HomeIntisari Cahaya IlmuKiat Menjaga Semangat Membaca Buku (Kitab)
Menjaga Semangat Membaca Buku

Kiat Menjaga Semangat Membaca Buku (Kitab)

Intisari Cahaya Ilmu 0 3 likes share

Hendaknya seorang pelajar muslim menjaga semangat membaca buku, agar kehidupan akademisnya berjalan dengan penuh manfaat dan feaedah. Oleh sebab itu, ketahuilah 9 (sembilan) kiat menjaga semangat membaca buku:

1. Niat yang Ikhlas Hanya Karena Allah عزَ وجل Semata

Allah عزَ وجل berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Terjemah,

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” – Q.S. Al-Bayyinah (Bukti) [surat ke-98]: ayat nomor 5.

Tafsir,

“Padahal dalam seluruh syariat mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah, dengan meniatkan ibadah mereka itu untuk dapat melihat wajah Allah seraya meninggalkan kesyirikan menuju keimanan, menehakkan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus, yaitu Islam.”

2. Mengetahui dan meyakini bahwa Ilmu adalah Ibadah

Tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan paling utama, sehingga Allah عزَ وجل menjadikannya sebagai bagian dari Jihad fi Sabilillah.

Allah عزَ وجل berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Terjemah,

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” – Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [surat ke-9]: ayat nomor 122.

Tafsir,

“Tidak seyogianya orang-orang yang beriman berangkat secara keseluruhan memerangi musuh, sebagaimana tidak dibenarkan mereka secara keseluruhan meninggalkan perang. Mengapa dari setiap golongan itu tidak ada satu kelompok yang cukup sebagai wakil mereka untuk mendalami pemahaman tentang Din Allah dan tentang wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Agar mereka mengingatkan kaum mereka berdasarkan ilmu yang telah dipelajari itu ketika kembali kepada mereka, agar mereka takut kepada adzab Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.”

Yang dimaksud (لِّيَتَفَقَّهُوا) adalah hendaknya ada kelompok orang yang benar-benar melaksanakan tugas belajar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama. …” – Shahih Muslim nomor 1037 (كتاب الزكاة)

Apabila Allah عزَ وجل menganugerahkan kepahaman dalam masalah agama ini yang meliputi setiap ilmu syar’i, baik ilmu tauhid, aqidah atau lainnya maka hendaknya seseorang itu berbahagia, karena berarti Allah menginginkan kebaikan baginya.

Imam Ahmad berkata,

“Ilmu itu sesuatu yang tiada bandingnya bagi orang yang niatnya benar.”

“Bagaimanakah benarnya niat itu wahai Abu Abdillah?” Tanya orang-orang kepada beliau.

Maka beliau menjawab,

“Yaitu berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.” (terutama sekali diri sendiri dan anggota keluarga -pen)

3. Sangat Cinta (Gandrung) Kepada Kitab

Mengenai keutamaan ilmu sudah diketahui oleh banyak orang, karena manfaatnya yang sangat luas. Kebutuhan yang mendesak untuk memperoleh ilmu itu seperti kebutuhan badan terhadap pernafasan. Akan Nampak kekurangannya seiring dengan berukrangnya ilmu, demikian juga akan mendapatkan kenikmatan dan kegembiraan pada saat mendapatkannya.

Menjadi maklum tatkala para pelajar sangat senang belajar serta senang untuk memilih dan mengumpulkan kitab. Oleh karena itu pilihlah kitab-kitab pokok, dan ketahuilah bahwa satu kitab tidak dapat mewakili kitab lainnya.  Oleh karena itu hendaknya seorang muslim tidak mengumpulkan kitab-kitab yang tidak berharga, terutama kitab-kitab ahli bid’ah, ilmu kalam dan filsafat, sastra, sebab itu adalah racun yang sangat berbahaya.

Diketahui bahwa kitab itu ada 3 (tiga) macam:

  • Kitab yang baik;
  • Kitab yang jelek;
  • tidak baik tidak pula jelek.

