Hukum Fotografi Pada Dasarnya Dibolehkan

Bahwa hukum fotografi itu pada dasarnya dibolehkan, ini adalah pendapat al-Muthi’i, Ibnu ‘Utsaimin, dan yang lainnya.

Hukum bolehnya fotografi hal tersebut didasari oleh 3 (tiga) hal:

1. Fotografi Tidak Sama Dengan Menggambar

Fotografi tidak termasuk “menggambar” secara hakiki menurut syara’ maupun menurut bahasa. Karena seseorang dikatakan menggambar adalah apabila dirinya mengadakan sesuatu yang tertentu dan keadaan bentuk yang tertentu pula. Sebagaimana makna (صِوَّرَ) yang ditunjukkan dalam firman Allah عزَ وجل,

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. – Q.S. Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) [3] : 6.

Tafsirnya,

Dia jua yang menciptakan kalian di dalam rahim bunda kalian sebagaimana yang Dia kehendaki berupa laki-laki atau perempuan, baik atau buruk (rupanya), serta apakah sengsara atau bahagia (hidupnya). Tidak ada sembahan selain-Nya yang berhak diibadahi dengan haq. Dia Mahaperkasa tanpa bisa dikalahkan, serta maha bijaksana dalam segala urusan dan pengaturan-Nya.- Tafsir Surat Ali 'Imran (Keluarga 'Imran) ayat 6, At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah)

Dan pada firman-Nya,

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ

“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” – Q.S. Al-Infithar (Terbelah) [82]: 8.

Tafsirnya,

Wahai manusia yang ingkar terhadap Hari Kebangkitan, apakah yang telah menjadikanmu terperdaya sehingga engkau durhaka terhadap Rabb-mu yang Maha Pemurah, banyak berbuat baik, serta selayaknya disyukuri dann ditaati itu? Bukankah Dia yang telah menciptakanmu, lantas menyempurnakan ciptaanmu dan menjadikan susunah tubuhmu seimbang? Dia juga membentukmu untuk menjalankan tugas-tugasmu dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki.- Tafsir Surat Al-Infithar (Terbelah) ayat 6 s.d. 8, At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah)

Dan Allah عزَ وجل berfirman,

وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ

“… Dan membentukmu lalu memperindah rupamu …” – Q.S. Ghafir (Yang Mengampuni) [40]: 64.

2. Fotografi Hanya Memantulkan Bentuk

Inilah makna (التصور); “tashwir“; “menggambar = membentuk” yang secara bahasa ditetapkan oleh Al-Qur’an dalam menentukan halal dan haramnya menggambar.

Sementara itu di dalam proses fotografi tidak terdapat makna menjadikan atau memunculkan bentuk yang sebelumnya tidak ada. Fotografi hanyalah memantulkan sebuah bentuk benda yang telah ada dalam keadaan terbalik.

3. Bukan Foto Aurat

Demikian pula harus diperhatikan bahwa kebolehan menggunakan alat fotografi tidak berbicara masalah konten gambar atau foto yang dihasilkan berikut penggunaannya. Karena para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh melihat aurat yang diharamkan atau yang melalaikan ibadah.

Mereka pun sepakat bahwa menggantung atau memasang sesuatu, baik berupa gambar, foto, jimat atau benda-benda lainnya, dengan tujuan untuk diagungkan maka itu diharamkan.

Catatan: Lajnah Daimah Arab Saudi mengharamkan fotografi, kecuali untuk foto identitas seperti KTP, Paspor, dan yang semisal dengan itu yang diperintahkan oleh negara. Artinya dari sekian banyak pendapat ulama salaf dan lembaga majelis ulama dapat dimengerti bahwa penggunaan fotografi dibolehkan dengan syarat yang ketat.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Himpunan Para Ulama. 1436 H/ 2015 M. Hukum Musik & Gambar Berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar.
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.