HomeDaftarKaidah dan Syarat-Syarat Jihad
syarat jihad fii sabilillaah

Kaidah dan Syarat-Syarat Jihad

Daftar Intisari Cahaya Ilmu Jihad 1 likes 367 views share

Syarat Jihad: Jihad memiliki kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.[1]

Pembahasan mengenai syarat jihad ini adalah pembahasan yang sangat penting dalam jihad, yaitu mengetahui bahwa jihad disyariatkan dalam Islam dengan kaidah-kaidah dan syarat- syarat jihad yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم juga Atsar dari para Salafush Shalih.

Maka jihad di jalan Allah عزَ وجل tidak sempurna dan tidak menjadi amal shalih yang diterima di sisi Allah عزَ وجل kecuali dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat tersebut, mengikutinya dan mengamalkannya. Di antara kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang paling penting yakni (8 Syarat Jihad):

1. Jihad Harus Dibangun di Atas Dua Syarat yang Merupakan Dasar dari Setiap Amal Shalih yang Diterima, yakni Ikhlas dan Mutaba’ah

Allah عزَ وجل tidak menerima jihadnya seseorang yang berjihad kecuali dia mengikhlaskan niat hanya karena Allah عزَ وجل, dan mengharap keridhaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ. Jika dalam jihadnya dia mengharap untuk kemaslahatan dirinya, atau menginginkan kekuasaan dan semisalnya maka jihad ini tidak diterima oleh Allah عزَ وجل.

Allah عزَ وجل juga tidak menerima jihad seseorang yang berjihad jika dia tidak mengikuti contoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam berjihad. Maka wajib bagi yang ingin berhijad di jalan allah عزَ وجل untuk melihat dan mengikuti Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, juga mengikuti petunjuk beliau dan berjalan di atas manhajnya dalam berjihad dan dalam semua ibadah.

2. Jihad Harus Sesuai dengan Maksud dan Tujuan Jihad

Harus sesuai dengan maksud dan tujuan disyariatkannya jihad, yaitu seorang muslim berjihad agar agama Islam ini tegak dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, seperti dalam hadits, bahwasanya dikatakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم,

“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” – Shahih al-Bukhari nomor 7458 (كتاب التوحيد), Shahih Muslim nomor 1094 (كتاب الإمارة).



3. Jihad Harus dengan Ilmu

Jihad tersebut harus ditegakkan dengan ilmu dan pemahaman mengenai agama, karena jihad ini termasuk ibadah yang paling agung dan ketaatan yang paling mulia seperti yang telah disebutkan.

Suatu ibadah tidak benar jika tidak dengan ilmu dan pemahaman tentang agama, karena itulah seorang ulama Salaf berkata,

“Barangsiapa yang menyembah Allah tanpa ilmu maka apa yang dia rusakkan lebih banyak dari apa yang dia perbaiki.”

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله‎‎ berkata,

“Ilmu itu imamnya amal, dan amal mengikutinya.”

Ini jelas, bahwa niat dan amal jika tidak dengan ilmu akan menjadi kebodohan, kesesatan, dan mengikuti hawa nafsu.

Maka wajib bagi orang yang berjihad mengetahui ilmu tentang hakikat dan tujuan dari jihad, macam-macamnya dan tingkatan-tingkatannya, serta wajib juga mengetahui tentang keadaan di mana dirinya berjihad padanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله‎‎ mengatakan,

“Wajib menjadikan tolak ukur dalam perkara-perkara jihad ini kepada ahli agama yang memiliki pengalaman dalam hal dunia, tidak mengambil contoh dari ahlud-dunyaa (yang memiliki pengalaman tentang dunia) yang kebanyakan hanya melihat agama dari zhahirnya saja. Maka pendapat mereka tidak boleh diambil, dan pendapatnya ahli agama yang tidak memiliki pengalaman dalam hal dunia (juga tidak boleh dijadikan tolak ukur).”

Footnote:
[1] Dinukil dari Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله, Jihad dalam Syariat Islam, hal. 129-143.