HomeKabarEkses Negatif Kitab Terjemah | Perlindungan Konsumen
kitab terjemah

Ekses Negatif Kitab Terjemah | Perlindungan Konsumen

Kabar Perlindungan Konsumen Regional 0 likes 54 views share

Tidak semua buku/ kitab terjemah mesti diterjemah kedalam bahasa Indonesia, sebab apabila suatu buku diterjemah kedalam bahasa Indonesia itu berarti buku tersebut dapat dibaca oleh siapa pun. Tidak peduli apakah pembaca itu seorang pelajar pemula atau tingkat selanjutnya.

Analisa dan Pertimbangan

Tidakkah para penerjemah memperhatikan substansi masalah yang diangkat dalam kitab terjemah/ buku asli? Melihat dengan jelas di mana dan bagaimana keadaan masyarakat yang penulis asli berada di dalamnya? Apakah sesuai dengan keadaan masyarakat di negeri-negeri muslim lain yang pemahaman aqidahnya masih lemah? Hal-hal semacam ini yang semestinya menjadi pertimbangan.



Menempatkan Hak dengan Cara yang Haq

Bukankah merupakan kezhaliman menemptakan sesuatu di luar kapasitasnya? Sementara mafhum hati para pelajar muslim (sebagian) di Indonesia saat ini tengah berada dalam keadaan yang haus terhadap ilmu agama (pendidikan Tauhid dan Sunnah), usia remaja maupun pemuda, sehingga mereka (yakni para pelajar) benar-benar menginginkan pemahaman yang lurus, tanpa perlu sibuk dihadapkan dengan syubhat (keraguan/ kerancuan) dan khilafiyah (perbedaan pendapat ‘Ulama) dalam langkah awal mereka menuntut ilmu.

Bussy Internal Agenda

Apakah kemudian buku-buku terjemahan ini hanya sebatas ajang pembuktian saja di antara sarjana (Lc) pendidikan Agama (lulusan luar negeri) di Indonesia? Tanpa menimbang antara maslahat dengan madharatnya? Hingga potensi mafsadah yang akan timbul? Kita berlepas diri dari keburukan semacam ini.

Buku Kecil adalah Buku yang Mudah Dipahami, Bukan Sebaliknya

Bisa jadi buku yang diterjemahkan berukuran kecil dengan jumlah halaman tidak lebih dari 50 s.d. 100 halaman. Akan tetapi apa jadinya apabila di dalamnya memuat perselisihan di antara ‘Ulama (para ‘Alim) yang terdahulu? Betapa miris, belum tuntas dengan syubhat kaum kuffar dan ahli bid’ah, sudah harus dihadapkan dengan khilafiyah.

Konklusi:

  • Tidak semua buku     / kitab terjemah dapat membantu untuk memahami Tauhid dan Sunnah dilihat dari perspektif pelajar pemula;
  • Menimbang antara maslahat dengan madharat, maka para pelajar di Indonesia (non-pendidikan bahasa Arab) dapat mencukupkan ruang baca mereka dengan kitab-kitab/ buku       karya Asatidz khibar: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas serta asatidz khibar lainnya;
  • Apabila hendak melengkapi perpustakaan dengan buku     / kitab terjemah ‘Ulama Madinah, Para Masyaikh, kitab-kitab ‘Ulama qurun waktu terdahulu, hendaknya meminta rekomendasi kepada seseorang yang kompeten sebelum memutuskan untuk membeli kitab/ buku       (versi kitab terjemah bahasa Indonesia);
  • Tetap bersemangat dalam mempelajari Bahasa Arab, dengan jalan mengikuti program pendidikan bahasa yang diselenggarakan dalam jalur pendidikan agama Islam     . Sebab dengan memahami Bahasa Arab seseorang itu dapat dengan baik memahami Agamanya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer