Apa yang dimaksud dengan Mujahid dan Apa perbedaan antara Mujahid dengan Teroris?

Apa yang dimaksud dengan Mujahid? Mujahid (المجاهِد) memiliki arti kata pejuang. Mujahid juga berarti orang yang mengorbankan dirinya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Sabda Nabi, mujahid orang yang berjihad dalam ketaatan kepada Allah.

Terorisme dalam istiah arab disebut al-Irhaabiyyah (الإِرهابِيَّة), orang yang melakukan perbuatan teror disebut al-Irhaabiyyuun (الإرهابِيّ ج الإرهابِيّون) artinya teroris.

Apabila anda membaca dengan perangkat mobile, Slide-left (geser ke kiri) layar smartphone anda untuk melihat tabel perbedaan antara mujahid dengan teroris di bawah ini secara utuh:

Istilah Teks Arab Arti
Mujahid المجاهِد Mujahid, pejuang, prajurit
al-Irhaabiyyuun الإرهابِيّون Teroris, pelaku teror

Gunakanlah panduan tabel daftar isi (contents) di bawah ini, untuk menemukan konten tentang mujahid yang sesuai dengan kebutuhan anda:

1. Arti Mujahid (مجاهد)

Allah عزَ وجل berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Transliterasi Ayat Al-Qur’an: Yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa mawāhum jahannamu wa bi’sal-maṣīr

Terjemah: “Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” – Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 73.

Tafsirnya: “Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dengan pedang serta melawan orang-orang munafik dengan lisan dan hujjah, serta bersikap keraslah terhadap kedua kelompok ini. Tempat tinggal mereka adalah Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali.” – Tafsir Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 73, Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah (At-Tafsirul Muyassaru).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda pada saat Haji Wada’,

Terjemah: “Maukah kalian aku beritahukan tentang orang Mukmin? Yaitu yang mengamankan harta-harta dan jiwa-jiwa manusia, seorang Muslim yaitu yang manusia selamat dari gangguan lisannya dan tangannya, seorang Mujahid yaitu yang berjihad dalam ketaatan kepada Allah, dan seorang Muhaajir yaitu yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa.” – Hadits Shahih: Riwayat Ahmad (VI/21-22), ‘Abdullah Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd nomor 775, al-Hakim (I/10-11), Ibnu Hibban nomor 4862 At-Ta’liiqatul Hisaan, Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Ta’zhiim Qadrish Shalaah nomor 641, dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah nomor 14, dari Fadhalah bin ‘Ubaid Radhiy-Allaahu-‘Anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah nomor 549.

2. Islam Mengajarkan Jihad

Wajib diperhatikan bahwa Islam mengajarkan Jihad. Dalam Syari’at Islam, Jihad sama sekali tidak sama dengan terorisme, itu berarti Para Mujahid tidak sama dengan teroris. Islam berlepas diri dari terorisme dan pelakunya. Terorisme bukan dari ajaran Islam.

2.1 Derajat Seorang Mujahid

Seorang Mujahid berada pada tingkatan yang tinggi, mafhumah ada beberapa tingkatan seorang Muslim, yakni:

  • Disebut seorang Muslim apabila jika orang-orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya;
  • Disebut orang Mukmin ialah jika manusia aman darinya, yaitu darah dan hartanya;
  • Disebut al-Muhaajir ialah orang yang hijrah kepada sunnah, menjauhi (meninggalkan) keburukan;
  • Disebut Mujahid ialah seseorang yang mengorbankan dirinya karena Allah ‘Azza Wa Jalla (yang Maha Perkasa Lagi Maha Mulia).

2.2 Jihad adalah Kemuliaan

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Transliterasi hadits jihad: Man maatawalam yaghzu walam yuhaddits bihi nafsahu maata ‘ala syu’batin min nifaaq.

Terjemah hadits: “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia tidak pernah ikut berperang, dan tidak terbetik di dalam benaknya (hatinya) untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.” – Hadits Shahih: Riwayat Muslim nomor 1910, Abu Dawud nomor 2502, an-Nasa’i (VI/8), Ahmad (II/374), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiy-Allaahu-’Anhu.

Jihad adalah kemuliaan, bagian dari Islam Rahmatan Lil Alamin (Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam; alam malaikat, manusia, jin dan hewan), tujuan utama jihad bukanlah peperangan semata melainkan tegaknya kalimat tauhid diseluruh penjuru dunia dan menyelamatkan manusia dari penyesalan akhirat (dimasukkan dan kekal di neraka sebab mati dalam keadaan kafir). Dalam Islam, Jihad adalah amalan yang utama. Jihad adalah tonggak terciptanya keadilan dan kejayaan Islam dan kaum Muslimin di muka bumi. Dengan jihad, dunia akan damai dan makmur. Dan dengan Jihad, Islam akan Berjaya, dan Ummat Islam akan berwibawa.

3. Strategi Mujahid dalam Keadaan Lemah

Sementara itu perlu diketahui bagi sebagian kaum muslimin yang berada dalam kondisi yang lemah pada suatu negeri dan suatu waktu, maka wajib bagi mereka mengamalkan dalil-dalil mengenai keutamaan bersabar dan memaafkan orang.

Dikatakan lemah dilihat dari sisi:

  1. Aqidah (keyakinan dalam beragama); dan
  2. Fisik, kekuatan persenjataan, dan semisal.

3.1 Hakikat Sabar

Sabar bukan berarti tidak berbuat apa-apa atau tidak berjihad (yang dimaksud di sini adalah Jihad dalam makna umum; yakni selain berperang dengan senjata). Ummat Islam wajib melaksanakan ajaran Islam yang mereka mampu melaksanakannya, meyakini, dan mengamalkan Rukun Iman, Rukun Islam, dan amal-amal shalih lainnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ sesuai Sunnah beliau yang shahih. Karena amalan tersebut wajib dilaksanakan selamanya dan secara terus-menerus atau secara istiqamah.

3.2 Amal Shalih Setara Dengan Jihad

Agama Islam mengajarkan kepada kaum Muslimin agar melaksanakan amal-amal shalih yang setara dengan Jihad, yakni:

  • Birrul Walidain (Berbakti kepada kedua orang tua).
  • Bekerja mencari rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri, keluarga, dan kedua orang tua.
  • Menuntut Ilmu Syar’i atau Mengajarkannya di Masjid Nabawi.
  • Menunaikan ibadah Haji dan Umrah.
  • Menunggu Shalat  seusai mengerjakan Shalat.
  • Menjadi petugas Amil Zakat.
  • Membantu para janda dan orang-orang miskin.
  • Istiqamah di atas Sunnah pada zaman fitnah ketika Islam dianggap asing oleh umumnya manusia.
  • Menyiapkan bekal bagi Mujahid dan mengurusi keluarganya.
  • Mendakwahi orang musyrik dan memberantas kesyirikan.
  • Berdakwah kepada penguasa (umara) dan-atau pemerintah yang zhalim (yang tugas ini dilakukan oleh para ‘Alim (Ulama)).
  • Beramal shalih di 10 (sepuluh) hari pertama bulan Dzul Hijjah.
  • Berdzikir kepada Allah Ta’ala.
  • Bersungguh-sungguh berdo’a meminta Syahid. Sebagaimana sabda Rasulullah di atas mengenai peringatan akan keadaan orang-orang yang mati tanpa niat mencari syahid di dalam hatinya.

4. Strategi Mujahid dalam Keadaan Kuat

Sedangkan Jihad (makna khusus; yakni berperang dengan senjata) dilaksanakan pada waktu kaum Muslimin kuat, baik secara Iman maupun fisik. Dapat juga dikatakan Jihad fii Sabiilillaah (dalam arti khusus yakni berperang dengan senjata) dilakukan sesuai dengan keadaan kaum muslimin, sedang lemah atau kuat, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, karena keadaan itu berubah-ubah sesuai waktu dan tempat.

Orang yang berjihad di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Transliterasi matan hadits bagi mujahid: Laghadwatun fii sabiilillaahi aw rawhatun khayrun minaddunyaa wa maa fiihaa.

Terjemah hadits: “Sungguh keluar (Jihad) di jalan Allah di pagi hari atau pulang darinya lebih baik daripada dunia dan seisinya.”Hadits Shahih: Riwayat Al-Bukhari nomor 2792 dan Muslim nomor 1880, dari Shahabat Anas bin Malik Radhiy-Allaahu-‘Anhu. Diriwayatkan juga oleh beberapa Shahabat.

Sungguh keluar (Jihad) di jalan Allah di pagi hari atau pulang darinya lebih baik daripada dunia dan seisinya.- Hadits Shahih: Riwayat Al-Bukhari no. 2792 dan Muslim no. 1880, dari Shahabat Anas bin Malik Radhiy-Allaahu-'Anhu. Diriwayatkan juga oleh beberapa Shahabat.

5. Mati Syahid dan Ganjarannya

Orang yang mati syahid mempunyai enam keutamaan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ ‏

Terjemah hadits: “Orang yang mati syahid di sisi Allah mendapat enam keutamaan: [1] Diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, [2] Dapat melihat tempatnya di Surga, [3] Akan dilindungi dari adzab kubur, [4] Diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, [5] Diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, dan [6] Dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya.” – Hadits Shahih: Riwayat At-Tirmidzi nomor 1663, Ibnu Majah nomor 2799, dan Ahmad (IV/131) dari Miqdam bin Ma’di Kariba Radhiy-Allaahu-‘Anhu.

5.1 Isitsyhad (Mencari Syahid) Tidak Sama Dengan Bom Bunuh Diri

Istisyhad atau mencari syahid, mencari mati syahid (اُستُشهِد و اُشهِد : قُتِل في سبِيلِ اللهِ). Atau bisa juga istusyhida (اِسْتُشْهِدَ) arti kata-nya mati sebagai martir.

Menginginkan dan mencari mati syahid adalah cerminan sikap dan kekuatan hati seorang yang beriman (Mukmin), akan tetapi amaliah Istisyhad tidak sama dengan bom bunuh diri.

Oleh sebab itu dalam kitabnya, Jihad Dalam Syariat Islam, Syaikh Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله mengungkap hal ini pada bab ke-15, dengan tajuk, “Bom Bunuh Diri Bukan Jihad”.

Syaikh menuturkan bahwa,  “Ada sebagian orang yang tidak memiliki pemahaman tentang jihad, mereka melakukan bom bunuh diri di tengah-tengah tempat berkumpulnya orang kafir, maka terbunuhlah lima orang dari kaum kafir tersebut. Kemudian mereka (yakni orang-orang kafir) dan terbunuhlah lima puluh orang dari kaum muslimin. Jadi hasilnya yang terbunuh lima orang dari mereka dan lima puluh orang dari kaum muslimin. Maka apakah ini kerugian atau keuntungan?”

Sudah barang tentu seseorang yang akal dan fitrahnya sehat dapat dengan mudah mengeluarkan jawaban, rugi atau untung? Sehingga seseorang yang melakukan amaliah bunuh diri, tidak dapat dikatakan sebagai mujahid.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِيْ الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Transliterasi matan hadits: Man qatala nafsahu bisyai’in fiddunyaa ‘udziba bihi yauwmal qiyaamah.

Terjemah hadits: “Barangsiapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan diadzab dengannya pada hari Kiamat (dengan cara seperti itu pula).” – Hadits Shahih: al-Bukhari nomor 1363, Muslim nomor 110 dan 176, dari Tsabit bin ad-Dhahhak رضى الله عنه. Ini lafazh Muslim.

5.2 Tidak Boleh Bunuh Diri Dengan Cara Apapun

Dalam hadits ini, Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa orang yang bunuh diri dengan sesuatu, lafazh (بِشَيْءٍ); “dengan sesuatu,” bersifat umum. Yakni, orang yang bunuh diri dengan apa saja; apakah dengan pisau, pedang, tombak, tambang, pistol, bom, bahan peledak, dan lainnya, atau dengan sengaja menabrakkan mobil atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, atau lainnya, maka orang tersebut tempatnya di Neraka. Wal ‘Iyadzu Billaah (Kami berlindung kepada Allah ‘Azza Wa Jalla).

Oleh sebab itu hendaklah para pemuda muslim yang jiwanya merindukan mati syahid dengan segala pahalanya memenuhi diri dengan ilmu Agama yang shahih terlebih dahulu, sebagai dasar untuknya beramal agar tidak terjerumus kedalam amaliah yang sesat dan menyesatkan, yang tidak bersumber dari Islam dan tidak akan pernah menjadi bagian dari ajaran Islam yang murni. Dengan dasar ilmu yang benar, dan dipahami dengan sifat dan cara (Manhaj) yang benar maka bukan tidak mungkin dirinya benar-benar memperoleh kesempatan untuk menjadi seorang Mujahid yang berhak atas mati syahid.

6. Download Mujahid Wallpaper

Maraji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. At-Tafsirul Muyassaru (1437 H. Terjemah Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah. Solo: Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima.)
  • Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah. 1409 H. Kitabul Iman. Beirut: Dar Ihya’ Al-Ilmu. (1433 H. Al-Iman. Bekasi: Darul Falah.)
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah. 1432 H. Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullah. 1435 H. Rahmatan Lil Alamin. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  • Syaikh Mustafa Al-Adawi. 1433 H. Al-Bayan fi Ma’ani Kalimat Al-Qur’an. Mesir: Maktabah Makkah. (1437 H. Al-Bayan; Kamus Kosakata Al-Qur’an. Solo: Zamzam.)
  • Abdul Halim bin Muhammad Nashshar as-Salafi. 1427 H. Shifatul Jannah fil Qur-aanil Kariim. Madinah Munawwarah: Maktabah al-‘Uluum wal Hikam. (1432 H. Pesona Surga. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.)
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih


Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.