HomeIntisari Cahaya IlmuQadha; Bagaimana Cara Menebus Shalat Yang Telah Tertinggal?
qadha kafarat kafarah pelebur dosa

Qadha; Bagaimana Cara Menebus Shalat Yang Telah Tertinggal?

Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

Qadha Shalat: Apabila seseorang meninggalkan Shalat lima waktu dikarenakan ia lupa dan tertidur, maka wajib baginya mengerjakan shalat saat ia ingat atau bangun dari tidurnya (meng – qadha Shalat). Tidak ada penebus (kaffarah) dalam hal ini, kecuali hal itu.

Anas bin Malik Radhiy-Allaahu-‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

 “Barangsiapa yang terlupa Shalat maka hendaklah ia mengerjakannya ketika teringat olehnya. Tidak ada penebus baginya kecuali itu” Kemudian beliau ﷺ membacakan ayat,  وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي “Dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku (Allah) {~Q.S. Tha-ha [20]: 14}”  ~Shahih Bukhari no. 597 kitab Mawaqitush-Shalat

Barangsiapa yang terlupa Shalat atau tertidur maka hendaklah ia mengerjakannya jika ia ingat, tidak ada penebus baginya, kecuali itu.” ~lafazh ini milik riwayat Al-Baihaqi

Sungguh, Aku adalah Allah, tidak ada yang diibadahi dengan benar kecuali Aku. Tiada sekutu bagi-Ku maka beribadahlah kepada-Ku saja dan tegakkanlah Shalat untuk mengingat-Ku di dalamnya.- Q.S. Thaha [20]: 14, Kitab At-Tafsir Al-Musyassar mushaf Al-Madinah (At-Tafsirul Muyassaru)

Namun apabila seseorang meninggalkan Shalat lima waktu karena ia malas dan merupakan sikap peremehan, baik sekali Shalat atau lebih, sampai keluar waktunya maka wajib baginya:

  1. Bertaubat dengan sebenar-benarnya, tidak ada penebusnya kecuali dengan hal ini. Inilah pendapat yang benar mengenai orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada udzur sampai keluar waktunya. ~lihat fatwa Komite Tetap dan Riset Ilmiah, Kerajaan Arab Saudi, No. 4791
  2. Tidak perlu mengqadha Shalat yang ia tinggalkan karena Shalat adalah ibadah yang ditentukan waktunya. Dan barangsiapa yang meninggalkan ibadah yang telah ditentukan waktunya tanpa ada udzur seperti shalat dan puasa, kemudian ia bertaubat, maka tidak perlu ia mengqadha Shalat yang ia tinggalkan, karena ibadah ini telah ditentukan waktunya oleh pembuat syari’at, Allah Jalla Dzikruhu (Yang Mulia Sebutannya), dengan batasan awal waktu dan akhirnya. ~lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail, I/322

Mengqadha Shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa alasan, sampai keluar waktunya berarti telah melaksanakan Shalat di luar waktunya. Hal ini berarti pula seseorang itu telah melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Rasulullah ﷺ yang juga dikenal dengan istilah syar’i sebagai Bid’ah/ Innovation/ Perkara Baru dalam Peribadatan. Jika melakukan amalan bid’ah, maka amalannya tertolak, sebab syarat diterimanya suatu amal ibadah adalah [1] Ikhlas karena Allah ‘Azza Wa Jalla, [2] Ittiba-ur-Rasul atau mengikuti Rasulullah ﷺ baik sifat maupun caranya, artinya harus berkesesuaian dengan Sunnah.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ‏

Siapa yang melakukan sebuah amalan, tidak ada dari perkara kami, maka amalannya tertolak.” ~Shahih Muslim No. 1718 kitab al-Aqdhiyah (Kitabul-Aqdhiyah/Keputusan Kehakiman/Judicial Decisions)

Kaffarah (penebus dosa/expiation) tidak akan diperoleh dengan Bid’ah (perkara baru dalam peribadatan/innovation).- Faedah Ilmiyah

Hal yang beredar di masyarakat namun dan diyakini sebagai penebus dari meninggalkan Shalat Fardhu dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya, dan merupakan sesuatu yang diada-adakan di dalam permasalahan agama atau bid’ah, antara lain:

  1. Mengqadha Shalat setiap selesai Shalat Fardhu dengan keyakinan mengqadha Shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya.
  2. Memperbanyak Shalat di Masjid Al-Haram atau Masjid An-Nabawi dengan keyakinan sebagai pengganti Shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya.
  3. Mengeluarkan sedekah sebagai penebus Shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya.

Maka ketiga hal tersebut di atas secara jelas dan tegas adalah bid’ah.

Senarai Pustaka:

[1]   Kitab Suci Al-Qur’an.

[2]   Ahmad Zainuddin, LC. 1436 H. Untukmu Yang Masih Meninggalkan Shalat. Jakarta: Naashirussunnah.

[3] Kitab At-Tafsir Al-Musyassar mushaf Al-Madinah (At-Tafsirul Muyassaru).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

984 total views, 2 views today