HomeOpiniJOGJA TERANCAM KONFLIK ETNIK DIKALANGAN MAHASISWA
konflik etnik dikalangan mahasiswa yogyakarta

JOGJA TERANCAM KONFLIK ETNIK DIKALANGAN MAHASISWA

Opini 0 likes 131 views share

Gara-gara tinggal di Indekos, bukannya saling mengenal malah bertikai. Meningkatnya jumlah mahasiswa baru di Yogyakarta menimbulkan konflik etnik. Jangan sampai “Kota Pelajar” menjadi korban.

FOTO: MAHASISWA BERGAYA DI JALAN MALIOBORO-YOGYAKARTA/TEMPO INSTITUTE/AFFAN

Awal Mula Konflik Etnik dikalangan Mahasiswa Yogyakarta

Berdasar Buku Statistik Pendidikan Tinggi tahun 2014 hingga 2018, diketahui pada tahun 2014-2015 Yogyakarta menerima 82.284 mahasiswa baru, tahun 2017 sejumlah 124.404 mahasiswa baru, dan pada tahun 2018 Universitas Negeri dan Swasta di kota Yogyakarta menerima 88.934 mahasiswa baru.

Datang dari berbagai daerah di Indonesia, mahasiswa tersebut menetap di indekos yang cenderung berkelompok berdasar kesamaan daerah asal. Di sini lah awal mula masalah.

Tinggal di indekost dengan teman daerah asal yang sama dapat menimbulkan kejumudan dalam atmosfer intelektualisme, menghambat proses asimilasi, mengentalkan primordialisme, sehingga nilai-nilai Nasionalisme kian meredup.

Lebih lanjut terbentuknya kantong-kantong kedaerahan di “kota pelajar” Yogyakarta dapat menimbulkan ekses negatif, sebab perbedaan gaya hidup membuat pertikaian antar etnik (intoleransi) mudah tersulut. Pada akhirnya suasana akademis menjadi tidak kondusif dan kontra produktif.

Pertikaian Terjadi Dilingkungan Indekos, Bukan Kampus

Pertikaian antar mahasiswa daerah umumnya terjadi di lingkungan indekos diwaktu bebas jam kuliah. Secara empiris, pada tahun 2012 terjadi friksi di antara individu mahasiswa asal Jawa Barat dengan mahasiswa asal Papua Barat yang disebabkan oleh perbedaan gaya hidup (memelihara anjing yang menimbulkan polusi suara, bermain musik hingga tengah malam, dst.). Disusul dengan kasus intoleransi serupa yang tersebar di lingkungan indekost.

Artinya pertikaian ini pada awalnya memang terjadi dalam skala kecil, namun sering terjadi (intensitasnya tinggi). Apabila demikian, niscaya pertikaian akan sulit diatasi dengan cepat. Sebab pertikaian yang terjadi cenderung bersifat rasial (pertikaian etnik) dan dengan cepat melibatkan kelompok-kelompok mahasiswa daerah.

Sultan Tak Suka Apabila Mahasiswa Daerah Berkelompok

Sehubungan dengan hal itu, dikutip dari republika.co.id, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengutarakan harapannya menyoal indekos agar pemerintah daerah mendorong mahasiswa yang sekolah di Yogyakarta untuk indekos di tempat penduduk DIY yang isinya mahasiswa dari berbagai daerah. Supaya mereka bergaul serta berbaur dengan berbagai etnik dan masyarakat Yogyakarta. Sehingga perkelahian antar etnik dapat berkurang.

Perda Khusus Indekos Reduksi Konflik Etnik

Oleh sebab itu dibutuhkan dorongan regulasi yang secara khusus mengatur distribusi mahasiswa pendatang pada indekos yang tersebar di seluruh kota Yogyakarta, bukan sekedar imbauan saja. Distribusi tersebut dimaksudkan agar mahasiswa pendatang antar daerah dapat saling berbaur.

Kalau kegentingan ini tidak segera diatasi secara serius, maka pertikaian antar mahasiswa daerah kian meningkat, suasana belajar yang nyaman tak lagi didapat. Yogyakarta tidak lagi sanggup mencetak pelajar-pelajar berprestasi yang bertoleran, sehingga predikat “kota pelajar” hanya akan menjadi kenangan sejarah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer