mengaku berzina

Mengaku Berzina

Bab Nikah Intisari Cahaya Ilmu 4 likes 530 views share

Soal

Saya mempunyai sahabat yang memiliki masa lalu yang kelam. Saat ini dia bersungguh-sungguh ingin taubat. Pada masa sebelumnya, dia berpacaran hingga berzina (jima’). Setelah itu pasangan zina-nya meng-khitbah/ melamar wanita lain. Sedangkan keperawanan teman wanita saya ini sudah direnggut (tidak perawan lagi).

Dirinya hendak menuntut pertanggungjawaban laki-laki pasangan zina-nya dengan tuntutan untuk menikahinya. Bagaimana penjelasan ilmiyyah syar’iyyah atas permasalahan ini? Mohon sarannya.

Jawab

Bagi yang menuntut wajib membawa bukti, sedangkan yang mengingkari cukup bersumpah

البَيِّنَهُ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَ الْيَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Makna umum kaidah ini adalah wajib bagi seorang penuntut dalam sebuah permasalahan hukum untuk mendatangkan bayyinah (saksi). Namun tidak selamanya bayyinah itu berupa saksi, bisa jadi bayyinah itu berupa keadaan yang sangat kuat mendukung salah satu dari yang menuntut atau yang dituntut.

Bayyinah berfungsi menguatkan apa yang diakui atau menguatkan apa yang digugat, namun apabila penggugat tidak dapat mendatangkan bayyinah maka tidak diakui pengakuannya.

Sedangkan bagi pihak tergugat/ al Mudda’a Alaihi/ pihak yang dituntut, apabila penggugat/ mudda’i/ pihak yang menuntut tidak dapat mendatangkan bayyinah, maka cukup bagi dia (tergugat) untuk bersumpah bahwa semua yang dikatakan oleh pengugat/ penuntut/ mudda’i itu tidak benar.

Kemudian apabila muncul pertanyaan bahwa, “Kalau seperti itu maka sangat mungkin sekali bagi tergugat bersumpah palsu?” Maka jawabannya, memang sangat mungkin tergugat bersumpah palsu, namun harus diingat bahwa hidup ini tidak hanya di alam dunia, namun ada kehidupan lain yang di situ sesoerang tidak mungkin berbohong, karena hakimnya adalah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ.

Pengakuan adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas

الْإِقْرَارُ حُجَّةٌ قَاصِرَةٌ

Artinya pengakuan seseorang atas suatu perbuatan memiliki sifat Qoshiroh yakni pengakuan itu bersifat terbatas pada orang yang mengaku dan tidak berlaku pada orang lain.

Misal apabila ada orang yang mengatakan, “Saya telah berzina (yakni dengan melakukan jima’ yang harom)”.  Maka iqror/ pengakuan ini dapat dijadikan hujjah untuk memberlakukan hukum hudud zina berupa rajam (bagi yang sudah menikah) atau cambuk (bagi yang belum menikah) oleh Qodhi/ hakim bagi orang yang mengatakan pengakuan tersebut, sementara  tidak berlaku bagi pasangan zina-nya. Karena iqror/ pengakuan hanyalah sebuah hujjah yang qoshiroh/ terbatas.

Adapun pengakuan terhadap orang lain, maka ini dinamakan sebagai tuduhan. Oleh sebab itu bagi pasangan zina-nya, maka hukuman hudud zina berupa rajam atau cambuk dapat ditegakkan apabila penggugat mendatangkan (4) empat orang saksi laki-laki mukallaf (baligh dan berakal sehat), kalau tidak ada maka sekedar pengakuan itu saja tidak dapat dijadikan sebagai dasar tuntutan.

Apabila Tertangkap Tangan Berzina

Tersebut di atas dalam konteks seseorang yang mengaku berzina. Berbeda hal dengan seseorang yang tertangkap tangan atau tertangkap basah berbuat zina, maka idealnya hudud zina berupa  rajam (bagi yang sudah menikah) atau dera/ cambuk (bagi pezina yang belum menikah) ditegakkan atas mereka setelah dijatuhkan vonis oleh Qodhi/ hakim.

Adapun seseorang yang telah berzina, kemudian tiada seorang pun yang mengetahui perbuatan itu (kecuali pasangan zina-nya), hendaklah bertaubat kepada Allah عزَ وجل dan tidak merasa aman dari ancaman siksa kubur dan neraka sehingga dirinya ber-i’tiqod mengganti perbuatan nista dengan amal shalih sesuai pedoman Sunnah disisa waktu hidupnya.

Catatan Penting:

  • Tidak ada pengakuan dosa kepada manusia yang dianggap shalih sebagai bentuk penghapus dosa. Adapun seorang muslim yang berbuat demikian maka dirinya telah tasyabbuh/ meniru cara hidupnya kaum kuffar. Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

  • Adapun meminta nasihat, pendapat, petunjuk maka hendaklah mendatangi seseorang yang memahami Kitabullah dan Sunnah sesuai pemahaman para Salafush Shalih.

    ‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ 

    Hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat bimbingan (Petunjuk). – Hasan (Darussalam):  Sunan Ibnu Majah nomor 42 (كتاب المقدمة).

    Sehingga apa yang dia katakan (seorang yang memberi nasihat) murni semata-mata dalam usaha merujuk orang lain kepada Kitabullah dan Sunnah, dia tidak berkata mengikuti hawa nafsu dan akal semata.

  • Tidak dibenarkan menyelesaikan masalah diluar pengadilan atau menyelesaikan masalah bersama orang-orang yang buta hukum. Maka orang-orang yang berbicara tanpa dasar ilmu sesungguhnya mereka telah berbuat kerusakan yang banyak.
  • Tidak ada paksaan dalam menikah, artinya pernikahan itu diselenggarakan dengan asas keridhaan dua belah pihak, bukan tuntutan. Keduanya laki-laki dan wanita harus ridha menikah dan dinikahi. Oleh sebab itu hendaklah seorang muslim benar-benar menghindari zina, agar terhindar dari keadaan yang membinasakan. Allah عزَ وجل berfirman,

    وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

    Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu bentuk perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. – Q.S. Al-Israa’ (Memperjalanakan Dimalam Hari) [17]: 32.

    Ketahuilah bahwa sebuah perbuatan zhalim, maksiyat, kufur dan bid’ah sudah barang tentu berakhir pada penyesalan dan kehancuran.

  • Persidangan sebagaimana dimaksud dalam permasalahan di atas adalah dalam konteks menerapkan hukum hudud zina; rajam dan cambuk, bukan untuk menutntut dinikahi. Karena dasar pernikahan bukanlah gugatan/ tuntutan, akan tetapi keridhaan yang ada di antara keduanya. Harus sama-sama cinta, sama-sama sayang, sama-sama ridha menikah. Tidak bisa kemudian dikatakan, “Saya semata menuntut hak (karena telah berzina)?” Tidak demikian, sesungguhnya tidak ada hak dalam perbuatan yang zhalim.
  • Seorang pezina haram dinikahi kecuali dirinya telah bertaubat. Sebab pernikahan bukanlah bentuk pertaubatan. Tidak berarti engkau menikah dengan orang yang bersamanya engkau berzina kemudian dosa-dosa zina terhapus begitu saja, bisa jadi kemaksiatan itu berlanjut setelah pernikahan dalam bentuk-bentuk dan warna yang lain.
  • Seorang yang telah bertaubat harus memiliki semangat dan harapan yang besar terhadap kuasa Allah عزَ وجل. Allah عزَ وجل mengganti dengan yang lebih baik, tinggalkan keburukan karena Allah, tinggalkan kenangan bersamanya demi mengharap wajah Allah عزَ وجل. Inilah Hijrah fii Sabilillaah.

    إِنَّكَ لَنْ تَدَ عَ شَيْئًا لِلّٰهِ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللّٰه بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

    Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allāh ‘Azza Wa Jalla (Allāh yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia), kecuali Allāh akan menggantikan untukmu sesuatu yang lebih baik. – H.R. Waki’ dalam Az Zuhd 2/68, Ahmad 5/363 dan Al Qudha’i dalam Musnad Syihab 1135 dengan sanad shahih sesuai syarat Muslim.” dinukil dari Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Memahami Fiqih Islami (Qowa’id Fiqhiyyah), (Gresik: Pustaka Al-Furqon, 1435 H/ 2013 M),  hal. 300.

    Jangan pernah berharap untuk hidup bersama seorang yang berbuat maksiat atau seseorang yang enggan bertaubat dari perbuatan buruknya.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Abu Unaisah . 1436 H /2015 M. “Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin”. Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, 1435 h/ 2013 M. “Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islam (Qowaid Fiqhiyyah)”. Gresik: Pustaka al-Furqon.
#JDDAR

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer