat di luar rumah; (ii) Kualitas kehidupan beragama dan keduniaan istri adalah manifestasi tarbiyah (pendidikan) yang diberikan oleh suaminya.

Polisi Boleh Memata-matai

Polisi boleh memata-matai orang yang dicurigai sebagai pelaku kejahatan untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan atau menyelamatkan masyarakat dengan menangkap orang tersebut. Harus didasari dengan alasan yang kuat dan polisi tidak boleh memata-matai rakyat yang tidak bersalah.[4] Ini sesuai dengan asas As-Sadd Az-Zariah.

Tidak Boleh Mencari Aib Orang Lain Pada Barang yang Dimilikinya Seperti Handphone atau Komputer

Namun jika tanpa tajassus didapati file yang tidak dibolehkan syariat ada di dalam HP saudara muslim, atau ada laporan yang datang bahwa seorang muslim menyimpan file dimaksud, hendaknya ia dinasihati agar menumbuhkan perasaan takut kepada Allah تبارك وتعال, menghapusnya dan bersegra taubat.

Ramadhan, Sambut Lailatul Qadar: Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih

Untuk Para Orangtua dan Guru

Jika tanpa tajassus mendapati bahwa anak-anak dan murid-murid mereka menyimpan barang-barang atau file yang diharamkan, hendaknya segera menasihati dan mengarahkan mereka, sebelum kemunkaran dan kemaksiatan itu mendarah daging sehingga semakin sulit untuk diatasi. Sebagian ulama berpendapat, boleh untuk sesekali memeriksa HP atu komputer mereka, dalam rangka mendidik mereka, bukan untuk membongkar aib dan kesalahan mereka. Hal itu sebaiknya dilakukan di depan mereka, tidak secara diam-diam.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

[1] Dinukil dari Soal-Jawab Majalah As-Sunnah Edisi 01/Thn XVIII/Rajab 1345 H/Mei 2014 M. Oleh Ustadz Anas Burhanuddin, MA (dengan penyesuaian tata bahasa);
[2] Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi 16/119;
[4] Lihat: Fatwa Lajnah Daimah nomor 3429. Arab Saudi.

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

2 tanggapan untuk “Tajassus (التجسس): Arti, Dasar Hukum, Contoh Kasus

Komentar ditutup.