HomeIntisari Cahaya IlmuBuku IlmiahSikap Seorang Muslim terhadap Hari Raya Orang Kafir
Hari Raya Orang Kafir

Sikap Seorang Muslim terhadap Hari Raya Orang Kafir

Buku Ilmiah Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

Menjelang Hari Raya Kaum Kuffar (Natal); Bagaimana Semestinya Kaum Muslimin di Indonesia Menyikapi Hal Ini?

Tidak Memenuhi Kebutuhan Hari Raya Mereka: Tidak menjual barang yang dapat dimanfaatkan mereka dalam menyelenggarakan hari raya-nya atau memenuhi kebutuhan hari raya mereka. 
Tidak Menyerupai Penampilan Mereka: Tasyabbuh secara zhahir dapat membawa seseorang kepada tasyabbuh dalam aqidah, mencintai mereka, mengikuti perjalanan mereka dan bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.
Tidak Mengucapkan Salam: Apabila Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka dia hanya mengucapkan, “Semoga Kebinasaan atas Kalian.”
Tidak Mengagungkan Mereka.
Tidak Mengucapkan Selamat Hari Raya.
Tidak Memberi Hadiah Kepada Mereka.
Toleransi terhadap Individu, Bukan Sistem Sosial: Berlaku baik terhadap orang-orang yang sudah tua renta dari kalangan mereka, orang-orang sakit, anak-anak, para pendeta yang tinggal di gereja, dan kaum wanita mereka.
Tidak Bekerja Kepada Orang Kafir.
Tidak Menghancurkan Gereja-Gereja.
Tidak Membunuh Mereka (Tiga Jenis Kafir).

1. Tidak Memenuhi Kebutuhan Hari Raya Mereka

Tidak menjual barang yang dapat dimanfaatkan mereka dalam menyelenggarakan hari raya-nya atau memenuhi kebutuhan hari raya mereka: makanan; pakaian; minyak wangi. Namun hukum asal berniaga dengan mereka adalah dibolehkan selama tidak ada komoditi barang yang haram dan membahayakan kaum muslimin.

2. Tidak Menyerupai Mereka dalam Penampilan

Agama Islam sangat menaruh perhatian besar agar kaum mulsimin tidak sekedar berbeda dengan kaum kafir dalam batin mereka saja. Akan tetapi Islam menginginkan perbedaan dalam zhahirnya pula, baik masing-masing individunya, maupun masyarakatnya secara umum. Oleh karena itulah, larangan menyerupai kaum kafir (tasyabbuh) merupakan salah satu perintah Allah ‘Azza Wa Jalla dalam rangka menerapkan aqidah al-Wala’ wa al-Bara’ (Loyalitas terhadap kaum Mukminin dan Permusuhan terhadap kaum Kuffar).

Tasyabbuh secara zhahir dapat membawa seseorang kepada tasyabbuh dalam aqidah, mencintai mereka, mengikuti perjalanan mereka dan bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.

Syaikh ‘Abdullah ath-Thariqi berkata,

Seandainya Islam mengizinkan kaum muslimin untuk meniru musuh-musuhnya sehingga menyerupai mereka, niscaya tanda-tanda Islam dan hukum-hukumnya lenyap dan identitas kaum muslimin akan hancur. Lihatlah fakta yang terjadi dibeberapa negeri kaum muslimin. Cukuplah hati sebagai peringatan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 153.

Di antara dalil yang memerintahkan untuk menyelisihi Ahli Kitab (Kafir Kitabi) dan kaum Musyrikin (Hindu, Budha, Konghucu, dan seterusnya) adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan Raa’inaa, tetapi katakanlah, Unzurnaa, dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir mendapat azab yang pedih.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 104.

Raa’inaa artinya perhatikanlah kami. Tetapi orang-orang Yahudi bersungut (bergumam) mengucapkannya sehingga yang mereka maksud ialah Ru’uunah yang artinya bodoh sekali (dungu), sebagai ejekan kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah sebabnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para Shahabat Rasulullah menukar Raa’inaa dengan Unzurnaa yang sama artinya dengan Raa’inaa.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“‏.‏

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – HaditsHasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Dalam kitabnya, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin bertutur bahwa,

Tasyabbuh dengan orang kafir merupakan kejahiliyahan. Walhasil, jika seseorang menyeru kepada tasyabbuh dengan orang-orang kafir, maka dia dita’zir. …”

3. Tidak Mendahului Mengucapkan Salam

Tidak mengucapkan salam kepada mereka (berlaku disetiap waktu). Namun apabila mereka mendahului mengucapkan salam, maka katakan kepada mereka, “Wa ‘Alaykum”; “Juga kepada kalian.”

Cara menjawab salam orang-orang kafir adalah sebagaimana sabda Nabi ‎صلى الله عليه وسلم,

إِذَ سَلَّمَ عَلَيْكُمْ الْيَهُوْدُ فَإِنَّمَا يَقُوْلُ أَحَدُهُمْ

اَلسَّامُ عَلَيْكُمْ، فَقُلْ وَعَلَيْكُمْ

“Apabila Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka dia hanya mengucapkan: (اَلسَّامُ عَلَيْكُمْ); “As-Samu ‘Alaykum”; “Semoga Kebinasaan atas Kalian.” Maka katakan kepada mereka: (وَعَلَيْكُمْ); “Wa ‘Alaykum”; “Juga Kepada Kalian.” – Abhaatsun fil I’tiqād (61).

4. Tidak Mengagungkan Mereka

Tidak pula mengagungkan serta memanggil mereka dengan “Sayyid”; “Tuan” atau “Maula”; “Yang Terhormat, Yang Mulia.”

5.   Tidak Mengucapkan Selamat Hari Raya

Tidak mengucapkan selamat kepada mereka (“selamat hari raya”, “perayaanmu penuh berkah”) sebagaimana juga tidak dibenarkan mengucapkan selamat kepada orang yang berzinah, pembunuh, ahli maksiat, bid’ah, kesyirikan dan pelaku pemberontakan (demonstrasi; apa pun alasannya).

6. Tidak Memberi Bingkisan Hadiah Kepada Mereka

7. Toleransi Dilakukan dalam Interaksi Perorangan/ Individu, Bukan dalam Keyakinan dan Sistem Sosial

Berbuat baik (toleransi) terhadap orang kafir dilakukan dalam interaksi personal/ perorangan, bukan dalam keyakinan dan sistem sosial. Berbuat baik secara perorangan misal:

  • Memberikan nafkah kepada bapak atau ibu yang kafir meski si anak adalah seorang muslim;
  • Berlaku baik terhadap para tawanan perang/ P.O.W./ Prisoners of War;
  • Berlaku baik terhadap orang-orang yang sudah tua renta dari kalangan mereka, orang-orang sakit, anak-anak, para pendeta yang tinggal di gereja, dan kaum wanita mereka dalam peperangan;
  • Ketika mereka tidak mampu membayar jizyah/ uang keamanan sebagai kompensasi atas perlindungan pemerintah kaum muslimin terhadap darah, harta dan kehormatan, maka jizyah tersebut digugurkan darinya.

Sementara itu Berbuat baik terhadap orang kafir tidak berarti mencintai dan menyayangi mereka apalagi memberikan/ mengangkat orang-orang kafir menduduki kursi-kursi kepemimpinan kaum Muslimin yang akan membuka ruang bagi mereka untuk menguasai orang-orang Islam, seperti instansi pemerintahan. Artinya harus dapat membedakan antara berbuat baik dan memanfaatkan orang kafir secara individual untuk suatu urusan, dengan mengangkat orang kafir sebagai pemegang hak otoritas untuk menangani urusan kaum Muslimin.

8. Tidak Mempekerjakan Diri Kepada Orang Kafir

Seorang Muslim tidak dibenarkan mempekerjakan diri kepada orang kafir, kecuali terpenuhi:

  • Keadaan darurat;
  • Pekerjaannya halal;
  • Tidak dalam rangka membantu untuk membahayakan kaum Muslimin;
  • Tidak ada unsur pengagungan terhadap agama mereka/ simbol-simbol kekafiran;
  • Tidak ada unsur penghinaan dan pelecehan kepada orang Muslim tersebut.

9. Tidak Menghancurkan Gereja-Gereja

Tidak menghancurkan tempat ibadah mereka, namun apabila telah hancur maka diharamkan memberikan izin kepada mereka untuk membangun kembali.

10. Haram Membunuh Tiga Jenis Kafir

Menjaga darah mereka (kafir dzimmi, kafir mu’ahad/ diplomat, kafir musta’min), artinya haram membunuh mereka.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani. 1437 H/ 2016 M. Al-Wala’ Wa Al-Bara’; Konsep Loyalitas dan Permusuhan dalam Islam. Jakarta Timur: Ummul Qura. – Buku terjemah dari judul asli: Al-Wala’ Wa Al-Bara’ fi Al-Islam.
  • Maha al-Bunyan Rahimahullah. 1435 H/ 2014 M. Al-Wala’ Wal Bara’; Cinta & Benci Karena Allah عزَ وجل. Pustaka Ibnu ‘Umar. – Buku terjemah dari judul asli: Al-Wala’ Wal Bara’.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1432 H/ 2011 M. Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, (Jakarta Timur : Griya Ilmu, 1438 H/ 2017 M), hal. 268. – Eidisi terjemah Bahasa Indonesia.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

646 total views, 5 views today