HomeDaftar4 Penghambat Hidup yang Harus Dijauhi
Penghambat Hidup yang Harus Dijauhi

4 Penghambat Hidup yang Harus Dijauhi

Daftar Intisari Cahaya Ilmu 0 likes 84 views share

Penghalang paling besar dalam kehidupan seorang Muslim bagi jadwal kehidupan dan berbagai urusannya adalah tidak adanya perencanaan dan pengaturan program, hingga terkadang dirinya harus menghadapi tumpukan pekerjaan dalam waktu yang bersamaan hingga tidak mampu melaksanakannya.

Hal semacam ini juga banyak terjadi pada sebagian orang yang memiliki kegigihan yang kuat, hingga berbagai macam pekerjaan menumpuk, mulai dari pekerjaan tugas sampai urusan keluarga, kerabat, teman-teman akrab, dan lain-lain. Hingga tidak ada waktu baginya untuk beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. 



Keadaan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yakni:

  • Menunda-nunda pekerjaan sehari-hari hingga pekerjaan bertumpuk-tumpuk antara satu dengan lainnya;
  • Tidak menentukan skala prioritas atas pekerjaan yang harus didahulukan dan diutamakan;
  • Tidak memiliki disiplin pribadi;
  • Tidak memiliki kepedulian.

Tersebut di atas merupakan hal mayoritas yang umumnya dihadapi seseorang yang merupakan penghambat hidup yang harus dijauhi. Menumpuknya pekerjaan yang selalu ada dalam kehidupan seseorang adalah merupakan satu di antara penghalang kemajuan dan ketenangan jiwa yang merupakan pembantu dirinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maka sudah selayaknya bagi seorang Mukallaf untuk mengerahkan akal dan pikirannya pada urusan-urusan akhirat dan ini adalah prioritas utama baginya. Kemudian urusan-urusan dunia mengekor kepada urusan-urusan akhiratnya. Sungguh sangat menyedihkan, di saat saudara menemukan sebagian orang yang menamakan dirinya sebagai orang yang konsisten dalam kegigihan namun pada realitanya justru tenggelam dalam kelalaian atas pekara akhirat di tengah-tengah kesibukan duniawi, sebuah kesibukan yang tidak pernah hampir terselesaikan. Hingga setiap kali dia diajak untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, maka dia akan menjawab dengan ucapan, “Saya sibuk sekali,” dan setiap kali orang itu dinasihati agar menyadari kewajibannya dalam menuntut ilmu ad-Din/ ilmu Agama serta membaca buku, maka alasannya adalah, “Waktunya sempit dan banayak kesibukan,” lalu kapan dirinya akan membaca? Kapan muhasabah  (evaluasi) dan ishlah (melakukan perbaikan) diri? dan kapan dirinya akan menjaga Agama Allah ‘Azza wa Jalla yakni dengan mengerjakan perintah-Nya dan menijauhi apa-apa yang dilarang oleh-Nya?

Barangsiapa yang memiliki kebiasaan seperti itu, maka dirinya tidak pernah berhenti mengemukakan alasan-alasan. Dan di antara mereka ada yang benar-benar sibuk mengejar harta kekayaan dunia hingga ia mengejar harta kekayaan itu dengan penuh kehausan dan keserakahan. Wal Iyadzubillah, semoga kita dilindungi dari sikap yang demikian.

Dinukil dari:

  • Husain Muhammad Syamir,  31 Sebab Lemahnya Iman, (Jakarta: Darul Haq, 1434 H/ 2013 M), hal. 149-151.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer