Senin, Mei 23, 2022
BerandaNikahHukum Membatalkan Lamaran Nikah Dalam Ajaran Islam

Hukum Membatalkan Lamaran Nikah Dalam Ajaran Islam

Anda akan dipandu memahami hukum membatalkan lamaran nikah dalam ajaran Islam berdasar kepada dalil hadits shahih. Sehingga, Anda tidak perlu merasa ragu dalam hal membatalkan lamaran nikah.

Pertanyaan hukum membatalkan lamaran pernikahan: Bolehkah saya membatalkan lamaran saya yang akan berlanjut kepada pernikahan? Apakah saya salah dan berdosa jika saya membatalkannya? Padalah tujuan saya melamar semata-mata hanya untuk menikahinya.

Tetapi dalam perjalanan menuju pernikahan karena “sesuatu sebab” saya terpaksa harus membatalkannya. Dan kadang sebab-sebab pembatalan tersebut tidak dapat diungkapkan dengan lisan mau pun tulisan, tetapi hanya terpendam di dalam hati yang sangat memberatkan jika didengarkan.

Hal yang serupa juga dialami oleh ikhwan yang lain, bahkan tidak sedikit jumlahnya.

Demikian juga dengan akhwat-nya. Misal dia telah dilamar oleh seorang ikhwan, dan lamaran itu telah diterima olehnya atau oleh walinya, kemudian karena “suatu sebab” dia atau walinya membatalkan lamaran ikhwan tersebut. Maka hukum ini menjadi musykil bagi kami, oleh karena itu berilah kepada kami penjelasan ketegasan dalil dan hukumnya.

Jawaban: Kalau nazhar saja sebagaimana telah diketahui tujuan dan maksudnya adalah dengan niat untuk melamarnya. Demikian juga lamaran. Bahkan lamaran ini telah telah lebih dekat kepada pernikahan yang ghalibnya tinggal menunggu waktu saja.

Oleh karena itu, keduanya tidak boleh dibuat main-main. Karena main-main di dalam urusan Agama adalah sangat terlarang. Oleh karena itu, keduanya (nazhar dan khitbah) harus dibangun di atas landasan niat yang baik dan benar.

Ada pun di dalam perjalanan, terjadi pembatalan karena suatu sebab yang mendatang misalnya menyesal, maka Agama tidak melarangnya dan membebaninya.

Baca juga: Hukum Membatalkan Lamaran Nikah Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi

Berikut ini adalah sebab-sebab terjadinya pembatalan lamaran:

Pertama, lelaki mukallaf itu telah melamar akan tetapi belum nazhar. Kemudian setelah itu dia baru nazhar. Sesudah nazhar ternyata dia tidak tertarik kepada yang di-nazhar, lalu dia segera membatalkan pinangannya.

Kedua, dia telah melamar, kemudian masuklah pelamar kedua, lalu dia memberi izin kepada pelamar kedua ini untuk melanjutkannya, sedangkan dia sendiri segera meninggalkan lamarannya.

Ketiga, Dia telah melihatnya (nazhar) kemudian melamarnya. Kemudian karena suatu sebab yang mendatang – selain dari dua sebab di atas – maka dia harus membatalkan lamarannya. Sebab-sebab tersebut adakalanya dapat dinyatakan, dan adakalanya seperti yang dikatakan di atas yaitu, “tidak dapat diungkapkan dengan lisan mau pun tulisan, tetapi hanya ada terpendam di dalam hati yang sangat memberatkan jika didengarkan.

Saya mengatakan, hal ini sama dengan seorang suami yang men-thalaq istrinya. Adakalanya sebab-sebab dia men-thalaq istrinya itu dapat dia ungkapkan, dan adakalanya dia sendiri tidak dapat mengungkapkannya apalagi membeberkannya di muka Hakim (Qadhi).

Akan tetapi hanya terpendam di dalam hati yang sangat memberatkan kalau didengarkan dan hanya dialah yang mengetahuinya.

Oleh karena itu sangat kurang adab sekali kalau pak Hakim di pengadilan agama terus-menerus mendesak suami untuk mengetahui sebab-sebab apa dia men-thalaq istrinya!? Sehingga orang bertanya-tanya: “Apakah memang benar sebagaimana dikatakan orang banyak, bahwa pak Hakimnya belum menikah sehingga dia tidak tahu tentang urusan wanita apalagi perkawinan?! Yang benar dia telah menikah, tetapi jahil (bodoh) tentang urusan Agama khususnya dalam masalah perkawinan dan perceraian.”

Ada pun ketegasan dalil hadits adalah sebagai berikut:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ كَانَ يَقُولُ نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَبِيعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ، أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ

Terjemah: Bahwasanya Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma telah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang sebagian kamu menjual atas penjualan sebagian yang lain. Dan tidak boleh seorang meminang pinangan saudaranya sampai peminang (yang pertama) telah meninggalkan pinangannya, atau telah memberi izin kepadanya.” – Hadits Shahih: Bukhari nomor 5142 (ini lafazhnya) dan Muslim nomor 1412.

Dinukil dari: Al-Masaa Il (Masalah-Masalah Agama). Jilid 7 cetakan keenam. Halaman 122-124.

Sumber: Maraaji' (Senarai Pustaka).
Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Lihat daftar website yang copy-paste tulisan temanshalih.com
  5. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang.

teman shalihhttps://temanshalih.com
Media online informasi akademik muslim dan edukasi kontra terorisme. Terbit sejak Ramadhan 1437 H/Juni 2016 M. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten ilmiah. Jazakumullah Khairan.
KONTEN TERKAIT
- Advertisment -