Senin, Mei 23, 2022
BerandaIntisari Cahaya IlmuBab NikahNazhar: Bagian Wanita Yang Boleh Dilihat (Nazhor) Sebelum Khitbah dan Menikah

Nazhar: Bagian Wanita Yang Boleh Dilihat (Nazhor) Sebelum Khitbah dan Menikah

I. Arti nazhar

Disyari’atkannya nazhar (melihat perempuan yang akan dilamar). Nazhar dapat dilakukan oleh seorang lelaki mukallaf dalam proses taaruf, misal ketika datang bertamu ke rumah wanita pasangan taaruf-nya.

Baca juga: CV Taaruf Syar’i Contoh yang Shahih dan Mudah

Hal itu berarti nazhar dilakukan sebelum khitbah (melamar) dan menikah (simak penjelasannya pada bagian ke-II).

Akan tetapi sering muncul pertanyaan, “Bagian mana dari wanita yang boleh dilihat?

II. Hukum nazhar dan waktu pelaksanaannya

Nazhor hukumnya adalah disyari’atkan dan disukai, baik sebelum mau pun sesudah khitbah.

Jika seorang lelaki mukallaf nazhar setelah melamar, kemudian sesudah dia melihatnya (nazhar) dia tidak tertarik atau tidak menyukai wanita tersebut, maka dia boleh (atau mempunyai hak) untuk meninggalkannya atau memebatalkan lamarannya.

Baca juga: Cara Menolak Lamaran Dengan Alasan Syar’i

Oleh karena itu, nazhar lebih baik dilakukan sebelum khitbah, misal pada saat prosesi taaruf.

nazhar melihat nikah teman shalih
Nazhar dilakukan pada saat prosesi ta’aruf.

Ada pun hikmah dan manfaat besar dari nazhar ada 2 macam, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم, yaitu:

Pertama, melihat sesuatu dari wanita itu yang menariknya atau yang membuatnya tertarik dan menyukainya untuk segera menikahinya.

Kedua, untuk mengekalkan hubungan percintaan dan kasih sayang di antara keduanya.

III. Bagian yang manakah dari wanita yang boleh dilihat?

Dalam masalah ini ulama (para ‘alim) telah berselisih menjadi beberapa pendapat sebagaimana telah diterangkan di kitab-kitab syarah hadits seperti Fat-hul Baari Syarah Bukhri oleh al hafizh Ibnu Hajar dalam mensyarahkan hadits nomor 5125 dan 5126.

Serta Syarah Muslim oleh Imam Nawawi dalam mensyarahkan hadits nomor 2438. Demikian juga di kitab-kitab fiqih besar seperti Al Muhalla oleh Ibnu Hazm, Al Mughni oleh Ibnu Qudamah, Syarah Al Muhadzdzab oleh Nawawi dan lain-lain banyak sekali.

Jumhurul Ulama (kebanyakan Ulama) berpendapat bahwa yang boleh dan disukai dilihat adalah wajah dan kedua telapak tangaan sampai pergelangan. Karena keduanya ini telah mencukupi dan mewakili bagian anggota tubuh yang lain yang dapat dikiaskan dengan keduanya.

Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah) mengatakan: Bahwa pendapat tersebut lemah (kalau tidak mau dikatakan sangat lemah) karena beberapa sebab ilmiyyah di bawah ini yang menyalahi sunnah.

Pertama, wajah dan telapak tangan sampai pergelangan adalah hal yang biasa nampak dan dilihat, dan keduanya tidak termasuk kedalam bagian aurat sebagaimana pendapat jumhur sendiri. Apakah dalam masalah ini jumhur telah menyalahi atau membantah jumhur sendiri?!

Dari sini semakin jelas bagi kita dari banyak permasalahan dan masalah yang ini adalah salah satunya, bahwa kita tidak diperintah untuk mengikuti jumhur, akan tetapi Al Kitab dan As Sunnah yang shahih dengan cara pengambilan dalil yang tepat dan benar atau lebih mendekati kebenaran.

Masalahnya sekarang, kalau nazhar itu hanya dibatasi pada wajah dan kedua tangan sampai pergelangan saja, tidak boleh yang selain keduanya, niscaya akan menghilangkan faedah yang sangat besar dari perintah Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat kepadanya. Tentu ada sesuatu yang lain yang boleh dilihat selain dari wajah dan kedua telapak tangan sampai pergelangan yang memang biasa terlihat.

Kedua, hadits-hadits di atas bersifat mutlaq dengan lafazh: “Lihatlah!tanpa dikaitkan dan dibatasi dengan melihat wajah dan kedua telapak tangan saja.

Maka membatasi dan mengkaitkan bahwa yang boleh dilihat hanya wajah dan kedua telapak tangan adalah pembatasan tanpa dalil, bahkan telah menyalahinya!

Kemutlakan hadits-hadits di atas telah diamalkan langsung oleh kedua orang Sahabat yang meriwayatkannya, yaitu Muhammad bin Maslamah dan Jabir bin ‘Abdullah. Keduanya dalam waktu yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu sama-sama ingin melamar seorang wanita, secara sembunyi-sembunyi keduanya melihat wanita yang akan dilamar.

Hal ini menunjukkan bahwa keduanya telah mengamalkan ke-mutlaq­-kan hadits yang telah memerintahkan untuk nazhar (melihat).

Ketiga, kalau yang boleh dilihat hanya wajah dan kedua telapak tangan saja, maka apa perbedaan yang membedakan antara wanita yang akan di-nazhar dengan yang bukan kalau sama-sama wajah dan kedua telapak tangannya sampai pergelangan tangan biasa terbuka yang memang telah dibolehkan dan diizinkan oleh syara’ (Agama)?

Keempat, Di antara sabda Nabi صلى الله عليه و سلم di atas ada yang menjelaskan kepda kita, bahwa ada sesuatu yang boleh dan disukai dilihat yang lebih dari sekedar wajah dan kedua tangan sampai pergelangan tangan.

Seperti sabda beliau صلى الله عليه و سلم: “Apabila salah seorang dari kamu akan meminang seorang wainta, maka apabila dia sanggup melihat sesuatu yang menariknya untuk menikahinya, maka lakukanlah.

Yang cepat kita tangkap dari sabda beliau ini, tentunya melihat sesuatu yang tidak biasa dilihat atau tidak biasa nampak atau terbuka. Karena sesuatu yang tidak biasa inilah yang sesungguhnya akan membawa kepada ketertarikan dan mengajaknya untuk segera menikahinya.

Hal ini telah diamalkan dan dipraktekkan langsung oleh perawi hadits ini yaitu seorang Sahabat besar yang bernama Jabir bin ‘Abdullah. Dia mengatakan: “Maka (ketika) aku akan meminang seorang wanita, maka secara sembunyi-sembunyi aku ingin melihatnya, sampai aku melihat kepadanya sesuatu yang menarikku untuk menikahinya, maka aku pun menikahinya.

Jabir bin ‘Abdullah secara sembunyi-sembunyi melihat (nazhar) wanita yang akan dipinangnya, di mana wanita tersebut lengah dan tidak tahu ketika akan dilihat oleh Jabir. Tentunya melihat sesuatu yang lain, yang bukan sekedar wajah dan kedua telapak tangan saja.

Karena kalau ini yang dimaksud dengan melihatnya, tentunya dengan sangat mudah dapat dilihat dan Jabir tidak perlu bersusah-susah untuk menyelidikinya secara sembunyi-sembunyi untuk melihatnya. Karena umumnya wanita muslimat pada zaman Nabi صلى الله عليه و سلم wajah dan kedua telapak tangan mereka terbuka, tidak tertutup. Kecuali istri-istri Nabi صلى الله عليه و سلم.

Contoh yang paling menarik untuk saat ini adalah wanita yang datang menghibahkan dirinya kepada Nabi صلى الله عليه و سلم untuk dinikahi oleh beliau sebagaiamana diterangkan dalama hadits yang pertama dari hadits Sahl bin Sa’ad. Yang kemudian langsung dilihat dan diperhatikan oleh beliau صلى الله عليه و سلم dengan seksama, ke atas dan ke bawah berulang kali – kemudian beliau menundukkan pandangannya.

Cukuplah hadits ini sebagai hujjah bersama hadits-hadits yang lain banyak sekali, yang menunjukkan dengan tegas sekali apa yang saya katakan di atas. Bahwa wajah perempuan bukan aurat yang wajib ditutup.

Demikian juga dengan sabda beliau: “Apabila salah seorang dari kamu akan meminang seorang wanita, maka tidak ada halangan dia melihat wanita itu, apabila dia melihat hanya untuk meminang, walau pun wanita itu tidak tahu.” Sabda beliau: “Walau pun wanita itu tidak tahu.” Sebagai dalil, bahwa yang dilihat adalah sesuatu yang lain, atau yang lebih dari hanya sekedar wajah dan kedua telapak tangan.

Kelima, pengamalan dua orang Sahabat yaitu Muhammad bin Maslamah dan Jabir bin ‘Abdullah sebagaimana telah saya terangkan di atas. Dan telah sama-sama kita ketahui sesuai dengan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa para Shabat lebih ‘alim dari kita tentang apa yang dimaksud oleh Nabi yang mulia صلى الله عليه و سلم apalagi ketika mereka sebagai perawinya seperti Muhammad bin Maslamah dan Jabir bin ‘Abdullah dalam masalah nazhar ini.

IV. Konklusi

Ringkasnya, bahwa pendapat Jumhurul Ulama yang membatasi nazhar hanya pada wajah dan kedua telapak tangan adalah madzhab atau pendapat yang lemah, ditinjau dari beberapa jurusan ilmiyyah sebagaimana telah saya terangkan di atas.

Sedangkan pendapat atau madzhab yang benar atau paling tidak mendekati kebenaran, Insya Allahu Ta’ala, dalam masalah nazhar ini adaalah pendapat Ulama yang mengatakan: bahwa disukai melihat wanita yang akan dipinang selain dari wajah dan kedua telapak tangannya. Seperti melihat kedua betisnya, lehernya, atau yang seperti keduanya. Baik sepengetahuan wanita itu di hadapan mahram-nya, mau pun tanpa sepengetahuannya seperti perbuatan dua orang Sahabat besar di atas.

Dinukil dari: Abdul Hakim bin Amir Abdat. Al Masaa-il (Masalah-Masalah Agama). Jilid 7, cetakan keenam. Halaman 106-109.

Sumber: Maraaji' (Senarai Pustaka).
Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Lihat daftar website yang copy-paste tulisan temanshalih.com
  5. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang.

teman shalihhttps://temanshalih.com
Media online informasi akademik muslim dan edukasi kontra terorisme. Terbit sejak Ramadhan 1437 H/Juni 2016 M. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten ilmiah. Jazakumullah Khairan.
KONTEN TERKAIT
- Advertisment -