HomeIntisari Cahaya IlmuPolemik Bercadar di Sekolah Umum
bercadar sekolah teman shalih

Polemik Bercadar di Sekolah Umum

Intisari Cahaya Ilmu Kabar Nasihat Regional 0 0 likes share

Bayan – “Jangan Maksa Seragam; Tidak Sama antara Sekolah Umum, SMK dengan Sekolah Keagamaan Islam (Diniyah & Pesantren)”:

Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian yang besar terhadap perkembangan Pendidikan Nasional yang tercermin dari perubahan dan penyempurnaan UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang pada pertengahan Juli 2003 telah disahkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai penggantinya.

Dalam UU SISDIKNAS di atas dapat diperhatikan adanya pengindahan Pemerintah terhadap substansi Agama dan penafian unsur diskriminatif, sementara itu pemerintah juga memberikan keluangan bagi para orang tua dan peserta didik untuk memilih program pendidikan sesuai dengan minat.

Adapun jenis pendidikan yang diakui di Indonesia di antaranya yakni: pendidikan umum; kejuruan; akademik profesi; vokasi; pendidikan keagamaan Islam (pesantren) & pendidikan keagamaan; dan pendidikan khusus.

Oleh sebab itu hendaknya Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Umum dan Sekolah Kejuruan bekerja secara profesional serta tidak menyalahi ketentuan perundangan yang berlaku, misal dengan mewajibkan peserta didik putri untuk memakai seragam sekolah yang tidak sesuai dengan kategori atau Satuan Pendidikan terdaftar. Sebab Pakaian Seragam Sekolah Putri dan Pakaian Seragam Sekolah Khas Muslimah di sekolah Umum dan Kejuruan telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 45 tahun 2014.

Sementara itu Permendikbud sebagaimana dimaksud di atas tidak mengatur mengenai seragam sekolah bagi peserta didik putra maupun putri di Sekolah Pendidikan Keagamaan Islam (pesantren), artinya Pemerintah memberikan ruang bebas bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Keagamaan Islam (pesantren) untuk membuat Peraturan Tata Busana/ Seragam peserta didik (santri putra dan putri).

Catatan Penting:

[i] Tidak Sama antara Sekolah Keagamaan dengan Sekolah/ Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam (Pesantren) dengan Sekolah Umum dan Sekolah Kejuruan,.

[ii] Pendidikan Agama tidak sama dengan Pendidikan Keagamaan, sebagaimana Pendidikan Keagamaan tidak sama dengan Pendidikan Keagamaan Islam (Diniyah dan Pesantren).

[iii] Pendidikan Diniyah dan Pesantren adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada semua jalur pendidikan (Jalur Formal, Jalur Nonformal dan Jalur Informal) dan jenjang pendidikan (Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi).

[iv] Hendaklah orang tua, pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik Sekolah Umum dan Kejuruan serta masyarakat luas memathui regulasi yang telah ditetapkan pemerintah selama tidak bermaksiat kepada Allah عزَ وجل dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم.

[v] Peserta didik putri di Sekolah Umum dan SMK yang ingin berbusana syar’i (dengan bercadar/ penutup wajah) dapat mengajukan permohonan pindah ke Satuan Pendidikan Keagamaan Islam (Pesantren).

[vi] Ta’at kepada pemerintah adalah bagian pokok Aqidah Sunnah/ Aqidah Islam.

Allah عزَ وجل berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah perselisihan itu kepada Allah dan Rasul jika memang kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian lebih baik dan lebih bagus kesudahannya.” – Q.S. An-Nisaa’ (Wanita) [4]: 59.”[1]

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، يَرْوِيهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَكَرِهَهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوتُ إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ‏

“Barangsiapa yang melihat dari amirnya (pengusanya) sesuatu yang tidak dia sukai maka bersabarlah. Karena sesungguhnya, tidak seorang pun juga yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja lalu dia mati, melainkan dia mati dengan kematian jahiliyyah.” – Shahih Bukhari, nomor 7143.”[2]

[vii] Menyamakan sesuatu yang berbeda adalah kebathilan.

Footnote:

[1] Kitab Suci Al-Qur’an, surat An-Nisa, ayat nomor 59.

[2] Hadits Shahih: Shahih Bukhari, bab Al-Ahkam, nomor 7143.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

384 total views, 6 views today