Pengertian Hadits: Hadits Shahih, Hadits Hasan, Hadits Masyhur, Maudhu

Untuk memudahkan anda dalam membaca artikel tentang pengertian hadits, pengertian, pembagian, dan unsur-unsurnya. Gunakanlah panduan daftar isi berikut ini untuk menemukan konten yang sesuai dengan kebutuhan anda.

1. Pengertian Hadits

Hadits (أحاديث : bahasa arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, cerita). Sementara itu menurut ahli hadits yakni segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم atau segala berita yang bersumber dari Nabi صلى الله عليه وسلم berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguhan kebenaran dengan alasan), maupun deskripsi sifat-sifat Nabi صلى الله عليه وسلم. Kemudian menurut ahli Ushul Fiqih, hadis berarti perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersangkut paut dengan hukum.

Istilah lain untuk sebutan hadits adalah sunnah, khabar, dan atsar. Menurut sebagian ulama, cakupan sunnah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, dan baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu titik berat penekanan sunnah adalah kebiasaan normatif Nabi صلى الله عليه وسلم.

Khabar yang berarti berita atau warta, selain dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dapat juga kepada para Shahabat رضي الله عنهم dan Tabi’in. Dengan demikian, khabar lebih umum dari hadits karena termasuk di dalamnya semua riwayat yang bukan dari Nabi صلى الله عليه وسلم.

Atsar berarti juga nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan para Shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, meskipun kadang-kadang dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم disebut doa ma’tsur. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata “tradisi” juga dipakai sebagai padanan kata hadits.

Perbedaan pengertian yang diberikan tentang hadits dan tentang pengertian kata yang semaksud dengannya (sunnah, khabar, dan atsar) disebabkan adanya perbedaan sudut pandang para ulama dalam melihat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan peri kehidupannya.

Ulama hadits melihat Nabi صلى الله عليه وسلم sebagai pribadi panutan umat manusia. Ulama ushul fiqih melihatnya sebagai pengatur undang-undang dan pencipta dasar-dasar untuk ber-ijtihad. Fuqaha (ahli fiqh) melihatnya sebagai pribadi yang seluruh perbuatan dan perkataannya menunjuk pada hukum islam (syara’).

Perbedaan sudut pandang tersebut membawa pengertian hadits pada perbedaan pengertian, baik yang memberi penekanan yang amat terbatas dan tertentu, maupun yang memahaminya dengan cakupan yang lebih luas asal saja itu dinukilkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم.

Istilah hadits juga dikenal dalam teologi Islam. Dalam bidang ini kata hadis (jamaknya hawadits) digunakan untuk pengertian suatu wujud yang sebelumnya tidak ada atau sesuatu yang tidak azali (lawannya adalah qadim). Misalnya, dikatakan bahwa eksistensi alam ini hadits. Maksudnya, alam ini pernah tidak ada, lalu menjadi ada karena diciptakan Tuhan.

2. Jenis Hadits Berdasar Sumbernya

Dilihat dari segi sumbernya, hadis dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu hadits qudsi dan hadits nabawi (Nabi).

2.1 Pengertian Hadits Qudsi

Pengertian hadits qudsi juga disebut dengan istilah hadis Ilahi atau hadis Rabbani, adalah suatu hadits yang berisi firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang disampaikan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Dengan kata lain, hadis qudsi ialah hadis yang maknanya berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sedangkan lafazh-nya berasal dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dengan demikian, hadis qudsi berbeda dengan hadits nabawi (Nabi), yaitu hadis yang lafazh dan maknanya berasal dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sendiri.

Hadits qudsi berbeda dengan Al-Qur’an. Perbedaannya antara lain:

  1. Lafazh dan makna Al-Qur’an berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sedangkan hadits qudsi hanya maknanya yang berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى;
  2. Al-Qur’an mengandung mukjizat;
  3. Membaca Al-Qur’an termasuk perbuatan ibadah, sedangkan membaca hadis qudsi tidak termasuk ibadah;
  4. Al-Qur’an tidak boleh dibaca atau bahkan disentuh oleh orang-orang yang berhadats, sedangkan hadis qudsi boleh dipegang dan dibaca juga oleh orang-orang yang punya hadats;
  5. Periwayatan Al-Qur’an tidak boleh hanya dengan maknanya saja, sedangkan hadits qudsi boleh diriwayatkan hanya dengan maknanya;
  6. Al-Qur’an harus dibaca diwaktu shalat, sedangkan hadis qudsi tidak harus dan bahkan tidak boelh dibaca diwaktu shalat;
  7. Semua ayat Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawattir, sedeangkan tidak semua hadis qudsi diriwayatkan secara mutawattir, tetapi lafazh (kata-kata)-nya dan maknanya (Al-Qur’an) berasal dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Hadits qudsi bukan merupakan suatu kelompok tersendiri dalam buku-buku hadis, akan tetapi merupakan beberapa himpunan yang disusun dari al-Kutub as-Sittah (Kitab Enam) dan selainnya. Himpunan yang lebih luas adalah al-Idafat at-Taniyyah fi al-Ahaadits al-Qudsiyyah (Sandaran Kedua dalam Hadis-hadis Qudsi), yang dibuat oleh Muhammad al-Madani (w. 881 H/1476 M) dan diterbitkan di Hyderabad pada tahun 1905. Kitab ini memuat 858 hadis yang dibagi pada tiga kelompok, yaitu:

  1. Yang dimulai dengan kata qaala (berkata);
  2. Yang dimulai dengan kata yaquulu (berkata); dan
  3. Yang disusun menurut abjad.

Himpunan ini tidak menjelaskan isnad/ sanad (kesinambungan antara dua rawi hadits) meskipun menyebutkan dari mana setiap hadis yang dimuatnya.

Sebuah himpunan lain yang memuat 101 hadis qudsi adalah Misykat al-Anwar (Pengatur Cahaya) karya Ibnu Arabi, yang diterbitkan di Aleppo (1927) bersama himpunan yang memuat 40 hadis yang disusun oleh Mullah Ali al-Qari (w. 1605). Himpunan karya Ibnu Arabi tersebut diperinci kedalam tiga bagian, dua bagian masing-masing berisi 40 hadits dan satu bagian berisi 21 hadis.

Himpunan ini juga memuat isnad di bagian pertama, terkadang di bagian ke-dua, dan biasanya juga dibagian ke-tiga. Sedangkan himpunan karya Ali al-Qari hanya menyebut sahabat yang dikenal mendengar hadtis dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Sebuah himpunan hadis Qudsi lainnya yang tidak diterbitkan adalah karya Muhammad bin Tajuddin al-Munawi (w. 1621).

Ada ulama yang menjelaskan bahwa hadis qudsi adalah segala hadis yang berpautan dengan zat Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan sifat-sifat-Nya. Contoh hadits qudsi adalah sebagai berikut:

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman: Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku dan Aku bersemayam di mana saja dia menyebut (mengingat)-Ku.” – H.R. Bukhari dari Abu Hurairah رضي الله عنه

2.2 Hadits Nabawi

Dibandingkan dengan hadits qudsi, hadis Nabawi jauh lebih banyak jumlahnya. Hadis nabawi juga memiliki kedudukan yang penting dalam Islam meskipun nilainya tidak setinggi hadits qudsi.

3. Unsur-Unsur Hadits

Suatu hadis mengandung 3 (tiga) unsur, yakni: rawi (yang meriwayatkan), sanad (sandaran), dan matan (teks hadis).

3.1 Rawi

Rawi (jamaknya ruwat) ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan hadis dalam satu kitab yang pernah didengarnya atau diterima dari seseorang (gurunya). Menyampaikan hadis disebut merawikan hadis.

Seringkali sebuah hadis diriwayatkan oleh bukan hanya satu rawi, akan tetapi oleh banyak rawi. Untuk itu biasanya para penyusun kitab hadits tidak menyebutkan nama-nama rawi seluruhnya, melainkan hanya merumuskan dengan bilangan rawi pada akhir matan hadis dengan ungkapan akhrajahuu atau rawaahu… (diriwayatkan). Misalnya:

  1. Akhrajahuu as-Sab’ah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh tujuh orang rawi, yaitu Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah;
  2. Akhrajahuu as-Sittah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh enam rawi, yaitu tujuh orang di atas dikurangi Ahmad;
  3. Akhrajahuu al-Khamsah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkanb oleh lima orang rawi, yakni tujuh orang di atas dikurangi Bukhari dan Muslim;
  4. Akhrajahuu al-Arba’ah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh empat rawi, yaitu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah;
  5. Akhrajahuu as-Salaasah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh tiga orang rawi yakni, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i;
  6. Akhrajahuu asy-Syaikhaan, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh kedua imam hadis, yakni Bukhari dan Muslim. Untuk ini juga dipakai istilah Muttafaq ‘Alaih;
  7. Akhrajahuu al-Jamaa’ah, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh rawi yang banyak sekali jumlahnya;
  8. Rawaahuu Ashaab as-Sunan, maksudnya hadis tersebut diriwayatkan oleh pemilik kitab-kitab Sunan, yaitu Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i.

3.2 Sanad

Sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadis atau rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadis. Dalam hubungan ini dikenal istilah musnid, musnad, dan isnaad. Musnid adalah orang yang menerangkan hadits dengan menyebutkan sanadnya. Musnad adalah hadis yang seluruh sanadnya disebutkan sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم (pengertian ini berbeda dengan kitab Musnad). Sedangkan isnad adalah keterangan atau penjelasan mengenai sanad hadis atau keterangan mengenai jalan sandaran suatu hadits.

Selain itu juga terdapat istilah Sighat al-Isnaad atau Sighat at-Tahammul, yaitu lafazh yang terdapat dalam sanad yang digunakan oleh rawi yang menunjukkan tingkat penerimaan dan penyampaian hadits dari rawi tersebut.

Ada 8 (delapan) sighat isnaad dan yang disebutkan lebih dulu lebih tinggi tingkatannya dari yang disebut kemudian, yaitu:

  1. as-simaa’ min lafz asy-syaikh (mendengar dari lafaz syaikh), contohnya: sami’tu (aku mendengar);
  2. qiraa’at ‘ala asy-syaikh (membaca tulisan syaikh), contohnya: qara’tu ‘alaa (aku membaca);
  3. al-ijaazat, contohnya: ajaztu laka Sahiih al-Bukhaarii (aku bolehkan/ izinkan untukmu kitab Shahih al-Bukhari);
  4. al-munaawalah, contohnya: “hadits ini saya terima dari si fulan, maka riwayatkanlah atas namaku”;
  5. al-mukaatabah (tulisan), contohnya: “si fulan telah menceritakan padaku secara tertulis”;
  6. al-i’laam (pemberitahuan), contohnya: “Saya telah meriwayatkan hadis ini dari si Fulan, maka riwayatkanlah daripadaku”;
  7. al-wasiyat, yakni guru mewasiatkan suatu hadis menjelang dia pergi jauh atau merasa ajalnya sudah dekat; dan
  8. al-wijaadah, yakni rawi memperoleh hadits yang ditulis oleh seorang guru, tetapi tidak dengan jalan simaa’ii atau ijaazah, bauik semasa atau tidak, baik berjumpa atau tidak. Siigat isnaad itu dalam kitab-kitab hadis biasa disingkat penulisannya.

3.3 Matan

Matan adalah materi atau teks hadits, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir, yang terletak setelah sanad terakhir. Matan dikatakan juga sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang dinyatakan setelah menyebutkan sanad.

Terdapat banyak riwayat yang melukiskan betapa besar minat para Shahabat رضي الله عنهم dalam menghadiri majelis (pengajian) Nabi صلى الله عليه وسلم. Hal itu tercermin, misalnya pada kesepakatan antara Umar bin Khattab رضي الله عنه  dan Ibnu Zaid, tetangganya, untuk saling bergantian hadir dalam majelis Nabi صلى الله عليه وسلم  tersebut.

Namun karena terkadang ada faktor yang menyebabkan di antara mereka tidak dapat hadir dan perbedaan tingkat kemampuan mereka dalam menangkap dan memahami ucapan, perbuatan, dan takrir Nabi صلى الله عليه وسلم, para Shahabat رضي الله عنهم kemudian menggunakan beragam cara dalam menyampaikan hadis.

Karena itu, terdapat beberapa matan hadits, yakni:

  1. yang lafazh atau setiap katanya persis sama dengan lafazh pada matan hadits yang lain;
  2. yang antara satu matan hadits dan lainnya hanya terdapat persamaan makna, isi atau tema, sedangkan lafazhnya berbeda; dan
  3. yang antara satu matan hadis dan lainnya saling bertentangan (berbeda), baik lafazh maupun maknanya.

Keadaan ini lah antara lain yang menjadi objek penelitian para ahli guna memperoleh hadits yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan untuk dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.

4. Pembagian dan Macam-macam Hadits

Para ulama hadits meninjau hadis dari 2 (dua) aspek, yakni aspek jumlah rawi dan dari nilai sanad.

4.1 Hadis dari Aspek Jumlah Rawi

Dari aspek jumlah rawi, ada 2 (dua) bentuk pembagian hadis:

  1. Bentuk pertama terbagi atas hadits mutwattir dan ahad;
    Pembagian yang praktis adalah bentuk yang pertama karena pada dasarnya hadits masyhur tercakup dalam hadis ahad, yang terbagi atas masyhur, ‘aziz, dan gharib.
  2. Bentuk ke-dua terbagi atas mutawattir, masyhur, dan ahad.

Hadits Mutawatir

Pengertian hadits mutawattir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang pada setiap tingkat sanadnya, yang menurut tradisi mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dan karena itu diyakini kebenarannya. Hadits mutawattir benar-benar bersumber dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Hadis mutawattir sama dengan Al-Qur’an dalam hal keotentikannya, karena keduanya qat’ii al wuruud (sesuatu yang pasti datangnya).

Para ulama sepakat bahwa hadis mutawatir wajib diamalkan dalam seluruh aspek, termasuk dalam bidang Aqidah (aqidah yang shahih/ keyakinan yang benar di dalam beragama, contoh: meyakini bahwa Allah  عَزَّ وَجَلَّ berada di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, Allah عَزَّ وَجَلَّ memiliki wajah dan tangan akan tetapi tidak sama dengan wajah dan tangan ciptaan-Nya, meyakini bahwa orangtua Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di neraka, dan seterusnya).

Hadits Ahad: Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib

Penjelasannya:

  1. Hadis Ahad adalah hadis yang tidak memenuhi (mencapai) syarat-syarat mutawattir;
  2. Hadis Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, tetapi belum mencapai derajat mutawattir;
  3. Hadits ‘Aziiz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi pada satu tabaqat-nya, sekalipun setelah itu diriwayatkan pula oleh sejumlah rawi;
  4. Hadis Gharib adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat hanya satu orang rawi, di mana pun sanad itu terjadi.

Para ulama bersepakat bahwa kedudukan hadits mutawattir adalah sumber hukum ke-dua sesudah Al-Qur’an. Tentang kedudukan hadis ahad, menurut Abu Hanifah (Imam Hanafi), kalau rawinya orang-orang adil, dapat dijadikan hujjah hanya pada bidang amaliah, bukan pada bidang aqidah dan ilmiah. Menurut Imam Malik, hadis ahad dapat digunakan untuk menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an dan harus didahulukan dari qiyas zanni (tidak pasti). Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i, hadits ahad berfungsi sebagai hujjah apa bila rawinya memiliki empat syarat, yakni berakal, dabit (memiliki ingatan dan hapalan yang sempurna serta mampu menyampaikan hapalan itu kapan saja dikehendaki), mendengar langsung dari Nabi صلى الله عليه وسلم, dan tidak menyalahi pendapat para ulama hadits.

4.2 Hadits dari Nilai Sanad

Hadits ada 3 (tiga) macam, yaitu:

  1. Hadits Shahih;
  2. Hadits Hasan;
  3. Hadits Dha’if.

Hadits Shahih

Pengertian hadits shahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan:

  1. Sanadnya bersambung;
  2. Diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlaq baik, tidak fasik, terjaga muru’ah (kehormatan dirinya), dan dabit;
  3. Matannya tidak syazz (tidak mengandung kejanggalan-kejangalan) serta tidak ber-‘illat (sebab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).

Hadits yang memiliki syarat tersebut juga disebut shahih li zatih. Akan tetapi, apabila kurang salah satu syarat tersebut, namun dapat ditutupi dengan sesuatu cara lain, ia dinamakan shahih li ghairih.

Hadits Hasan

Pengertian hadits hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matannya tidak syazz dan ber-‘illat. Hadits hasan dengan syarat-syarat demikian juga disebut hasan li zatih. Akan tetapi, bila dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal/diketahui, namun dia bukan orang yang terlalu banyak membuat kesalahan, dinamakan hasan li ghairih.

Hadits Dha’if

Ada pun pengertian hadits dha’if (lemah) ialah hadis yang tidak memenuhi syarat shahih dan hasan. Pembagian hadis dhaif tidak sesederhana pembagian hadis shahih atau hadis hasan, karena kemungkinan kekurangan persyaratan shahih dan hasan itu sangat bervariasi. Oleh karena itu, Ibnu Hibban (ahli hadis, w. 342 H) menyebutkan bahwa hadits dhaif ada 49 macam. Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadis, hal tersebut dapat menggambarkan banyaknya hadis dha’if.

Dari segi keterputusan sanad, hadits dhaif ada beberapa macam, yaitu:

  1. Hadis Mursal: hadis yang diriwayatkan oleh tabi’in langsung dari Nabi صلى الله عليه وسلم;
  2. Hadis Munqati: hadis yang salah seorang rawinya gugur tidak pada shahabat, tetapi bisa terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir;
  3. Hadis al-Mu’dal: hadis yang dua orang rawinya atau lebih hilang secara berurutan dalam rangkaian sanad;
  4. Hadis Mudallas: hadis yang rawinya meriwayatkan hadis tersebut dari orang yang sezaman dengannya, tetapi tidak menerimanya secara langsung dari orang tersebut; dan
  5. Hadis Mu’allal: hadits yang kelihatannya selamat, akan tetapi sebenarnya memiliki cacat yang tersembunyi, baik pada sanad maupun matannya.

Dari segli lain, hadis dhaif terbagi atas enam macam, yaitu:

  1. Hadis Mudtarib: hadits yang kemampuan ingatan dan pemahaman periwayatnya kurang;
  2. Hadis Maqlub: hadits yang terjadi pembalikan di dalamnya, baik pada sanad, nama periwayat, maupun matannya;
  3. Hadis Muda’af: hadits yang diperselisihkan oleh para ulama mengenai lemah atau kuatnya sanad atau matannya;
  4. Hadis Syazz: hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah (kredibel), tetapi riwayatnya ini menyalahi riwayat orang banyak yang tsiqah pula;
  5. Hadis Munkar: hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang lemah dan berbeda pula riwayatnya dengan riwayat yang tsiqah;
  6. Hadis Matruk: hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang suka ber-dusta, nyata kefasikannya, pelupa atau ragu dalam periwayatan.

Hadits Maudhu

Pengertian hadits maudhu adalah hadis palsu, ialah sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم , tetapi sesungguhnya itu bukan merupakan perbuatan, perkataan, atau takrir Nabi صلى الله عليه وسلم.

Meskipun ada yang berpendapat bahwa hadis maudhu sudah ada sejak masa Nabi صلى الله عليه وسلم, namun jumhur ulama (mayoritas) ahli hadis berpendapat bahwa hadis maudhu mulai terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, baik karena ketegasan dan kehati-hatian periwayatan hadits di masa kekhalifahan sebelumnya maupun situasi politik di masa Ali. Di mana perbenturan berbagai kepentingan semakin meningkat.

Ciri-ciri Hadits Ma’udhu

Di antara ciri-ciri hadis maudhu adalah:

  1. Matan hadis tidak sesuai dengan fasaahah (kefasihan bahasa, kebaikan, kelayakan, dan kesopanan) bahasa Nabi صلى الله عليه وسلم;
  2. Bertentangan dengan Al-Qur’an, akal sehat, dan kenyataan;
  3. Rawinya dikenal sebagai pen-dusta (al-Kadzdzab);
  4. Pengakuan sendiri dari pembuat hadits palsu tersebut;
  5. Ada petunjuk bahwa di antara perawinya ada pen-dusta;
  6. Rawi menyangkal bahwa dia pernah memberikan riwayat kepada orang yang membuat hadits palsu tersebut.

4.3 Hadis dari Aspek Rawi

Dilihat dari segi rawi:

  1. Peringkat pertama adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim;
  2. Peringkat ke-dua adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari saja;
  3. Peringkat ke-tiga adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Muslim saja;
  4. Peringkat ke-empat adalah yang diriwayatkan oleh ulama lain yang memiliki persyaratan yang sama dengan persyaratan Bukhari dan Muslim;
  5. Peringkat ke-lima adalah yang diriwayatkan ulama lain yang sama persyaratannya dengan persyaratan Bukhari saja;
  6. Sedangkan
  7. Peringkat ke-enam adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ulama lain yang persyaratannya sama dengan persyaratan muslim saja.

Dinukil dari: Ensiklopedi Islam. Penerbit: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

18 tanggapan untuk “Pengertian Hadits: Hadits Shahih, Hadits Hasan, Hadits Masyhur, Maudhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *