Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Kaidah dan Syarat-Syarat Jihad

Syarat Jihad: Jihad memiliki kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.[1]

Pembahasan mengenai syarat jihad ini adalah pembahasan yang sangat penting dalam jihad, yaitu mengetahui bahwa jihad disyariatkan dalam Islam dengan kaidah-kaidah dan syarat- syarat jihad yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم juga Atsar dari para Salafush Shalih.

Maka jihad di jalan Allah عزَ وجل tidak sempurna dan tidak menjadi amal shalih yang diterima di sisi Allah عزَ وجل kecuali dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat tersebut, mengikutinya dan mengamalkannya. Di antara kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang paling penting yakni (8 Syarat Jihad):

1. Jihad Harus Dibangun di Atas Dua Syarat yang Merupakan Dasar dari Setiap Amal Shalih yang Diterima, yakni Ikhlas dan Mutaba’ah

Allah عزَ وجل tidak menerima jihadnya seseorang yang berjihad kecuali dia mengikhlaskan niat hanya karena Allah عزَ وجل, dan mengharap keridhaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ. Jika dalam jihadnya dia mengharap untuk kemaslahatan dirinya, atau menginginkan kekuasaan dan semisalnya maka jihad ini tidak diterima oleh Allah عزَ وجل.

Allah عزَ وجل juga tidak menerima jihad seseorang yang berjihad jika dia tidak mengikuti contoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam berjihad. Maka wajib bagi yang ingin berhijad di jalan allah عزَ وجل untuk melihat dan mengikuti Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, juga mengikuti petunjuk beliau dan berjalan di atas manhajnya dalam berjihad dan dalam semua ibadah.

2. Jihad Harus Sesuai dengan Maksud dan Tujuan Jihad

Harus sesuai dengan maksud dan tujuan disyariatkannya jihad, yaitu seorang muslim berjihad agar agama Islam ini tegak dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, seperti dalam hadits, bahwasanya dikatakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم,

“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” – Shahih al-Bukhari nomor 7458 (كتاب التوحيد), Shahih Muslim nomor 1094 (كتاب الإمارة).

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

3. Jihad Harus dengan Ilmu

Jihad tersebut harus ditegakkan dengan ilmu dan pemahaman mengenai agama, karena jihad ini termasuk ibadah yang paling agung dan ketaatan yang paling mulia seperti yang telah disebutkan.

Suatu ibadah tidak benar jika tidak dengan ilmu dan pemahaman tentang agama, karena itulah seorang ulama Salaf berkata,

“Barangsiapa yang menyembah Allah tanpa ilmu maka apa yang dia rusakkan lebih banyak dari apa yang dia perbaiki.”

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله‎‎ berkata,

“Ilmu itu imamnya amal, dan amal mengikutinya.”

Ini jelas, bahwa niat dan amal jika tidak dengan ilmu akan menjadi kebodohan, kesesatan, dan mengikuti hawa nafsu.

Maka wajib bagi orang yang berjihad mengetahui ilmu tentang hakikat dan tujuan dari jihad, macam-macamnya dan tingkatan-tingkatannya, serta wajib juga mengetahui tentang keadaan di mana dirinya berjihad padanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله‎‎ mengatakan,

“Wajib menjadikan tolak ukur dalam perkara-perkara jihad ini kepada ahli agama yang memiliki pengalaman dalam hal dunia, tidak mengambil contoh dari ahlud-dunyaa (yang memiliki pengalaman tentang dunia) yang kebanyakan hanya melihat agama dari zhahirnya saja. Maka pendapat mereka tidak boleh diambil, dan pendapatnya ahli agama yang tidak memiliki pengalaman dalam hal dunia (juga tidak boleh dijadikan tolak ukur).”

Footnote:
[1] Dinukil dari Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله, Jihad dalam Syariat Islam, hal. 129-143.

Categories
Intisari Cahaya Ilmu

Sikap Seorang Muslim terhadap Hari Raya Orang Kafir

Menjelang Hari Raya Kaum Kuffar (Natal); Bagaimana Semestinya Kaum Muslimin di Indonesia Menyikapi Hal Ini?

Hendaknya seorang muslim mengamalkan aqidah al-Wala’ wa al-Bara’ dalam muamalah kesehariannya, baik muamalah dengan antar sesama muslim dan antara muslim dengan kafir. Bagi siapapun yang memiliki akal sehat, dua mata dan dua telinga, akan mudah baginya untuk memiliki pandangan sempurna terhadap hakikat dan peranan agama Islam.

Sesungguhnya orang-orang yang keliru dalam melihat hakikat itu disebabkan kurangnya kepekaan mereka terhadap hakikat aqidah Islam, sebagaimana kurangnya pemahaman mereka terhadap karakter pergolakan dan tabiat Ahlul Kitab.

[line]

[ads script=”1″ ]

[line]

Mereka juga lalai terhadap rambu-rambu Al-Qur’an yang jelas dan gamblang. Mereka mencampurandukkan antara toleransi kepada Ahlul Kitab dalam kehidupan masyarakat Islam di mana mereka tinggal, dengan loyalitas yang harus diberikan hanya kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslimin.

Mereka membuat samar konsep loyalitas (Wala‘) yang menjadi garis pemisah antara kaum Muslimin dengan Ahlul Kitab, dengan mengatasnamakan toleransi antar agama samawi. Sebagaimana mereka salah memahami arti agama, maka mereka juga salah memahami makna toleransi.

Mereka telah lupa terhadap apa yang telah ditegaskan oleh Al-Qur’an, bahwa sebagian Ahlul Kitab adalah penolong bagi yang lain dalam memerangi ummat Islam. Ini merupakan perkara yang baku bagi mereka. Mereka akan selalu memendam kebencian kepada orang Islam karena keislamannya. Dan mereka juga tidak akan rela terhadap orang Islam sampai meninggalkan agamanya dan mengikuti agama mereka.

Kedunguan macam apa dan kelalaian seperti apa, sampai kita menganggap bahwa kita dan Ahlul Kitab memiliki satu jalan yang akan kita tapaki bersama-sama dalam menegakkan agama ini di hadapan orang-orang kafir, atheis, dan kaum musyrikin? Padahal mereka (Kafir Kitabi) bersatu dalam memerangi kaum Muslimin.

Oleh sebab itu hendaklah seorang Muslim berusaha mengikat dirinya dengan ketentuan dan tuntutan syar’i dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal muamalah. Sepatutnya mereka membuktikan loyalitas di antara kaum Muslimin dan menegakkan sikap bara’ah (berlepas diri) terhadap kaum kuffar.

1. Tidak Memenuhi Kebutuhan Hari Raya Mereka

Tidak menjual barang yang dapat dimanfaatkan mereka dalam menyelenggarakan hari raya-nya atau memenuhi kebutuhan hari raya mereka: makanan; pakaian; minyak wangi. Namun hukum asal berniaga dengan mereka adalah dibolehkan selama tidak ada komoditi barang yang haram dan membahayakan kaum muslimin.

2. Tidak Menyerupai Mereka dalam Penampilan

Agama Islam sangat menaruh perhatian besar agar kaum muslimin tidak sekedar berbeda dengan kaum kafir dalam batin mereka saja. Akan tetapi Islam menginginkan perbedaan dalam zhahirnya pula, baik masing-masing individunya, maupun masyarakatnya secara umum. Oleh karena itulah, larangan menyerupai kaum kafir (tasyabbuh) merupakan salah satu perintah Allah ‘Azza Wa Jalla dalam rangka menerapkan aqidah al-Wala’ wa al-Bara’ (Loyalitas terhadap kaum Mukminin dan Permusuhan terhadap kaum Kuffar).

Tasyabbuh secara zhahir dapat membawa seseorang kepada tasyabbuh dalam aqidah, mencintai mereka, mengikuti perjalanan mereka dan bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.

Syaikh ‘Abdullah ath-Thariqi berkata,

Seandainya Islam mengizinkan kaum muslimin untuk meniru musuh-musuhnya sehingga menyerupai mereka, niscaya tanda-tanda Islam dan hukum-hukumnya lenyap dan identitas kaum muslimin akan hancur. Lihatlah fakta yang terjadi dibeberapa negeri kaum muslimin. Cukuplah hati sebagai peringatan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 153.

Di antara dalil yang memerintahkan untuk menyelisihi Ahli Kitab (Kafir Kitabi) dan kaum Musyrikin (Hindu, Budha, Konghucu, dan seterusnya) adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan Raa’inaa, tetapi katakanlah, Unzurnaa, dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir mendapat azab yang pedih.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 104.

Raa’inaa artinya perhatikanlah kami. Tetapi orang-orang Yahudi bersungut (bergumam) mengucapkannya sehingga yang mereka maksud ialah Ru’uunah yang artinya bodoh sekali (dungu), sebagai ejekan kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah sebabnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para Shahabat Rasulullah menukar Raa’inaa dengan Unzurnaa yang sama artinya dengan Raa’inaa.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“‏.‏

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – HaditsHasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Dalam kitabnya, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin bertutur bahwa,

Tasyabbuh dengan orang kafir merupakan kejahiliyahan. Walhasil, jika seseorang menyeru kepada tasyabbuh dengan orang-orang kafir, maka dia dita’zir. …”

3. Tidak Mendahului Mengucapkan Salam

Tidak mengucapkan salam kepada mereka (berlaku disetiap waktu). Namun apabila mereka mendahului mengucapkan salam, maka katakan kepada mereka, “Wa ‘Alaykum”; “Juga kepada kalian.”

Cara menjawab salam orang-orang kafir adalah sebagaimana sabda Nabi ‎صلى الله عليه وسلم,

إِذَ سَلَّمَ عَلَيْكُمْ الْيَهُوْدُ فَإِنَّمَا يَقُوْلُ أَحَدُهُمْ

اَلسَّامُ عَلَيْكُمْ، فَقُلْ وَعَلَيْكُمْ

“Apabila Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka dia hanya mengucapkan: (اَلسَّامُ عَلَيْكُمْ); “As-Samu ‘Alaykum”; “Semoga Kebinasaan atas Kalian.” Maka katakan kepada mereka: (وَعَلَيْكُمْ); “Wa ‘Alaykum”; “Juga Kepada Kalian.” – Abhaatsun fil I’tiqād (61).

4. Tidak Mengagungkan Mereka

Tidak pula mengagungkan serta memanggil mereka dengan “Sayyid”; “Tuan” atau “Maula”; “Yang Terhormat, Yang Mulia.”

5.   Tidak Mengucapkan Selamat Hari Raya

Tidak mengucapkan selamat kepada mereka (“selamat hari raya”, “perayaanmu penuh berkah”) sebagaimana juga tidak dibenarkan mengucapkan selamat kepada orang yang berzinah, pembunuh, ahli maksiat, bid’ah, kesyirikan dan pelaku pemberontakan (demonstrasi; apa pun alasannya).

6. Tidak Memberi Bingkisan Hadiah Kepada Kaum Kuffar

Sesungguhnya mengungkapkan perasaan cinta dan saling memberikan hadiah adalah muamalah yang hanya dilakukan antara kaum Muslimin.

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد)

‎إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ إِيَّاهُ

“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberi tau bahwa dia mencintainya.” – Hadits Hasan (al-Albani): at-Tirmidzi nomor 2392 (كتاب الزهد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم)

7. Toleransi Dilakukan dalam Interaksi Perorangan/ Individu, Bukan dalam Keyakinan dan Sistem Sosial

Berbuat baik (toleransi) terhadap orang kafir dilakukan dalam interaksi personal/ perorangan, bukan dalam keyakinan dan sistem sosial. Berbuat baik secara perorangan misal:

[list icon=”fa-minus”]

  • Memberikan nafkah kepada bapak atau ibu yang kafir meski si anak adalah seorang muslim;
  • Berlaku baik terhadap para tawanan perang/ P.O.W./ Prisoners of War;
  • Berlaku baik terhadap orang-orang yang sudah tua renta dari kalangan mereka, orang-orang sakit, anak-anak, para pendeta yang tinggal di gereja, dan kaum wanita mereka dalam peperangan;
  • Ketika mereka tidak mampu membayar jizyah/ uang keamanan sebagai kompensasi atas perlindungan pemerintah kaum muslimin terhadap darah, harta dan kehormatan, maka jizyah tersebut digugurkan darinya.

[/list]

Sementara itu Berbuat baik terhadap orang kafir tidak berarti mencintai dan menyayangi mereka apalagi memberikan/ mengangkat orang-orang kafir menduduki kursi-kursi kepemimpinan kaum Muslimin yang akan membuka ruang bagi mereka untuk menguasai orang-orang Islam, seperti instansi pemerintahan. Artinya harus dapat membedakan antara berbuat baik dan memanfaatkan orang kafir secara individual untuk suatu urusan, dengan mengangkat orang kafir sebagai pemegang hak otoritas untuk menangani urusan kaum Muslimin.

[line]

[ads script=”1″ ]

[line]

8. Tidak Mempekerjakan Diri Kepada Orang Kafir

Seorang Muslim tidak dibenarkan mempekerjakan diri kepada orang kafir, kecuali terpenuhi:

[list icon=”fa-minus”]

  • Keadaan darurat;
  • Pekerjaannya halal;
  • Tidak dalam rangka membantu untuk membahayakan kaum Muslimin;
  • Tidak ada unsur pengagungan terhadap agama mereka/ simbol-simbol kekafiran;
  • Tidak ada unsur penghinaan dan pelecehan kepada orang Muslim tersebut.

[/list]

9. Tidak Menghancurkan Gereja-Gereja

Tidak menghancurkan tempat ibadah mereka, namun apabila telah hancur maka diharamkan memberikan izin kepada mereka untuk membangun kembali.

10. Haram Membunuh Tiga Jenis Kafir

Menjaga darah mereka (kafir dzimmi, kafir mu’ahad/ diplomat, kafir musta’min), artinya haram membunuh mereka.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

[list icon=”fa-book”]

  • Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani. 1437 H/ 2016 M. Al-Wala’ Wa Al-Bara’; Konsep Loyalitas dan Permusuhan dalam Islam. Jakarta Timur: Ummul Qura. – Buku terjemah dari judul asli: Al-Wala’ Wa Al-Bara’ fi Al-Islam.
  • Maha al-Bunyan Rahimahullah. 1435 H/ 2014 M. Al-Wala’ Wal Bara’; Cinta & Benci Karena Allah عزَ وجل. Pustaka Ibnu ‘Umar. – Buku terjemah dari judul asli: Al-Wala’ Wal Bara’.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1432 H/ 2011 M. Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, (Jakarta Timur : Griya Ilmu, 1438 H/ 2017 M), hal. 268. – Eidisi terjemah Bahasa Indonesia.

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Hadiah Jihad

Download Wallpaper Jihad

Wallpaper Jihad: Seorang muslim hendaknya membangun perasaan semangat untuk turut mengambil bagian dalam Jihad Fii Sabilillaah walaupun dirinya tinggal di suatu negeri yang jauh dari medan pertempuran. Sebab seorang muslim yang hatinya tidak pernah terbersit niat untuk berjihad, dirinya berada dalam ancaman mati dalam keadaan munafiq.

Nabi ﷺ bersabda,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْمٍ الأَنْطَاكِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ وُهَيْبٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ سُمَىٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ ابْنُ سَهْمٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ فَنُرَى أَنَّ ذَلِكَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏

Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan ia tidak pernah ikut berperang, dan tidak terbetik di dalam benaknya (hatinya) untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.” – Hadits Shahih: Riwayat Imam Muslim no. 1910, Imam Abu Dawud no. 2502, Imam an-Nasa-I (VI/8), Imam Ahmad (II/374), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiy-Allaahu-‘Anhu.

Download wallpaper jihad untuk desktop/ PC/ laptop.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer