Categories
Daftar Hadits Hadits Pendek Shahih Intisari Cahaya Ilmu Nasihat

Kumpulan Hadits Pendek dan Mudah Dihapal #Shahih

Kumpulan hadits pendek shahih Bukhari dan Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Untuk memudahkan anda dalam membaca konten artikel tentang hadits, klik pada daftar isi berikut ini:

Hadits

Hadits (bahasa arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, cerita). Sementara itu menurut ahli hadits yakni segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم atau segala berita yang bersumber dari Nabi صلى الله عليه وسلم berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguhan kebenaran dengan alasan), maupun deskripsi sifat-sifat Nabi صلى الله عليه وسلم. Kemudian menurut ahli Ushul Fiqih, hadis berarti perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersangkut paut dengan hukum.

Istilah lain untuk sebutan hadits adalah sunnah, khabar, dan atsar. Menurut sebagian ulama, cakupan sunnah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, dan baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu titik berat penekanan sunnah adalah kebiasaan normatif Nabi صلى الله عليه وسلم.

Khabar yang berarti berita atau warta, selain dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dapat juga kepada para Shahabat رضي الله عنهم dan Tabi’in. Dengan demikian, khabar lebih umum dari hadits karena termasuk di dalamnya semua riwayat yang bukan dari Nabi صلى الله عليه وسلم.

Atsar berarti juga nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan para Shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, meskipun kadang-kadang dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم disebut doa ma’tsur. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata “tradisi” juga dipakai sebagai padanan kata hadits.

Perbedaan pengertian yang diberikan tentang hadits dan tentang pengertian kata yang semaksud dengannya (sunnah, khabar, dan atsar) disebabkan adanya perbedaan sudut pandang para ulama dalam melihat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan peri kehidupannya.

Ulama hadits melihat Nabi صلى الله عليه وسلم sebagai pribadi panutan umat manusia. Ulama ushul fiqih melihatnya sebagai pengatur undang-undang dan pencipta dasar-dasar untuk ber-ijtihad. Fuqaha (ahli fiqh) melihatnya sebagai pribadi yang seluruh perbuatan dan perkataannya menunjuk pada hukum islam (syara’).

Perbedaan sudut pandang tersebut membawa pengertian hadits pada perbedaan pengertian, baik yang memberi penekanan yang amat terbatas dan tertentu, maupun yang memahaminya dengan cakupan yang lebih luas asal saja itu dinukilkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم.

Istilah hadits juga dikenal dalam teologi Islam. Dalam bidang ini kata hadits (jamaknya hawadits) digunakan untuk pengertian suatu wujud yang sebelumnya tidak ada atau sesuatu yang tidak azali (lawannya adalah qadim). Misalnya, dikatakan bahwa eksistensi alam ini hadits. Maksudnya, alam ini pernah tidak ada, lalu menjadi ada karena diciptakan Tuhan.

Jenis Hadits Berdasar Sumbernya

Dilihat dari segi sumbernya, hadits dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu hadits qudsi dan hadits nabawi (Nabi). Hadits qudsi juga disebut dengan istilah hadits Ilahi atau hadits Rabbani, adalah suatu hadits yang berisi firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang disampaikan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Dengan kata lain, hadits qudsi ialah hadits yang maknanya berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sedangkan lafazh-nya berasal dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dengan demikian, hadits qudsi berbeda dengan hadits nabawi (Nabi), yaitu hadits yang lafazh dan maknanya berasal dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sendiri.

Hadits qudsi berbeda dengan Al-Qur’an. Perbedaannya antara lain:

  1. Lafazh dan makna Al-Qur’an berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sedangkan hadits qudsi hanya maknanya yang berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى;
  2. Al-Qur’an mengandung mukjizat;
  3. Membaca Al-Qur’an termasuk perbuatan ibadah, sedangkan membaca hadits qudsi tidak termasuk ibadah;
  4. Al-Qur’an tidak boleh dibaca atau bahkan disentuh oleh orang-orang yang berhadats, sedangkan hadits qudsi boleh dipegang dan dibaca juga oleh orang-orang yang punya hadats;
  5. Periwayatan Al-Qur’an tidak boleh hanya dengan maknanya saja, sedangkan hadits qudsi boleh diriwayatkan hanya dengan maknanya;
  6. Al-Qur’an harus dibaca diwaktu shalat, sedangkan hadits qudsi tidak harus dan bahkan tidak boelh dibaca diwaktu shalat;
  7. Semua ayat Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawwatir, sedeangkan tidak semua hadits qudsi diriwayatkan secara mutawwatir, tetapi lafazh (kata-kata)-nya dan maknanya (Al-Qur’an) berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Hadits qudsi bukan merupakan suatu kelompok tersendiri dalam buku-buku hadits, akan tetapi merupakan beberapa himpunan yang disusun dari al-Kutub as-Sittah (Kitab Enam) dan selainnya. Himpunan yang lebih luas adalah al-Idafat at-Taniyyah fi al-Ahaadits al-Qudsiyyah (Sandaran Kedua dalam Hadits-hadits Qudsi), yang dibuat oleh Muhammad al-Madani (w. 881 H/1476 M) dan diterbitkan di Hyderabad pada tahun 1905. Kitab ini memuat 858 hadits yang dibagi pada tiga kelompok, yaitu:

  1. Yang dimulai dengan kata qaala (berkata);
  2. Yang dimulai dengan kata yaquulu (berkata); dan
  3. Yang disusun menurut abjad.

Himpunan ini tidak menjelaskan isnad/ sanad (kesinambungan antara dua rawi hadits) meskipun menyebutkan dari mana setiap hadits yang dimuatnya.

Sebuah himpunan lain yang memuat 101 hadits qudsi adalah Misykat al-Anwar (Pengatur Cahaya) karya Ibnu Arabi, yang diterbitkan di Aleppo (1927) bersama himpunan yang memuat 40 hadits yang disusun oleh Mullah Ali al-Qari (w. 1605). Himpunan karya Ibnu Arabi tersebut diperinci kedalam tiga bagian, dua bagian masing-masing berisi 40 hadits dan satu bagian berisi 21 hadits.

Himpunan ini juga memuat isnad di bagian pertama, terkadang di bagian ke-dua, dan biasanya juga dibagian ke-tiga. Sedangkan himpunan karya Ali al-Qari hanya menyebut sahabat yang dikenal mendengar hadtis dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Sebuah himpunan hadits Qudsi lainnya yang tidak diterbitkan adalah karya Muhammad bin Tajuddin al-Munawi (w. 1621).

Ada ulama yang menjelaskan bahwa hadits qudsi adalah segala hadits yang berpautan dengan zat Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan sifat-sifat-Nya. Contoh hadits qudsi adalah sebagai berikut:

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman: Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku dan Aku bersemayam di mana saja dia menyebut (mengingat)-Ku.” – H.R. Bukhari dari Abu Hurairah رضي الله عنه

Dibandingkan dengan hadits qudsi, hadits Nabawi jauh lebih banyak jumlahnya. Hadits nabawi juga memiliki kedudukan yang penting dalam Islam meskipun nilainya tidak setinggi hadits qudsi.

Unsur-Unsur Hadits

Suatu hadits mengandung 3 (tiga) unsur, yakni: rawi (yang meriwayatkan), sanad (sandaran), dan matan (teks hadits).

Rawi (jamaknya ruwat) ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam satu kitab yang pernah didengarnya atau diterima dari seseorang (gurunya). Menyampaikan hadits disebut merawikan hadits.

Seringkali sebuah hadits diriwayatkan oleh bukan hanya satu rawi, akan tetapi oleh banyak rawi. Untuk itu biasanya para penyusun kitab hadits tidak menyebutkan nama-nama rawi seluruhnya, melainkan hanya merumuskan dengan bilangan rawi pada akhir matan hadits dengan ungkapan akhrajahuu atau rawaahu… (diriwayatkan). Misalnya:

  1. Akhrajahuu as-Sab’ah, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh tujuh orang rawi, yaitu Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah;
  2. Akhrajahuu as-Sittah, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh enam rawi, yaitu tujuh orang di atas dikurangi Ahmad;
  3. Akhrajahuu al-Khamsah, maksudnya hadits tersebut diriwayatkanb oleh lima orang rawi, yakni tujuh orang di atas dikurangi Bukhari dan Muslim;
  4. Akhrajahuu al-Arba’ah, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh empat rawi, yaitu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah;
  5. Akhrajahuu as-Salaasah, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh tiga orang rawi yakni, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i;
  6. Akhrajahuu asy-Syaikhaan, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh kedua imam hadits, yakni Bukhari dan Muslim. Untuk ini juga dipakai istilah Muttafaq ‘Alaih;
  7. Akhrajahuu al-Jamaa’ah, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh rawi yang banyak sekali jumlahnya;
  8. Rawaahuu Ashaab as-Sunan, maksudnya hadits tersebut diriwayatkan oleh pemilik kitab-kitab Sunan, yaitu Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i.

Sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadits atau rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadits. Dalam hubungan ini dikenal istilah musnid, musnad, dan isnaad. Musnid adalah orang yang menerangkan hadits dengan menyebutkan sanadnya. Musnad adalah hadits yang seluruh sanadnya disebutkan sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم (pengertian ini berbeda dengan kitab Musnad). Sedangkan isnad adalah keterangan atau penjelasan mengenai sanad hadits atau keterangan mengenai jalan sandaran suatu hadits.

Selain itu juga terdapat istilah Sighat al-Isnaad atau Sighat at-Tahammul, yaitu lafazh yang terdapat dalam sanad yang digunakan oleh rawi yang menunjukkan tingkat penerimaan dan penyampaian hadits dari rawi tersebut.

Ada 8 (delapan) sighat isnaad dan yang disebutkan lebih dulu lebih tinggi tingkatannya dari yang disebut kemudian, yaitu:

  1. as-simaa’ min lafz asy-syaikh (mendengar dari lafaz syaikh), contohnya: sami’tu (aku mendengar);
  2. qiraa’at ‘ala asy-syaikh (membaca tulisan syaikh), contohnya: qara’tu ‘alaa (aku membaca);
  3. al-ijaazat, contohnya: ajaztu laka Sahiih al-Bukhaarii (aku bolehkan/ izinkan untukmu kitab Shahih al-Bukhari);
  4. al-munaawalah, contohnya: “hadits ini saya terima dari si fulan, maka riwayatkanlah atas namaku”;
  5. al-mukaatabah (tulisan), contohnya: “si fulan telah menceritakan padaku secara tertulis”;
  6. al-i’laam (pemberitahuan), contohnya: “Saya telah meriwayatkan hadits ini dari si Fulan, maka riwayatkanlah daripadaku”;
  7. al-wasiyat, yakni guru mewasiatkan suatu hadits menjelang dia pergi jauh atau merasa ajalnya sudah dekat; dan
  8. al-wijaadah, yakni rawi memperoleh hadits yang ditulis oleh seorang guru, tetapi tidak dengan jalan simaa’ii atau ijaazah, bauik semasa atau tidak, baik berjumpa atau tidak. Siigat isnaad itu dalam kitab-kitab hadits biasa disingkat penulisannya.

Matan adalah materi atau teks hadits, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir, yang terletak setelah sanad terakhir. Matan dikatakan juga sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang dinyatakan setelah menyebutkan sanad.

Terdapat banyak riwayat yang melukiskan betapa besar minat para Shahabat رضي الله عنهم dalam menghadiri majelis (pengajian) Nabi صلى الله عليه وسلم. Hal itu tercermin, misalnya pada kesepakatan antara Umar bin Khattab رضي الله عنه  dan Ibnu Zaid, tetangganya, untuk saling bergantian hadir dalam majelis Nabi صلى الله عليه وسلم  tersebut.

Namun karena terkadang ada faktor yang menyebabkan di antara mereka tidak dapat hadir dan perbedaan tingkat kemampuan mereka dalam menangkap dan memahami ucapan, perbuatan, dan takrir Nabi صلى الله عليه وسلم, para Shahabat رضي الله عنهم kemudian menggunakan beragam cara dalam menyampaikan hadits.

Karena itu, terdapat beberapa matan hadits, yakni:

  1. yang lafazh atau setiap katanya persis sama dengan lafazh pada matan hadits yang lain;
  2. yang antara satu matan hadits dan lainnya hanya terdapat persamaan makna, isi atau tema, sedangkan lafazhnya berbeda; dan
  3. yang antara satu matan hadits dan lainnya saling bertentangan (berbeda), baik lafazh maupun maknanya.

Keadaan ini lah antara lain yang menjadi objek penelitian para ahli guna memperoleh hadits yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan untuk dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. 1993. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.

Pembagian dan Macam-Macam Hadits

Para ulama hadits meninjau hadits dari 2 (dua) aspek, yakni aspek jumlah rawi dan dari nilai sanad.

Hadits dari aspek Jumlah Rawi

Dari aspek jumlah rawi, ada dua bentuk pembagian hadits. Bentuk pertama terbagi atas hadits mutawwatir dan ahad. Bentuk ke-dua terbagi atas mutawwatir, masyhur, dan ahad. Pembagian yang praktis adalah bentuk yang pertama karena pada dasarnya hadits masyhur tercakup dalam hadits ahad, yang terbagi atas masyhur, ‘aziz, dan gharib.

Pengertian Hadits Mutawwatir

Hadits mutawwatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang pada setiap tingkat sanadnya, yang menurut tradisi mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dan karena itu diyakini kebenarannya. Hadits mutawwatir benar-benar bersumber dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Hadits mutawwatir sama dengan Al-Qur’an dalam hal keotentikannya, karena keduanya qat’ii al wuruud (sesuatu yang pasti datangnya).

Para ulama sepakat bahwa hadits mutawwatir wajib diamalkan dalam seluruh aspek, termasuk dalam bidang Aqidah (aqidah yang shahih/ keyakinan yang benar di dalam beragama, contoh: meyakini bahwa Allah  عَزَّ وَجَلَّ berada di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, Allah عَزَّ وَجَلَّ memiliki wajah dan tangan akan tetapi tidak sama dengan wajah dan tangan ciptaan-Nya, meyakini bahwa orangtua Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di neraka, dan seterusnya).

Pengertian Hadits Ahad, Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib

Ada pun hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi (mencapai) syarat-syarat mutawwatir. Sedangkan hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, tetapi belum mencapai derajat mutawwatir. Hadits ‘aziiz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi pada satu tabaqat-nya, sekalipun setelah itu diriwayatkan pula oleh sejumlah rawi. Hadits gharib adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat hanya satu orang rawi, di mana pun sanad itu terjadi.

Para ulama bersepakat bahwa kedudukan hadits mutawwatir adalah sumber hukum ke-dua sesudah Al-Qur’an. Tentang kedudukan hadits ahad, menurut Abu Hanifah (Imam Hanafi), kalau rawinya orang-orang adil, dapat dijadikan hujjah hanya pada bidang amaliah, bukan pada bidang aqidah dan ilmiah. Menurut Imam Malik, hadits ahad dapat digunakan untuk menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an dan harus didahulukan dari qiyas zanni (tidak pasti). Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i, hadits ahad berfungsi sebagai hujjah apa bila rawinya memiliki empat syarat, yakni berakal, dabit (memiliki ingatan dan hapalan yang sempurna serta mampu menyampaikan hapalan itu kapan saja dikehendaki), mendengar langsung dari Nabi صلى الله عليه وسلم, dan tidak menyalahi pendapat para ulama hadits.

Hadits dari aspek Nilai Sanad

Hadits ada 3 (tiga) macam, yaitu shahih, hasan, dha’if, dan ma’udhu.

Pengertian Hadits Shahih

Hadits shahih adalah hadits yang memenuhi persyaratan: (1) sanadnya bersambung; (2) diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlaq baik, tidak fasik, terjaga mur’ah (kehormatan dirinya), dan dabit; (3) matannya tidak syazz (tidak mengandung kejanggalan-kejangalan) serta tidak ber-‘illat (sebab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits).

Hadits yang memiliki syarat tersebut juga disebut shahih li zatih. Akan tetapi, apabila kurang salah satu syarat tersebut, namun dapat ditutupi dengan sesuatu cara lain, ia dinamakan shahih li ghairih.

Pengertian Hadits Hasan

Hadits hasan adalah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matannya tidak syazz dan ber-‘illat. Hadits hasan dengan syarat-syarat demikian juga disebut hasan li zatih. Akan tetapi, bila dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal/diketahui, namun dia bukan orang yang terlalu banyak membuat kesalahan, dinamakan hasan li ghairih.

Pengertian Hadits Dha’if

Ada pun hadits dha’if (lemah) ialah hadits yang tidak memenuhi syarat shahih dan hasan. Pembagian hadits dhaif tidak sesederhana pembagian hadits shahih atau hadits hasan, karena kemungkinan kekurangan persyaratan shahih dan hasan itu sangat bervariasi. Oleh karena itu, Ibnu Hibban (ahli hadits, w. 342 H) menyebutkan bahwa hadits dhaif ada 49 macam. Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadits, hal tersebut dapat menggambarkan banyaknya hadits dha’if.

Dari segi keterputusan sanad, hadits dhaif ada beberapa macam, yaitu (1) hadits mursal, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in langsung dari Nabi صلى الله عليه وسلم; (2) hadits munqati, yaitu hadits yang salah seorang rawinya gugur tidak pada shahabat, tetapi bisa terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir; (3) hadits al-mu’dal, yaitu hadits yang dua orang rawinya atau lebih hilang secara berurutan dalam rangkaian sanad; (4) hadits mudallas, yaitu hadits yang rawinya meriwayatkan hadits tersebut dari orang yang sezaman dengannya, tetapi tidak menerimanya secara langsung dari orang tersebut; dan (5) hadits mu’allal, yaitu hadits yang kelihatannya selamat, akan tetapi sebenarnya memiliki cacat yang tersembunyi, baik pada sanad maupun matannya.

Dari segli lain, hadits dhaif terbagi atas enam macam. (1) hadits mudtarib, yaitu hadits yang kemampuan ingatan dan pemahaman periwayatnya kurang; (2) hadits maqlub, yaitu hadits yang terjadi pembalikan di dalamnya, baik pada sanad, nama periwayat, maupun matannya; (3) hadits muda’af, yaitu hadits yang diperselisihkan oleh para ulama mengenai lemah atau kuatnya sanad atau matannya; (4) Hadits syazz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah (kredibel), tetapi riwayatnya ini menyalahi riwayat orang banyak yang tsiqah pula; (5) hadits munkar, yakni hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang lemah dan berbeda pula riwayatnya dengan riwayat yang tsiqah; (6) hadits matruk, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang suka berdusta, nyata kefasikannya, pelupa atau ragu dalam periwayatan.

Pengertian Hadits Maudhu

Hadits maudhu adalah hadits palsu, ialah sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم , tetapi sesungguhnya itu bukan merupakan perbuatan, perkataan, atau takrir Nabi صلى الله عليه وسلم.

Meskipun ada yang berpendapat bahwa hadits maudhu sudah ada sejak masa Nabi صلى الله عليه وسلم, namun jumhur ulama (mayoritas) ahli hadits berpendapat bahwa hadits maudhu mulai terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, baik karena ketegasan dan kehati-hatian periwayatan hadits di masa kekhalifahan sebelumnya maupun situasi politik di masa Ali. Di mana perbenturan berbagai kepentingan semakin meningkat.

Ciri-ciri Hadits Maudhu

Di antara ciri-ciri hadits maudhu adalah:

  1. Matan hadits tidak sesuai dengan fasaahah (kefasihan bahasa, kebaikan, kelayakan, dan kesopanan) bahasa Nabi صلى الله عليه وسلم;
  2. Bertentangan dengan Al-Qur’an, akal sehat, dan kenyataan;
  3. Rawinya dikenal sebagai pendusta (al-Kadzdzab);
  4. Pengakuan sendiri dari pembuat hadits palsu tersebut;
  5. Ada petunjuk bahwa di antara perawinya ada pendusta;
  6. Rawi menyangkal bahwa dia pernah memberikan riwayat kepada orang yang membuat hadits palsu tersebut.

Hadits dari Aspek Rawi

Dilihat dari segi rawi, peringkat pertama adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Peringkat ke-dua adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari saja. Peringkat ke-tiga adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Muslim saja. Peringkat ke-empat adalah yang diriwayatkan oleh ulama lain yang memiliki persyaratan yang sama dengan persyaratan Bukhari dan Muslim. Peringkat ke-lima adalah yang diriwayatkan ulama lain yang sama persyaratannya dengan persyaratan Bukhari saja. Sedangkan peringkat ke-enam adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ulama lain yang persyaratannya sama dengan persyaratan muslim saja.

Setelah mengetahui pengertian hadits, pembagian dan unsur-unsur hadits. Keutamaan bagi para pemuda dan kaum Muslimin untuk mengikuti sunnah Rasulullāh صلى الله عليه وسلم, menghapalkan hadits-hadits yang mudah. Sebab hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an dan merupakan sumber utama setelah Al-Qur’an sebagai dasar hukum syari’at.

Sementara itu hadits pendek juga dapat dijadikan tulisan yang bernilai amal shalih, misal ditulis pada bagian kata pengantar suatu laporan karya tulis ilmiah, hasil penelitian, naskah skripsi hingga tesis.

Hadits Pendek (Lafazh yang Singkat) serta Mudah Dihapal

1. Hadits Pendek tentang Berlepas Diri dari Kaum Kuffar

Hadits Pendek tentang Berlepas Diri dari Kaum Kuffar
Hadits Pendek tentang Berlepas Diri dari Kaum Kuffar (orang-orang kafir).

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

2. Hadits Pendek tentang Berbagi Hadiah

Hadits Berbagi Hadiah
Gambar hadits berbagi hadiah.

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد)

3. Hadits Pendek tentang Pemahaman Agama

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allāh, maka Allāh akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama. …” – Shahih Muslim nomor 1037 (كتاب الزكاة)

4. Hadits tentang Mengikuti Sunnah Rasulullah

Hadits mengikuti sunnah
Gambar hadits mengikuti sunnah.

‎ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْحِ أَمرُنَا فَحُوَ رَدُّ

Dari ‘Aisyah (رضي الله عنها) berkata: “Rasulullāh (‎صلى الله عليه وسلم) bersabda: ‘Barangsiapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami maka amal perbuatan itu tertolak!’.” – Shahih Muslim nomor 1718 (كتاب الأقضية), al-Qowa’id al-Fiqhiyyah. II/26.

5. Hadits Pendek Larangan Menggambar Makhluk Hidup Bernyawa

Hadits menggambar dengan derajat Muttafaq 'Alaih
Gambar hadits menggambar dengan derajat Muttafaq ‘Alaih.

Dalam ash-Shahiihaiin (al-Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, dia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa). – Hadits Muttafaq ‘Alaih: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Sunan an-Nasa’i nomor 5357, 5364, Sahih al-Bukhari nomor 5950, 6109, Shahih Muslim nomor 2107.

6. Hadits Pendek Menyatakan Cinta

‎إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ إِيَّاهُ

Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberi tau bahwa dia mencintainya. – Hadits Hasan (al-Albani): at-Tirmidzi nomor 2392 (كتاب الزهد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم)

7. Hadits Pendek Niat Beramal

Dari ‘Umar bin Al-Khaththab, aku mendengar Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan  yang dia niatkan.  – Hadits Shahih (al-Albani): Shahih Bukhari nonor 1, 6689, 6953, Shahih Muslim nomor 1907, Sunan Abi Dawud nomor 2201, Sunan an-Nasa’i nomor 3794.

8. Hadits Pendek Menuntut Ilmu

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. – Shahih: Ibnu Majah no. 224 (كتاب المقدمة), dari Shahabat Anas bin Malik رضى الله عنه.

9. Hadits Pendek Perintah Istiqamah

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ فَاسْتَقِمْ

Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqamahlah (berpegang teguh kepada ketaatan). – Shahih Muslim nomor 38.

10. Hadits Pendek Apabila Merasa Ragu

Hadits Pendek tentang Perasaan Ragu
Poster digital hadits pendek tentang perasaan ragu.

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ

“Tinggalkan apa yang engkau ragukan dan kerjakan apa yang engkau tidak ragu.” – Hadits Shaih (Darussalam): Sunan an-Nasa’i nomor 5711, an-Nawawi, Jami at-Tirmidzi nomor 2518 dengan lafazh (دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ); “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu, Karena sesungguhnya Kebenaran adalah Ketentraman dan Dusta adalah Keraguan.” Dari al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib.

11. Hadits Pendek Menunjukkan Kebaikan

Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan
Poster hadits pendek tentang menunjuki kepada kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” – Shahih Muslim nomor 1893 (كتاب الإمارة).

12. Hadits Pendek Menyampaikan Dalil

Dari Abdullah bin ‘Amr Al-‘Ash رضى الله عنه: Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” – Sahih al-Bukhari nomor 3461

13. Hadits Pendek Berpegang Kepada Sunnah

‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ 

“Hendaklah kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat bimbingan (Petunjuk).” – Hasan (Darussalam):  Sunan Ibnu Majah nomor 42 (كتاب المقدمة).

14. Hadits Pendek Berbuat Dosa Terang-terangan

Hadits Pendek tentang Berbuat Dosa
Poster hadits pendek tentang berbuat dosa secara terang-terangan.

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ

“Setiap umatku dosanya akan dimaafkan kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. …” – Shahih al-Bukhari nomor 6069 (كتاب الأدب), Shahih Muslim nomor 2990 (كتاب الزهد والرقائق) dengan lafazh (كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ).

15. Hadits Pendek Menuntut Ilmu Agama

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allāh mudahkan jalannya menuju Surga. …” — Sahih (Darussalam): Jami` at-Tirmidzi nomor 2646 (كتاب العلم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), dari Shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه‎‎.

16. Hadits Pendek tentang Menuntut Ilmu Agama (2)

‎مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allāh memudahkan untuknya jalan menuju Surga.” – Sahih (Darussalam): Jami` at-Tirmidzi 2646 (كتاب العلم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), lihat juga Sunan Abi Dawud nomor 3641, 3643 (كتاب العلم).

17. Hadits Berkata Baik atau Diam

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” — H.R. Bukhari, Muslim.

18. Hadits Pendek tentang Berkata Baik adalah Sedekah

Rasulullāh (‎صلى الله عليه وسلم) bersabda,

‎الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“… Perkataan yang baik adalah sedekah …” — Shahih Bukhari nomor 2989 (كتاب الجهاد والسير)

19. Hadits Pendek mengenai Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” — H.R. At-Tirmidzi.

20. Hadits Pendek Larangan Jangan Marah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah ‎رضي الله عنه‎‎ bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ‎صلى الله عليه وسلم : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi  ‎صلى الله عليه وسلم bersabda: “La Tagh-Dhob; Jangan marah!” — H.R. Bukhari.

21. Hadits Mengenai Berbuat Baik

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sampai ia suka sekali berbuat yang baik kepada saudaranya, sebagaimana dia suka diperlakukan baik pula oleh saudaranya.” — H.R. Bukhari, Muslim.

22. Hadits Mengenai Larangan Bunuh Diri

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِيْ الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan diadzab dengannya pada hari Kiamat (dengan cara seperti itu pula). — Shahih: al-Bukhari nomor 1363, Muslim nomor 110 & 176, dari Tsabit bin ad-Dhahhak رضى الله عنه. Ini lafazh Muslim.

23. Hadits Pendek Setiap Orang adalah Pemimpin

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian bertanggung jawab atas yang ia pimpin … seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarganya … Ketahuilah setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang ia pimpin. – Shahih Muslim, nomor 1829 (كتاب الإمارة).

24. Hadits Pendek Memilih Teman

Dari Abu Hurairah رضى الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman. — Hasan (Al-Albani): Abu Dawud nomor 4833 (كتاب الأدب).

25. Hadits Pendek Memilih Sahabat

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

اَلْمَرْءُ عَلَىٰ دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung dari Agama sahabat karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat karib. — Hasan: Abu Dawud no. 4833, at-Tirmidzi no. 2378.

26. Hadits Mengenai Mati Dalam Kemunafikan

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan ia tidak pernah ikut berperang, dan tidak terbetik di dalam benaknya (hatinya) untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan. — Shahih: Muslim no. 1910, Abu Dawud no. 2502, an-Nasa’i (VI/8), Ahmad (II/374), dari Shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه‎‎.

27. Hadits Mengenai Pahala Mati Syahid

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

Orang yang mati syahid di sisi Allāh mendapat enam keutamaan: (1) Diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, (2) Dapat melihat tempatnya di Surga, (3) Akan dilindungi dari adzab kubur, (4) Diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, (5) Diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, dan (6) Dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya. — Hasan: Ibnu Majah no. 2799 (كتاب الجهاد) dari Miqdam bin Ma’di Kariba رضي الله عنه‎‎.

28. Hadits Pendek Berharap

إِنَّ لَكَ مَا احْتَسَبْتَ

“Sungguh bagimu apa yang engkau harapkan.” — Shahih: Muslim no. 663.

29. Hadits Pendek Kriteria Perempuan Idaman

Hadits Pendek tentang Perempuan Idaman
Hadits pendek tentang perempuan idaman sesuai kehendak syara’.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: (1) karena hartanya, (2) karena keturunannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena Agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama, niscaya kamu beruntung.” — Sahih al-Bukhari no. 5090 dari Shahabat Abu Hurairah (كتاب النكاح).

30. Hadits Pendek Mengenai Mengikat Ilmu dengan Menulis

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ

“Kalian ikatlah ilmu dengan menulisnya.” — Diriwayatkan oleh ad-Darimi, nomor 497

31. Hadits tentang Mengingat Kematian

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

(أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ (يَعْنِيْ الْمَوْتُ

“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).” Hasan Shahih: H.R. Ahmad (II/ 293), At-Tirmidzi nomor 2307, dan Ibnu Majah no 4258, An-Nasa’i (IV/ 301), dari Shahabat Abu Hurairah رضى الله عنه (dinukil dari buku Waktumu Dihabiskan untuk Apa, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

32. Hadits tentang Nikmat Sehat dan Waktu Luang

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, yang manusia banyak tertipu dengannya: yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” – Shahih: H.R. Al-Bukhari nomor 6412, at-Tirmidzi nomor 2304, Ibnu Majah nomor 4170, Ahmad (I/ 258, 344), ad-Darimi (II/ 297), al-Hakim (IV/ 306), dan lainnya, dari Shahabat Ibnu ‘Abbas رضى الله عنهما

33. Hadits tentang Mendekati Penguasa

مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتَتَنَ

“Barangsiapa yang mendekati atau masuk kepada penguasa, maka dia terfitnah.” Hasan: H.R. Ahmad (II/ 371) dan at-Tirmidzi nomor 2256, dari Shahabat Abu Hurairah رضى الله عنه. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah nomor 1272.

34. Hadits mengenai perintah bersiwak

Berikut ini adalah hadits yang menunjukkan ihwal perintah bersiwak:

أَكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ فِي الـسِّوّاكِ

“Aku telah meminta kalian untuk memperbanyak bersiwak.” – Shahih: Al-Bukhari nomor 888, kitab Al-Jum’ah.

35. Hadits Larangan Tasyabbuh

hadits larangan tasyabbuh
Hadits larangan tasyabbuh.

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa tasyabbuh (menyerupai suatu kaum), maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Hadits Hadits Pendek Shahih Intisari Cahaya Ilmu

Hadits Berbagi Hadiah

Hadits Berbagi Hadiah: Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam telah memerintahkan kaum muslimin untuk saling berbagi hadiah. Hikmah dari amal shalih ini adalah ukhuwah Islamiyah (hubungan di antara kaum muslimin) dapat menguat dan terjaga.

Sebagaimana sabda beliau Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam,

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

Transliterasi hadits:

Tahadu – Tahabbu!

Terjemah hadits:

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد)

Waktu yang tepat untuk berbagi hadiah

Setelah mengetahui hadits berbagi hadiah perlu dicatat bahwa di dalam Islam, tidak ada waktu khusus untuk berbagi hadiah. Akan tetapi, seorang muslim dapat memberikan hadiah kepada saudara muslimnya yang lain diberbagai waktu dan kesempatan. Misal:

  1. Saat menghadiri undangan walimah;
  2. Saat bertamu ke rumah saudara muslim;
  3. Saat bersilaturahim ke rumah saudara kandung;
  4. Ketika meminta maaf atas suatu kesalahan;
  5. Memberi hadiah dalam rangka apresiasi terhadap suatu prestasi;
  6. Memberi hadiah ketika nazhor dalam rangka taaruf;
  7. Memberi hadiah kepada istri/ suami setelah akad nikah;
  8. dan seterusnya masih banyak sekali.

Tidak dibenarkan memberi hadiah dalam rangka perayaan hari lahir (ulang tahun). Sebab perayaan hari lahir seseorang merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) sifat dan cara hidupnya kaum kuffar.

Hadits larangan tasyabbuh
Hadits larangan tasyabbuh (menyerupai kaum kuffar).

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa tasyabbuh (menyerupai suatu kaum), maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Hadiah yang haram (dilarang)

Meskipun telah diketahui hadits berbagi hadiah tetap saja tidak boleh memberi hadiah suatu benda, yang benda tersebut dapat membahayakan orang lain. Dalam kalimat lain dapat dikatakan bahwa dilarang memberikan hadiah apabila dapat digunakan untuk menimbulkan bahaya.

Atau benda-benda yang sudah jelas keharamannya, seperti: khamr (minuman keras), rokok, sarana maisir (judi), senjata api, dan yang semisal dengan itu.

Atau benda-benda yang menjijikan/ buruk (al-Khoba’its). Khaba’its; Khoba’its; (الْخَبَائِثَ), adalah hal-hal yang buruk yakni segala sesuatu yang buruk yang dilarang dalam syari’at.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Hadits Hadits Pendek Shahih

Hadits Pendek Sampaikan Walau Satu Ayat

Dari Abdullah bin ‘Amr Al-‘Ash رضى الله عنه: Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Transliterasi hadits:

BALLIGHU ANNI WALAW AAYAT

Terjemah hadits:

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” – Sahihal-Bukhari nomor 3461.

Makna hadits:

Seseorang itu harus dapat menjamin bahwa dalil yang dia sampaikan adalah benar-benar dari Rasulullāh صلى الله عليه وسلم (hadits shahih). Bukan hadits dha’if (hadits lemah) dan hadits maudhu (hadits palsu).

Poster Hadits Pendek Sampaikan Walau Satu Ayat

hadits sampaikan walau satu ayat
Hadits menyampaikan dalil walau satu ayat.

 

 

 

[line]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer