Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaOpiniDominasi Muslim di Indonesia Sampai Kapan?

Dominasi Muslim di Indonesia Sampai Kapan?

Indonesia negeri tercinta yang saat ini masyarakatnya masih didominasi oleh komunitas muslim semestinya punya standar nilai dan gaya hidup sendiri.

Dalam menentukan nilai seperti ini keren, itu ga asik, ini gaul, itu kuno, ini menarik untuk disimak, dan seterusnya. Semestinya punya acuan sendiri, tidak perlu merujuk kepada trendsetter kaum kuffar, atau influencer yang keluar dari kalangan muslim namun sejatinya telah membaiat tokoh-tokoh kuffar sebagai maha gurunya.

Kita, muslim di Indonesia, sepatutnya tegas dan kuat berkarakter (aqidah, manhaj, dan akhlaq) sesuai Sunnah tanpa perlu mengadopsi gaya hidup kaum kuffar, sedikit atau pun banyak.

Namun realitanya, dari 80 persen-an total populasi yang beragama Islam, masih harus digradasi lagi hingga keluar persentase orang-orang muslim yang hidup dengan standar kualitas Sunnah.

Di Indonesia, Sunnah masih sedikit dilirik oleh pemeluk agama Islam sebagai jalan hidup satu-satunya apabila dibandingkan dengan “jenis muslim” yang lain, yakni orang-orang muslim non-sunnah dan non-manhaj salaf.

Sisi lain yang perlu diketahui juga bahwa dakwah sunnah terus mengalami perkembangan kuantitas pengikutnya walau butuh waktu yang lama, sebab jalan yang ditempuh adalah asas dakwah bil hikmah melalui jalur pendidikan.

Ini yang menjadi karakter dari dakwah sunnah itu sendiri yang membedakan dari kelompok-kelompok menyimpang, yang pada umumnya menuntut perubahan dalam waktu yang cepat.

Singkat kata, dominasi muslim dalam suatu negeri menjadi sedikit artinya ketika yang ada adalah minoritas dominan. Contoh: Minoritas dominan syi’ah pada pemerintah Iraq yang mayoritas masyarakatnya adalah muslim.


Disclaimer kategori Opini
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umarhttps://temanshalih.com
Penulis Artikel: Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. // Disclaimer Penulis // Biografi penulis: Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019; Analis Kerja Sama Luar Negeri Jakarta Pusat 2021 ; Tim developer website Minamata Convention PBB Jakarta Pusat 2021.
KONTEN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Open chat