Hadits Dhaif (Hadits Lemah): Hukum Meriwayatkannya

Hadits Dhaif (Hadits Lemah): Hukum Meriwayatkannya
Hukum meriwayatkan hadits dha’if menurut para peneliti dari kalangan ulama hadits adalah tidak boleh.

Ini merupakan sub artikel dari konten utama berjudul: Hadits Dhaif (Hadits Lemah): Pengertian, Hukum Meriwayatkan & Mengamalakan.

Pada sub artikel ini, diangkat mengenai hukum meriwayatkan hadits dhaif.

Pendapat yang shahih (benar) dan rajih (kuat) menurut para peneliti dari kalangan ulama ahli hadits bahwa meriwayatkan sebuah hadits yang lemah tanpa menerangkan kelemahannya adalah tidak boleh. Sebab hal itu dapat membuat orang lain menyangka bahwa hadits tersebut adalah shahih, terlebih jika yang menukil adalah ulama terpercaya.

Para ulama terdahulu meriwayatkan hadits dengan sanad-nya, sementara pada zaman itu barang siapa yang telah meriwayatkan hadits dengan sanad-nya maka dia telah lepas tanggungjawab akan keshahihan dan kelemahan hadits yang diriwayatkannya. Sebab, seseorang dapat mengetahui derajat hadits dengan melihat sanad-nya.

Ada pun pada zaman sekarang, hampir tidak ditemukan yang meriwayatkan hadits dhaif (hadits lemah) dengan sanad-nya. Dan kalau pun ada maka umat sekarang secara umum tidak dapat membedakan hadits dhaif atau shahih sekedar dengan ditunjukkan sanad-nya.

Pertama, orang yang meriwayatkan hadits dhaif dan mengetahui kelemahan hadits tersebut, namun dia tidak menerangkan sisi kelemahannya. Maka orang semacam ini telah menipu kaum muslimin. Dan termasuk dalam ancaman hadits berikut:

من حدَّث عنِّي بحديثٍ يُرى أنَّه كذبٌ فَهُو أحد الْكاذِبِينَ
Transliterasi: man haddatsa ‘anni bihaditsi yuro annahu kadzibun fahuwa ahadul kadzibin.
Terjemah hadits: “Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia sangka bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.” – H.R. Muslim dalam Muqaddimah shahih beliau.

Ke-dua, orang yang meriwayatkan hadits dhaif, namun tidak mengetahui sisi kelemahannya. Maka dia tetap berdosa, karena berani menisbatkan sebuah hadits kepada Rasulullāh صلى الله عليه وسلم tanpa ilmu.

Imam Nawawi رحمه الله‎ juga menegaskan bahwa orang yang tidak mengetahui keshahihan sebuah hadits tidak boleh berhujjah dengannya tanpa meneliti terlebih dahulu, jika sanggup melakukannya, atau bertanya kepada para ulama.

Jadi, hadits dhaif hukum meriwayatkannya adalah tidak boleh.


Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

teman shalih

Media online pendidikan aqidah sunnah dan manhaj salaf. Terbit sejak Juni 2016. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten ilmiah. Jazakumullah Khairan.

Tinggalkan Balasan