Parfum Membangkitkan Semangat Berhubungan? Ketahui Ini Seputar Pemakaian Parfum
Memakai parfum adalah salah satu hal yang harus dilakukan dalam etika seorang suami terhadap istri, terlebih dalam melakukan hubungan intim.

Parfum Membangkitkan Semangat Berhubungan? Ketahui Ini Seputar Pemakaian Parfum

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu Maha Indah dan mencintai keindahan, demikian juga ash-Shadiqul Masduq Muhammad Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya untuk mencintai kebersihan, keindahan, kerapian, dan wangi-wangian.

Di dalam Ringkasan Kitab Adab, minyak wangi termasuk perhiasan yang mensucikan jiwa dan membangkitkan semangat.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat wangi, Anas Radiyhallahu anhu berkata:

“Aku tidak pernah menyentuh sutra tipis dan tebal yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku tidak pernah mencium aroma yang paling wangi dari wanginya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan menurut riwayat Ad Darimi:

“..dan aku tidak pernah mencium aroma wangi sedikit pun yang lebih wangi dari wanginya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik minyak misk atau minyak wangi lainnya.” [1]

1. Parfum bagi Wanita

1.1 Ketika Suami Meninggal

Ketika masa berkabung karena ditinggal suami meninggal dunia, dia tidak boleh memakai minyak wangi selama 4 bulan 10 hari. Sesuai dengan hadits Ummu Athiyyah dan lainnya, beliau berkata:

“Kami dilarang berkabung karena ditinggal mati, lebih dari tiga hari, kecuali ditinggal mati suami, empat bulan sepuluh hari. Kami dilarang memakai celak mata, minyak wangi dan kami dilarang memakai baju berwarna merah kecuali ‘asbh (semacam burdah Yaman). Dan kami diberi keringanan memakai sepotong kusti azhfar (semacam wangi-wangian) apabila kami mandi wajib karena haid, dan kami dilarang mengiringi jenazah.” [2]

1.2 Ancaman atas Sembarang Memakai Minyak Wangi

Seorang wanita tidak boleh memakai parfum, apabila dirinya akan mendatangi sebuah tempat yang di sana ada laki-laki bukan mahram-nya.

Sekali pun hanya lewat dihadapan mereka hingga mereka mencium wanginya. Maka, kondisi semacam ini diharamkan bagi wanita memakai parfum.

Pada masalah ini banyak sekali wanita meremehkannya, padahal hadits-hadits jelas dan ancamannya juga amat tegas.

Sesuai dengan hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyalllahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wanita mana pun yang memakai minyak wangi, lalu lewat dihadapan laki-laki agar mereka mencium aromanya, maka wanita itu pezina.” [3]

Dan sesuai dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata:

“Seorang wanita menemuinya, tercium dari wanita aroma wangi, di belakang wanita itu ada debu.” Abu Hurairah bertanya, “Wahai Amah Al Jabbar, kamu datang dari masjid?” Wanita itu menjawab, “Ya”. Abu Hurairah berkata, “sesungguhnya aku mendengar kekasihku Abul Qasim – Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “tidak diterima shalat seorang wanita yang memakai minyak wangi ketika ke masjid, hingga dia pulang dan mandi seperti mandi junub.” [4]

Dalam buku Tuntutan Praktis Fiqih Wanita, wanita dilarang memakai wangi-wangian ketika hendak pergi ke masjid. Karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah (kaum wanita) dari masjid-masjid Allah, dan hendaklah mereka keluar tanpa memakai minyak wangi”. [5]

Menurut Imam asy-Syaukani rahimahullah, ” dapat dipahami dari hadits diatas bahwa suami boleh mengizinkan istrinya untuk pergi ke masjid jika kepergiannya ke masjid tidak mendatangkan fitnah berupa memakai parfum atau minyak wangi, perhiasan atau pamer kecantikan.

1.3 Kondisi Tertentu Wanita Boleh Memakai Parfum

Namun ada kondisi-kondisi dimana seorang wanita boleh memakai parfum:

1. Jika parfum tersebut ia pakai hanya di rumah saja, apalagi untuk berhias di hadapan suami;

2. Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya tidak sampai keluar dari tubuhnya sehingga bisa dicium aromanya oleh orang lain. Karena jika wanginya sampai keluar, dan para lelaki mencium aromanya tersebut, itu bisa menggerakkan syahwat mereka dan menjadikan wanita tersebut sebagai pusat perhatian. Solusinya adalah pilih parfum yang aromanya ringan;

3. Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya kuat, akan tetapi tatkala keluar rumah dipastikan ia tidak melewati para lelaki yang bukan mahram-nya. Misalnya: (i) Ia pergi ditemani oleh suaminya dengan mobil menuju rumah keluarganya; (ii) ia pergi ditemani oleh suaminya menuju acara pertemuan para wanita saja, seperti pengajian ibu-ibu; atau (iii) walimah (pesta pernikahan) yang khusus dihadiri para wanita dan semisalnya.

2. Minyak Wangi bagi Laki-laki

Ada pun bagi laki-laki, memakai minyak wangi hukumnya sunnah. Rasulullah bersabda:

“Aku dikarunia rasa cinta dari dunia kalian: wanita dan wangi-wangian dan dijadikan shalat sebagai penyejuk mataku.” [6]

Begitu pula salah satu adab pada hari Jum’at:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.”  [7]

Minyak wangi diharamkan bagi pria dan wanita ketika ihram haji dan umroh, sesuai dengan hadits Ibnu Abbas radhuyallahu ‘anhu secara marfu’, menyebutkan kisah seorang yang meninggal karena tertimpa hewan kendaraannya ketika berhaji, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jangan kalian pakaikan dia minyak wangi” [8]

Dan hadist ‘Umar radhiyallahu ‘anhu secara marfu‘ menjelaskan tentang seorang lelaki yang bertanya tentang pakaian apakah yang boleh dipakai ketika ihram? Rasulullah menjawab:

” …Dan jangan memakai baju yang tersentuh minyak wangi za’faran dan juga wars.” [9]

Memakai parfum adalah salah satu hal yang harus dilakukan dalam etika seorang suami terhadap istri karena suami harus berhias untuk istrinya, sebagaimana ia suka istrinya berhias untuknya, terlebih dalam melakukan hubungan intim. Sebagaimana ia ingin selalu mencium dari istrinya aroma yang paling harum, demikian pula istrinya ingin seperti itu. Karena itu, ia harus berupaya agar istrinya tidak mencium darinya kecuali aroma yang paling baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan:

“Sesungguhnya aku berhias untuk istriku, sebagaimana ia berhias untukku”.

Adapun aroma-aroma yang khas seperti aroma ka’bah atau hajar aswad, aroma lantai masjidil haram, aroma tentara yang gagah berani hingga aroma khusus pasangan suami dan istri (yang tentunya parfum ini digunakan di saat berduaan dengan pasangan yang sah) dan lainnya, sampai ada beberapa parfum yang diracik khusus.

Betapa memakai minyak wangi itu merupakan hal yang menyenangkan, karena setiap tetesnya terdapat berjuta memori kenangan yang akan terus diingat meski memori itu telah berlalu bertahun tahun lamanya.

Apapun jenis dari aroma-aroma parfum itu adalah pilihan saudara, namun yang terpenting adalah memperhatikan adab memakai parfum, terutama bagi para wanita karena ini merupakan perkara yang penting dan juga sesuaikan dengan kebutuhan saja, bukan untuk mengoleksi atau berlebih-lebihan dalam menggunakan parfum tersebut, tentu ini menyelisihi sunnah. Wallahu a’lam bishowab.

Referensi:
– Ringkasan Kitab Adab, Karya : Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Hal. 418 – 421, Cet. 1 Dzulqa’dah 1429 H/Nopember 2008 M, Penerbit : Darul Falah.
– Mahkota Pengantin (Bingkisan Istimewa Untuk Suami Istri), Karya : Majdi bin Manshur bin Sayyid asy-Syuri, hal. 191 – 192, Cet. Ke 15 Rabi’ul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M, Penerbit : Pustaka at-Tazkia.
– Tuntunan Praktis Fiqih Wanita, Karya : Syaikh
Dr. Shalih Fauzan al-Fauzan, Hal. 98 – 99, Cet. 1 Rabi’ul Awwal 1434 H – Februari 2013, Penerbit : Pustaka Ibnu ‘Umar.
– Fanpage Suara Madinah
https://firanda.com
https://bimbinganislam.com
https://muslim.or.id

Footnote:
[1] HR. Al Bukhari (no. 3561), dan Ad-Darimi (no. 61);
[2] HR. Al Bukhari (no. 313), Muslim (no. 938), Ahmad (no. 20270), An-Nasa’i (no. 3534) Abu Dawud (no. 2302), Ibnu Majah (no. 2087) dan Ad Darimi (no. 2286);
[3] HR. Ahmad (no. 19248), An Nasa’i (no. 5126), yang dihasankan oleh Albani (no. 4737). Hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4173), At Tirmidzi (no. 2786), dan Ad-Darimi (no. 2646);
[4] HR. Muslim (no. 444), Abu Dawud (no.4174), dan lafazh hadits ini darinya, Ahmad (no. 7309), dan An Nasa’i (no.5128);
[5] HR. Ahmad dan Abu Dawud;
[6] HR. An Nasa’i (no. 3879) dan Ahmad (no.11845);
[7] HR. Bukhari dan Muslim;
[8] HR. Al Bukhari (no. 1850), dan lafazh darinya; Muslim (no. 1206); Ahmad (no. 1853); At Tirmidzi (no. 951), An-Nasa’i (no. 1904); Abu Dawud (no. 3238); Ibnu Majah (no. 3084) dan Ad-Darimi (no. 1852);
[9] HR. Al Bukhari (no. 5803), Muslim (no. 1177); Ahmad (no. 4468); At Tarmidzi (no. 833); An-Nasa’i (no. 2666); Abu Dawud (no. 1823); Ibnu Majah (no. 2932); Malik (no. 717); dan Ad-Darimi (no. 1798).


Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Mily Amilia

Amilia Indriarsi | Universitas Persada Indonesia YAI - Fakultas Psikologi 2000

Tinggalkan Balasan