HomeIntisari Cahaya IlmuApa Hukum dan Konsekuensi dari Membuka Rahasia Orang Lain?
hukum membuka rahasia orang

Apa Hukum dan Konsekuensi dari Membuka Rahasia Orang Lain?

Intisari Cahaya Ilmu Nasihat 0 likes 351 views share

“Mengapa engkau bersikap lembut terhadap dirinya, sementara tidak demikian terhadapku?! Engkau memberinya setumpuk hadiah, sementara aku?!”

“Apakah aku korban kebodohan atau ada di antara kita yang sedang cemburu buta? Tidakkah engkau melihat bahwasanya aku adalah manusia yang terbatas kesanggupannya?”

Di dalam bermuamalah dianjurkan bagi seorang muslim agar berteman baik/ shohib/ bersahabat dengan orang-orang yang juga memenuhi adab-adab muamalah, dan tidaklah seorang muslim itu dapat memenuhi adab dan akhlaq islami kecuali dengan mempelajarinya dengan berulang-ulang dan hingga tuntas. Sehingga dirinya memahami betul perbedaan antara bersikap baik dengan bersikap lemah, dermawan dengan boros, jujur dengan ghibah, bersikap tegas dengan kasar. Kapan harus berkata jujur dan kapan semestinya menjaga nama baik orang lain.

Memilih-milih teman dekat menjadi standar baku dan merupakan bagian khusus dari adab muamalah seorang pelajar. Sebab apabila seorang muslim berteman dengan orang yang melalaikan bab ini, adab muamalah, sesungguhnya dia sedang berada di dalam 2 (dua) kemungkinan:

  • Dia dapat mengajak orang lain berbuat baik dan beramal shalih, atau
  • Dia menjadi korban kebodohan yakni termakan ghibah, pemikiran-pemikiran teman dekatnya yang mendahulukan hawa nafsu, dan seterusnya.

Ada di antara para pelajar yang termakan ghibah oleh teman-temannya, sebab mereka tidak dapat membedakan antara jujur dengan ghibah, walhasil terbukalah aib/ keburukan/ cela, membuka suatu rahasia dan kekurangan seseorang itu di muka umum yang berdampak pada rusaknya ukhuwah islamiyah antara dirinya dengan orang-orang disekitarnya bahkan dengan skala yang jauh lebih besar.

Kalau kerusakannya sudah sedemikian parah, lantas sanggupkah seseorang itu mengembalikan keadaan seperti sedia kala? ‎لا حول ولاقوة إلا بالله.

Ada sebagian di antara manusia yang kegemarannya mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain serta menyibukkan dirinya untuk menghitung aib orang lain dengan melupakan aib yang ada pada dirinya sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, “Bagaikan lalat yang tidak hinggap kecuali pada kotoran.”

Orang yang sibuk menghitung aib orang lain dengan melupakan aib dirinya sendiri adalah manusia yang paling besar kebodohannya. Ibnul Jauzi berkata, “Musibah yang paling besar adalah kepuasan manusia kepada dirinya sendiri dan merasa cukup berilmu, dan hal semacam ini merupakan musibah yang banyak menimpa kehidupan manusia.”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menuturkan di dalam kitabnya, Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu), “… ini adalah pengkhianatan terhadap amanah, maka apabila ada orang lain yang memintamu untuk menyimpan sebuah berita, maka tidak halal bagimu untuk menyebarkannya kepada siapapun juga, dan berhati-hatilah kepada seseorang yang akan menipumu, karena ada sebagian yang menyangka bahwa telah disampaikan sebuah berita rahasia kepadamu, kemudian dia datang kepadamu dan dia mengira bahwa rahasia itu benar-benar sampai kepadamu dengan mengatakan: “MasyaAllah, siapa yang memberi tahumu berita ini?” dia sengaja mengagetkanmu untuk memancing sehingga engkau akan menyangka bahwa dia telah mengetahui masalah tersebut, kemudian engkau akan menyampaikan sebuah rahasia padanya. Ini adalah salah satu cara tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) yang dilakukan oleh sebagian orang.”

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud dengan “Tajassus”?

Kemudian Syaikh ‘Utsaimin kembali menuturkan bahwa, “Para ulama berkata: Apabila ada orang yang menyampaikan sesuatu kepadamu lalu dia segera berpaling, maka itu berarti dia menyuruhmu untuk menyimpan rahasia itu, maka tidak boleh engkau sebarkan pada orang lain, meskipun dia tidak berkata  ‘Jangan ceritakan hal ini kepada orang lain’. Karena langsung berpalingnya dia menunjukkan bahwa dia ingin agar tidak ada seorang pun yang mendengarnya, karena jika engkau mengabarkannya kepada orang lain maka ini berarti engkau telah membongkar rahasianya.”

Membuka rahasia orang lain termasuk kedalam perbuatan tercela oleh sebab itu hendaknya seorang muslim menjauhi perbuatan ini, orang-orang yang sehat akalnya sudah barang tentu akan menghindari diri dari perbuatan yang banyak menimbulkan mafsadah (kerusakan). Sebab pribadi yang sukses adalah pribadi yang selalu kembali kepada dirinya, berintrospeksi/muhasabah diri dan menyalahkan dirinya sendiri, serta menjadikan ketakwaan sebagai perisai dirinya. Dan dia mengetahui bahwa dirinya sendiri adalah musuh yang harus dia perangi, juga mengetahui bahwa dengan mengendalikan diri merupakan jalan untuk mendapat kemenangan dan kesuksesan di akhirat.

 

Catan Penting:

  • Ghibah adalah menceritakan sesuatu yang ada padanya sementara dusta/ bohong adalah menceritakan sesuatu yang tidak ada padanya.
  • Nama baik dan ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu yang diwariskan.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. 1424 H/ 2003 M. Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu (Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi). Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  • Husain Muhammad Syamir. 1434 H/ 2013 M. 31 Sebab Lemahnya Iman. Jakarta: Darul Haq. Buku terjemah dari judul asli: Al-Ilmam fi Asbab Dha’f al-Iman.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer