Inilah Daftar Kebiasaan Buruk yang Banyak Dilakukan Selama Ramadhan

Kebiasaan buruk selama bulan Ramadhan harus dihindari bahkan ditinggalkan. Sebab masuknya bulan Ramadhan merupakan suatu nikmat bagi seorang muslim mukallaf.

Terutama apabila dirinya berada dalam keadaan sehat dan membekali diri dengan pengetahuan amaliyah sunnat dan wajib yang dapat dikerjakan selama bulan Ramadhan, baik amalan khusus bulan Ramadhan maupun amalan umum lainnya.

Berkaitan dengan itu, ada sebagian kaum muslimin yang merasa berat melalui hari-hari selama bulan Ramadhan.

Tidak lain perasaan masyaqqah disebabkan kebiasaan-kebiasaan buruk berupa kemunkaran dan-atau kemaksiyatan yang biasa diperbuat di luar bulan Ramadhan, akhirnya kebiasaan-kebiasaan itu mendarah daging di dalam dirinya, wal-‘iyadzu-billah.

Sehingga sulit baginya untuk menghentikan perbuatan itu secara totalitas maupun khusus pada bulan Ramadhan, SubhanAllah.

Kebiasaan buruk di bulan Ramadhan adalah:

hadits larangan tasyabbuh
Hadits larangan tasyabbuh (larangan menyerupai orang-orang kafir).
  1. Ghibah atau menggunjing saudara muslimnya yang lain;
  2. Sulit bangun pagi untuk mendirikan shalat subuh berjamaah di masjid (bagi laki-laki);
  3. Malas membaca Kitabullah (al-Qur’an);
  4. Lalai dalam memelihara shalat yang lima waktu (shalat fardhu berjamaah di masjid bagi laki-laki, termasuk shalat subuh);
  5. Gemar membuang waktu dengan bergurau yang buruk (berdusta agar orang lain tertawa);
  6. Tidur setelah shalat subuh;
  7. Banyak membaca buku-buku yang kering dalil sehingga waktu terbuang sia-sia;
  8. Menyimpan dan menonton video porno, menyimpan dan melihat lukisan atau foto para wanita yang telanjang dada (topless) dan-atau telanjang seluruhnya (full nude), hingga tasyabbuh sibuk “ngabuburit” dengan bermain TikTok.

Kebiasaan-kebiasaan tercela itulah yang menyebabkan timbulnya masyaqqah atas diri seseorang dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Maka bagi seorang mukallaf kebiasaan maksiat tersebut harus ditinggalkan, tidak hanya selama bulan Ramadhan saja, akan tetapi berusaha istiqamah pada bulan-bulan selanjutnya.

Kiat Meninggalkan Kebiasaan Buruk

Agar dapat meninggalkan kebiasaan buruk, diperlukan langkah yang tepat:

  1. Tinggalkan ghibah, mulailah membuktikan keimanan dan kesetiaan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam dengan cara menjaga lisan.

    Dari Abu Huarairah radhiy-allaahu-anhu, Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, (وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ), “… Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” – Shahih al-Bukhari nomor 6138 (كتاب الأدب);
  2. Apabila masih malas bangun subuh, hendaklah menumbuhkan kecintaan terhadap amal shalih dan berniat betul untuk memperoleh ganjaran pahala shalat Subuh. Orang-orang yang secara istiqamah mendirikan shalat subuh berjamaah, niscaya haram baginya api neraka dan dimasukkan dirinya kedalam al-Jannah (surga).

    Dari Abu Bakrah bin Abi Musa radhiy-allaahu-‘anhu, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam bersabda, (مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ), “Barang siapa mengerjakan shalat Bardain (Ashar dan Subuh), maka ia masuk surga.” – Hadits Muttafaq ‘Alaih: Sahih al-Bukhari nomor 574 (كتاب مواقيت الصلاة) dan Shahih Muslim nomor 635 (كتاب الْمَسَاجِدِ وَمَوَاضِعِ الصَّلاَةِ).
  3. Agar semangat membaca al-Qur’an maka seseorang itu harus berniat untuk mengumpulkan pahala dari setiap huruf yang terdapat di dalamnya.

    Sebagaimana sabda Rasulullah shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam, (مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ), “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif-lam-mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” – H.R. Tirmidzi, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, nomor 6469 dari Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu.

    Setelah itu cobalah untuk memperbaiki cara membaca kitabullah, semakin sering membaca, maka semakin lancar dan baik pula bacaannya.
  4. Jangan menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat untuk kehidupan akhirat. Seseorang yang berakal sehat, tidak akan menggunakan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan akhiratnya. Seseorang yang sehat akalnya, tidak akan mengerjakan sesuatu, kecuali hal itu dapat memudahkan langkah kehidupan akhiratnya.

    Seseorang yang tasrih (sehat dan kuat akalnya) dia akan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dapat memberatkan (menyulitkan) kehidupan akhiratnya.

    Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda, (مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ), “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” – H.R. At-Tirmidzi.

    Ketahuilah bahwa waktu memiliki sifat khash (khusus) yakni: (1) dia cepat berlalu, (2) dia tidak dapat diputar kembali, dan (3) dia pasti berakhir.
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.