Categories
Syair Arab

Syair Arab tentang Teman Dekat

Syair Arab tentang teman dekat: Untuk mengenal seseorang, maka dapat dilakukan dengan jalan mengetahui dengan siapa dirinya berteman. Sebab keberadaan teman dekat akan sangat mempengaruhi seseorang dalam kehidupannya.

Mutiara Hadits mengenai Teman Dekat

Dari Abu Hurairah رضى الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman. – Hasan (Al-Albani): Abu Dawud no. 4833 (كتاب الأدب).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

اَلْمَرْءُ عَلَىٰ دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung dari Agama sahabat karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat karib. – Hasan: Abu Dawud no. 4833, at-Tirmidzi no. 2378.

Syair Arab mengenai Teman Dekat

Juga dikenal sebuah perkataan,

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ
فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

Janganlah kau tanya mengenai seseorang, akan tetapi tanyalah tentang teman dekatnya,
Karena setiap teman dekat mengikuti orang yang dijadikan teman dekatnya.

Shafiyyuddin Al-Huliy berkata dalam sya’irnya,

لِــقَاءُ النَّــاسِ لَيْــسَ يُــفِيْدُ شَيْئًــا
سِــوَى الْــهَــذَيَــانِ مِــنْ قِــيْــلٍ وَقَــالِ
فَــأَقْــلِــلْ مِــنْ لِــقَــاءِ النَّــاسِ إِلَّا
لِأَخْــذِ الْــعِــلْــمِ أوْ إِصْــلَاحِ حَــالِ

Berkumpul dengan manusia tidak ada manfaatnya,
Selain berbicara tak karuan dan desas-desus,
Maka sedikitkanlah berkumpul dengan manusia,
Kecuali jika untuk menuntut ilmu dan memperbaiki keadaan.

Artinya seseorang itu harus benar-benar selektif dalam berteman dan memilih teman dekat serta harus serius dalam menyaring mereka. Dapat diungkapkan dalam sebuah analogi bahwa tatkala seseorang hendak membeli sepatu yang akan dia pergunakan sebagai alas kaki untuk menginjak tanah dan kotoran, menjaga dari benda-benda yang dapat melukai, dirinya sudah barang tentu akan mengamati sepatu-sepatu tersebut secara silih berganti. Hingga pandangannya tertuju kepada sepatu yang menarik perhatiannya dan dia merasa cocok dengannya. Bukankah memilih teman jauh lebih penting daripada itu?

Sesungguhnya teman dekat dan sahabat memiliki pengaruh mendalam bagi seseorang, apalagi bila teman tersebut memiliki kepribadian yang kuat dan memiliki sifat berkualitas, maka sangat cepat mempengaruhi pikiran dan perilakunya, dan menjadi duplikatnya.

Olehkarenanya saudara dapat mengetahui lebih lanjut ihwal asas dalam memilih teman.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Adab;
  • Dr. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qadhi. 1437 H/ 2016 M. Kiat-Kiat Untuk Tetap Istiqamah. Jakarta: Darul Haq. Buku terjemah dari judul asli: Al-Istiqamah wa ats-Tsabat.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1435 H/ 2014 M. Waktumu Dihabiskan Untuk Apa. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Intisari Cahaya Ilmu

Sikap Seorang Muslim terhadap Hari Raya Orang Kafir

Menjelang Hari Raya Kaum Kuffar (Natal); Bagaimana Semestinya Kaum Muslimin di Indonesia Menyikapi Hal Ini?

Hendaknya seorang muslim mengamalkan aqidah al-Wala’ wa al-Bara’ dalam muamalah kesehariannya, baik muamalah dengan antar sesama muslim dan antara muslim dengan kafir. Bagi siapapun yang memiliki akal sehat, dua mata dan dua telinga, akan mudah baginya untuk memiliki pandangan sempurna terhadap hakikat dan peranan agama Islam.

Sesungguhnya orang-orang yang keliru dalam melihat hakikat itu disebabkan kurangnya kepekaan mereka terhadap hakikat aqidah Islam, sebagaimana kurangnya pemahaman mereka terhadap karakter pergolakan dan tabiat Ahlul Kitab.

[line]

[ads script=”1″ ]

[line]

Mereka juga lalai terhadap rambu-rambu Al-Qur’an yang jelas dan gamblang. Mereka mencampurandukkan antara toleransi kepada Ahlul Kitab dalam kehidupan masyarakat Islam di mana mereka tinggal, dengan loyalitas yang harus diberikan hanya kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslimin.

Mereka membuat samar konsep loyalitas (Wala‘) yang menjadi garis pemisah antara kaum Muslimin dengan Ahlul Kitab, dengan mengatasnamakan toleransi antar agama samawi. Sebagaimana mereka salah memahami arti agama, maka mereka juga salah memahami makna toleransi.

Mereka telah lupa terhadap apa yang telah ditegaskan oleh Al-Qur’an, bahwa sebagian Ahlul Kitab adalah penolong bagi yang lain dalam memerangi ummat Islam. Ini merupakan perkara yang baku bagi mereka. Mereka akan selalu memendam kebencian kepada orang Islam karena keislamannya. Dan mereka juga tidak akan rela terhadap orang Islam sampai meninggalkan agamanya dan mengikuti agama mereka.

Kedunguan macam apa dan kelalaian seperti apa, sampai kita menganggap bahwa kita dan Ahlul Kitab memiliki satu jalan yang akan kita tapaki bersama-sama dalam menegakkan agama ini di hadapan orang-orang kafir, atheis, dan kaum musyrikin? Padahal mereka (Kafir Kitabi) bersatu dalam memerangi kaum Muslimin.

Oleh sebab itu hendaklah seorang Muslim berusaha mengikat dirinya dengan ketentuan dan tuntutan syar’i dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal muamalah. Sepatutnya mereka membuktikan loyalitas di antara kaum Muslimin dan menegakkan sikap bara’ah (berlepas diri) terhadap kaum kuffar.

1. Tidak Memenuhi Kebutuhan Hari Raya Mereka

Tidak menjual barang yang dapat dimanfaatkan mereka dalam menyelenggarakan hari raya-nya atau memenuhi kebutuhan hari raya mereka: makanan; pakaian; minyak wangi. Namun hukum asal berniaga dengan mereka adalah dibolehkan selama tidak ada komoditi barang yang haram dan membahayakan kaum muslimin.

2. Tidak Menyerupai Mereka dalam Penampilan

Agama Islam sangat menaruh perhatian besar agar kaum muslimin tidak sekedar berbeda dengan kaum kafir dalam batin mereka saja. Akan tetapi Islam menginginkan perbedaan dalam zhahirnya pula, baik masing-masing individunya, maupun masyarakatnya secara umum. Oleh karena itulah, larangan menyerupai kaum kafir (tasyabbuh) merupakan salah satu perintah Allah ‘Azza Wa Jalla dalam rangka menerapkan aqidah al-Wala’ wa al-Bara’ (Loyalitas terhadap kaum Mukminin dan Permusuhan terhadap kaum Kuffar).

Tasyabbuh secara zhahir dapat membawa seseorang kepada tasyabbuh dalam aqidah, mencintai mereka, mengikuti perjalanan mereka dan bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.

Syaikh ‘Abdullah ath-Thariqi berkata,

Seandainya Islam mengizinkan kaum muslimin untuk meniru musuh-musuhnya sehingga menyerupai mereka, niscaya tanda-tanda Islam dan hukum-hukumnya lenyap dan identitas kaum muslimin akan hancur. Lihatlah fakta yang terjadi dibeberapa negeri kaum muslimin. Cukuplah hati sebagai peringatan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 153.

Di antara dalil yang memerintahkan untuk menyelisihi Ahli Kitab (Kafir Kitabi) dan kaum Musyrikin (Hindu, Budha, Konghucu, dan seterusnya) adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan Raa’inaa, tetapi katakanlah, Unzurnaa, dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir mendapat azab yang pedih.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 104.

Raa’inaa artinya perhatikanlah kami. Tetapi orang-orang Yahudi bersungut (bergumam) mengucapkannya sehingga yang mereka maksud ialah Ru’uunah yang artinya bodoh sekali (dungu), sebagai ejekan kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah sebabnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para Shahabat Rasulullah menukar Raa’inaa dengan Unzurnaa yang sama artinya dengan Raa’inaa.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“‏.‏

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – HaditsHasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Dalam kitabnya, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin bertutur bahwa,

Tasyabbuh dengan orang kafir merupakan kejahiliyahan. Walhasil, jika seseorang menyeru kepada tasyabbuh dengan orang-orang kafir, maka dia dita’zir. …”

3. Tidak Mendahului Mengucapkan Salam

Tidak mengucapkan salam kepada mereka (berlaku disetiap waktu). Namun apabila mereka mendahului mengucapkan salam, maka katakan kepada mereka, “Wa ‘Alaykum”; “Juga kepada kalian.”

Cara menjawab salam orang-orang kafir adalah sebagaimana sabda Nabi ‎صلى الله عليه وسلم,

إِذَ سَلَّمَ عَلَيْكُمْ الْيَهُوْدُ فَإِنَّمَا يَقُوْلُ أَحَدُهُمْ

اَلسَّامُ عَلَيْكُمْ، فَقُلْ وَعَلَيْكُمْ

“Apabila Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka dia hanya mengucapkan: (اَلسَّامُ عَلَيْكُمْ); “As-Samu ‘Alaykum”; “Semoga Kebinasaan atas Kalian.” Maka katakan kepada mereka: (وَعَلَيْكُمْ); “Wa ‘Alaykum”; “Juga Kepada Kalian.” – Abhaatsun fil I’tiqād (61).

4. Tidak Mengagungkan Mereka

Tidak pula mengagungkan serta memanggil mereka dengan “Sayyid”; “Tuan” atau “Maula”; “Yang Terhormat, Yang Mulia.”

5.   Tidak Mengucapkan Selamat Hari Raya

Tidak mengucapkan selamat kepada mereka (“selamat hari raya”, “perayaanmu penuh berkah”) sebagaimana juga tidak dibenarkan mengucapkan selamat kepada orang yang berzinah, pembunuh, ahli maksiat, bid’ah, kesyirikan dan pelaku pemberontakan (demonstrasi; apa pun alasannya).

6. Tidak Memberi Bingkisan Hadiah Kepada Kaum Kuffar

Sesungguhnya mengungkapkan perasaan cinta dan saling memberikan hadiah adalah muamalah yang hanya dilakukan antara kaum Muslimin.

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد)

‎إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ إِيَّاهُ

“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberi tau bahwa dia mencintainya.” – Hadits Hasan (al-Albani): at-Tirmidzi nomor 2392 (كتاب الزهد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم)

7. Toleransi Dilakukan dalam Interaksi Perorangan/ Individu, Bukan dalam Keyakinan dan Sistem Sosial

Berbuat baik (toleransi) terhadap orang kafir dilakukan dalam interaksi personal/ perorangan, bukan dalam keyakinan dan sistem sosial. Berbuat baik secara perorangan misal:

[list icon=”fa-minus”]

  • Memberikan nafkah kepada bapak atau ibu yang kafir meski si anak adalah seorang muslim;
  • Berlaku baik terhadap para tawanan perang/ P.O.W./ Prisoners of War;
  • Berlaku baik terhadap orang-orang yang sudah tua renta dari kalangan mereka, orang-orang sakit, anak-anak, para pendeta yang tinggal di gereja, dan kaum wanita mereka dalam peperangan;
  • Ketika mereka tidak mampu membayar jizyah/ uang keamanan sebagai kompensasi atas perlindungan pemerintah kaum muslimin terhadap darah, harta dan kehormatan, maka jizyah tersebut digugurkan darinya.

[/list]

Sementara itu Berbuat baik terhadap orang kafir tidak berarti mencintai dan menyayangi mereka apalagi memberikan/ mengangkat orang-orang kafir menduduki kursi-kursi kepemimpinan kaum Muslimin yang akan membuka ruang bagi mereka untuk menguasai orang-orang Islam, seperti instansi pemerintahan. Artinya harus dapat membedakan antara berbuat baik dan memanfaatkan orang kafir secara individual untuk suatu urusan, dengan mengangkat orang kafir sebagai pemegang hak otoritas untuk menangani urusan kaum Muslimin.

[line]

[ads script=”1″ ]

[line]

8. Tidak Mempekerjakan Diri Kepada Orang Kafir

Seorang Muslim tidak dibenarkan mempekerjakan diri kepada orang kafir, kecuali terpenuhi:

[list icon=”fa-minus”]

  • Keadaan darurat;
  • Pekerjaannya halal;
  • Tidak dalam rangka membantu untuk membahayakan kaum Muslimin;
  • Tidak ada unsur pengagungan terhadap agama mereka/ simbol-simbol kekafiran;
  • Tidak ada unsur penghinaan dan pelecehan kepada orang Muslim tersebut.

[/list]

9. Tidak Menghancurkan Gereja-Gereja

Tidak menghancurkan tempat ibadah mereka, namun apabila telah hancur maka diharamkan memberikan izin kepada mereka untuk membangun kembali.

10. Haram Membunuh Tiga Jenis Kafir

Menjaga darah mereka (kafir dzimmi, kafir mu’ahad/ diplomat, kafir musta’min), artinya haram membunuh mereka.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

[list icon=”fa-book”]

  • Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani. 1437 H/ 2016 M. Al-Wala’ Wa Al-Bara’; Konsep Loyalitas dan Permusuhan dalam Islam. Jakarta Timur: Ummul Qura. – Buku terjemah dari judul asli: Al-Wala’ Wa Al-Bara’ fi Al-Islam.
  • Maha al-Bunyan Rahimahullah. 1435 H/ 2014 M. Al-Wala’ Wal Bara’; Cinta & Benci Karena Allah عزَ وجل. Pustaka Ibnu ‘Umar. – Buku terjemah dari judul asli: Al-Wala’ Wal Bara’.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1432 H/ 2011 M. Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, (Jakarta Timur : Griya Ilmu, 1438 H/ 2017 M), hal. 268. – Eidisi terjemah Bahasa Indonesia.

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Fatwa Syaikh Bin Baz Nasihat

5 (lima) Kegiatan Ilmiah Selama Liburan

5 (lima) Kegiatan Ilmiah Selama Liburan

[tabs active=”1″ type=”vertical”]

[tab title=”Keg. 1″]Muraja’ah:… hendaklah memanfaatkan masa liburan ini dengan ber-muraja’ah mengulang kembali apa yang telah dipelajari bersama rekan-rekan agar apa yang telah dipelajarinya itu dapat melekat dalam ingatan dan dapat dambil manfaatnya guna menebalkan keyakinan (Aqidah).[/tab]

[tab title=”Keg. 2″]Memperbanyak Membaca Al-Qur’an:… memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenung dan memikirkannya, serta menghafal ayat-ayat yang mudah bagi mereka; karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi sumber kebahagiaan bagi seluruh kaum Muslimin.[/tab]

[tab title=”Keg. 3″]Menghapal Hadits yang Mudah: … mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, menghapalkan hadits-hadits yang mudah, apalagi pada masa liburan seperti sekarang ini; karena hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an dan merupakan sumber utama setelah Al-Qur’an sebagai dasar hukum syari’at.[/tab]

[tab title=”Keg. 4″]Tolong Menolong dalam Kebajikan dan Taqwa: … saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa, dan saling mansihati di antara mereka dengan kebenaran dan kesabaran.[/tab]

[tab title=”Keg. 5″]Menyelenggarakan dan/atau Menghadiri Forum Ilmiah: … kepada para pendidik agar memanfaatkan masa liburan ini dengan mendirikan forum-forum ilmiah di masjid-masjid pertemuan-pertemuan serta ceramah-ceramah, karena hal itu sangat dibutuhkan.[/tab]

[/tabs]

Segala puji bagi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ, shalawat serta salam kita limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beserta keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya.

Amma Ba’du:

1.  Muraja’ah

Pada masa liburan sekarang ini, saya (Syaikh bin Baz rahimahullah -pen) sangat gembira dapat memberikan petuah dan nasihat, khususnya kepada para pemuda dan umumnya kepada kaum Muslimin untuk bertaqwa kepada Allah عزَ وجل di manapun mereka berada, dan hendaklah memanfaatkan masa liburan ini dengan ber-muraja’ah mengulang kembali apa yang telah dipelajari bersama rekan-rekan agar apa yang telah dipelajarinya itu dapat melekat dalam ingatan dan dapat dambil manfaatnya guna menebalkan keyakinan (Aqidah), menghaluskan budi pekerti (akhlaq), dan meluruskan perbuatan (amal).

2.  Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Selain itu, saya pun menasihati seluruh kaum muda untuk memanfaatkan masa liburan ini dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenung dan memikirkannya, serta menghafal ayat-ayat yang mudah bagi mereka; karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi sumber kebahagiaan bagi seluruh kaum Muslimin.

Kitab ini menghantarkan kepada kebaikan dan merupakan sumber petunjuk yang diturunkan Allah sebagai penjelasan atas segala sesuatu. Ia adalah petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ telah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk kepada jalan yang lurus. Dia mencintai hamba-Nya yang membaca, ber-tadabbur dan berpikir tentang maknanya, sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” – Q.S. Muhammad (Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam) [47]: 24.”[1]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ juga berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” – Q.S. Shad (Shad) [38]: 29.”[2]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ berfirman,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” – Q.S. Al-Isra (Memperjalankan di Malam Hari) [17]: 9.”[3]

3.  Menghapal Hadits yang Mudah

Maka nasihat saya untuk seluruh para pemuda dan kaum Muslimin adalah, hendaknya mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an serta merenungkan maknanya. Hendaklah mereka saling mengajarkan dan saling memberikan manfaat, memberikan pengajaran Al-Qur’an di mana pun mereka berada. Selain itu saya pun menasihati pemuda dan kaum Muslimin untuk mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, menghapalkan hadits-hadits yang mudah, apalagi pada masa liburan seperti sekarang ini; karena hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an dan merupakan sumber utama setelah Al-Qur’an sebagai dasar hukum syari’at.

Diantaranya yakni:

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Atau,

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 594 (الأدب المفرد)

Atau,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama. …” – Shahih Muslim no. 1037 (كتاب الزكاة)

Atau,

‎ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْحِ أَمرُنَا فَحُوَ رَدُّ

Dari ‘Aisyah (رضي الله عنها) berkata: “Rasulullah (‎صلى الله عليه وسلم) bersabda: ‘Barangsiapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami maka amal perbuatan itu tertolak’.” – Riwayat Muslim no. 1718. [al-Qowa’id al-Fiqhiyyah. II/26]

Atau,

Dalam ash-Shahiihaiin (al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, ia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa).” – Hadits Muttafaq ‘Alaih: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Sunan an-Nasa’i nomor 5357, 5364, Sahih al-Bukhari nomor 5950, 6109, Shahih Muslim nomor 2107.

4. Tolong Menolong dalam Kebajikan dan Taqwa

Saya juga memberi petuah kepada seluruh pemuda agar berhati-hati jika mereka hendak berwisata menuju negeri-negeri yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, karena hal itu akan membahayakan aqidah mereka; dan karena Negara-negara Muslim sangat membutuhkan mereka untuk tetap tinggal di negerinya agar dapat saling memberi penghargaan, saling memberi petunjuk dan petuah, saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa, dan saling mansihati di antara mereka dengan kebenaran dan kesabaran.

5.  Menghadiri Forum Ilmiah

Saya juga menganjurkan kepada para pendidik agar memanfaatkan masa liburan ini dengan mendirikan forum-forum ilmiah di masjid-masjid pertemuan-pertemuan serta ceramah-ceramah, karena hal itu sangat dibutuhkan. Saya juga menganjurkan kepada para pendidik dan para da’i sedapat mungkin menunjungi wilayah-wilayah dan daerah-daerah yang belum tersentuh oleh syiar Islam, mengunjungi pusat-pusat kajian keislaman (Islamic Center) yang berada di luar negeri untuk kepentingan dakwah dan pengarahan, mengajari kaum Muslimin yang masih buta terhadap agamanya, memberi mereka motivasi agar saling tolong menolong di antara mereka, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta memberi motivasi kepada para pelajar yang berada di sana untuk berpegang teguh kepada agama mereka dan bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya, berhati-hati terhadap hal-hal yang dapat memalingkan mereka dari kebenaran, serta menasihati mereka agar memperhatikan Al-Qur’an dengan cara menghafal, membaca dan memikirkan maknanya, serta mengamalkan as-Sunnah dengan menghafal, mengingat dan mengamalkan sesuai dengan petunjuknya.

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ memberi bimbingan kepada kaum Muslimin baik orang tua, pemuda, para pendidik, para pelajar, maupun para ulamanya agar dapat meraih kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat, Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم beserta keluarga dan para Shahabatnya.

Majmu’ Fatwa, Syaikh bin Baz, jilid IV, hlm. 190.[4]

Footnote:

[1] Kitab Suci Al-Qur’an, surat Muhammad, ayat nomor 24.

[2] Ibid, surat Shad, ayat nomor 29.

[3] Ibid, surat al-Isra, ayat nomor 9.

[4] Khalid al-Juraisi, Fatwa-Fatwa Terkini, (Jakarta : Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hlm. 114-117. – Kitab terjemah dari judul asli: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah Fi al-Masa’il al-’Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram.