HomeKabarPenyebab Runtuhnya Gedung Bursa Efek; Tentara Bayaran
bursa efek ambruk teman shalih

Penyebab Runtuhnya Gedung Bursa Efek; Tentara Bayaran

Kabar Regional 0 likes 222 views share

Allāh ‫عزَ وجل‬ berfirman,

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allāh telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. …” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 275.

Bursa Efek Ambruk (1439 H/ 15-1-2018 M): Bencana bermula apabila suatu kaum membangun dasar perekonomian dengan praktek ribawiyah jahiliyah dengan segala cabangnya, atau dalam istilah lain juga dapat dikatakan sebagai ribawiyah jahiliyah kontemporer (yang kita hidup diwaktu sekarang ini). Mulai dari perbankan konvensional hingga kegiatan pasar modal yang diselenggarakan dalam Bursa Efek (penyelenggara dan penyedia sistem pasar modal) sebagai sumber pembiayan usaha dan investasi di negeri-negeri kaum muslimin.

Di mana praktek ekonomi ribawiyah tersebut tidak akan berjalan kecuali digerakkan oleh praktisi/ pakar ekonomi/ para sarjana. Dengan segala jenis profesi, lembaga (mulai dari Otoritas Jasa Keuangan/ OJK), Bursa Efek, hingga berbagai korporasi/ perusahaan ribawiyah, yang siap menerima mereka yakni para sarjana dimaksud sebagai tentara bayaran yang mengorbankan akal pikiran dan waktu hidupnya untuk memerangi kaum Mukminin serta sebagian kaum Muslimin yang lain dalam kancah perang ekonomi global yang dilancarkan oleh kaum kuffar di negeri-negeri kaum Muslimin.

Abdul Hakim bin Amir Abdat ‎حفظه الله menuturkan dalam kitabnya, Iqtishaadiyyah Islamiyyah, bahwa,

“Pada hari ini (Sistem Ekonomi Islam) telah ditinggalkan dan dilupakan oleh sebagian besar kaum muslimin khususnya oleh para pedagang atau pengusaha muslim atau oleh mereka yang dinamakan sebagai pakar  atau ahli (?!) ekonomi. Ya, mereka adalah sebagai pakar ekonomi-kuffar walaupun mereka anak-anak kita kaum Muslimin!!!”



Betapa miris tatkala melihat realita bahwa pakar ekonomi dimaksud yakni para sarjana notabene berasal dari keluarga muslim. Mereka yang telah mendapatkan pelajaran sistem ekonomi kuffar (yang diperoleh di dalam maupun luar negeri), kemudian dengan bebas melakukan pengkhianatan yang nyata terhadap orang-orang Mukmin dengan menerapkan sistem ekonomi kuffar di negeri-negeri Muslim dan meninggalkan Ekonomi Syariah/ Ekonomi Islam/ Iqtishaadiyyah Islamiyyah.

Bahkan pelajaran yang sebelumnya telah diperoleh kemudian diajarkan kembali hingga masuk ke dalam jenjang pendidikan mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Yang pada level ini ditanamkan kaidah-kaidah/ asas ekonomi kuffar yang kemudian membentuk pola pikir anak-anak muslim dalam memandang perbendaharaan dunia dari perspektif kuffar dan sekuler.

Sehingga pada masa produktif, umumnya mereka (generasi muda) berorientasi kepada Gaining Profit semata yang juga dikenal dalam istilah Hubbu Dunya atau Cinta Dunia. Hal ini juga disebabkan hilangnya sikap Zuhud dan Qona’ah dari dalam dada-dada mereka setelah sekian lama, sedikit demi sedikit, dijauhkan oleh Pakar Ekonomi-Kuffar dari asas-asas yang berlaku dalam Ekonomi Islam.

Semoga apa yang terjadi baru-baru ini dapat direnungkan dari sudut pandang seorang hamba sebagai tanda-tanda peringatan yang jelas dan terang yang datangnya dari Rabb pengendali semesta Alam pemilik kekayaan apa yang ada di langit dan di bumi.

Allāh عَزَّ وَجَلَّ berfirman,

‎لِّلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Kepunyaan Allāh segala yang di langit dan segala yang di bumi. …” — Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 284.

Sesungguhnya kembali kepada kebenaran lebih baik dari pada bertahan dalam kebathilan.

Allāh عَزَّ وَجَلَّ berfirman,

‎أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

‎أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

‎أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?

Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allāh (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari siksaan Allāh selain orang-orang yang rugi.” — Q.S. Al-A’raf (Tempat Tertinggi) [7]: 97 s.d. 99.

Maraaji’:

  • Kitab suci Al-Qur’an;
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat. 1431 H/ 2010 M. Iqtishaadiyyah Islamiyyah (Ekonomi Islam). Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer