HomeKabarKonsumerisme Awwam Produk Syariah | Perlindungan Konsumen
konsumerisme game islami

Konsumerisme Awwam Produk Syariah | Perlindungan Konsumen

Kabar Perlindungan Konsumen Regional 0 likes 164 views share

Perlindungan Konsumen Produk Syariah

Game Islami/ Software Edukasi Islam/ Game Anak Muslim

Lemahnya perlindungan atas hak-hak konsumen muslim di Indonesia realitanya disebabkan beberapa faktor internal dari sisi konsumen sendiri.

Konsumen Berpendidikan Tinggi

Setiap tahun jumlah pekerja/ pegawai lulusan Universitas dan Perguruan Tinggi di Indonesia menembus angka 2 juta orang. Berdasar naskah publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia nomor 03220.1709 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 terdapat sejumlah 2.360.206 orang, angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2016 mencapai 2.400.446 orang yang bekerja di sektor publik. Belum lagi ditambah dengan jumlah sarjana yang bekerja sebagai pegawai korporasi swasta.

Masih dalam publikasi yang sama juga ditunjukkan bahwa jumlah mahasiswa (negeri dan swasta) di bawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan mencapai total angka 5.377.106 orang.

Idealnya, dengan capaian jenjang pendidikan tinggi (Pendidikan Tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Sementara itu Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, atau institut), konsumen semestinya memiliki tingkat kesadaran yang baik dalam mengkonsumsi produk-produk komersil.

Apa yang menjadi pokok permasalahan?

Namun nyatanya hal tersebut tidak berlaku atas para sarjana (para orangtua/ para pekerja sektor publik dan swasta) yang juga merupakan konsumen software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami. Mereka tidak menyadari bahwa dalam produk yang sedang dikonsumsi terdapat nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, yang dengan nyata berpengaruh kepada keimanan dan aqidah. Yakni perbuatan menggambar/ melukis karakter para Nabi dan Rasul ‘Alaihim as-Salatu wa as-Salam.

Bisnis Software dalam Timbangan Ekonomi Islam

Bisnis Software termasuk kedalam mu’amalat yang memiliki keluangan yang besar dalam syari’at Islam guna memenuhi kebutuhan/ hajat kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada larangan bagi kaum muslimin, secara khusus pelaku usaha, dalam membuat software yang bertujuan untuk pendidikan/ edukasi, terlebih edukasi yang diusung adalah tarbiah Islam/ Game Islami yang memiliki fungsi dan tujuan untuk:

  • Membantu tenaga pengajar dalam proses mengajar dengan menggunakan perangkat komputer yang telah dipasang software edukasi;
  • Memberikan manfaat ilmiah bagi pengguna software edukasi melalui perangkat komputer, smartphone serta gadget lainnya;
  • Memberikan kemudahan bagi pengguna software edukasi dalam mencari sumber rujukan ilmiah;
  • Memberikan bimbingan ilmiah bagi seorang muslim sebelum beramal;
  • Tersebarnya ajaran Islam dengan daya sebar yang lebih cepat dan daya jangkau yang lebih luas dengan koneksi jaringan Internet.

Akan tetapi keluangan dalam jual-beli software, mengambil manfaat serta tujuan ilmiah di atas tidak akan diperoleh apabila dalam software edukasi yang dibuat nyatanya mengandung konten yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, yakni terjadinya tindakan penggambaran sosok khayalan para Nabi dan Rasul ‘Alaihim as-Salatu wa as-Salam. Yang secara khusus hal ini dungkap dalam teori anikonimse atau Laa Tashwiir.

Mengapa fenomena ini dapat terjadi pada sarjana muslim di Indonesia?

Diketahui bahwa terdapat perbedaan substansial antara ilmu pengetahuan dunia/ sains dengan ilmu Agama. Perbedaan dimaksud yakni sumber pengambilannya:

  • Ilmu dunia bersumber dari hasil penelitian, pengamatan, eksperimen, serta pendapat-pendapat manusia/ ra’yu para pakar. Mafhum akal dan nafsu manusia disifati sebagai sesuatu yang selalu berubah; sementara itu
  • Ilmu Agama bersumber dari dua wahyu yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang memiliki ketetapan sepanjang waktu.

Para sarjana Muslim yang kompeten dalam disiplin ilmu dunia sebagaimana dimaksud di atas, belum mengikat dirinya kepada ketentuan-ketentuan Agama secara kaffah, yang hal ini hanya akan dapat diperoleh dengan aktualisasi diri terhadap kewajiban menuntut ilmu Agama bagi setiap Mukallaf.

Apa Penyebabnya?

Dengan bersikap kontra produktif terhadap kewajiban menuntut ilmu Agama, maka tidak heran tatkala konsumen software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami juga tidak mengetahui adanya hal-hal yang dilarang dan/ atau hal-hal yang harus dipenuhi. Misal:

  • Larangan menggambar/ melukis makhluk hidup bernyawa. Terlebih gambar para Nabi dan Rasul ‘Alaihima Shalatu Wa Sallam serta para Shahabat Radhiy-Allaahu-Ta’aala-‘Anhum dan orang-orang Shalih Rahimahumullah yang mengikuti jalan kehidupan dan beragama mereka yang lurus;
  • Kewajiban menulis sumber rujukan (dari sisi pembuat software) sebagai bentuk tanggung jawab ‘ilmiyyah serta agar konsumen dapat menelaah lebih dalam pada rujukan ‘ilmiyyah yang ditulis.

Tarbiyatul Aulad

Melalaikan pendidikan ilmu Agama bagi diri sendiri juga berarti melalaikan Tarbiyatul-Aulad/ pendidikan anak yang berdasar kepada nilai-nilai ajaran Islam.

Kewajiban para Sarjana, Orangtua, dan Anggota Keluarga

Sehingga menjadi maklum tatkala para sarjana, yang notabene orangtua konsumen software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami, mengabaikan barang-barang apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya atau anggota keluarganya serta pengarahan dan bimbingan mengenai bagaimana pola konsumsinya.

Rasionalitas Tidaklah Cukup

Dalam kalimat lain dapat dikemukakan bahwa rasionalitas para sarjana tidak cukup untuk menumbuhkan kesadaran dalam mengkonsumsi produk-produk syariah serta dalam memproduksi barang atau jasa (dari sisi pelaku usaha).

Oleh sebab itu para pelaku ekonomi (pelaku usaha dan komsumen akhir) perlu mengikat dirinya kepada ketentuan-ketentuan yang dikehendaki syara’. Yakni dengan menundukkan akal/ logika/ ra’yu dihadapan wahyu, atau dalam kalimat yang sederhana dapat dikatakan akal sehat adalah akal yang mendorong jiwa untuk mengerjakan perintah/ amr dan meninggalkan apa-apa yang dilarang/ nahy.

Konsumerisme Awwam Produk Syariah/ Software Edukasi Islam/ Game Islami

Apabila hal ini tetap diabaikan maka tidak berlebihan apabila penulis merumuskan sebuah terminologi yang berbunyi, “Konsumerisme Awwam Produk Syariah.”

Sikap Tercela yang Harus Dihindari dalam Mu’amalat

Sementara itu, para pelaku usaha yang memproduksi barang dan jasa syariah (software edukasi berbasis tarbiah Islam/ Game Islami) hendaknya menghindarkan diri dari sikap-sikap tercela dan perbuatan melawan hukum:

  • Menggunakan agama atau amalan shalih (menuntut ilmu agama) untuk memperoleh keuntungan dunia tanpa memperhatikan dan memenuhi hak-hak konsumen muslim;
  • Menggunakan istilah-istilah syar’i untuk menamai suatu produk, atau menjadikan istilah syar’i sebagai Trade Mark/ Merek Dagang padahal kontennya belum memenuhi standar mutu atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini tentunya menuntut kepedulian Otoritas dalam pre market-control (mulai dari legalitas perusahaan hingga pengesahan merek dagang yang didaftarkan oleh pelaku usaha atau korporasi) dan post market-control (pengawasan oleh Otoritas, LPKSM (Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat), serta pengawasan secara mandiri oleh konsumen akhir);
  • Membuat iklan atau mempromosikan produk dengan unsur Khidaa’ (penipuan), dengan jalan membuat gambar/ lukisan khayalan para Nabi dan Rasul ‘Alaihima Shalaatu Was-Salaam guna menarik minat konsumen akhir yang awwam terhadap persoalan Agama (ini yang menjadi pokok masalah hukum yang sedang diangkat). Hal ini merujuk kepada dalil-dalil Naqliyyah[1] yang secara tegas melarang perbuatan Tashwiir, kaidah-kaidah fiqih”[2], Fatwa yang dikeluarkan para ‘Ulama dan Lajnah Daimah[3], Fatwa MUI 2 Juni tahun 1988 mengeluarkan fatwa dengan tajuk: Hukum Memerankan Nabi/ Rasul dan Orang Suci dalam Film”[4], hingga Pasal 13 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 (UU Pers 1999) yang di dalamnya terdapat larangan (Verbod) bagi pelaku usaha untuk memuat iklan: a. “Yang berakibat merendahkan martabat suatu agama… “;
  • Menafsirkan Wahyu Al-Qur’an dan Sunnah dengan metode yang dilarang syari’at. Merujuk Nash-Nash Kitabullah dan Sunnah berkenaan dengan larangan Tashwiir, serta kaidah fiqih yang berlaku, fatwa yang serupa yang dikeluarkan Lajnah Daimah, hingga pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menentukan bahwa ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, yang mencakup: “… tafsir”.

Berdasar hal-hal tersebut di atas dapat dimengerti bahwa kebebasan al-Bay’u; (الْبَيْعُ); jual-beli dalam Islam harus diikuti dengan kesadaran etika dan kecakapan pengetahuan hukum pelaku usaha, baik hukum Agama maupun hukum negara.

Refleksi Standar Mutu dan Kualitas

Kemudian dengan adanya peningkatan jumlah pengguna software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami yang indikasinya dapat dilihat dari peningkatan angka unduh software dimaksud, seharusnya dapat dijadikan refleksi bagi pelaku usaha (startup/ software developer/ perusahaan e-commerce pemula) guna meningkatkan mutu produk atau setidaknya memenuhi standar mutu, memenuhi standar mutu produk syariah. Dengan terpenuhinya standar mutu, diharapkan bahwa hak-hak konsumen muslim untuk memperoleh produk ilmiah komersil yang berkualitas dan bernilai benar dapat dipenuhi, bi-idznillāh.

Footnote:

[1] Kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat nomor 57, surat An-Nuur ayat nomor 63, surat Nuh  ayat nomor 23. Hadits Qudsi, Shahih al-Bukhari bab At-Tauhiid, nomor 7559, Sunan an-Nasa’i nomor 5357, 5364, Shahih al-Bukhari nomor 2238, 5950, 5951, 6109, Shahih Muslim nomor 2107, 2108, 2109, Sunan Abi Dawud nomor 4031.

[2]( لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ); “Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan,” (سد الذرائع); “Tindakan preventif/ pencegahan dari jalan-jalan yang haram.”

[3] Para ‘Ulama Arab Saudi dalam al-Lajnah ad-Daimah al-Ifta (Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) juga telah mengeluarkan serangkaian fatwa mengenai pelarangan menggambar makhluk hidup bernyawa. Di antaranya yakni: Fatwa Komite Tetap, Kumpulan Kedua, Jilid pertama (akidah),التصوير, Tafsir al-Quran dengan lukisan dan gambar, Fatwa nomor 18828.

[4] Fatwa Majelis Ulama Indonesia Hukum Memerankan Nabi, Rasul dan Orang Suci Dalam Film.