HomeKabarPerlindungan KonsumenSampah Dakwah Visual | Perlindungan Konsumen
Sampah Dakwah Visual

Sampah Dakwah Visual | Perlindungan Konsumen

Perlindungan Konsumen 1 likes 329 views share

Sampah Dakwah Visual: Mengingat terminologi “Sampah Visual” yang digagas dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Sekolah Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr. Sumbo Tinarbuko, M.Sn , yang berbicara ihwal iklan luar ruang, nampaknya dapat diadopsi kedalam ranah media sosial.

Hal ini tidak lain mengetahui bahwa ruang dunia maya secara khusus media sosial tengah mengalami peningkatan kuantitatif atas ragam publikasi visual edukasi agama yang bersifat prematur konsep. Atau lebih jauh dapat dikatakan termasuk kedalam publikasi yang mengandung konten menyesatkan dalam edukasi agama.

Para pembuat konten (yakni desainer grafis/ pendakwah visual) dalam dakwah visual notabene memiliki kompetensi teknis yang kampiun dalam proses produksi hingga finishing, didukung dengan skill ilustrasi, fotografi, tipografi, vector art, digital imaging (photo manipulation), hingga kombinasi antara hal-hal tersebut, yang pada akhirnya menghasilkan karya desain grafis dan-atau digital art yang ciamik, hingga dapat menarik perhatian orang yang meliatnya serta mengundang decak kagum.

Siapa Saja?

Apabila secara khusus menyoroti konten pendidikan Agama Islam (Tarbiah Islam/ edukasi agama) maka saat ini tidak terhitung eksistensi pendakwah visual atau desainer grafis “religi”. Baik perorangan, komunitas hingga badan/ lembaga institusi yang mereka terus meningkatkan produktifitasnya dalam publikasi digital.

Namun sayangnya kreatifitas dakwah visual tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas, padahal konsumen (dalam hal ini masyarakat muslim) memiliki kebutuhan yang tinggi akan publikasi informatif serta syarat akan nilai-nilai ilmiah dan kebenaran berdasar timbangan yang pasti yakni Al-Qur’an dan Sunnah serta Metode Salaf.

Bicara soal kualitas desain dalam mimbar digital ia bukan hanya terbatas pada tampilan visual yang menarik, dahsyat, mengundang decak kagum, menarik ribuan jempol biru, bukan hanya itu. Namun juga sepatutnya ditinjau kembali, apakah konten yang dimuat dalam tampilam visual dimaksud telah sesuai dengan ketentuan syara‘ (Agama) dalam menyampaikan pendidikan Islam.

Hal ini disebabkan tingkat kematangan yang berbeda-beda yang dikuasai oleh pendakwah visual/ para desainer grafis “religi” dalam tahap penyusunan konsep desain.

Disiplin Ilmu yang Bersifat Cross-Disciplinary Knowledge

Padahal Desain Grafis secara khusus Desain Komunikasi Visual (DKV) adalah sebuah disiplin ilmu yang bersifat Cross-Disclipinary Knowledge, hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Guru Besar DKV, Yongky Safanayong dalam bukunya Desain Komunikasi Visual Terpadu.

Artinya selain memiliki kecakapan dalam ranah teknis, seorang pendakwah visual/ desainer grafis “religi” yang membuat konten publikasi digital edukasi Agama Islam (Tarbiah Islam) juga dituntut untuk memahami secara totalitas materi/ permasalahan yang dituangkan dalam hasil karya desainnya dan juga dituntut untuk mempelajari disiplin ilmu lainnya.

Analisa Substantif

Misal seorang desainer grafis yang membuat publikasi edukasi agama, atau meminjam terminologi yang mereka buat sendiri sebagai “Dakwah Visual”, maka sepatutnya dia melakukan analisa mendasar seperti:

  • Apakah dirinya memiliki kompetensi dalam mengangkat masalah yang dituangkan dalam publikasi digital yakni mengetahui istidlal (pendalilan) dan penjelasannya sesuai Manhaj (metode/ cara) yang benar;
  • Adab dalam menukil dan menyampaikan suatu riwayat hadits;
  • Hal-hal yang dilarang/ haram dalam Islam (misal larangan melukis makhluk hidup bernyawa atau dikenal dalam terminologi barat sebagai Aniconism); serta
  • Amanah ilmiah lain dalam pendidikan Islam yang sepatutnya dipenuhi.

Masyarakat Muslim Berhak Atas Berita yang Shah

Apabila hal tersebut tidak diindahkan oleh pendakwah visual/ Desainer Grafis “Religi”, maka masyarakat muslim konsumen publikasi digital di Indonesia secara sadar atau tidak masih berada dalam posisi yang lemah (weak bargain position) atas ekses negatif informasi yang menyesatkan, sehingga hak-hak mereka dalam memperoleh informasi dan berita yang bernilai shah (benar) masih dikesampingkan.

Olehkarenanya para pendakwah visual/ desainer grafis yang secara khusus membuat publikasi edukasi agama sepatutnya berusaha betul mengaktualisasi diri terhadap asas-asas itikad baik dan asas kehati-hatian (dalam terminologi Islam dikenal sebagai Wara’) yang terkandung dalam UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Masyarakat Muslim Dilindungi Secara Hukum

Mafhumah secara khusus masyarakat muslim adalah objek dakwah yang dilindungi secara hukum/ dilindungi oleh syari’at Islam.

Dari Abdullah bin ‘Amr Al-‘Ash رضى الله عنه: Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku walau satu ayat. — Sahih al-Bukhari nomor 3461.

Hal ini berarti seseorang itu tidak dibenarkan menyampaikan ihwal Agama kecuali dirinya dapat menjamin bahwa apa yang dia sampaikan benar-benar dari Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم dan dengan Manhaj/ metode yang dikehendaki Syara’/ Agama.

Hadits Dha’if Tidak Untuk di-Masyhur-kan

Oleh karenanya para pendakwah visual/ desainer grafis konten religi mengambil peran sebagai Problem-Resolver bukan malah menduduki peran sebagai Komunikator Kebohongan dengan turut me-masyhur-kan hadits-hadits dha’if (lemah) dan ma’udhu (palsu) melalui tampilan visual yang ciamik.

Pendakwah yang Berada di Pintu-Pintu Jahannam

Dan hendaknya para pendakwah visual/ pegiat mimbar digital membangun sikap Wara’ (yakni sikap hati-hati dalam urusan Agama) dengan jalan menumbuhkan perasaan takut (al-Khauf) kalau-kalau mereka termasuk kedalam Da’aatun (para da’i) yang dimaksud dalam sebuah hadits masyhur yang matan-nya cukup panjang, dari Hudzaifah bin Yaman. Kami nukil sebagai berikut,

… دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَحَنَّمَ…

… Para da’i yang berada di pintu-pintu Jahannam … — al-Bukhari nomor 3606, 3607, 7084 dan Muslim nomor 1847.

Dalam kitabnya, Zindiq (Munafiq) Madrasah Orientalis, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat men-syarah-kan hadits tersebut. Dia bertutur bahwa Da’aatun adalah bentuk jamak dari da’i. Mereka ini adalah orang-orang yang menyeru, menyampaikan atau berdakwah dengan dakwah yang sesat dan menyesatkan. Oleh sebab itu Nabi yang Mulia Ash-Shadiqul Masduq Shalallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan bahwa mereka berada di “Abwabi Jahannam”: “أَبْوَابِ جَحَنَّمَ”: “Pintu-pintu Jahannam.”

Sampah Dakwah Visual

Oleh sebab itu tidak berlebihan apabila karya desain grafis/ publikasi digital yang bermuatan nilai-nilai menyimpang/ menyelisihi Agama/ menyelisihi Sunnah dapat pula dikatakan sebagai “Sampah Visual Edukasi Agama” dan-atau “Sampah Dakwah Visual” yang keberadaannya patut dimusnahkan agar kaum muslimin tidak terpapar oleh ekses negatif  yang bersifat regresif dan dekonstruktif terhadap Aqidah dan Tauhid.

Dalam ash-Shahiihaiin (al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, ia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa). — Hadits Muttafaq ‘Alaih (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer