Selasa, September 28, 2021
BerandaArti KataHadits Dhaif (Hadits Lemah): Pengertian, Hukum Meriwayatkan & Mengamalakan

Hadits Dhaif (Hadits Lemah): Pengertian, Hukum Meriwayatkan & Mengamalakan

Untuk memudahkan anda dalam menelaah artikel ilmiah tentang hadits dhaif, gunakanlah panduan daftar isi di bawah ini.

1. Hadits Dhaif: Pengertiannya

Secara bahasa pengertian hadits adalah berita atau baru. Fairuz Abadi berkata, “(حدث, حدوْثًا, و حداثةً) maknanya adalah kebalikan dari lama, dan الحديث maknanya adalah baru atau berita. Bentuk jamaknya أحاديْثُ.”

Penggunaan dua makna ini sangat masyhur, baik di dalam Al-Qur’an atau pun lainnya. Di antaranya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ :

هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ
Transliterasi: hal atāka ḥadīṡu mụsā
Terjemah nash: “Apakah telah datang kepadamu hadits musa?” – Q.S. an-Nazi’at [79]: 15.

Begitu juga firman Allah عَزَّ وَجَلَّ:

مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍۢ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا ٱسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ
Transliterasi: mā ya`tīhim min żikrim mir rabbihim muḥdaṡin illastama’ụhu wa hum yal’abụn
Terjemah nash: “Tidak datang kepada mereka suatu ayat al-Qur’an pun yang muhdats (baru) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.” – Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 2.

Ada pun pengertian hadits secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, perangai, mau pun sifat zhahir (jasad) beliau.

Pengertian ini sama dengan pengertian as-sunnah, khobar, dan atsar. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Menurut ulama ahli hadits bahwa khobar itu sama dengan hadits. Dan ada yang mengatakan bahwa hadits adalah yang datangnya dari Rasulullah, sedangkan khobar adalah yang datang dari selain beliau. Juga ada yang berpendapat bahwa semua hadits itu khobar, namun tidak semua khobar itu hadits.”

Hanya saja sebagian para ulama membedakan antara hadits dengan atsar. Mereka mengatakan bahwa hadits itu datangnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sedangkan jika datangnya dari para shahabat maka disebut atsar.

Ada pun lemah (dha’if) bahasa Arabnya adalah الضعيْفُ yang secara bahasa berarti kebalikan dari kuat, baik tidak kuat secara fisik mau pun maknawi. Dan yang dimaksud di sini adalah tidak kuat secara maknawi.

Maka hadits lemah atau hadits dhaif adalah hadits yang tidak memiliki kriteria untuk dapat diterima.

Syarat dan kriteria agar sebuah hadits dapat diterima adalah:

  1. Sanad-nya bersambung;
  2. Perawinya dhobit (hapalannya bagus), baik secara sempurna atau pun agak berkurang sedikit;
  3. Para perawinya adil (terpercaya/kredibel/tsiqah);
  4. Selamat dari syudzudz (ke-nyeleneh-an);
  5. Selamat dari sebuah ‘ilat qadihah (sebuah cacat yang berpengaruh terhadap keshahihan hadits).

2. Hadits Dhaif: Hukum Meriwayatkannya

Pendapat yang shahih (benar) dan rajih (kuat) menurut para peneliti dari kalangan ulama ahli hadits bahwa meriwayatkan sebuah hadits yang lemah tanpa menerangkan kelemahannya adalah tidak boleh. Sebab hal itu dapat membuat orang lain menyangka bahwa hadits tersebut adalah shahih, terlebih jika yang menukil adalah ulama terpercaya.

Apa yang mendasari hal tersebut? Baca ulasan lengkap: Hadits Dhaif (Hadits Lemah): Hukum Meriwayatkannya.

3. Hadits Dha’if: Hukum Mengamalkannya

Para ulama hadits berbeda pendapat tentang hukum beramal berdasar hadits dhaif. Apakah dibolehkan secara mutlak, atau dilarang secara mutlak, atau diperinci?

Mereka berselisih menjadi tiga pendapat:

  1. Tidak Boleh Diamalkan Secara Mutlak;
  2. Boleh Diamalkan Secara Mutlak;
  3. Diperinci.

Mana kah pendapat yang paling rajih (kuat)? Baca ulasan lengkap: Hadits Dhaif (Hadits Lemah): Hukum Mengamalkannya.


Sumber: Maraaji' (Senarai Pustaka).
Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Penulis TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Tulisan ini memuat featuring image. Sumber: Kontributor.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih. Jazakumullah Khairan.

teman shalihhttps://temanshalih.com
Media online pendidikan aqidah sunnah dan manhaj salaf. Terbit sejak Ramadhan 1437 H/Juni 2016 M. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten ilmiah. Jazakumullah Khairan.
KONTEN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -