HomeDaftar3 Macam Dusta
dusta

3 Macam Dusta

Daftar Intisari Cahaya Ilmu 3 likes 119 views share

Macam-macam Dusta: Imam al-Auza’i berkata,

Pelajarilah kejujuran sebelum engkau mempelajari ilmu.

Waqi’ berkata,

Ilmu ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang jujur.

Maka dari itu, pelajarilah kejujuran terlebih dahulu sebelum engkau mempelajari ilmu. Kejujuran adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keyakinan yang ada, kejujuran ini hanya ada satu cara, sedangkan dusta/ kedustaan banyak cara dan ragamnya. Meskipun demikian kedustaan dapat disimpulkan menjadi tiga hal, yakni:

1. Dusta Seorang Penjilat

Maksudnya adalah, kedustaan yang berbeda dengan kenyataan dan juga keyakinan yang sebenarnya. Contohnya orang yang mencari muka terhadap orang yang dia ketahui sebagai orang fasiq dan ahli bid’ah, namun dia katakan sebagai orang yang istiqamah, untuk mencari muka (perhatian) darinya.

Sebenarnya engkau mengetahui bahwa dia adalah orang yang fasik, akan tetapi saat engkau datangi dia, engkau katakan kepadanya,

MasyaAllah, anda adalah seorang yang istiqamah, berakhlaq mulia, taat beragama, mempunyai manhaj (sifat dan cara beragama) yang lurus.

Padahal engkau mengetahui bahwasanya dia adalah hamba Allah yang paling fasik. Apa yang pantas dikatakan kepada orang semacam ini? Yang pantas dikatakan kepada orang ini adalah penjilat atau pencari muka. Karena biasanya yang paling sering melakukannya adalah orang-orang yang ada di sekitar raja atau penguasa. Engkau dapati salah seorang dari mereka mencari muka di hadapan sang raja dengan mengatakan, “Engkau begini dan begitu.” Ini adalah sebuah kemunafikan. Wal ‘iyadzu billaah (Kami berlindung kepada Allah ‘Azza Wa Jalla).

2. Dusta Orang Munfaiq

Dusta orang munafiq maksudnya adalah kedustaan yang berbeda dengan keyakinan namun sama dengan kenyataan, sebagaimana orang munfaiq, mereka mengatakan seperti yang dikatakan oleh Ahlus Sunnah (Salafi).

Salah satu contohnya adalah firman Allah ‘Azza Wa Jalla,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munfaiq datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafiq itu benar-benar pendusta.” – Q.S. Al-Munaafiquun (Orang-Orang Munafik) [63]: 1.

Pengakuan mereka bahwa beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah memang sesuai dengan kenyataannya. Apa dalilnya? Allah berfirman, “Allah sudah tahu bahwa engkau adalah utusan-Nya,” kan tetapi persaksian mereka ini menyelisihi keyakinan mereka, karena Allah Ta’aala berfirman, “Dan Allah menjadi saksi bahwa orang-orang munafik itu dusta.”

Dustanya mereka adalah dengan mengatakan bahwa “kami bersaksi,” bahwa engkau (Muhammad) adalah utusan Allah bukan pada sekedar ucapan mereka bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ucapan itu menyelisihi keyakinan mereka namun sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Ini adalah pengakuan orang munafiq terhadap orang lain, adapun pengakuan mereka terhadap diri sendiri, misalnya dia mengatakan, “Saya adalah seorang yang shalih,” maka perkataan ini tidaklah sesuai dengan keyakinan mereka sendiri dan tidak pula sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, kecuali hanya sekedar penampilan luarnya saja.

3. Dusta Orang Dungu

Maksudnya adalah, kedustaan yang berbeda dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan, seperti orang yang percaya akan keshalihan orang Shufi yang mubtadi’ (ahli bid’ah/ pelaku bid’ah) lalu dia menyebutnya sebagai ‘Wali’. Atau kedustaan yang tidak sesuai dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan, yaitu dengan mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya karena kebodohannya, misal dia mengatakan bahwa Ahli Kalam (Filosof Islam) adalah orang-orang yang cerdik – pandai, sedangkan ulama Ahlus Sunnah (Salafi) adalah orang yang bodoh karena mereka hanya menerima nash apa adanya tanpa mengetahui maknanya.

Ini adalah orang yang bodoh, oleh karena ini lah Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah menyebut mereka sebagai orang yang bodoh dalam kitabnya, al-Fatawa al-Hamawiyyah, beliau berkata,

Sebagian orang yang bodoh mengatakan: ‘Manhaj (sifat dan cara beragama) orang Salaf lebih selamat namun manhaj-nya orang Khalaf lebih pandai dan bijaksana.’

Demikianlah orang yang menyaksikan perbuatan dan juga ibadahnya orang-orang Shufi, maka dia akan mengatakan bahwa mereka adalah orang yang shalih dan para wali (?!).

Kami katakan,

Engkau adalah orang yang bodoh yang tidak mengetahui hakikat mereka yang sebenarnya, maka dari itu janganlah engkau menghukumi mereka sebagai seorang yang shalih sehingga engkau mengetahui hakikat mereka, jika tidak, maka engkau adalah seorang yang bodoh.

Orang bodoh semacam ini, apakah alasan ketidaktahuannya dapat diterima? Jawab, jika dia tidak mau belajar maka tidak dierima alasan ketidaktahuannya. Namun apabila ilmunya hanya sampai di situ, maka dapat diterima alasan ketidaktahuannya, karena memang dia adalah orang yang bodoh. Adapun untuk macam yang pertama dan kedua, yakni dustanya orang penjilat dan munafiq, maka tidak ada alasan sedikit pun bagi mereka.

Dari itu berkatalah jujur selalu, janganlah membisu namun jangan pula berucap melainkan kata-kata yang benar-benar menunjukkan perasaan dari relung hati. Seperti rasa cinta, benci atau perasaan luarmu seperti yang dirasa oleh panca indra, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba.

Orang yang jujur tidak akan mengatakan, “Aku cinta kamu,” padahal sebenarnya dia membencinya, tidak pula mengatakan, “Aku telah mendengar,” padahal dia tidak pernah mendengar.

Berhati-hatilah dengan berbagai prasangka, yang akan mengendorkan tekad untuk berkata jujur. Hal ini akan menjadikan seseorang tercatat sebagai seorang pendusta. Adapun cara yang dapat menjamin agar jangan sampai berdusta adalah jika hati mengajak untuk berkata dusta maka ingatlah tentang kemuliaan sifat jujur dan kehinaan sifat dusta.

Dalam waktu dekat kebohongan itu akan terungkap serta mintalah perlindungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Jangan biarkan lidah mengucapkan kata-kata yang samar (Tauriyah) kecuali yang diperbolehkan dalam syari’at Islam. Wahai seorang penuntut ilmu (Thalibul ‘Ilmi)! Hati-hatilah, jangan sampai engkau tidak berkata jujur (berkata dusta) dan menggantinya dengan kata-kata Ma’aridh (menyembunyikan makna sebenarnya). Karena dusta yang paling jelek adalah dusta dalam ilmu, karena adanya penyakit ingin menyaingi teman sebayanya dan cepat tenar di tengah-tengah masyarakat.

Tidak diragukan lagi bahwa kejujuran hanya ada satu jalan. Sedangkan kebohongan itu ada banyak jalan dan caranya, demikian halnya dengan hidayah dan kesesatan, hidayah hanya satu jalan sedangkan kesesatan itu memiliki banyak jalan yang bermacam-macam.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Dan sungguh, ini lah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. …” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]:153.

Ada pun ke – dusta – an, maka banyak ragam dan warnanya, tergantung maksud dan tujuannya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Maraaji’:

  • Syaikh Muhammad Shalih bin Shalih al-‘Utsaimin, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1426 H/ 2005 M), hal. 196-200. Versi terjemah bahasa Indonesia dari judul asli: Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi; (شرح حلية طالب العلم).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer