Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaTaarufKetika Ta'aruf, Apakah Calon Pasangan Harus S2?

Ketika Ta’aruf, Apakah Calon Pasangan Harus S2?

Pertanyaan: “Apakah seseorang yang berpendidikan tinggi harus menikah dengan orang yang setara (kufu) latar pendidikannya?” atau “Ketika taaruf apakah calon pasangan harus S2?”

Baca juga: Tanya Jawab CV Ta’aruf

Jawaban: Keinginan tersebut pada dasarnya boleh. Sebab di dalam Islam memang dianjurkan mencari pasangan yang setara (kufu). Artinya seorang muslim boleh menginginkan kriteria calon teman hidup yang setara harta kekayaannya, dan/atau ketampanan dan kecantikannya.

Kalau pun menginginkan teman hidup yang setara latar pendidikannya, misal seorang lelaki lulusan pasca sarjana (S2) menginginkan wanita yang lulusan S2 juga, perlu ditelaah apa yang dimaksud dengan “ilmu dan pengetahuan” terlebih dahulu.

Sebab tidak semua program pendidikan jenjang S1, S2, dan seterusnya membuahkan pengetahuan yang bermanfaat.

Mafhumah pengetahuan berdasar kemanfaatan terbagi kedalam 3 (tiga) jenis:

  1. Bermanfaat untuk kehidupan dunia, akan tetapi tidak menyelamatkan kehidupan akhirat;
  2. Bermanfaat untuk kehidupan dunia, dan menyelamatkan kehidupan akhirat;
  3. Membahayakan kehidupan dunia, dan tidak pula menyelamatkan kehidupan akhirat.

Ilmu Agama bermanfaat untuk kehidupan dunia dan menyelamatkan kehidupan akhirat. Ini lah yang disebut dengan ilmu.

الْعِلْمُ إِذَرَاكُ الشَّيْءِ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ إِدْرَاكًا جَازِمًا

Ilmu adalah mengetahui sesuatu sebagaimana hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti”, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Ushul Fiqih.

Dengan menuntut ilmu Agama, seorang muslim dapat mengetahui mana yang halal dan haram baginya. Mana yang berkonsekuensi kepada dosa dan hukuman serta mana perbutan yang membuahkan pahala dan ganjaran kebaikan. Sebab dosa dan hukuman tidak dapat diketahui secara pasti kecuali telah dijelaskan oleh nash-nash kitabullah dan hadits.

Apabila seorang muslim mengetahui dan meyakini keberadaan pahala dan hukuman, niscaya dirinya dapat terhindar dari sikap menganiaya diri sendiri. Maksud dari menganiaya diri sendiri yakni membiarkan diri terus menerus berbuat maksiat yang konsekuensinya adalah dosa dan hukuman (Arti Fitnah#Ibtila ‘Uqubah).

Maka sepatutnya ketika seorang muslim dihadapkan dengan ilmu Agama, sikap yang benar adalah mempelajari, memahami, dan mengamalkan. Sebab menuntut ilmu agama menuntut pengamalan.

Sebagaimana kaidah yang masyhur,

العلم قبل القول والعمل

Ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat.”

Telah diketahui secara luas dikalangan penuntut ilmu bahwa tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan.

Sehingga, dapat dimengerti bahwa yang paling utama apabila anda hendak menjadikan “pendidikan tinggi” sebagai kriteria yang harus dipenuhi oleh calon teman hidup, maka pilihlah seseorang dengan ilmu yang dia miliki sudah mengantarkan dirinya kepada pemahaman dan pengamalan agama sesuai dengan sunnah (Manhaj Salaf).

Sebab tidak dikatakan pintar seseorang yang jahl atas ilmu Agama walau lulusan S2 sekali pun.

Agar memperoleh gambaran yang utuh mengenai perbedaan antara ilmu dengan pengetahuan, anda dapat menelaah buku berjudul “11 Renungan Sains” karya ustadz Ali Ahmad bin Umar.


Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Penulis TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.
Tulisan ini memuat featuring image. Sumber: Kontributor.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih. Jazakumullah Khairan.

Affan bin Umarhttps://temanshalih.com
Penulis Artikel: Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. // Disclaimer Penulis // Biografi penulis: Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019; Analis Kerja Sama Luar Negeri Jakarta Pusat 2021 ; Tim developer website Minamata Convention PBB Jakarta Pusat 2021.
KONTEN TERKAIT

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Open chat