Categories
Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Pengertian Kafir Dzimmi, Kafir Harbi, Kafir Mu’ahad, Kafir Musta’min

Jenis-jenis Orang Kafir

Kafir Dzimmi, Kafir Harbi, Kafir Mu’ahad dan Kafir Musta’min. Dari ‘Amr bin al-Hamiq رضي الله عنه‎‎, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا اطْمَأَنَّ الرَّجُلُ إِلَ الرَّجُلِ ثُمَّ قَتَلَهُ بَعْدَمَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ نُصِبَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِوَاءُ غَدْرٍ

“Jika seorang (muslim) memberi keamanan kepada seorang (kafir), kemudian dia membunuhnya setelah dia memberikan jaminan keamanan tersebut, maka pada hari kiamat akan dipasangkan tanda pengkhianat pada dirinya.” – Shahih (صحيح): Al-Hakim (IV/353).

Untuk memudahkan anda dalam navigasi di halaman ini, gunakanlah tabel daftar isi untuk menemukan konten yang sesuai dengan minat baca anda di bawah ini:

Empat Kategori Kafir: Harbi, Dzimmi, Mu’ahad dan Musta’min

Di bawah ini terdapat 4 (empat) kelompok orang kafir yang masing-masing dari sifatnya memiliki kekhasan, yang perlu dicatat bahwa tidak semua orang kafir boleh ditumpahkan darahnya (dibunuh).

Apa perbedaan antara Kafir Harbi, Kafir Dzimmi, Kafir Mu’ahad dan Kafir Musta’min?

Ada 4 (empat) kelompok kafir, 1 (Satu) di antaranya wajib dibunuh/ diperangi  yakni:

Kafir adzDzimmi/ Kafir Kitabi

Kafir Dzimmi yakni orang kafir yang tinggal di Negeri Muslim, memiliki perjanjian (damai) dengan kaum Muslimin, membayar pajak (jizyah/ uang keamanan/ upeti sebagai kompensasi pemerintah Islam terhadap harta dan darahnya/ jiwanya. Ketika mereka tidak mampu membayar jizyah, maka jizyah tersebut dapat digugurkan darinya) kepada pemerintah Islam dan ditegakkan kepada mereka hukum-hukum Islam.

Kafir alMu’ahad

Kafir Mu’ahad yakni orang yang memiliki perjanjian (terikat perjanjian damai, perjanjian dagang atau selainnya) dengan kaum Muslimin yang berada atau bertugas di negeri kaum Muslimin tidak boleh disakiti, selama mereka menjalankan kewajiban dan perjanjiannya.

Kafir alMusta’min

Kafir Musta’min yakni orang yang datang dari Negara kafir, baik utusan, pedagang, atau selainnya yang memiliki jaminan keamanan dari Penguasa/ Umara’ atau seorang Muslim.

Kafir Harbi

Kafir Harbi yakni orang kafir yang memerangi kaum Muslimin dan halal darahnya untuk ditumpahkan (dibunuh/ diperangi). Mereka adalah orang kafir yang tidak memiliki jaminan keamanan dari kaum muslimin atau pemimpinnya, tidak dalam perjanjian damai, dan tidak membayar jizyah kepada kaum muslimin sebagai jaminan keamanan mereka, merekalah yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk diperangi (lihat Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 190-191).

Kaifiah Berdamai dengan Kaum Kuffar (Orang-orang Kafir)

Sementara itu diperbolehkan untuk mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang kafir apabila Umara‘/ Penguasa dan-atau Pemerintah melihat adanya kemaslahatan bagi masyarakat kaum Muslimin, dan telah diteliti kemaslahatan tersebut oleh Umara’.

Allah جل جلاله berfirman,

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah.” – Q.S. Al-Anfaal (Harta Rampasan Perang) [8]: 61.

Berdamai secara mutlak atau sementara waktu?

Sementara itu perjanjian dengan kaum kafir tidak bersifat mutlak, yakni tidak selama-lamanya atau perjanjian tersebut bersifat sementara atau terikat oleh waktu tertentu.

Maraji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab Suci Al-Qur’an.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani Rahimahullaah. Bulugh al-Maraam.
  • Syaikh Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani Rahimahullaah. Subul As-Salam Syarh Bulugh Al-Maram.
  • Maha al-Bunyan Rahimahullah. 1435 H. Al-Wala’ Wal Bara’. Pustaka Ibnu ‘Umar
  • Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani. 1437 H. Al-Wala’ Wa Al-Bara’ fi Al-Islam. Jakarta Timur: Ummul Qura. (Al-Wala’ Wa Al-Bara’; Konsep Loyalitas dan Permusuhan dalam Islam).
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1432 H. Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • Abu Ibrahim Muhammad Ali A.M. Majalah Al-Furqon: Indahnya Hukum Qishash. Gresik: Lajnah Dakwah Ma’had al-Furqon al-Islami.

Download Wallpaper Jihadi:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Apa yang dimaksud dengan Mujahid dan Apa perbedaan antara Mujahid dengan Teroris?

Memahami Arti Mujahid (مجاهد)

Allah عزَ وجل berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.- Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 73

Tafsirnya,

Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dengan pedang serta melawan orang-orang munafik dengan lisan dan hujjah, serta bersikap keraslah terhadap kedua kelompok ini. Tempat tinggal mereka adalah Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali.- Tafsir Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 73, Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah (At-Tafsirul Muyassaru)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda pada saat Haji Wada’,

Maukah kalian aku beritahukan tentang orang Mukmin? Yaitu yang mengamankan harta-harta dan jiwa-jiwa manusia, seorang Muslim yaitu yang manusia selamat dari gangguan lisannya dan tangannya, seorang Mujahid yaitu yang berjihad dalam ketaatan kepada Allah, dan seorang Muhaajir yaitu yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa.- Hadits Shahih: Riwayat Ahmad (VI/21-22), ‘Abdullah Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd no. 775, al-Hakim (I/10-11), Ibnu Hibban no. 4862 At-Ta’liiqatul Hisaan, Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Ta’zhiim Qadrish Shalaah no. 641, dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 14, dari Fadhalah bin ‘Ubaid Radhiy-Allaahu-‘Anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 549

Islam Mengajarkan Jihad

Wajib diperhatikan bahwa Islam mengajarkan Jihad. Dalam Syari’at Islam, Jihad sama sekali tidak sama dengan terorisme, itu berarti Para Mujahid tidak sama dengan teroris. Islam berlepas diri dari terorisme dan pelakunya. Terorisme bukan dari ajaran Islam.

Derajat Seorang Mujahid

Seorang Mujahid berada pada tingkatan yang tinggi, mafhumah ada beberapa tingkatan seorang Muslim, yakni:

  • Disebut seorang Muslim apabila jika orang-orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya;
  • Disebut orang Mukmin ialah jika manusia aman darinya, yaitu darah dan hartanya;
  • Disebut al-Muhaajir ialah orang yang menjauhi (meninggalkan) keburukan;
  • Disebut Mujahid ialah seseorang yang mengorbankan dirinya karena Allah ‘Azza Wa Jalla (yang Maha Perkasa Lagi Maha Mulia).

Jihad adalah Kemuliaan

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia tidak pernah ikut berperang, dan tidak terbetik di dalam benaknya (hatinya) untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.- Hadits Shahih: Riwayat Muslim no. 1910, Abu Dawud no. 2502, an-Nasa’i (VI/8), Ahmad (II/374), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiy-Allaahu-’Anhu

Jihad adalah kemuliaan, bagian dari Islam Rahmatan Lil Alamin (Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam; alam malaikat, manusia, jin & hewan), tujuan utama jihad bukanlah peperangan semata melainkan tegakknya kalimat tauhid diseluruh penjuru dunia dan menyelamatkan manusia dari penyesalan akhirat (dimasukkan dan kekal di neraka sebab mati dalam keadaan kafir). Dalam Islam, Jihad adalah amalan yang utama. Jihad adalah tonggak terciptanya keadilan dan kejayaan Islam dan kaum Muslimin di muka bumi. Dengan jihad, dunia akan damai dan makmur. Dan dengan Jihad, Islam akan Berjaya, dan Ummat Islam akan berwibawa.

Apabila Kaum Muslimin dalam Keadaan Lemah

Sementara itu perlu diketahui bagi sebagian kaum muslimin yang berada dalam kondisi yang lemah (apabila dilihat dari sisi [1] Aqidah/ keyakinan dalam beragama dan [2] fisik) pada suatu negeri dan suatu waktu, maka wajib bagi mereka mengamalkan dalil-dalil mengenai keutamaan Bersabar dan Memaafkan orang.

Hakikat Sabar

Sabar bukan berarti tidak berbuat apa-apa atau tidak berjihad (Jihad dalam makna umum; yakni selain berperang dengan senjata). Ummat Islam wajib melaksanakan ajaran Islam yang mereka mampu melaksanakannya, meyakini, dan mengamalkan Rukun Iman, Rukun Islam, dan amal-amal shalih lainnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ (sesuai Sunnah). Karena amalan tersebut wajib dilaksanakan selamanya dan secara terus-menerus atau secara istiqamah.

Amal Shalih Setara Dengan Jihad

Agama Islam mengajarkan kepada kaum Muslimin agar melaksanakan Amal-amal Shalih yang setara dengan Jihad, yakni:

  • Birrul Walidain (Berbakti kepada kedua orang tua).
  • Bekerja mencari rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri, keluarga, dan kedua orang tua.
  • Menuntut Ilmu Syar’i atau Mengajarkannya di Masjid Nabawi.
  • Menunaikan ibadah Haji dan Umrah.
  • Menunggu Shalat  seusai mengerjakan Shalat.
  • Menjadi petugas Amil Zakat.
  • Membantu para janda dan orang-orang miskin.
  • Istiqamah di atas Sunnah pada zaman fitnah ketika Islam dianggap asing oleh umumnya manusia.
  • Menyiapkan bekal bagi Mujahid dan mengurusi keluarganya.
  • Mendakwahi orang musyrik dan memberantas kesyirikan.
  • Berdakwah kepada penguasa (umara) dan-atau pemerintah yang zhalim (yang tugas ini dilakukan oleh para ‘Alim (Ulama)).
  • Beramal shalih di 10 (sepuluh) hari pertama bulan Dzul Hijjah.
  • Berdzikir kepada Allah Ta’ala.
  • Bersungguh-sungguh berdo’a meminta Syahid.

Apabila Kaum Muslimin dalam Keadaan Kuat

Sedangkan Jihad (makna khusus; yakni berperang dengan senjata) dilaksanakan pada waktu kaum Muslimin kuat, baik secara Iman maupun fisik. Dapat juga dikatakan Jihad fii Sabiilillaah (dalam arti khusus yakni berperang dengan senjata) dilakukan sesuai dengan keadaan kaum muslimin, sedang lemah atau kuat, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, karena keadaan itu berubah-ubah sesuai waktu dan tempat.

Orang yang berjihad di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ‏

Sungguh keluar (Jihad) di jalan Allah di pagi hari atau pulang darinya lebih baik daripada dunia dan seisinya.- Hadits Shahih: Riwayat Al-Bukhari no. 2792 dan Muslim no. 1880, dari Shahabat Anas bin Malik Radhiy-Allaahu-'Anhu. Diriwayatkan juga oleh beberapa Shahabat.

Mati Syahid

Orang yang mati syahid mempunyai enam keutamaan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ ‏

Orang yang mati syahid di sisi Allah mendapat enam keutamaan: [1] Diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, [2] Dapat melihat tempatnya di Surga, [3] Akan dilindungi dari adzab kubur, [4] Diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, [5] Diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, dan [6] Dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya.- Hadits Shahih: Riwayat At-Tirmidzi no. 1663, Ibnu Majah no. 2799, dan Ahmad (IV/131) dari Miqdam bin Ma'di Kariba Radhiy-Allaahu-'Anhu.

Isitsyahd (Mencari Syahid) Tidak Sama Dengan Bom Bunuh Diri

Istisyhad atau Mencari Syahid adalah cerminan sikap dan kekuatan hati seorang yang beriman (Mukmin), akan tetapi amaliah Istisyhad tidak sama dengan bom bunuh diri. Oleh sebab itu dalam kitabnya, Jihad Dalam Syariat Islam, Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله mengungkap hal ini pada bab ke-15, dengan tajuk, “Bom Bunuh Diri Bukan Jihad”.

Dia menuturkan bahwa,  “Ada sebagian orang yang tidak memiliki pemahaman tentang jihad, mereka melakukan bom bunuh diri di tengah-tengah tempat berkumpulnya orang kafir, maka terbunuhlah lima orang dari kaum kafir tersebut. Kemudian mereka (yakni orang-orang kafir) dan terbunuhlah lima puluh orang dari kaum muslimin. Jadi hasilnya yang terbunuh lima orang dari mereka dan lima puluh orang dari kaum muslimin. Maka apakah ini kerugian atau keuntungan?”

Sudah barang tentu seseorang yang akal dan fitrahnya sehat dapat dengan mudah mengeluarkan jawaban, rugi atau untung? Sehingga seseorang yang melakukan amaliah bunuh diri, tidak dapat dikatakan sebagai mujahid.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِيْ الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan diadzab dengannya pada hari Kiamat (dengan cara seperti itu pula).” – Shahih: al-Bukhari nomor 1363, Muslim nomor 110 & 176, dari Tsabit bin ad-Dhahhak رضى الله عنه. Ini lafazh Muslim.

Tidak Boleh Bunuh Diri Dengan Cara Apapun

Dalam hadits ini, Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa orang yang bunuh diri dengan sesuatu, lafazh (بِشَيْءٍ); “dengan sesuatu,” bersifat umum. Yakni, orang yang bunuh diri dengan apa saja; apakah dengan pisau, pedang, tombak, tambang, pistol, bom, bahan peledak, dan lainnya, atau dengan sengaja menabrakkan mobil atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, atau lainnya, maka orang tersebut tempatnya di Neraka. Wal ‘Iyadzu Billaah (Kami berlindung kepada Allah ‘Azza Wa Jalla).

Oleh sebab itu hendaklah para pemuda muslim yang jiwanya merindukan mati syahid dengan segala pahalanya memenuhi diri dengan ilmu Agama yang shahih terlebih dahulu, sebagai dasar untuknya beramal agar tidak terjerumus kedalam amaliah yang sesat dan menyesatkan, yang tidak bersumber dari Islam dan tidak akan pernah menjadi bagian dari ajran Islam yang murni. Dengan dasar ilmu yang benar, dan dipahami dengan sifat dan cara (Manhaj) yang benar maka bukan tidak mungkin dirinya benar-benar memperoleh kesempatan untuk menjadi seorang Mujahid yang berhak atas mati syahid.

[ads script=”1″ ]

[line]

Download “Jihadi” Wallpaper

[download id=”3493″]

Maraji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. At-Tafsirul Muyassaru (1437 H. Terjemah Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah. Solo: Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima.)
  • Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah. 1409 H. Kitabul Iman. Beirut: Dar Ihya’ Al-Ilmu. (1433 H. Al-Iman. Bekasi: Darul Falah.)
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah. 1432 H. Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullah. 1435 H. Rahmatan Lil Alamin. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  • Syaikh Mustafa Al-Adawi. 1433 H. Al-Bayan fi Ma’ani Kalimat Al-Qur’an. Mesir: Maktabah Makkah. (1437 H. Al-Bayan; Kamus Kosakata Al-Qur’an. Solo: Zamzam.)
  • Abdul Halim bin Muhammad Nashshar as-Salafi. 1427 H. Shifatul Jannah fil Qur-aanil Kariim. Madinah Munawwarah: Maktabah al-‘Uluum wal Hikam. (1432 H. Pesona Surga. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer


Categories
Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Ribath: Arti dan Pengertian Ribath

Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Maha Agung) berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Rabb-nya mendapat rizki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. – Q.S. Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) [3]: 169-171.

Tafsir Ayat

Dalam kitab At-Tafsirul Muyassaru (at-Tafsir al-Muyassar) disebutkan, dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, bahwa:

“… Mereka itu hidup dalam bentuk kehidupan barzakh di sisi Rabb mereka, karena mereka telah berjihad karena-Nya serta mati di jalan-Nya. Mereka terus mendapatkan rizki di surga dan terus mendapatkan kenikmatan.

Kebahagiaan telah melimpah kepada mereka ketika Allah memberikan anugerah kepada mereka. Allah memberikan kepada mereka kenikmatan dan keridhaan yang membuat hati mereka senang. Ini adalah karena agungnya kedermawanan dan luasnya kemurahan Allah. Mereka merasa senang dengan saudara-saudara mereka para mujahid lainnya yang mereka tinggalkan dan masih hidup, agar mereka juga meraih keberuntungan sebagaimana yang telah mereka raih. Itu karena mereka tahu bahwa mereka (yang ditinggalkan itu) akan memperoleh kebaikan seperti yang telah mereka peroleh jika mereka mati syahid di jalan Allah dalam keadaan ikhlas karenaa-Nya. Demikian juga tidak ada kekhawatiran atas mereka berkenaan dengan apa yang akan mereka hadapi berupa urusan-urusan akhirat serta tidak bersedih hati atas apa yang luput dari mereka dari jatah keduniaan.

Mereka dalam keadaan sangat gembira disebabkan oleh anugerah yang telah diberikan kepada mereka, berupa nikmat-nikmat dan karunia Allah yang melimpah. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman kepada-Nya tetapi justru akan mengembangkan dan menambahnya dari karunia-Nya.”

Ahlu Ribath (رِبَاطُ)

Dari Shahabat Salman al-Farisi Radhiy-Allaahu-‘Anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

Orang yang menjaga di tapal batas sehari semalam lebih baik dari puasa dan shalat malam selama sebulan. Dan jika ia mati, maka mengalirlah (pahala) amal yang biasa ia kerjakan, diberikan rizkinya, dan dia dilindungi dari adzab (siksa) kubur dan fitnahnya.” ~Hadits Shahih: Riwayat Muslim no. 1913 kitab Al-Imarat.

Ribath sama juga dengan ats-Tsaghar, yakni orang yang menjaga di tapat batas antara kaum Muslimin dengan kaum kuffar (orang-orang kafir). Ahlur-Ribath atau Ahluts-Tsughur adalah orang yang menjaga kaum Muslimin dari serangan musuh.

Download Wallpaper Mujahid

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1432 H. Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • At-Tafsir Al-Muyassar Mushaf Al-Madinah (Kitab Tafsir Muyassar versi terjemah Bahasa Indonesia).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer