Mukallaf adalah (الْمُكَلَّفِيْنْ): Pengertian, Syarat-syarat, Dalil Shahih

Apakah sama arti antara mukallaf (الْمُكَلَّفِيْنْ) dengan mu’allaf (الْمُؤَلَّفَةِ)? Ternyata jauh berbeda.

Untuk memudahkan anda dalam menelaah artikel tentang arti kata Mukallaf, gunakanlah panduan daftar isi berikut ini untuk menemukan konten yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Arti Mukallaf

Mukallaf adalah (الْمُكَلَّفِيْنْ) orang yang diberi beban taklif/ ketentuan-ketentuan syara’/ hukum agama. Syarat seorang dikatakan mukallaf adalah:

  • baligh (بَالِغ، بَلِيْغ); dan
  • berakal sehat, artinya tidak mencakup anak kecil dan orang gila (جُنَّ: hilang akal).

Ramadhan: Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih

Siapakah yang menjadi sasaran Perintah dan Larangan?

Baligh berarti tidak termasuk anak kecil. Anak kecil tidak dibebani perintah (‘Amr) dan larangan (Nahy) sebagaimana beban yang ditujukan kepada orang yang sudah baligh. Akan tetapi, anak kecil hendaknya diperintah melaksanakan ibadah setelah mencapai usia tamyiz sebagai latihan baginya untuk mengerjakan ketaatan, hendaknya juga dilarang mengerjakan perbuatan maksiyat agar mudah baginya/ terbiasa meninggalkannya.

Berakal berarti tidak termasuk orang gila. Orang gila tidak dibebani ‘Amr dan Nahy. Namun hendaknya, ia dicegah dari segala tindakan aniaya terhadap orang lain dan dicegah agar tidak melakukan kerusakan. Kalau dia mengerjakan sesuatu yang diperintahkan, maka perbuatannya itu Tidak Sah karena tidak adanya Niyat tatkala melakukannya.

Di dalam kitabnya, Kitabul-Iman, Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah menuturkan bahwa,

Tidak disebut orang yang berakal kecuali orang yang mengetahui kebaikan lalu dia mencarinya, mengetahui keburukan lalu dia meninggalkannya. Apabila seseorang melakukan sesuatu, sementara dirinya mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang semacam ini layaknya orang tidak memiliki akal. Diketahui juga bahwa jika fitrah sudah rusak, maka seseorang tidak merasakan manis dari sesuatu yang sebenarnya manis, atau bahkan menyiksanya. Maka begitulah seseorang yang menikmati sesuatu yang sebenarnya menyiksanya, karena fitrah sudah rusak.

– Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah, Diintisarikan dari Kitabul Iman (Kitab Al-Iman).

Apa yang menjadi penghalang Taklif dari seorang Mukallaf?

Beban taklif ini mempunyai beberapa penghalang, di antaranya yakni:

  • Kebodohan;
  • Kelupaan; dan
  • Paksaan.

Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah ﷺ,

إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

Transliterasi matan hadits:
Innallaaha Tajaawazalii ‘an Ummati Khatha’a Wan-nisyaana Wa Mastukri Huwa ‘Alayhi.

Terjemah hadits:
“Sesungguhnya Allah mengampuni ummatku karena kesalahan, kelupaan, dan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka.” – Hadits riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi, An-Nawawi berkata, ‘Hadits Hasan’. Hadits ini mempunyai beberapa penguat dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan keshahihannya.

Baca juga: Kumpulan Hadits Pendek yang Mudah Dihapal

Penjelasan

  • Kebodohan, maksudnya adalah tidak mempunyai ilmu. Jika seorang mukallaf melakukan perbuatan yang diharamkan karena tidak mengetahui bahwa apa yang diperbuatnya itu adalah haram, maka ia tidaklah berdosa. Misalnya, orang yang berbicara ketika sedang mengerjakan Shalatnya karena tidak tahu bahwa berbicara dalam Shalat adalah haram.
  • Kelupaan, adalah ketidak ingatan hati terhadap sesuatu yang diketahuinya. Jika seorang mukallaf mengerjakan sesuatu yang haram dalam keadaan lupa, maka ia tidaklah berdosa. Misalnya, seseorang makan tatkala ia berpuasa karena lupa.
  • Paksaan, adalah mengharuskan seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ia inginkan. Seorang yang dipaksa melakukan sesuatu yang haram, maka dia tidaklah berdosa. Misalnya, seseorang dipaksa berbuat kekafiran, tetapi di dalam hatinya ia tetap beriman. Begitu pula orang yang dipaksa untuk meninggalkan/ melalaikan suatu kewajiban, maka ia tidaklah berdosa selama ia dipaksa.

Penghalang-penghalang dimaksud di atas hanya berlaku apabila berkaitan dengan hak Allah ﷻ karena (hak tersebut) dibangun di atas Permaafan dan Rahmat. Adapun jika berkaitan dengan hak-hak makhluk, maka penghalang-penghalang tersebut tidak menggugurkan seseorang untuk membayar tanggungan yang wajib jika pemiliknya tidak rela haknya digugurkan.

Wanita Rasyidah

Arti wanita rasyidah
Arti wanita rasyidah.

Dalam kitabnya, Al-Ushul Min ‘Ilmi-Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله‎‎ menuturkan bahwa wanita rasyidah adalah wanita yang baligh dan berakal.

Maraaji (Senarai Pustaka):

  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.1424 H (2003 M). Al-Ushul Min ‘Ilmi-Ushul. Kairo: Darul-‘Aqidah. (Ushul Fiqh. Jogjakarta: Media Hidayah).
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullaah. 1431 H (2010 M). Menanti Buah Hati & Hadiah Untuk yang Dinanti. Jakarta: Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah. 1409 H (1988 M). Kitabul Iman. Beirut: Dar Ihya’ Al-Ilmu. (1433 H (2012 M). Al-Iman. Bekasi: Darul Falah).
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

4 tanggapan untuk “Mukallaf adalah (الْمُكَلَّفِيْنْ): Pengertian, Syarat-syarat, Dalil Shahih

Komentar ditutup.