HomeHadiahContoh CV Taaruf Akhwat yang Baik
contoh cv taaruf akhwat

Contoh CV Taaruf Akhwat yang Baik

Hadiah Taaruf Tata Cara Muslim 15 likes 23.8K views share

Apresiasi bagi pemuda yang Hijrah fi Sabilillah

Ukhti Fillah, Semangat Hijrah fi Sabilillah pada waktu sekarang ini (1439 H/ 2018 M) telah nampak dari determinasi pelajar muslim usia remaja maupun pemuda (dewasa) dengan keberadaan mereka memadati tempat-tempat kajian ilmiah/ Dakwah Sunnah/ Dakwah Tauhid/ Dakwah Salaf.

Walaupun belum mencapai angka mayoritas pemuda/ pelajar (di Indonesia), hal ini perlu diapresiasi dengan baik sebab para pemuda yang saat ini telah mengenal Dakwah Sunnah dapat berpotensi sebagai asbab pembuka jalan (hidayah) bagi anggota keluarganya, serta teman-teman pergaulannya yang lain untuk turut dalam langkah ketaatan yakni hidup sesuai dengan pedoman sunnah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, bi-idznillah.

Tanda Kecerdasan Seorang Wanita Beragama Islam

Hidup sesuai Sunnah juga berarti memilih dengan siapa seseorang itu akan menjalani kehidupan berumah tangganya kelak. Hal ini  berdasar sabda Nabi صلى الله عليه وسلم mengenai seseorang yang baik agama dan akhlaqnya. Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَحُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِنْ لَا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

Terjemah,

Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang agama dan akhlaqnya kamu ridhai, maka nikahkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. — Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, nomor 270. — Lafazh ini dinukil dari: Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, Pustaka Ibnu ‘Umar hal. 16 .

Dengan siapa aku menikah?

Memikirkan “Dengan siapa aku akan menikah?” bukanlah hal yang tercela dan memalukan, justru hal tersebut merupakan ciri tanda baiknya keimanan dan tanda kecerdasan seorang muslimah dalam beragama.

Haram menikah dengan lelaki kafir dan musyrik, bagaimana maksudnya?

Haram hukumnya seorang wanita beragama Islam menikah dengan laki-laki kafir dan-atau musyrik.”[1]

Allah عزَ وجل berfirman,

وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Terjemah,

“… Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 221.

Tafsir,

“… Jangan pula menikahkan wanita-wanita kalian yang beriman, baik yang berstatus budak maupun merdeka, dengan para laki-laki musyrik sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (masuk Islam). Ketahuilah bahwa seorang budak laki-laki yang beriman itu, sekalipun miskin, lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia itu mengagumkan kalian. Mereka yang memiliki karakter syirik itu, baik laki-laki maupun perempuan; semuanya menyeru setiap orang yang bergaul dengan mereka kepada sesuatu yang membawanya kepada Neraka. Sedangkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ menyeru para hamba-Nya kepada Din-Nya (Agama-Nya) yang benar, yang akan mengantarkan mereka ke Surga dan kepada pengampunan dosa-dosa mereka dengan seizin-Nya. Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum ketetapan-Nya kepada umat manusia agar mereka selalu ingat serta mengambil pelajaran.”[2]

Apakah seorang muslimah (wanita beragama Islam) itu hendak hidup dengan seseorang yang memperhatikan urusan akhirat, atau justru menghabiskan waktu hidup di dunia yang betapa singkat ini dengan orang yang melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, seorang suami, seorang ayah, seorang pemimpin rumah tangga. Padahal kehidupan dunia hanyalah sarana menuju kehidupan akhirat yang kekal, yang niscaya dimintai pertanggungjawabannya, apakah Neraka atau Jannah (nama surga) sebagai jawabannya?

Menikah dengan seorang muslim yang memahami dan mengamalkan Agama

Di antara tanda-tanda bagusnya keimanan seorang lelaki dapat dilihat apakah dirinya senantiasa menjaga shalat berjama’ah di masjid, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,

إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِالْإِيْمَانِ

“Jika kalian melihat seorang laki-laki yang bolak-balik ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman.”[3]

Selain itu dirinya (lelaki muslim) tidak memiliki pemahaman aqidah yang menyimpang seperti syi’ah, mu’tazilah, neo-mu’tazilah (seperti kelompok hizbuttahrir), khawarij (hizbuttahrir), pluralis (kelompok yang menganggap bahwa semua agama baik), ahmadiyah dan selainnya. Memiliki loyalitas (wala’) yang tinggi terhadap agama dan orang-orang mukmin, dirinya tidak mencintai orang kafir, tidak tasyabbuh/ meniru-niru adat jahiliyah dan kaum kuffar seperti merayakan valentine, hari-hari besar wathaniyah, tahun baru, ulang tahun, turun ke jalan-jalan untuk demonstrasi, “aksi bela”, dan seterusnya.[4]

Membuat CV Taaruf Akhwat Dengan Baik

Oleh sebab itu hendaklah seorang muslimah berusaha untuk benar-benar Hijrah fi Sabilillah dengan niat yang ikhlas semata karena Allah عزَ وجل dan dengan cara mutaba’ah yakni berpedoman kepada Sunnah yang Shahih. Adapun ihwal pernikahan, hendaklah kaum muslimin berusaha mencari pasangan hidup yang terbaik sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan syara’ dan dengan cara-cara yang dibenarkan dalam syari’at Islam yakni dengan: taarufnazhor, khitbah (melamar), nikah, nikah hingga walimah dan berumah tangga dengan niat ibadah.

Mengapa harus memahami adab-adab muamalah secara menyeluruh?

Menjalani ta’aruf bukan semata mengetahui makna terminologi, akan tetapi seseorang itu, baik lelaki maupun wanita beragama Islam, perlu memadati ruang ilmiahnya dengan pengetahuan adab-adab muamalah hingga adab dalam menyelesaikan sengketa. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi ta’aruf itu tidak berjalan dengan baik apabila salah satu di antara keduanya, laki-laki maupun wanita, menafikan adab-adab dalam bermuamalah. Misal bertutur kata yang kasar, tajassus, namimah, ghibah, dusta, banyak berjanji, hingga membuka aib sendiri di masa lalu, dan seterusnya, wal-‘iyadzu-billah.

Bagi seorang wanita untuk mendukung proses taaruf, maka hal itu dapat diusahakan dengan jalan membuat CV Taaruf Akhwat.

Apa Saja yang Harus Ditulis dalam CV Taaruf Akhwat?

Secara umum, dalam penulisan CV Taaruf Akhwat, tidak ada perbedaan antara bagian-bagian utama yang disusun dan diisi dalam CV Taaruf Ikhwan. Keduanya perlu diisi dengan lengkap serta dengan mempertimbangkan beberapa aspek berikut:

  • Jujur tidak melebih-lebihkan;
  • Tata bahasa yang baik sehingga mudah dipahami oleh pihak yang membaca;
  • Konsistensi antara satu bagian dengan bagian yang lain;
  • Menulis dengan susunan kalimat yang singkat bukanlah suatu kesalahan, akan tetapi hendaknya jelas dan tidak menimbulkan mispersepsi;
  • Menulis capaian akademis tidak sama dengan menyombongkan diri, maka hendaklah menggunakan tata bahasa yang sifatnya lini-masa saja, berdasar time-line. Tidak perlu ditulis dalam pargraf deskriptif dengan kalimat-kalimat yang menjelaskan “Bagaimana hal itu terjadi?”, “Mengapa hal itu terjadi?”.

Bagian-bagian Utama dalam CV Taaruf Akhwat

Setelah memahami beberapa permasalahan di atas saudari dapat menyiapkan dokumen dengan menyusun bagian-bagian utama seperti di bawah ini:

  • Profil: Nama lengkap, Nomor telepon, Manhaj, Anak ke, Alamat tinggal, Provinsi, Kota kelahiran, Status nikah, Suku;
  • Gambaran Fisik: Bentuk Fisik, Warna Kulit, Tipe Rambut, Warna Rambut, Warna Mata, Cacat Fisik (apabila ada), Tinggi Badan, Berat Badan, Olahraga Digemari, Riwayat Penyakit, Ciri Khas / Tanda Lahir;
  • Latar Pendidikan;
  • Gambaran Pribadi: Moto, Target Hidup, Hobi, Kegiatan Diwaktu Luang, Hal Disukai, Sifat Positif, Sifat Negatif;
  • Pengalaman Pekerjaan dan-atu Organisasi;
  • Persiapan Pernikahan: Persiapan Finansial, Jangka Waktu yang Dibutuhkan Sebelum Menikah, Visi & Misi pernikahan, Ilmu Mengenai Pernikahan;
  • Kriteria Pasangan: Kriteria Fisik (Bentuk Fisik, Warna Kulit, Tipe Rambut, Warna Rambut, Warna Mata, Cacat Fisik (menerima cacat fisik atau tidak), Tinggi Badan, Berat Badan, Riwayat Penyakit, Ciri Khas / Tanda Lahir) dan Kriteria Non-Fisik (Usia, Domisili, Suku (dapat ditulis “Suku: Tidak Membatasi” ), Pendidikan, Status Pernikahan (dapat ditulis “Status Pernikahan: Belum Pernah Menikah.” ), Sifat, Lain-Lain (dapat ditulis “Lain-Lain: Tidak Suka dengan Lelaki Perokok”));
  • Harapan-Harapan: Sumber Dana Acara Pernikahan, Gambaran Acara Pernikahan, Keturunan dan Pendidikan Anak, Target Jangka Pendek, serta Target Jangka Panjang.

Bagian-bagian CV Taaruf Akhwat di atas diadaptasi dari form isian Biodata Taaruf Mawaddah Indonesia.

Download Contoh CV Taaruf Akhwat

Untuk memudahkan dalam membuat CV Ta’aruf Akhwat, ukhti dapat mengunduh Contoh CV Ta’aruf yang dibuat oleh temanshalih.com. Bagian-bagiannya dapat disesuaikan/ dirubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu baik ikhwan atau akhwat.

Footnote:

[1] Abu Muhammad Ibnu SHalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, (Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar), hal. 14. Lihat juga Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, (Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 1436 H/ 2015 M), hal. 75.

[2] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd, Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar, (Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group, 1437 H/ 2016 M), hal. 35. Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

[3] At-Tirmidzi, beliau mengatakan, “Hadits hasan gharib.”

[4] Dinukil secara makna dari Abu Muhammad Ibnu SHalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, (Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar), hal. 15-16.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer