Beranda Opini Hukum Memviralkan Masalah Pribadi

Hukum Memviralkan Masalah Pribadi

0
Hukum Memviralkan Masalah Pribadi
Negara yang memiliki polisi syariat: Kerajaan Arab Saudi, Emirat Islam Afghanistan.

Konten viral ihwal masalah pribadi bukanlah hal yang tabu, justru dianggap sebagai tontonan seru. Wahai muslim Indonesia, kemana perginya kehormatan dan rasa malu sebagai kaum yang katanya mayoritas?

Affan Umar

Dari sepuluh video viral tentang perselisihan antar individu, maka sembilan di antaranya adalah orang-orang muslim yang berperkara.

Jika setiap perkara pidana atau perdata harus diviralkan melalaui platform media sosial, video internet, dan selainnya. Maka hal ini menunjukkan betapa lemah posisi seseorang itu, entah apakah dia Penggugat atau Tergugat. Sangat lemah, hingga dia merasa perlu untuk mendapat atensi dan dukungan dalam bentuk: like, comment, dan share.

Ataukah dia berpikir untuk tujuan efek jera dan edukasi, benarkah demikian? Atau semata-mata bersumber dari luapan emosi amarah dan akal yang awam atas adab.

Atau murni hanya ingin membuat konten viral saja. Maka yang seperti ini benar-benar tertipu oleh dunia.

jika tertangkap (pembuat konten viral) berhak atasnya dijatuhi ta’zir (hukuman pendisiplinan) berupa cambuk oleh ‘Umara (Pemerintah) yang otoritasnya diberikan kepada lembaga penegak hukum, misal Al-Hisbah (Polisi Syari’at)

Affan Umar

Kondisi tersebut diperparah dengan:

1. kualitas pendidikan di keluarga mau pun sekolah tentang aqidah, adab, dan akhlaq yang minim. Sehingga, metode viral-memviralkan dalam penyelesaian sengketa ditiru oleh orang-orang yang jauh lebih awam. Bahkan dapat dikatakan jahl;

2. aktivitas membagikan ulang sebuah tautan oleh mereka yang sama sekali tidak berurusan sedikit pun. Belum lagi ditambah dengan keberadaan majhulun, yakni orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya, bersembunyi di balik fake account. Sekali pun berurusan, perbuatan tersebut tidak dibenarkan jika ditimbang dengan norma agama dan budaya.

Viral-memviralkan kini dianggap sebagai senjata ampuh untuk memenangkan hak dalam sengketa. Pokoknya rekam dulu, kemudian unggah, lalu pikir belakangan. Membagikan ulang dan berbalas komentar dianggap bantuan moril. Tidak peduli dengan statusnya sebagai mukallaf.

Di sisi lain, konten viral ihwal masalah pribadi bukanlah hal yang tabu, justru dianggap sebagai tontonan seru. Wahai muslim Indonesia, kemana perginya kehormatan dan rasa malu sebagai kaum yang katanya mayoritas?

Lambat laun, dan sedang terjadi, apa yang telah diungkap di atas mau tidak mau diserap kedalam budaya Indonesia. Atau setidaknya sebagian besar orang Indonesia hidup dengan tingkah laku tersebut. Tercela, tapi tak disadari.

Sadar kah kini? Budaya baru lahir dari generasi muslim Indonesia.

Catatan penting:

Memasyhurkan sebuah kabar yang bermuatan negatif merupakan bentuk tasyabbuh bil kuffar (meniru gaya hidup orang kafir).

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

MAN TASYABBAHA BI QAUMIN FAHUWA MINHUM.

Terjemah: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Maka berdasar fiqh (hukum Islam), orang muslim yang berlaku demikian sebelum atau sesudah ditegakkan hujjah, sama saja dengan orang kafir dalam aspek tingkah laku.

Meski pun perbuatan itu, viral-memviralkan, tidak membuatnya keluar dari Islam.

Kemudian jika tertangkap (pembuat konten viral) berhak atasnya dijatuhi ta’zir (hukuman pendisiplinan) berupa cambuk oleh ‘Umara (Pemerintah) yang otoritasnya diberikan kepada lembaga penegak hukum, misal Al-Hisbah (Polisi Syari’at).

Sumber: Maraaji' (Senarai Pustaka).
Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Lihat daftar website yang copy-paste tulisan temanshalih.com
  5. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here