Categories
Fatwa Syaikh 'Utsaimin Fatwa Ulama Intisari Cahaya Ilmu

Wanita haid Haram berdiam di Masjid

Fatawa – “Wanita dan Haid: Pergi ke Masjid untuk Belajar; Haram”

“Seorang wanita yang haid haram diam di Masjid, hingga dalam tempat shalat ‘Id (hari raya) sekalipun.” ~Syaikh al-‘Utsaimin.”[1]

Sementara ihwal menuntut ilmu Agama/ ilmu Ad-Din, maka seorang wanita yang haid dapat melanjutkan pelajarannya di tempat selain Masjid yakni di rumah; perpustakaan; taman baca dan seterusnya dengan cara mengkaji kitab/ buku-buku pendidikan Islam, walaupun di dalamnya terdapat potongan nash-nash Al-Qur’an tidak mengapa, “sebab buku tersebut bukanlah Kitab Al-Qur’an.”[2]

Sebab menuntut pokok-pokok ilmu Agama wajib hukumnya bagi setiap muslim dengan cara belajar dengan ahlinya yakni Ulama/ para ‘Alim dan Asatidz/ para Ustadz maupun belajar secara otodidak (belajar sendiri), dengan ketentuan jika dirinya tidak memahami apa yang telah dia pelajari hendaklah seseorang itu bertanya kembali kepada ahlinya. Sebab, seseorang tidak boleh berbicara ihwal agama kecuali dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi Wa Sallam.”[3]

Footnote:

[1] Khalid al-Husainan, Fikih Wanita, (Jakarta : Darul Haq, 1435 H/ 2014 M), hlm. 22 – Buku terjemah dari judul asli: “Aktsar Min Alf Jawab li al-Mar’ah.”

[2] Ibid hlm. 18.

[3] Ali Ahmad bin Umar, 11 Renungan Sains, (Gresik : Yayasan Al-Furqon Al-Islami, 1438 H/ 2016 M), hlm. 12.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Fatwa Syaikh 'Utsaimin Fatwa Ulama Intisari Cahaya Ilmu

Hukum Mempercantik (Mempertampan) Diri; antara Halal dan Haram

Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri; Ada yang Halal dan Ada yang Haram

Pertanyaan Hukum Mempercantik Diri:

Bagaimanakah hukum mempercantik diri?

Jawaban:

Usaha mempercantik (mempertampan) diri dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, usaha mempercantik diri dengan tujuan untuk menghilangkan aib yang terjadi karena suatu peristiwa atau karena sebab lainnya. Usaha dalam kategori ini tidak berdosa, karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengizinkan seorang shahabat yang hidungnya terputus dalam suatu peperangan untuk membuat hidung palsu dari emas.[1]

Kedua, usaha mempercantik diri dengan tujuan menambah kecantikan dan ketampanan dan bukan untuk menghilangkan aib, tetapi semata-mata untuk kecantikan. Usaha dalam kategori ini hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم melaknat  wanita yang mencukur dan minta dicukurkan bulu alisnya, wanita yang memakai dan yang minta dipakaikan rambut palsu (wig atau sanggul), serta wanita yang membuat dan yang dibuatkan tato (termasuk di dalamnya membuat serta minta dibuatkan tahi lalat). Karena hal itu semata-mata mempercantik diri sesempurna mungkin, dan bukan dimaksudkan untuk menghilangkan aib.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, kitab ad-Da’wah nomor 5, 2/130-131.[2]

Footnote:

[1] Diriwayatkan an-Nasa’i, bab az-Zinah, nomor 5071.

[2] Khalid al-Juraisi, Fatwa-Fatwa Terkini, (Jakarta : Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hlm. 61. – Kitab terjemah dari judul asli: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah Fi al-Masa’il al-’Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Fatwa Syaikh 'Utsaimin Fatwa Ulama Intisari Cahaya Ilmu

Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri untuk Menghilangkan Rupa yang Buruk Adalah Dibolehkan

Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri untuk Menghilangkan Rupa yang Buruk Adalah Dibolehkan.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum melakukan berbagai usaha untuk mempercantik (mempertampan) diri? Juga bagaimana hukum mempelajari ilmu mempercantik (mempertampan) diri?

Jawaban:

Usaha mempercantik (mempertampan) diri dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, usaha mempercantik diri dengan tujuan untuk menghilangkan aib yang terjadi karena suatu peristiwa atau karena sebab lainnya. Usaha mempercantik diri dalam kategori ini tidak berdosa, karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengizinkan seorang shahabat yang hidungnya terputus dalam suatu peperangan untuk membuat hidung palsu dari emas.[1]

Kedua, usaha mempercantik diri dengan tujuan menambah kecantikan dan ketampanan dan bukan untuk menghilangkan aib, tetapi semata-mata untuk kecantikan. Usaha mempercantik diri dalam kategori ini hukumnya haram dan tidak boleh dilakukan, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم melaknat wanita yang memakai dan yang minta dipakaikan rambut palsu dan wanita yang mencukur dan minta dicukurkan bulu alisnya serta wanita yang membuat dan yang dibuatkan tato.[2]

[line]

KETAHUI LEBIH LANJUT: Usaha Mempercantik (Mempertampan) Diri; antara Halal dan Haram.

[line]

Hal itu disebabkan tujuannya semata-mata untuk mendapatkan kecantikan yang sempurna dan bukan untuk menghilangkan aib. Adapun berkenaan dengan seorang pelajar yang mempelajari ilmu mengenai operasi kecantikan hingga meraih gelar dalam bidang tersebut, maka tidak berdosa baginya mempelajarinya, tetapi ilmunya itu tidak boleh dipergunakan dalam hal-hal yang diharamkan, bahkan dia harus menasihati orang-orang yang meminta operasi kecantikan agar menghindari perbuatan itu, karena termasuk perbuatan yang diharamkan. Barangkali jika nasihat itu datangnya dari lidah seorang dokter niscaya akan lebih didengar oleh orang-orang yang memintanya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Fatawa, 2/833.[3]

Footnote:

[1] Diriwayatkan an-Nasa’I, bab az-Zinah, nomor 5071.

[2] Diriwayatkan Abu Dawud, bab at-Tarajjul, nomor 3639 serta terdapat syahid (hadits pendukung) yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, nomor 5491 dan Muslim, nomor 3960.

[3] Dinukil dari Khalid al-Juraisi, Fatwa-Fatwa Terkini, (Jakarta : Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hlm. 73. – Kitab terjemah dari judul asli: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah Fi al-Masa’il al-’Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer