HomeDaftarKaidah dan Syarat-Syarat Jihad
syarat jihad teman shalih

Kaidah dan Syarat-Syarat Jihad

Daftar Intisari Cahaya Ilmu Jihad 0 1 likes 169 views share

5. Jihad Harus Dilaksanakan dengan Keadilan dan Menjauhi Permusuhan

Ini adalah ketentuan yang penting dan ditekankan dalam Jihaad fii Sabilillaah, sebagaimana firman Allah عزَ وجل,

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [surat ke-2]: ayat nomor 190.

Agama Islam melarang kaum Muslimin bersikap melampaui batas dalam beragama, termasuk juga dalam Jihaad fii Sabilillaah. Dan diperintahkan berlaku adil, meskipun kepada musuh.

Allah عزَ وجل berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti dengan apa yang kamu kerjakan.” – Q.S. Al-Maaidah (Hidangan) [surat ke-5]: ayat nomor 8.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم jika mengutus suatu pasukan beliau mewasiatkan kepada mereka agar bertaqwa kepada Allah عزَ وجل, dan beliau berkata,

اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَ لاَ تَغُلُّوا وَلاَ تَغْدِرُوا وَلاَ تَمْثُلُوا وَلاَ تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Berperanglah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah, perangilah orang yang kafir kepadala Allah, janganlah memutilasi (membunuh dengan cara memotong-motong tubuh mayit/ mencincang tubuh) korban, janganlah mengkhianati perjanjian, dan janganlah membunuh anak kecil …” – Shahih Muslim nomor 1731 (كتاب الجهاد والسير).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga melarang perampasan dan pembunuhan mutilasi, beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنِ انْتَهَبَ نُهْبَةً فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang merampas suatu rampasan maka dia bukan golonganku.” – Shahih: Ahmad nomor 438, Sunan Abi Dawud nomor 4391, Sunan an-Nasa’i 3335, 3590, Sunan Ibn Majah 3935, 3937, dan Jami` at-Tirmidzi 1601, 1123, dari ‘Imran bin Hushain رضى الله عنه . Lihat Shahiih al-Jaami’sh Shaghiir nomor 7486.

Dan para ‘Ulama menjelaskan bahwa orang yang tidak ikut berperang seperti wanita, anak kecil, orang tua renta, orang buta, orang yang berpenyakit menahun, orang gila, pendeta, orang yang di gereja, mereka semua tidak boleh diperangi dalam jihad.

Peperangan itu terjadi bagi yang memerangi kita, karena kita ingin menegakkan Agama Allah. Karena itulah Allah عزَ وجل membolehkan membunuh jiwa untuk kemaslahatan makhluk seperti dalam firman-Nya,

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

“… Fitnah lebih kejam dari pembunuhan …” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [surat ke-2]: ayat nomor 217.

Yaitu bahwa pembunuhan meskipun itu termasuk kejelekan dan kerusakan, tapi fitnah orang-orang kafir itu lebih besar dari pembunuhan. Maka barangsiapa yang tidak mencegah kaum Muslimin dari menegakkan Agama Allah عزَ وجل, maka madharatnya hanya mengenai dirinya, seperti perkataan ‘Ulama,

“Sesungguhnya orang yang menyeru kepada bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah akan diadzab dengan adzab yang tidak ditimpakan kepada orang yang diam.” – Lihat Majmuu’ Fatawaa (XXVIII/161, 354) dan Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah Syaikh Bin Baaz (XVII/129-130).