4. Mengumpulkan Kitab yang Ditulis Oleh Para Ulama Salaf

Termasuk sesuatu yang penting adalah hendaklah seorang Muslim itu memilih koleksi kitab perpustakaannya dengan kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Salaf, karena kebanyakan kitab yang ditulis oleh orang-orang zaman sekarang ini sedikit makna panjang kalimatnya. Seseorang bisa jadi menghabiskan waktu membaca satu lembar penuh namun mungkin bisa diringkas dalam satu atau dua baris saja, juga banyak kalimat-kalimat yang sulit dipahami. Berbeda dengan kitab-kitab Ulama Salaf, bahasanya mudah namun kuat, tidak terdapat satupun kalimat tanpa makna.

5. Menelaah Kitab-Kitab Besar

Menelaah kitab-kitab yang besar adalah perkara yang sangat penting agar memperoleh banyak ilmu pengetahuan, meluaskan pemahaman, mengeluarkan hal-hal tersembunyi dari lautan faedah ilmiah dan istimewa, berpengalaman dalam mencari titik-titik pembahasan dan masalah-masalah ilmiah serta bisa mengetahui cara para ulama dalam karya ilmiah dan istilah mereka.

Perlu diketahui bahwa menelaah kitab-kitab besar dapat bermanfaat  bagi seorang pelajar namun dapat pula membahayakannya. Apabila seseorang itu masih tergolong kedalam seorang pelajar yang pemula, maka menelaah kitab-kitab besar dapat membawa kehancuran pada dirinya, analoginya seperti orang yang tidak pandai berenang lalu dirinya berenang dalam samudera yang luas.

Namun apabila dirinya adalah seorang pelajar yang berilmu, yang ingin memperkaya ilmu pengetahuannya maka menelaah kitab-kitab/ buku-buku besar ini adalah sesuatu yang baik.

6. Mengetahui Judulnya

Seorang pelajar membutuhkan spesifikasi dalam suatu ilmu yang hendak dia ketahui atau hendak ditelaah lebih lanjut, oleh sebab itu dirinya perlu mengetahui judul-judul buku yang hendak diambil manfaatnya.

7. Mengetahui Istilah yang Terkandung Dalam Kitab

Istilah yang terkandung dalam kitab biasanya terdapat pada bagian Muqaddimah. Dengan mengetahui istilah-istilah yang digunakan oleh penulis seorang pelajar dapat menghemat banyak waktu. Hal ini dilakukan oleh sebagian penulis dalam muqaddimah kitabnya. Seperti dalam kitab Bulugh al-Maram, apabila penulis menyebut kalimat Muttafaq ‘Alaih yang beliau maksud adalah bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

8. Mengetahui Gaya Bahasa dan Ungakapan Penulis

Oleh karena itu apabila seorang pelajar pertama kali membaca kitab tertentu, maka dirinya akan mendapatkan banyak istilah (ungkapan) yang membutuhkan perenungan dan pemikiran mengenai maknanya, karena dia belum terbiasa menghadapinya. Namun apabila seseorang itu telah berulang kali membaca, niscaya dia akan terbiasa. Misal kitab Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, apabila seseorang belum terbiasa membaca kitab beliau, maka akan kesulitan untuk memahaminya, namun apabila sudah terbiasa maka dia akan dapat memahaminya dengan mudah.

9. Menulis Catatan Kaki

Hendaknya seorang pelajar tidak perlu merasa ragu untuk menulis catatan kaki atau keterangan pinggir dalam kitab yang dia miliki. Ini juga merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pelajar. Apabila dirinya menemukan sebuah permasalahan yang membutuhkan syarah (penjelasan) dalil atau komentar, dan dia khawatir akan terlupakan , maka dia harus mencatatnya (mengomentarinya), dapat ditulis di pinggir halaman atau di bawahnya.

Demikianlah 9 (sembilan) kiat menjaga semangat membaca buku.

Diintisarikan dari:

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. 1424 H/ 2003 M. Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu (Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi). Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer