HomeArti KataSadd az-Zariah
sadd az-zariah

Sadd az-Zariah

Arti Kata 0 likes 120 views share

Arti kata: (سد الذرائع); Sadd az-Zari’ah; Sadduz Dzarai’; Tindakan preventif. Atau dapat juga disebut sebagai menutup jalan menuju perbuatan haram. Dzara’i merupakan bentuk jamak dari Dzari’ah yang berarti perantara. Bedanya antara Dzari’ah dengan Hilah adalah bahwasanya pelaku hilah itu memang sengaja melakukan suatu perbuatan, namun pelaku Dzari’ah itu tidak sengaja, hanya saja perbuatannya itu dapat menjurus kepada kejelekan. [1]



Juga dikenal dalam kaidah fiqih sebuah kaidah yang masyhur dengan lafadzh,

لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ

“Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan.”

Ahmad Sabiq menjelaskan dalam bukunya, Memahami Fiqih Islam”[1], bahwa lafadzh ini diambil dari sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/ 784, Baihaqi 10/ 133, Ahmad 1/ 313, Daruquthni 4/ 228, Hakim 2/ 57 dan beliau mengatakan shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Dzahabi, Malik 2/ 745, Abu Dawud dalam Marosil halaman 44 dan lainnya dengan sanad hasan dari jalan beberapa Shahabat رضي الله عنهم di antaranya adalah Ubadah bin Shomith, Ibnu Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah, ‘Aisyah, Tsa’labah bin Abi Malik al Qurodhi dan Abu Lubabah رضي الله عنهم.

Dalam sebagian kitab yang membahas kaidah fiqih ini diucapkan dengan lafadzh yang berbunyi,  

الضَرَرُ يُزَالُ

“Sesuatu yang membahayakan itu harus dihilangkan.”

Kaidah “tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan” memiliki makna bahwasanya sesuatu yang membahayakan harus dihilangkan secara hukum syar’i.

Ibnu Abdil Bar berkata,

“Adapun sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: ‘لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ’ ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah dua lafadzh akan tetapi mengandung arti yang sama, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengungkapkan keduanya untuk menguatkan pembicaraan.”[2]

Ibnu Habib berkata,

Lafadzh ‘ضَرَرَ’ menurut para pakar bahasa Arab adalah nama dari sesuatu yang membahayakan, sedangkan ‘ضِرَارَ’ adalah perbuatan yang membahayakan itu sendiri. Makna ‘لَا ضَرَرَ’ adalah janganlah seseorang itu berbuat sesuatu yang dia tidak melakukannya untuk dirinya sendiri, sedangkan ‘ضِرَارَ’ janganlah seseorang itu membahayakan orang lain.”[3]

Al Khusyani berkata,

“‘ضَرَرَ’ adalah sesuatu yang membahayakan yang engkau dapat memetik manfaatnya akan tetapi dapat membahayakan orang lain. Sedangkan ‘ضِرَارَ’ adalah perbuatan yang membahayakan yang sama sekali tidak dapat dipetik manfaatnya.”[4]

Sedangkan para ‘Ulama lainnya berkata,

Lafadzh ‘لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ’ mirip dengan lafadzh ‘القتل’ yang artinya membunuh dan lafadzh ‘القتل’ yang berarti memerangi, maksudnya adalah bahwasanya makna adh-dhoror adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia tidak berbuat yang membahayakan dirinya, sedangkan makna adh-dhiror adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia berbuat jahat kepadanya kalau hal itu tidak dilakukan untuk membela sebuah kebenaran.” Lihat At Tamhid 20/ 158.”[5]

Hadits ini menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan yang membahayakan harus dihilangkan dan tidak boleh dikerjakan, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengungkapkannya dalam bentuk penafian, yang mencakup semua bentuk perbuatan yang membahayakan. Sementara itu dikenal kaidah atas suatu perintah untuk mengerjakan/ amr maka hukum asalnya wajib dikerjakan sesuai dengan kadar kesanggupan, sedangkan atas suatu perintah larangan/ nahy maka hukum asalnya wajib ditinggalkan/ tidak dilakukan. Artinya bahwa asal perintah menunjukkan wajib.

Allah عزَ وجل berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, aka nada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” – Q.S. Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) [33]: 36.”[6]

Tafsirnya,

“Tidak seyogianya seorang lelaki maupun perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan hukum di tengah mereka, mereka menyelisihinya dengan memilih keputusan yang berbeda dari yang ditetapkan. Barang siapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia telah menjauh dari jalan kebenaran secara nyata.”[7]

Al-Qurthubi berkata,

“Ayat ini merupakan dalil terkuat yang digunakan mayoritas ‘Ulama bahwa asal perintah menunjukkan wajib.”[8]



Semua keterangan ini bertujuan melarang seseorang untuk berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain. Adapun perbuatan yang membahayakan orang lain apabila ditinjau dari tujuan dan manfaatnya adalah sebagai berikut:

  • Perbuatan yang memang dilakukan dengan tujuan membahayakan orang lain dan sama sekali tidak bermanfaat bagi pelakunya kecuali hanya untuk membahayakan orang lain saja. Maka perbuatan ini jelas-jelas terlarang. Firman Allah عزَ وجل dalam hadits Qudsi,

    يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

    “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, maka janganlah kalian saling menzhalimi.” – Shahih Muslim nomor 2577 (كتاب البر والصلة والآداب), Bulugh al-Maram nomor 1537 (كتاب الجامع).

    [9]

  • Perbuatan yang membahayakan orang lain namun ada manfaatnya bagi pelaku. Maka hukumnya ada 2 (dua) kemungkinan: (1) Apabila hal itu dilakukan dengan cara yang tidak wajar,maka pelaku harus mengganti kerugian yang diderita oleh orang lain tersebut; (2)     Apabila hal itu dilakukan dengaan cara yang wajar maka para ‘Ulama berselisih pendapat akan boleh dan tidaknya. Namun yang rajah (pendapat yang kuat) bahwa hal tersebut juga dilarang.

Kidah ini ‘لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ’ memiliki kedudukan yang agung dalam syariat agama Islam yang mencakup separuh agama Islam, karena syariat Islam dibangun atas dasar dua hal yakni mendatangkan ke-maslahat-an dan menghilangkan ke-madharat-an, dan kaidah ini mencakup semua bentuk kemadharatan yang harus dihilangkan.

Kaidah ini merupakan asas untuk mencegah perbuatan yang membahayakan, juga berperan sebagai dasar untuk mengganti kerugian yang timbul atas perbuatan yang membahayakan baik secara perdata maupun pidana, kaidah ini merupakan dasar bagi para Fuqoha’ (‘Ulama ahli Fiqih) dalam menentukan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan banyak kejadian.

Kaidah ini ‘Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan’ selain dari hadits di atas pendalilannya juga diambi dari Al-Qur’an. Firman Allah عزَ وجل mengenai larangan wasiat yang membahayakan,

مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ

“… Setelah ditunaikan wasiat yang dibuat olehnya atau setelah dibayar hutangnya dengan tidak memberi madharat kepada ahli waris. …” – Q.S. An-Nisa’ (Wanita) [4]: 12.[10]

Allah عزَ وجل berfirman,

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” – Q.S. Ath-Thalaq (Talak) [65]: 6.[11]

Firman Allah عزَ وجل dalam hadits Qudsi,

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, maka janganlah kalian saling menzhalimi.” – Shahih Muslim nomor 2577 (كتاب البر والصلة والآداب), Bulugh al-Maram nomor 1537 (كتاب الجامع).

[12]



Penerapan Kaidah Fiqih dalam Fiqih Kontemporer (Fiqih Nawazil)

Contoh dari penerapan kaidah Sadd az-Zari’ah dapat dilihat pada fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 2 Juni tahun 1988 dengan tajuk: Hukum Memerankan Nabi/ Rasul dan Orang Suci dalam Film . Fatwa tersebut dikeluarkan guna menanggapi permasalahan hukum tentang film The Message  yang melanggar sejumlah asas substansial yang terkandung dalam syari’at Islam. Termasuk pelanggaran terhadap asas Anikonisme/ laa Tashwiir/ لا التصوير. Ia adalah pelarangan menggambar/ melukis makhluk hidup bernyawa terlebih menggambar Para Nabi dan Rasul ‘Alaihim as-Salatu wa as-Salam.

Footnote:

[1] Syaikh Muhammad Shalih bin Shalih al-‘Utsaimin, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1426 H/ 2005 M), hal. 188. Versi terjemah bahasa Indonesia dari judul asli: Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi; (شرح حلية طالب العلم).

[1]  Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Memahami Fiqih Islam, (Gresik : Yayasan Al Furqon Al Islami, 2013), hal. 84.

[2] Ibid. hal. 86.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Ahzab, surat ke-33, ayat nomor 36.

[7] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah). hal. 423.

[8] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/ 188, dinukil dari Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, Pustaka An-Nabawi, hal. 43.

[9] Shahih Muslim, hadits nomor 2557, kitab Al-Birr Was-Shalah.

[10] Kitab suci Al-Qur’an, Surat An-Nisa, surat ke-4, ayat nomor 12.

[11] Ibid. Surat At-Thalaq, surat ke-65, ayat nomor 6.

[12] Shahih Muslim, hadits nomor 2557, kitab Al-Birr Was-Shalah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer