HomeIntisari Cahaya IlmuApa Kaidah (Asas) Dalam Memilih Teman?
kaidah dalam memilih teman

Apa Kaidah (Asas) Dalam Memilih Teman?

Intisari Cahaya Ilmu Nasihat 0 likes 780 views share

Kaidah Dasar dalam Memilih Teman

Dari Abu Hurairah رضى الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman. — Hasan (Al-Albani): Abu Dawud no. 4833 (كتاب الأدب).

Apa kaidah dalam memilih teman dan bagaimana kaifiah-nya/ tata caranya untuk mengetahui prinsip hidup yang benar pada seseorang?

Kriteria yang Harus Dipenuhi

Seorang muslim tidak akan selamat dari kerusakan yang dibuat oleh lisan orang-orang yang bodoh dan idhtirab (guncang akalnya). Oleh karenanya maka sepatutnya seseorang itu memenuhi asas/ kaidah dalam memilih teman.

Para ‘alim Salaf telah memperingatkan pemuda muslim ihwal urgensi dalam memilih teman. Di antaranya yakni Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله dalam kitabnya Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi.

Lantas kemudian muncul pertanyaan,

Apa saja asas-asas dalam memilih teman?

Seseorang yang Paling Sedikit Salahnya

Telah diketahui kaidah/ asas yang dapat dijadikan dasar dalam memilih teman serta untuk mengetahui prinsip hidup yang benar pada seseorang, sehingga kita dapat berteman dan mengambil faedah darinya, walaupun dirinya satu atau dua kali berbuat kesalahan (kesalahan yang dia perbuat merupakan hal manusiawi yang masih dapat dimaklumi atau kesalahan yang sifatnya bukan prinsip hidup).


teman

Prinsip Hidup

Adapun cara untuk mengenali prinsip hidup yang lurus pada diri seseorang adalah:

  • Dirinya berpedoman kepada al-Kitab dan as-Sunnah, artinya dia adalah seseorang yang mengedepankan wahyu daripada ra’yu/ logika;
  • Tidak berdalil/ istidlal kecuali dengan Sunnah yang Shahih/ hadits yang Shahih dalam urusan Aqidah;
  • Dirinya memahami al-Kitab dan aS-Sunnah yang shahih (sebagaimana dimaksud pada poin sebelumnya) sesuai pemahamana Salafush-Shalih (Para Shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in), artinya pemahaman para Shahabat adalah standar baku dalan memahami dan mengamalkan Agama dalam setiap sendi kehidupan.
  • Pengetahuannya akan Asma wa Sifat (Nama-nama dan Sifat Allah).
  • Pengetahuannya akan Tauhid Uluhiyah.

Apabila telah ada pada diri seseorang kelima hal tersebut, maka seorang Muslim dapat berteman baik dengannya. menjaga Ukhuwah Islamiyah dan mengambil faedah darinya. Sebab orang yang seperti itu adalah dia yang menjaga lisan, takut berbicara yang dapat menyesatkan orang lain.

Paling Sedikit Salahnya

Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun dari bani Adam/ manusia yang ma’sum/ terpelihara dari kesalahan. Oleh sebab itu tidak ada satupun ummat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang tidak berbuat salah, akan tetapi sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah dia yang bertaubat dan kembali kepada Sunnah/ ajaran Islam yang murni tanpa penambahan syari’at dan tidak pula mengurangi syari’at-nya. Dia yang baik adalah seseorang yang paling sedikit salahnya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer