HomeIntisari Cahaya Ilmu4 Hal yang Harus Diketahui Seorang Lelaki ketika Hendak Tukar Cincin
tukar cincin teman shalih

4 Hal yang Harus Diketahui Seorang Lelaki ketika Hendak Tukar Cincin

Intisari Cahaya Ilmu 0 likes 68 views share

1. Tukar Cincin Emas atau Perak?

Apa pun bahan tambang yang dijadikan dasar pembuatan cincin baik itu emas, perak, tembaga dan selainnya yang diberikan oleh orang yang melamar (meng-khitbah) kepada orang yang dilamar tidak memberikan legalitas atas apa pun. Sebab lamaran cukup dilakukan dengan cara seorang lelaki muslim yang hendak menikahi wanita muslimah menyatakan dengan kalimat yang tasrih/ sarih/ tegas, bahwasanya dia ingin menikahinya dengan itikad benar-benar ingin menikahi, bukan sekedar bernikmat-nikmat pandangan dengan wanita saat nazhor. Inilah kaifiah/ tata cara melamar, ini lah melamar dalam Islam (ulasan komprehensif akan diangkat dalam artikel ilmiah pada kesempatan lain waktu). Ihwal diterima atau ditolaknya lamaran itu, maka hendaknya seorang lelaki muslim ber-tawakkal kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Perlu diketahui bagi lelaki Muslim bahwasanya menggunakan perhiasan berbahan tambang emas adalah haram berdasar dalil.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda mengenai emas dan sutra,

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لإِنَاثِهِمْ

“Sesungguhnya kedua benda ini haram bagi kaum laki-laki dari umatku, akan tetapi dihalalkan bagi kaum perempuan mereka.” – Sunan Ibnu Majah nomor 3595 (كتاب اللباس), Sunan an-Nasa’i nomor 5148 (كتاب الزينة من السنن).

2. Hanya Sebatas Hadiah

Secara umum memberikan hadiah kepada saudara muslim adalah dianjurkan berdasar dalil, dengan tujuan agar mahabbah/ perasaan cinta di antara saudara muslim semakin kuat.

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد)

Oleh sebab itu, hadiah dapat diberikan kapan pun, pada saat pertama kali nazhor, pada waktu melamar, hingga disetiap waktu dalam kehidupan berumah tangga kelak sesuai dengan kadar kesanggupan dan tetap menjaga diri dari sikap yang boros.

Artinya memberikan hadiah tidak hanya dilakukan pada saat khitbah/ melamar saja. Wanita yang dilamar pun boleh memberikan hadiah kepada lelaki yang melamar. Benda yang dapat diberikan sebagai hadiah pun sangat beragam. Hadiah dimaksud boleh berupa pakaian muslim AGEMAN – Simple and Comfort, buku, parfum, jam tangan serta perlengkapan keseharian lainnya yakni benda-benda yang bermanfaat, tidak menimbulkan bahaya, serta bukan pula benda-benda yang diharamkan dalam syari’at Islam.

Bukan berarti kami hendak melarang untuk memberikan cincin, tidak demikian. Akan tetapi hendaknya seorang muslim bersikap wara’ yakni berhati-hati atas pintu-pintu syubhat kaum kuffar. Bahkan kami menganjurkan bahwa hadiah yang diberikan dapat berupa apa pun. Seseorang itu dapat menambah kuantitas hadiah yang diberikan yakni cincin, pakaian dan parfum sekaligus.

Adapun bagi seorang muslimah (wanita beragama Islam) yang telah menerima hadiah, sebagaimana dimaksud di atas, tidak perlu merasa berat dan tidak pula mengembalikan harta benda yang telah menjadi miliknya, apabila dalam waktu selanjutnya dirinya membatalkan lamaran atau menolak untuk dinikahi oleh lelaki mukallaf yang memberinya hadiah. Pembatalan lamaran tersebut disebabkan oleh perubahan kondisi hati karena suatu hal yang baru diketahui waktu belakangan. Terlebih alasan menolak lamaran dan-atau membatalkan lamaran itu adalah alasan yang dibenarakan secara syar’i. Hal ini berarti syari’at tidak membebani apa pun ihwal penolakan dan pembatalan lamaran merujuk kepada kaidah-kaidah yang barusan dijelaskan.

Sementara untuk lelaki yang ditolak lamarannya, baik setelah atau sebelum memberikan hadiah, hendaklah berlapang dada dan menerima ketetapan Allah Azza Wa Jalla. Sebab yang demikian itu merupakan cerminan kekuatan Tauhid dan tulusnya niat. Hendaklah membiasakan diri untuk memberikan hadiah dalam kesempatan lain, jangan memberikan hadiah hanya kepada wanita atau hanya pada waktu ta’aruf saja.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

” …Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 216.

Tafsirnya,

“… Sereing kali kalian membenci sesuatu namun sebenarnya hal itu lebih baik bagi kalian. Seringkali pula kalian mencintai sesuatu karena berisi kenyamanan atau kenikmatan sesaat, namun sebenarnya itu lebih buruk bagi kalian. Allah Azza Wa Jalla mengetahui apa yang lebih baik bagi kalian, sedangkan kalian tidak mengetahui hal itu. …” – Tafsir Muyassar, hal. 34.



3. Tasyabbuh

Seorang muslim tidak boleh beramal tanpa ilmu, sebab Islam adalah agama yang Ilmiah. Terlebih sikap yang demikian, beramal tanpa ilmu, merupakan sikap kaum kafir yang menyimpang jauh dari syari’at agama mereka yang dibawa oleh Nabi dan Rasul-Nya. Mereka kaum kafir, semangat dalam beramal akan tetapi beramal tanpa ilmu. Mereka memilih menjadi kafir setelah Allah ‘Azza Wa Jalla menyempurnakan agama Islam melalui syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Secara khusus ritual tukar cincin pra-nikah atau tukar cincin diwaktu lamaran merupakan cara hidup dan beragamanya kaum kuffar yang hidup di timur dan di barat. Dengan menulis (mengukir) nama calon pasangan hidup dibagian dalam cincin yang dengan itu mereka yakin bahwasanya mereka telah berada dalam ikatan cinta yang kuat (?!).

Sehingga seorang muslim yang mengikuti ritual tukar cincin berhak berada dalam ancaman tasyabbuh, yakni meniru kebiasaan hidup dan beragama kaum kuffar. Padahal telah datang dalil-dalil yang tegas dan jelas mengenai baro’ah/ berlepas diri dari kaum kuffar.

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Masyhur sebuah kaidah yang berbunyi, “Apa bila telah datang nash maka batal segala ra’yu/ pendapat.”

Agama Islam sangat menaruh perhatian besar agar kaum muslimin tidak sekedar berbeda dengan kaum kafir dalam batin mereka saja. Akan tetapi Islam menginginkan perbedaan dalam zhahirnya pula, baik masing-masing individunya, maupun masyarakatnya secara umum. Oleh karena itulah, larangan menyerupai kaum kafir (tasyabbuh) merupakan salah satu perintah Allah ‘Azza Wa Jalla dalam rangka menerapkan aqidah al-Wala’ wa al-Bara’ (Loyalitas terhadap kaum Mukminin dan Permusuhan terhadap kaum Kuffar).

Tasyabbuh secara zhahir dapat membawa seseorang kepada tasyabbuh dalam aqidah (keyakinan beragama), mencintai mereka, mengikuti perjalanan mereka dan bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.

Syaikh ‘Abdullah ath-Thariqi berkata,

Seandainya Islam mengizinkan kaum muslimin untuk meniru musuh-musuhnya sehingga menyerupai mereka, niscaya tanda-tanda Islam dan hukum-hukumnya lenyap dan identitas kaum muslimin akan hancur. Lihatlah fakta yang terjadi dibeberapa negeri kaum muslimin. Cukuplah hati sebagai peringatan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 153.

Dalam kitabnya, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin bertutur bahwa,

Tasyabbuh dengan orang kafir merupakan ke-jahiliyah-an. Walhasil, jika seseorang menyeru kepada tasyabbuh dengan orang-orang kafir, maka dia di-ta’zir. …”

4. Islam Sempurna

Allāh ‘Azza wa Jalla berfirman,

‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Agama bagimu.” – Q.S. Al-Maidah (Hidangan) [5]: 3.

Mutaba’ah (mengikuti pedoman hidup sesuai ajaran Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam) adalah lawan dari Tasyabbuh (meniru cara hidup dan beragamanya kaum kafir) dan Tabdi’ (berbuat bid’ah). Sebab mengikuti pedoman sunnah dalam kehidupan dunia dan beragama merupakan konsekuensi dari syahadatain. Dengan mutaba’ah/ Ittiba-ur-Rasul  seorang muslim akan benar dalam mempelajari, memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang murni tanpa penambahan syari’at dan tanpa pengurangan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 153.

Sikap mutaba’ah ini lah yang semestinya dipelihara dalam dada-dada kaum muslimin dan diamalkan dalam kehidupan keseharian mereka dalam setiap aspek kehidupan.

Maraaji’:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer