Categories
Do'a Ash-Shahihah Intisari Cahaya Ilmu

Doa Hujan yang Shahih (Arab, Latin, dan Terjemah)

Waktu turun hujan adalah salah satu waktu mustajab di mana suatu doa itu dikabulkan. Oleh sebab itu maka sepatutnya orang-orang muslim memanjatkan doa hujan. Sebab turun hujan merupakan rahmat dari Allah ‘Azza Wa Jalla.

Di bawah ini adalah 5 (lima) doa (dan dzikir setelah hujan) yang sepatutnya saudara ketahui ketika hujan. Disamping itu saudara juga dapat menyimpan doa-doa dan dzikir ketika hujan dalam bentuk poster digital (*.jpg).

Untuk memudahka anda dalam membaca, gunakanlah panduan daftar isi berikut ini:

Doa Hujan (Arab, Latin, dan Terjemah)

اَللّٰهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Transliterasi Lafazh Do’a:

Allahumma Shayyiban Naafi’an

Terjemah Do’a:

“Ya Allāh, turunkan hujan yang bermanfaat (untuk makhluk hidup: manusia, tumbuhan dan binatang).”[1]

Doa hujan dalam bentuk poster digital

doa hujan
Poster doa. | Transliterasi: Allaahumma Shayyiban Naafi’an.

Doa Angin Bertiup Kencang serta Lafazh Arab dan Artinya 

اَللّٰهُمَّ إِنِّـيْ أَسْــأَلُكَ خَيْرَهَــا وَأَعُوْذُبِكَ مِنْشَرِّهَــا

Transliterasi Lafazh Do’a:

Allahumma Innii, Asaluka Khayrahaa, wa A’udzubika Minsyarriha.

Terjemah Do’a:

“Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, serta aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”[2]

Doa angin kencang dalam bentuk poster digital

Poster doa angin kencang.
Poster doa angin kencang. | Transliterasi: Allaahumma Innii As-aluka Khayraha Wa A’udzubika Min Syarriha.

Dzikir Ketika Mendengar Petir serta Lafazh Arab dan Artinya

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَا ئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

Transliterasi Lafazh Do’a:

Subhanalladazi Yusabbihurra’du Bihamdihi wal Malaaikatu Min Khiyfatihi.

Terjemah Do’a:

“Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memuji-Nya, seperti halnya para Malaikat, karena takut kepada-Nya.”[3]

Dzikir ketika mendengar petir dalam bentuk poster digital

dzikir ketika halilintar shahih
Poster dzikir ketika halilintar. | Transliterasi: Subhanalladzi Yusabbihur-Ra’du Bihamdihi Wal Malaaikatu min Khifatihi.

Doa agar Hujan Berhenti atau Hujan Dialihkan ke Tempat Lain 

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ ‏

Transliterasi Lafazh Do’a:

Allaahumma Hawalaynaa, Wa Laa ‘Alaynallahumma ‘Ala Akaami, Wa Dzirrabi Wa Buthuuni Awdiyati Wamanaabitisy-syajari.

Terjemah Do’a:

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan yang untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, sebagian anak bukit, perut lembah, dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”[4]

Doa agar hujan berhenti dalam bentuk poster digital

Poster doa agar hujan berhenti. | Transliterasi: Allaahumma Hawaalayna Walaa ‘Alayna, Allaahumma ‘Alaa Aakami Wadz-Dzhirabi Wa Buthuni, Awdiyati Wamanaabitisy-Syajari.

Dzikir Setelah Hujan serta Lafazh Arab dan Artinya

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

Transliterasi Lafazh Dzikir:

Muthirnaa Bifadhlillaahi Wa Rahmatihi.

Terjemah Lafazh:

“Kita diberi hujan (dari langit) karena karunia dan rahmat Allāh.”[5]

Dzikir setelah hujan dalam bentuk poster digital

dzikir hujan
Poster doa (dzikir). | Transliterasi: Muthirnaa Bifadhlillaahi Wa Rahmatihi.

Dengan membaca doa-doa dan dzikir setelah hujan turun niscaya seseorang itu diberikan manfaat dan berada dalam lindungan Allah ‘Azza Wa Jalla dari bencana.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

[1] Shahih (صحيح): H.R. Al-Bukhari nomor 1032. Lihat Fat-hul Bāri (II/518).

[2] Lafazh sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Angin termasuk rahmat Allah yang datang membawa rahmat, namun kadang kala membawa azab. Maka apabila kalian melihat angina kencang, janganlah kalian memakinya, tetapi mintalah kepada Allāh kebaikannya dan berlindunglah kepada Allāh dari kejahatannya.” Shahih (صحيح): H.R. Abu Dawud nomor 5097; dan Ibnu Majah nomor 3727. Lihat Shahih al-Adzkar nomor 521/381.

[3] Shahih (صحيح): Lihat al-Muwaththa’ (II/757 nomor 26), al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad nomor 723, Shahih al-Adabul Mufrad nomor 556, dan al-Baihaqi (III/362). Lihat al-Kalimuth Thayyib nomor 157. Syaikh al-Albani menyatakan, “Hadits ini mauquf sanadnya namun shahih,” yaitu dari Abdullah bin az-Zubair رضي الله عنه.

[4] Shahih (صحيح): H.R. Al-Bukhari nomor 1013 dan 1014; serta Muslim (كتاب صلاة الاستسقاء), nomor 897 dari Anas bin Malik رضي الله عنه.

[5] Shahih (صحيح): H.R. Al-Bukhari nomor 846, 1038; Muslim nomor 71. Tidak boleh seseorang menisbatkan hujan kepada bintang, karena hujan datang dengan sebab rahmat Allāh, bukan karena keberadaan bintang. Orang yang menisbatkan hujan kepada bintang maka dia telah kufur kepada Allāh.