Categories
Kabar Perlindungan Konsumen Regional

Ekses Negatif Kitab Terjemah | Perlindungan Konsumen

Tidak semua buku/ kitab terjemah mesti diterjemah kedalam bahasa Indonesia, sebab apabila suatu buku diterjemah kedalam bahasa Indonesia itu berarti buku tersebut dapat dibaca oleh siapa pun. Tidak peduli apakah pembaca itu seorang pelajar pemula atau tingkat selanjutnya.

Analisa dan Pertimbangan

Tidakkah para penerjemah memperhatikan substansi masalah yang diangkat dalam kitab terjemah/ buku asli? Melihat dengan jelas di mana dan bagaimana keadaan masyarakat yang penulis asli berada di dalamnya? Apakah sesuai dengan keadaan masyarakat di negeri-negeri muslim lain yang pemahaman aqidahnya masih lemah? Hal-hal semacam ini yang semestinya menjadi pertimbangan.

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

Menempatkan Hak dengan Cara yang Haq

Bukankah merupakan kezhaliman menemptakan sesuatu di luar kapasitasnya? Sementara mafhum hati para pelajar muslim (sebagian) di Indonesia saat ini tengah berada dalam keadaan yang haus terhadap ilmu agama (pendidikan Tauhid dan Sunnah), usia remaja maupun pemuda, sehingga mereka (yakni para pelajar) benar-benar menginginkan pemahaman yang lurus, tanpa perlu sibuk dihadapkan dengan syubhat (keraguan/ kerancuan) dan khilafiyah (perbedaan pendapat ‘Ulama) dalam langkah awal mereka menuntut ilmu.

Bussy Internal Agenda

Apakah kemudian buku-buku terjemahan ini hanya sebatas ajang pembuktian saja di antara sarjana (Lc) pendidikan Agama (lulusan luar negeri) di Indonesia? Tanpa menimbang antara maslahat dengan madharatnya? Hingga potensi mafsadah yang akan timbul? Kita berlepas diri dari keburukan semacam ini.

Buku Kecil adalah Buku yang Mudah Dipahami, Bukan Sebaliknya

Bisa jadi buku yang diterjemahkan berukuran kecil dengan jumlah halaman tidak lebih dari 50 s.d. 100 halaman. Akan tetapi apa jadinya apabila di dalamnya memuat perselisihan di antara ‘Ulama (para ‘Alim) yang terdahulu? Betapa miris, belum tuntas dengan syubhat kaum kuffar dan ahli bid’ah, sudah harus dihadapkan dengan khilafiyah.

Konklusi:

[list icon=”fa-check-square”]

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

 

By Affan bin Umar

Ta'lif (Penulis Artikel): Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. lebih dikenal sebagai "Affan". Pengamat bisnis software edukasi Islam dan reviewer buku kajian sunnah | Lead Graphic Designer - Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan, Jakarta Pusat | Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007 | Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013 | Manajer - PT Jatra Buana Kreasindo 2015 | Former Editorial Team - Tanjungpura Law Journal 2017 - Jurnal Hukum Internasional | Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018.