5 Hal Penting Ini Perlu Saudara Perhatikan Sebelum Menikah Agar Tak Menyesal
lima hal penting sebelum menikah - teman shalih

5 Hal Penting Ini Perlu Saudara Perhatikan Sebelum Menikah Agar Tak Menyesal

Saudara saudari yang sama-sama kita mengharap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu kita mengetahui salah satu hal yang diimpikan seseorang yang masih single adalah pernikahan.

Pernikahan sejatinya bentuk ibadah yang dengan itu menjadi wasilah (sarana) bagi pasangan suami – istri untuk mendulang ganjaran pahala hingga memperoleh jannah-Nya.

Gunakanlah panduan daftar isi (table of contents) di bawah ini untuk menemukan konten yang sesuai dengan kebutuhan saudara.

Namun ada diantara saudara saudari kita yang qadarullah memiliki pasangan yang kurang baik akhlaknya, bahkan usia pernikahan mereka terbilang singkat. Meskipun zahir-nya itu memiliki kecerdasan yang tinggi, wajah nan rupawan, juga religius penampilannya.

Seperti kejadian yang cukup menggemparkan media sosial dan dunia maya beberapa waktu lalu bahwasanya ada seorang ikhwan yang ternyata memalsukan data-data dan jati diri yang sebenarnya (berbuat dusta), selain cerdas dan religius, seorang akhowat dinikahi lalu diceraikan, dalam waktu singkat pula lalu menikah lagi, begitu seterusnya, wallahu musta’an.

Baca juga: Sya’ir Arab – Usia Sebuah Kedustaan

Tentu ini hanya oknum yang sangat tidak patut untuk ditiru dan sangat jauh dari pemahaman para salafush shalih walaupun mereka mengaku ber-manhaj salaf. Hal ini berlaku demikian dengan oknum akhwat.

Teringat perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Laki-laki itu selalu berbuat dosa, tidak patut dijadikan suami. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang salaf.” (Majmu’ Fatawa 8/242) maksudnya adalah golongan orang fasiq yaitu orang yang rusak agama dan akhlaknya, suka berbuat dosa dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Saudara saudariku, sebagai seorang muslim kita yakin bahwa semua yang terjadi itu semua atas Qadar Allah (kehendak Allah), suka atau tidak suka dan tak perlu kita disesali, apalagi sampai berteriak histeris, merobek pakaian karena tidak mau menerima takdir buruk. Dalam syariat Islam ini tidak diperbolehkan, cukup semua itu menjadi ibroh yang berharga, dan kedepannya semoga Allah menggantikannya dengan yang jauh lebih baik, aamiin. Namun janganlah kita lupa bahwa belajar ilmu itu wajib atas seorang muslim dan muslimah.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Terjemah hadits: “Menuntut ilmu (Agama), adalah wajib bagi setiap muslim.” – H.R. Ibnu Majah 224 dan dishahihkan al-Albani.

Begitu pula dalam memilih calon pasangan. Itulah mengapa sebelum akad nikah, janganlah kita bermain hati, saling melampiaskan rindu dan saling melontarkan kata-kata romantis tatkala jiwa raga ini belum sampai ke gerbang pernikahan.

Mengapa demikian? Allah sudah memerintahkan kepada kita untuk tidak mendekati zina.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Terjemah: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” – Q.S. al-Isrâ’[17]: 32

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ.

Terjemah hadits: “Allâh telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya: Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” – Hadits Shahih: HR al-Bukhâri, no. 6243, 6612; Muslim, no. 2657; Abu Dawud, no. 2151; Ahmad, II/276; dan lainnya.

Menyukai lawan jenis adalah fitrah seorang bani Adam (manusia) yang ini sejalan dengan Rahmat Allah ‘Azza wa Jalla, akan tetapi seorang muslim patut mengikat dirinya kepada ketentuan-ketentuan syara‘. Sehingga, rasa suka itu sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, bukan mengikuti nafsu syahwat semata.

Ketika anda menyukai seseorang karena apa yang nampak pada dirinya (penampilannya), jangan lupakan aspek agama-nya. Munculkan pertanyaan di dalam dada, apakah seseorang yang anda sukai sudah menjalankan agama sesuai dengan aqidah sunnah dan manhaj salaf?

Sejauh mana dia memahami dan mengamalkan agama dengan haq (benar)?

Di samping itu, jangan sampai rasa suka yang ada melalaikan kita dari kewajiban mempelajari bab nikah dan berumah tangga secara komprehensif (menyeluruh dan tuntas).

Berikut ini 5 (lima) hal penting yang sepatutnya kita pelajari dan lakukan sebelum memutuskan untuk menikah:

1. Memperbaiki Amalan Hati Yaitu Niat

Dari Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Terjemah hadits: “Amal itu ada karena niat, dan pahala yang diperoleh seseorang sesuai apa yang dia niatkan.” – H.R. Bukhari no. 1, Muslim 5036, dan yang lainnya.

Tanamkan di dalam diri bahwa saudara menikah salah satunya adalah mengikuti sunah para rasul. Bukan karena teman-teman lain sudah menikah, bukan karena terinspirasi dari drama Korea, bukan karena dipaksa oleh orang tua dan lain-lain.

Karena Allah berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Terjemah: “Sungguh Aku telah mengutus para rasul sebelum kamu, dan Aku jadikan untuk mereka istri dan keturunan.” – Q.S. Ar-Ra’du: 38.

2. Pelajari Tauhid, Aqidah, dan Manhaj

Syaikh Shalih Fauzan menjelaskan bahwa manhaj lebih luas daripada aqidah, beliau berkata:

ج / المنهج أعم من العقيدة ، المنهج يكون في العقيدة وفي السلوك والأخلاق والمعاملات وفي كل حياة المسلم ، كل الخطة التي يسير عليها المسلم تسمى المنهج .
أما العقيدة فيراد بها أصل الأيمان ، ومعنى الشهادتين ومقتضاهما هذا هي العقيدة

“Manhaj lebih umum daripada aqidah. Manhaj meliputi aqidah, perilaku, akhlak, muamalah dan setiap hidup seorang muslim. Setiap langkah (metodologi) yang di mana seorang muslim berjalan disebut dengan manhaj. Adapun aqidah maksudnya adalah dasar iman, makna syahadat dan konsekuensinya.” [Al-Ajwibatul Mufidah hal. 75]

Sedangkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa aqidah itu mencakup tauhid, jadi aqidah lebih luas. Beliau berkata:

والعقيدة: هي ما يعتقده الإنسان بقلبه ويراه عقيدة يدين الله بها ويتعبده بها، فيدخل فيها كل ما يعتقده من توحيد الله والإيمان بأنه الخلاق الرزاق وبأنه له الأسماء الحسنى والصفات العلى

“Aqidah adalah apa yang menjadi keyakinan kuat seseorang di hatinya dan ia beranggapan dengan aqidah itu ia beragama dan menyembah Allah. Termasuk di dalam cakupan aqidah adalah tauhid kepada Allah dan beriman bahwa Allah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki dan Allah memiliki asmaul husna dan sifat yang tinggi.” [Majmu’ Fatawa syaikh Bin Baz 6/277]

Prinsip yang Allah ajarkan dalam al-Quran, bahwa aqidah yang paling benar adalah aqidah para murid Nabi ﷺ, merekalah para sahabat.

Allah berfirman,

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

Terjemah, “Jika mereka beriman seperti imannya kalian (wahai para sahabat) maka mereka akan mendapatkan petunjuk.” – Q.S. al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 137.

Allah memberikan jaminan, bahwa orang yang mengikuti imannya para sahabat akan mendapatkan petunjuk yang benar. Berarti makna kebalikannya, siapa yang tidak mengikuti aqidahnya para sahabat maka mereka akan sesat. (Bada’I al-Fawaid, 4/964)

Tentu seseorang belum dikatakan sholih dan berakhlak baik jika perilakunya menyimpang. Namun dengan mengikuti aqidah para sahabat dan para salafush sholih mereka akan mendapatkan petunjuk, wallahu a’lam.

Beberapa buku-buku tentang aqidah yang bisa saudara selami yaitu Aqidah al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, al-Qawaid al-Arba’ karya Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi, Tauhid 1, 2, dan 3 karya Dr. Soleh al-Fauzan dan tim penulis tauhid dan lain-lain.

3. Muroja’ah Ilmu Pernikahan dan Parenting

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

العلم خير من المال؛ العلم يحرسك و أنت تحرس المال

Terjemah, “Ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu menjagamu dan harta, kamu yang jaga.” (Adab ad-Dunya wad Din hlm. 48 oleh al-Mawardi)

Sudah sepatutnya seorang hamba dalam masa penantiannya bahkan menjelang pernikahan tetap istiqomah menimba ilmu, muroja’ah dan tentu mengamalkannya agar kedepannya tahu akan tugasnya masing-masing dan saling melengkapi satu sama lain.

4. Menuntut Ilmu untuk Diamalkan

Berapapun usia saudara, belajarlah memperbaiki diri dan lebih dewasa dari sebelumnya, di saat masih sendiri mungkin saudara menyiapkan segala sesuatunya di pagi hari untuk diri sendiri dan orang tua atau saudara yang lain namun setelah menikah tentu berbeda pula kondisinya.

Kebiasaan-kebiasaan yang dahulunya dilakukan pada saat masih sendiri tentu lambat laun berkurang bahkan ditinggalkan, dan lainnya. Sebagai penuntut ilmu, amat disayangkan jika ilmu yang sudah dipelajari bertahun-tahun menjadi sia-sia.

Malik bin Dinar berkata,

من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا

Terjemah: “Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan (kesombongan)” – Hilyatul Auliya’, 2: 378.

5. Bertawakallah sebenar-benarnya Tawakal Kepada Allah ‘Azza Wa Jalla

Selain niat, tawakal juga termasuk amalan hati yang perlu diperhatikan.
Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.

Dengan berbekal kesiapan lahir dan batin, termasuk perbanyak doa dan perbanyak belajar ilmu syar’i, tugas kita sebagai hamba adalah bertawakal. Dan inilah yang diajarkan oleh para sahabat, terutama bagi orang yang tidak percaya diri ketika menikah.

Abu Said mantan budak Abi Usaid menceritakan,
Aku menikah, sementara aku berstatus seorang budak. Akupun mengundang beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Ketika datang waktu shalat, mereka mempersilahkan diriku untuk menjadi imam. Seusai shalat, mereka mengajariku,

إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك

Apabila kamu bertemu pertama dengan istrimu, lakukanlah shalat 2 rakaat, kemudian mintalah kepada Allah kebaikan dari semua yang datang kepadamu, dan berlindunglah dari keburukannya. Kemudian lanjutkan urusanmu dengan istrimu. (HR. Ibn Abi Syaibah 30352 dan dishahihkan al-Albani dalam Adab az-Zifaf).

Demikian yang bisa disampaikan, semoga saudaraku yang sedang dalam masa penantian, Allah subhanahu wa ta’ala mudahkan untuk dipertemukan jodohnya yang se-manhaj.

Ingatlah bahwa seberapa lama penantian yang saudara lakukan sungguh nikmat Allah sangatlah banyak, kita tidak mampu menghitungnya dan Allah menjanjikan setiap mukmin yang sabar dalam penantian menjadikan pahala yang besar jika kita ikhlas akan takdir Allah.

Ingatlah juga bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan doa seorang hamba yang bermunajat hanya kepada-Nya, terlebih lagi mengakui segala dosa dan ber-taubat nasuha hanya kepada-Nya.

Bagi yang sudah menikah tak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu syar’i sembari bermuhasabah diri, semoga keridhoan Allah menyertai dalam pernikahan saudara saudari yang berbahagia, barakallahu fiikum.

Referensi:
www.almanhaj.or.id
www.konsultasiyariah.com
www.muslim.or.id
www.rumaysho.com

Disclaimer kategori Opini
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Mily Amilia

Amilia Indriarsi | Universitas Persada Indonesia YAI - Fakultas Psikologi 2000

Tinggalkan Balasan