Categories
Arti Kata

8 Golongan Penerima Zakat sesuai Al-Qur’an dan Sunnah

8 Golongan Penerima Zakat: Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sudah menentukan golongan-golongan penerima zakat dan tidak diberikan kepada semua orang. Golongan-golongan yang diberi zakat ada delapan.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebut mereka dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mu’allaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allāh dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan ,sebagai kewajiban dari Allāh. Allāh Maha Mengetahui, Maha Bijaksan.” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Dengan demikian, zakat tidak boleh diberikan kepada selain mereka, termasuk untuk membangun masjid, memperbaiki jalan, mengkafani jenazah, atau amal-amal shalih lainnya.

Karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengkhususkan zakat untuk delapan golongan tersebut saja, dengan penegasan: إِنَّمَا “Sesungguhnya (zakat itu hanya untuk…); ungkapan ini menunjukkan pembatasan, yaitu menetapkan yang sudah disebutkan dan menafikan selainnya.

Di dalam distribusi zakat, tidak semua golongan yang berhak harus diberi zakat. Demikianlah sesuai sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Mu’adz:

… Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allāh mewajibkan zakat. Dan zakat tersebut diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu ia didistribusikan kepada orang-orang miskin di antara mereka …” – Muttafaq ‘Alaih: al-Bukhari, nomor 395 dan Muslim, nomor 19.

Inilah perintah Nabi صلى الله عليه وسلم agar zakat itu hanya diberikan kepada satu golongan. Dalil lainnya amat banyak di dalam as-Sunnah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa yang dimaksud pada ayat di atas ialah golongan-golongan yang boleh diberi atau menerima zakat. Jadi, tidak diwajibkan memberi ke semua golongan yang ditetapkan itu.

8 Golongan Penerima Zakat dan Pengertian Setiap Golongannya

Berikut ini adalah daftar 8 golongan penerima zakat yang disertai pengertian secara istilah dan bahasa.

Pertama: Fakir

8 golongan penerima zakat fakir
Ilustrasi orang fakir.

Secara bahasa, seseorang dikatakan fāqir (fakir) jika hartanya sedikit. Bentuk jamaknya adalah fuqarā artinya adalah orang yang membutuhkan. Sedangkan lawan katanya adalah al-ghaniy (orang kaya).

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna varian kata fakir itu dan kata miskin. Ada yang mengatakan; fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa, sedangkan miskin adalah orang yang mempunyai sebagian dari yang dia butuhkan. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i. Akan tetapi ada juga ulama yang berendapat sebaliknya, seperti Abu Hanifah.

Secara istilah, fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta produktif sebesar nishab di luar anggaran kebutuhan pokoknya. Fakir lawan dari kaya, yaitu kondisi orang yang tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkannya. Adapun orang yang tidak memiliki sesuatu yang tidak dibutuhkan, tidak disebut atau bukan orang faqir (fakir).

Makna yang benar untuk istilah fuqara (orang-orang fakir) adalah mereka yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan secara mutlak. Atau hanya memiliki harta yang kurang dari setengah kebutuhannya, dari hasil usaha atau selainnya, yang jelas tidak mencukupinya.

Dapat disimpulkan bahwa orang fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan (usaha yang menghasilkan). Atau seorang yang mempunyai pekerjaan akan tetapi penghasilannya kurang dari setengah dari kebutuhan pokok diri sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Sejatinya orang fakir lebih membutuhkan dibandingkan dengan orang miskin. Karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menepatkan orang fakir sebagai peneria zakat pertama dalam ayat ini. Termasuk kebiasaan orang-orang Arab yaitu mengurutkan sesuatu dari mulai dari yang paling penting dan seterusnya.

Demikian pula dalam firman-Nya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut…” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 79.

Dalam ayat di atas, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan bahwa orang-orang miskin itu memiliki kapal yang digunakan untuk mencari penghasilan (nafkah). Meski begitu, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tetap menyifati mereka sebagai orang miskin. Adapun orang faqir, dia tidak memiliki harta sama sekali.

[line]

Ke-dua: Miskin

8 golongan penerima zakat orang miskin masakin
Ilustrasi orang miskin yang bekerja di laut.

Secara bahasa, bentuk jamaknya adalah masākīn. Diungkapkan: “Sakana al-mutaharriku sukunan”, artinya gerakannya terhenti (diam). Kata sakana menjadi kata kerja transitif (membutuhkan objek) bertanda tasydid.

Dikatakan: Sakkantuhu (aku membuatnya diam). Kata ini berasal dari kata sakana, sebab dia berhenti pada manusia.

Miskin juga dapat berarti orang yang hina dan kalah, meskipun asalnya orang kaya. Sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ

Dan selalu diliputi kesengsaraan.” – Q.S. ‘Ali-‘Imran [3]: 112.

Dan miskīn, makna asalnya adalah ketundukan dan kehinaan.

Ibnul Atsir berkata: “Di dalam hadits sering disebutkan kata miskin, masakin, maskanah dan at-tamaskun. Semuanya berkisar pada makna tunduk, hina, sedikit harta, dan kondisi yang buruk. Istakna artinya dia tunduk; maskanah artinya kefakiran jiwa; dan seseorang dikatakan tamaskana apabila menyerupai masākīn (orang-orang miskin), yang ia bentuk jamak dari kata miskīn, yang artinya tidak memiliki apa-apa atau hanya sebagian harta.”

Secara istilah, masākīn (orang-orang miskin/ kaum miskin) adalah yang memiliki setengah atau lebih dari kebutuhannya, baik hal itu diperoleh dari hasil usaha ataupun dari jalan lain, akan tetapi perolehan itu tidak mencukupi.

Dengan demikian, orang miskin adalah orang yang memiliki harta yang dapat memenuhi setengah kebutuhan dirinya atau lebih akan tetapi tidak mencukupi seluruh kebutuhan pribadi dan orang-orang yang wajib dinafkahi tanpa terlalu berlebihan ataupun sangat hemat. Kondisi ini (miskin) lebih baik daripada orang fakir. Seperti uraian ayat sebelumnya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut…” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 79.

Pengertian fakir dan miskin berlaku apabila disebut bersamaan, yaitu “fakir dan miskin”. Demikian itu sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Sesungguhnya zakat itu hanyalah utuk orang-orang fakir, orang miskin…” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Jika hanya disebutkan salah satunya, maka maknanya saling mencakup. Jika disebutkan fakir, maka orang miskin termasuk di dalamnya. Juga jika disebutkan miskin, maka orang fakir termasuk di dalamnya.

Dengan demikian kalua keduanya digabungkan maka maknanya menjadi terpisah (berbeda), dan kalau dipisahkan maka maknanya menjadi satu. Sama seperti kata “Islam” dan “Iman”.

[line]

Ke-tiga: Amil atau Amil Zakat

[line]

Ke-empat: Mu’allaf

8 golongan penerima zakat muallaf

Selanjutnya adalah muallaf. Apabila dilihat dari perspektif Bahasa, maka jika dikatakan: Aliftusy syai’a atau Aliftu fulanan, maka artinya: Aku merasa akrab dengannya. Dan jika dikatakan: Allaftu bainahum, artinya: Aku menyatukan mereka setelah sebelumnya bercerai-berai.

Adapun jika dikatakan: Allafatuasy syai’a ta’lifan, artinya: Aku menyambung bagian-bagian yang terpisah. Dari kata inilah muncul istilah ta’lif al-kitab (menyusun atau menulis buku). Kata ilf sendiri artinya alif (yang disatukan).

Sedang Ta’allafahu ‘alal Islam (disatukan dalam Islam). Dari kata inilah lahir istilah mu-allafah qulubuhum “mereka yang disatukan/ didekatkan hatinya (kepada Islam).”

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan Nabi صلى الله عليه وسلم supaya mengakrabi mereka, yakni mendekati mereka dan memberi mereka agar orang-orang kafir lainnya tertarik memeluk agama Islam.

Dengan demikian, mu-allafah qulubuhum ialah bentuk jamak dari kata muallaf, dan ia berasal dari kata ta’lif yang berarti menyatukan hati.

Kemudian apabila dilihat dari perspektif istilah maka Mu-allafah qulubuhum; ihwal kata mu-allafah, bentuk tunggalnya yaitu muallaf, yang maknanya adalah: seorang pemuka kaum yang diharapkan memeluk Islam atau dapat menghentikan gangguannya (terhadap kaum muslim).

Atau berarti orang yang baru masuk yang dengan diberikannya (zakat) diharapkan menjadi semakin kuatlah imannya. Atau agar orang yang sepertinya diharapkan masuk Islam juga, atau membantu memungut zakat daru orang yang enggan menunaikan zakat.

[line]

Ke-lima: Hamba Sahaya

hamba sahaya budak

Pengertian hamba sahaya atau riqāb secara Bahasa berarti kata riqāb, bentuk tunggalnya raqabah, yang berarti leher bagian belakang paling bawah.

Bentuk jamaknya ruqub, atau ruqabāt, atau riqāb.

Kata raqabah juga berarti orang yang dimiliki (sahaya atau budak).

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfriman,

وَفِي الرِّقَابِ

…untuk (memerdekakan) hamba sahaya…” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: “untuk (memerdekakan) hamba sahaya”, maksudnya adalah hamba sahaya mukatab. Hamba sahaya mukatab yakni mereka yang memiliki kesepakatan dengan tuannya bahwa dia harus dimerdekakan sesudah melunasi pembayaran kebebasannya.

Para hamba sahaya ini diberikan bagian zakat sekadar yang biasa/ cukup untuk membebaskan perbudakannya dan agar mereka dapat membayarkannya kepada majikan mereka.

Maka makna ayat di atas, zakat juga dapat didistribusikan untuk kepentingan membebaskan hamba sahaya.

Kemudian riqāb secara istilah adalah hamba sahaya muslim yang mukatab, yaitu seorang hamba sahaya yang membeli dirinya sendiri dari majikannya dengan pembayaran cicilan yang dibayar secara berangsur.

Mukatab berasal dari kata kitābah, yang artinya seseorang mempunyai perjanjian tertulis dengan hamba sahayanya bahwa dia akan dimerdekakan setelah melunasi pembayaran sejumlah uang dalam bentuk angsuran.

Jika hamba sahaya itu sudah melunasinya, maka dia menjadi orang merdeka. Disebut kitābat yang merupakan mashdar (bentuk dasar) kataba karena hamba sahaya tersebut menulis harganya kepada majikannya, serta majikannya menulis (yakni berjanji) membebaskannya.

Mereka bekerja demi mendapatkan uang untuk melunasi cicilan tersebut agar dapat merdeka (bebas).

Ini seperti halnya membeli hamba sahaya yang masih dimiliki oleh seseorang untuk dibebaskan, atau tatkala menebus tawanan perang.

Dari sini, jelaslah bahwasanya yang dimaksud dengan “hamba sahaya” ada tiga golongan.

Golongan pertama

Hamba sahaya mukatab muslim, yaitu yang membeli dirinya sendiri dari tuannya dengan pembayaran yang dicicil.

Golongan kedua

Tawanan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

Golongan ketiga

Hamba sahaya yang dia muslim atau beragama Islam sejak lahir (secara umum).

[line]

Ke-enam: Gharim (Orang yang Berutang)

[ads script=”1″ ]

[line]

Ke-tujuh: Fi Sabilillah (Yang Berjuang di Jala Allāh)

[line]

Ke-delapan: Ibnu Sabil

[line]

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

 

 

Categories
Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu

Arti Zakat Secara Bahasa dan Istilah Syar’i

Arti zakat: Mendekati penghujung bulan Ramadhan, kebutuhan kaum muslimin atas pemahaman yang benar mengenai arti zakat menjadi topik utama disetiap kesempatan bermajelis.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya pembicaraan mereka mengenai arti zakat merujuk kepada pemahaman yang benar dan komprehensif sesuai Al-Qur’an dan Sunnah yang dipahami dan diamalkan sesuai pemahaman dan pengamalan para Shahabat رضي الله عنهم .

Berikut ini adalah pengertian zakat secara bahasa dan istilah.

Arti Zakat Secara Bahasa

Dari segi bahasa, kata زَكَاةٌ  “zakah” bermakna kesucian, tumbuh, berkah, dan pujian. Semua makna ini digunakan dalam Al-Qur’an maupun hadits (as-Sunnah).

Makna lain “zakah” adalah tumbuh (berkembang) dan bertambah. Dikatakan: Zaka az-Zar’u, artinya tanaman itu tumbuh dan bertambah tinggi.

Bentuk jamak زَكَاةٌ  “zakah” adalah: زَكَوَات  “zakawat”.

Zakat juga bermakna kebaikan, sebagaimana ayat:

فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

“Kemudian kami menghendaki, sekiranya Rabb mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 81.

Ada yang mengatakan bahwa “zakah” yang dimaksud di sini adalah “kebaikan”, atau maksudnya “amal shalih”.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا

“… Kalau bukan karena karunia Allāh dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya …” – Q.S. An-Nur [24]: 21.

Adapun maksud kata “zaka” (turunan kata “zakah”) adalah: tidak seorang pun di antara kalian yang baik.

Di tempat lain, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ ۗ

“… Tetapi Allāh membersihkan siapa yang Dia kehendaki …” – Q.S. An-Nur [24]: 21.

Maksudnya yakni kata “yuzakki”, yang tidak lain turunan kata “zakah” adalah Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى membersihkan siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.

Harta yang dikeluarkan oleh seorang muslim teruntuk fakir miskin dan golongan yang semisal mereka diistilahkan dengan “zakat”. Ini menurut etimologi; karena harta yang dikeluarkan itu menyucikan harta, mengembangkannya, memperbaikinya, dan menambah atau memperbanyaknya dengan harta pengganti dari-Nya عَزَّ وَجَلَّ.

Zakat mal itu sendiri fungsinya untuk menyucikan harta, sedangkan zakat fitrah untuk menyucikan badan (jiwa).

Zakat (dalam arti penyucian) ada Tiga Macam

Pertama: Zakat (penyucian) Jiwa

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا – فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا – قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan-Nya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” – Q.S. Asy-Syams [91]: 7-9.

Tazkiyatun nafs artinya membersihkan jiwa dari kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, dosa, maksiat, serta akhlaq yang buruk atau tercela.

Kedua: Zakat (penyucian) Badan

Zakat penyucian badan ia berupa zakat fitrah yang dikeluarkan setiap bulan Ramadhan yang diberkahi. Rasulullāh صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh kaum muslimin, anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya (budak).

Fungsinya tidak lain menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia yang keji. Kadarnya satu sha (2,74 liter) makanan, gandum bulat, kurma, gandum lonjong, keju atau kismis.

Ketiga: Zakat (penyucian) Mal (harta)

Yakni zakat mal, dan ia adalah salah satu rukun Islam. Zakat mal ini sandingan (pasangan) shalat. Fungsinya untuk menyucikan harta dan jiwa, serta memberikan keberkahan pada keduanya.

Zakat Bermakna Pujian

Zakat pun bermakna pujian. Dikatakan: Zaka Nafsahu,yang artinya dia memuji diri sendiri, menyebut-nyebut sifat baiknya serta menyanjungnya.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“… Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” – Q.S. An-Najm [53]: 32.

Contoh ungkapan atau perkataan lainnya: Zakka al-Qadhi asyh-Syuhud, yang artinya hakim memuji para saksi, dalam arti memuji mereka dan menyatakan bahwa mereka adil.

Kesimpulan Arti Zakat Secara Bahasa

Makna asal dari kata zakat (زَكَاةٌ) adalah bertambah dan berkembang, Maka, setiap sesuatu yang bertambah dapat disebut zakat.

Di sisi lain, tanaman tidak akan tumbuh kecuali kalau ia bebas dari hama atau penyakit. Karena itum kata “zakah” juga menunjukkan makna kesucian (kebersihan).

Apabila seseorang disifati dengan istilah “zakat” (dalam arti orang baik) maka ketahuilah bahwa sifat itu didapat lantaran ada kebaikan ekstra dalam dirinya. Demikian kata ini, kembali kepada bertambahkan kebaikan individu.

Sehingga dengan kata lain, zakat secara bahasa artinya adalah: berkembang, bertambah, kesucian dan berkah.

Zakat Secara Istilah

arti zakat dan definisi zakat

Arti zakat dalam istilah syariat, atau dari segi istilah, adalah kewajiban dalam harta.

Ada juga yang menerangkan zakat dengan kewajiban dalam harta tertentu yang diberikan bagi orang-orang yang tertentu pada waktu tertentu pula.

Definisi zakat yang lain, mengeluarkan sejumlah harta produktif sesudah mencapai nishab (batasan minimal)-nya guna disalurkan kepada golongan-golongan khusus.

Ada juga yang mengungkapkan zakat sebagai berikut: Sebagian harta ataupun sejenisnya yang dijawibkan syariat untuk disalurkan kepada fakir miskin dan semisal mereka dengan syarat-syarat tertentu.

Ada lagi yang mendefiniskan zakat dengan kewajiban mengeluarkan sebagian harta tertentu yang berhak dimiliki oleh golongan tertentu.

Yang selainnya memaknai zakat ini dengan ungkapan: Sebagian harta yang ditentukan syariat dalam harta tertentu yang disalurkan kepada golongan tertentu.

Ada juga yang menerangkannya dengan aspek ibadah kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan menyisihkan sebagian harta tertentu yang wajib dikeluarkan atas dasar ketentuan syariat untuk disalurkan kepada golongan atau pihak tertentu.

Ada pula yang mendifinisikannya dengan: Kewajiban dalam harta tertentu dengan aturan tertentu dan kewajibannya ditetapkan dengan syarat haul dan nishab.

Yang lainnya mengartikan zakat dengan memberikan sejumlah harta tertentu kepada orang Islam yang memang berhak menerimanya secara syar’i karena Allāh عَزَّ وَجَلَّ, dengan syarat manfat harta itu terputus dari pemiliknya.

Imam asy-Syaukani رحمه الله‎ berkata: “Zakat secara bahasa artinya tumbuh. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan Zaka az-Zar (زَكَى الزَّرْعُ), yang artinya tumbuh (berkembang). Zakat juga dimaknai dengan “penyucian”. Menurut istilah syariat Islam, zakat mengandung kedua makna tersebut.

Tentang makna yang pertama, tinjauannya adalah karena mengeluarkan zakat merupakan sebab berkembang atau bertambahnya harta seseorang. Dalam arti bahwa pahala bertambah banyak dengan sebab mengeluarkannya; atau karena zakat tersebut terikat erat dengan harta produktif (yang dapat bertambah) seperti harta perdagangan dan pertanian.

Sementara itu zakat menurut arti yang kedua, tinjauannya karena zakat menyucikan jiwa dari sifat bakhil yang tercela dan membersihkan dosa-dosa hamba.

Ada juga yang mendefinisikan zakat menurut syariat dengan kewajiban dalam harta tertentu untuk disalurkan kepada golongan tertentu pada waktu tertentu.

Konklusi Definisi Zakat

Adapun definisi zakat yang mencakup semua definisi tersebut yaitu: Beribadah kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan cara mengeluarkan sejumlah harta tertentu menurut syariat, dari harta-harta tertentu, pada waktu tertentu, kepada orang-orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu.

Zakat dalam istilah syariat Islam adakalanya disebut Shadaqah (sedekah), baik dalam Al-Qur’an al-Karim maupun as-Sunnah al-Muthahharah.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.” – Q.S. At-Taubah [9]: 58.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allāh Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” – Q.S. At-Taubah [9]: 103.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pun berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allāh dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allāh. Allāh Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullāh صلى الله عليه وسلم mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, dijelaskan perihal zakat dalam salah satu pesan beliau صلى الله عليه وسلم kepadanya:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“… Ajarkan kepada mereka bahwa Allāh mewajibkan zakat kepada mereka. Zakat itu diambil dari orang-orang kaya antara mereka dan disalurkan kepada orang-orang fakir di antara mereka …” – Muttafaq ‘Alaih: al-Bukhari nomor 1395 (كتاب الزكاة) dan Muslim nomor 19.

Disebutkan dalam hadits Jabir dan Abu Said, dari Nabi: “Tidak ada kewajiban zakat terhadap harta yang jumlahnya kurang dari 5 uqiyah (± 20 dinar/ 200 dirham).” – H.R. al-Bukhari nomor 1405 dan Muslim nomor 980.

Sedekah secara umum berarti memberi sejumlah harta dengan tujuan mengharapkan pahala di sisi Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Allamah ar-Raghiib al-Ashfahani رحمه الله‎ mengemukakan: “Sedekah adalah harta yang dikeluarkan seseorang dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allāh; sama seperti zakat. Akan tetapi, istilah sedekah pada dasarnya digunakan untuk menyebut sedekah sunnah, sedang istilah zakat digunakan untuk sedekah wajib. Dan kewajiban itu terkadang disebut shadaqah (sedekah) apabila pelakunya berusaha jujur dalam melaksanakannya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka lafazh “sedekah” memiliki dua makna:

Pertama: Sedekah dalam arti sedekah Sunnah. Kedua: Sedekah dalam arti sedekah wajib, yaitu yang disebut dengan istilah zakat.

Adapun istilah ‘athiyyah (pemberian), maknanya adalah: Suatu (harta) yang diberikan seseorang kepada orang lain, baik dengan niat mengharap wajah Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, atau agar dicintai oleh orang yang diberinya, atau untuk tujuan yang lainnya. Dengan demikian, ‘athiyyah lebih kuas maknanya deibandingkan dengan zakat, sedekah, hibah, ataupun istilah pemberian lainnya.

Berikut ini hadits pendek tentang berbagi hadiah,

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد).

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer