HomeIntisari Cahaya IlmuAdab Busana MuslimHukum Memakai Toga dan Penutup Kepala Khusus Pada Saat Wisuda
memakai toga saat wisuda

Hukum Memakai Toga dan Penutup Kepala Khusus Pada Saat Wisuda

Adab Busana Muslim Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin Fatwa Ulama Intisari Cahaya Ilmu 0 likes 440 views share

Hukum Memakai Toga dan Penutup Kepala Khusus Pada Saat Wisuda

Meskipun wisuda bukanlah seremonial wajib, umumnya para pelajar (mahasiswa) memiliki perhatian yang besar dalam mengikuti acara ini dengan sebab dan tujuan yang berbeda-beda; mulai dari memenuhi permintaan orang-tua, kebutuhan publikasi sosial media, hingga hanya sebatas ingin pesta kelulusan pasca sidang/ ujian skripsi/ ujian tesis bersama teman-teman satu angkatan dan seterusnya.

Namun hendaklah seorang pelajar muslim itu memperhatikan betul tata busana kesehariannya, terlebih busana yang hanya digunakan pada kesempatan tertentu sehingga tidak perlu bagi mereka memberatkan diri dalam mempercantik dan mempertampan diri dengan hiasan yang berlebihan.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Hukum Gambar Makhluk Hidup Bernyawa di Dalam Syari’at Islam.

Pertanyaan:

Dalam acara wisuda dibeberapa perguruan tinggi (dan universitas -pen) para mahasiswi biasanya memakai toga dan mengenakan penutup kepala (kerudung) khusus untuk wisuda, di mana mereka berjalan dalam barisan yang tersusun rapi di hadapan orang-orang yang hadir yang terdiri dari ibu-ibu, kemudian para wisudawati duduk di hadapan mereka.

Setelah itu dilanjutkan dengan memberikan penghormatan kepada mereka. Bagaimanakah hukum syara’ (Agama -pen) mengenai hal tersebut?

Kiranya Syaikh berkenan memberikan fatwa kepada kami.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Fotografi Pada Dasarnya Dibolehkan.

Jawaban:

Tidak menjadi masalah, jika pakaian itu khusus dipakai di tempat resmi dan tempat itu tidak dihadiri kaum laki-laki yang lain (non-mahrom/ bukan mahrom) dan yang hadir hanya para mahasiswi, ibu-ibu serta dosen-dosen wanita, selama pakaian itu menutupi kepala, tubuh dan dua kaki, dan penutup kepala (kerudung) dipakai di atas kepala.

Tidak menjadi masalah berjalan dalam barisan yang tersusun rapi di hadapan para kaum wanita yang hadir, kemudian duduk di hadapan mereka dan diteruskan dengan memberikan penghormatan kepada mereka baik sebelum maupun sesudahnya dengan ucapan selamat atau ucapan yang lainnya. Tetapi jika ‘aba’ah”[1] tersebut berukuran pendek, maka tidak boleh memakainya kecuali di hadapan wanita-wanita tertentu, dan tidak diperbolehkan membiasakan para pemudi memakai pakaian mini (pendek) dan tidak boleh memakai ‘aba’ah yang hanya dilekatkan pada kedua bahu, karena hal tersebut menyerupai kaum laki-laki.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, kepada keluarganya dan para shahabatnya.”[2]

Disampaikan dan didiktekan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin.

Footnote:

[1] Sejenis mantel yang terbuka bagian depannya.

[2] Khalid al-Juraisi, Fatwa-Fatwa Terkini, (Jakarta : Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hlm. 78. – Kitab terjemah dari judul asli: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah Fi al-Masa’il al-’Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer