Categories
Hadiah Taaruf Tata Cara Muslim

Contoh CV Taaruf Asli, Benar, dan Elegan

CV Taaruf: Desain elegan, rapih, dan tata bahasa yang benar sebagaimana cv untuk taaruf yang nampak di bawah ini (baik CV untuk taaruf ikhwan maupun CV taaruf akhwat).

Jelang 1 Ramadhan 1441 H (April 2020 M): Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih.

Maka anda siap dan semakin merasa percaya diri dalam bertukar CV taaruf. Ada pun bagian utamanya adalah sebagai berikut:

Selanjutnya saudara dapat mengunduh/ men-download Contoh CV Ta’aruf yang isinya dapat disesuaikan/ dirubah dengan kebutuhan masing-masing individu.

Contoh Biodata Taaruf/ CV Taaruf dalam Bentuk Tabel

Profil

Dalam tabel profil cv taaruf, dapat dimulai dengan menulis nama lengkap beserta gelar. Apa bila diperlukan, nama Kun-Yah sekali pun dapat ditulis dengan menambah baris di bawah nama asli.

I. Profil

Nama lengkap:Affan bin Umar (Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H.)
Tempat sekarang bekerja:Net Preneur dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Nomor telepon:(+62)812-8090-***
Agama:Islam
Manhaj:Salaf
Anak ke:1 (satu)
Alamat tinggal:Komplek ***, No. H-33, Jl. ***
Provinsi:Jakarta Pusat
Kota asal:Bogor
Tempat & tanggal lahir:Bogor, ***-***-1990
Status nikah:Single (belum pernah menikah)
Suku:Jawa

II. Gambaran Fisik

Bentuk Fisik:Normal
Warna Kulit:Putih Kekuningan
Tipe Rambut:Lurus
Warna Rambut:Hitam
Warna Mata:Hitam
Cacat Fisik:Tidak Ada
Tinggi Badan:160 cm
Berat Badan:65 Kg
Olahraga Digemari:Body Build (membentuk badan berotot)
Riwayat Penyakit:Tidak ada penyakit berat/penyakit dalam.
Ciri Khas / Tanda Lahir:Tahi lalat didekat kelopak mata sebelah kiri.

Pendidikan

Dalam tabel ini, anda dapat menulis riwayat pendidikan mulai dari awal hingga pendidikan terakhir. Apabila saat ini tengah menempuh jenjang pendidikan tertentu, dan saudara belum menempuh ujian akhir dan atau belum memperoleh ijazah, kondisi tersebut dapat ditulis dalam keterangan tambahan.

III. Latar Pendidikan

No.JenjangJurusanTahun Pendidikan
1.I'dad LughowiPersiapan Bahasa Arab2017 s.d. Sekarang
2.S1Sistem Informasi; Multimedia & Broadcasting.2008 s.d. 2014
3.S2Hukum Bisnis2015 s.d. 2017 (Sekarang)

IV. Gambaran Pribadi

Moto:Kun Salafiyan 'alal Jaddah; Jadilah Salafi Sejati, Bahagia dengan Zuhud & Qana'ah.
Target Hidup:Menempatkan/memberikan hak dengan cara yang Haq.
Penghargaan:Penghargaan Tinggi Pertukaran Pelajar Indonesia-Malaysia Tahun 2007.
Hobi:Membaca & Menulis Ilmiah, Eksplorasi Alam Liar, Bushcrafting, Fotografi, Film Making.
Kegiatan Diwaktu Luang:Membaca & Menulis Ilmiah, sementara hobi lainnya dilakukan sesekali waktu.
Hal Disukai:Seni & Arsitektur Islami, Interior Design & Home Furnishing, Memasak
Sifat Positif:Senang menambah wawasan.
Sifat Negatif:Tidak dapat mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, kalaupun dikerjakan maka hasilnya tidak optimal.
Merokok:Tidak.

Pengalaman

Dalam tabel pengalaman, anda dapat menulis beragam pengalaman yang telah dimiliki. Baik pengalaman bekerja maupun berorganisasi.

V. Riwayat Pengalaman

No.Pengalaman di BidangPerusahaan / Nama Organisasi / Panitia dalamTahunJabatan
1.PekerjaanAparture Indonesia (Yogyakarta)2010 s.d. 2012Desainer Grafis
2.PekerjaanAl-Jugjawy Records (Yogyakarta)2011 s.d. 2012Desainer Grafis
3. PekerjaanPT Jatra Buana Kreasindo (Bogor)2014 s.d. 2015Manajer Produksi
4.PekerjaanUniversitas Tanjungpura (Pontianak)2015 s.d. 2017Analis Data Akademik
5.PekerjaanTanjungpura Law Journal (Pontianak)2016 s.d. 2017Desainer Grafis
6.PekerjaanRadio Kita 87.6 Fm (Pontianak)2007 s.d. 2008Penyiar Radio
7.OrganisasiIndonesia-Malaysia Student Exchange (Malaysia)2007Duta Pelajar Indonesia untuk Malaysia
8.KepanitiaanRadio Rodja 94.7 Fm (Pontianak)2016 s.d. 2017Social Media Planner
9.OrganisasiUKM Multimedia Universitas AMIKOM (Yogyakarta)2011-2012Ketua Divisi Desain Grafis
10.PekerjaanUniversitas AMIKOM (Yogyakarta)2011-2012Asisten Dosen
11.PekerjaanKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan2018 - 2019Lead Graphic Designer
12.PekerjaanKementerian Keuangan Republik Indonesia2020 - sekarangGraphic Designer

VI. Persiapan Pernikahan

No.Persiapan DilakukanKeterangan
1.Persiapan Finansial:[1] Sejak Ramadhan 1437 H/2016 M, telah membangun dan mengelola ****, [2] Distributor dan ****. Yang tersebut di atas merupakan beberapa sumber penghasilan hingga hari ini, Alhamdulillah.
2.Jangka Waktu yang Dibutuhkan Sebelum Menikah:Terhitung sejak biodata ini dibuat (18 Ramadhan 1438 H/13 Juni 2017 M) hingga waktu pernikahan adalah 4 (empat bulan), dengan alasan sebagai berikut: Saat ini tengah menyelesaikan jenjang pendidikan Program Pascasarjana/S2 di Universitas Tanjungpura Program Magister Ilmu Hukum mengambil konsentrasi Hukum Bisnis/Hukum Ekonomi, yang telah memasuki semester IV (semester akhir) dan tengah menyusun Master's Thesis. Artinya jangka waktu yang dibutuhkan kurang lebih 4 (empat) bulan hingga hari pernikahan setelah atau menjelang wisuda.
3.Visi & Misi pernikahan:Menjadikan bahtera rumah tangga sebagai sarana memperbanyak amal ibadah (dalam arti khusus maupun umum) guna meraih tujuan yakni kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan di surga, dengan menjalani kehidupan keduniaan yang sejahtera dengan asas sikap Zuhud dan Qana'ah.
4. Ilmu Mengenai Pernikahan:Telah mengkaji kitab-kitab pernikahan karya Ustadzuna-Shalih Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, Ustadzuna-Shalih Dr. Syafiq Basalamah, MA hafizhahullah, didukung dengan kitab-kitab hadits terjemah khusus pada bab Nikah di antaranya kitab Subulus Salam Syarh Bulugh al-Maram, hingga buku-buku kecil yang membahas kehidupan rumah tangga dan sifat-sifat perempuan.

Kriteria Calon

Dalam tabel kriteria calon, anda dapat dengan bebas menulis kriteria idaman calon teman hidup, bahkan secara mendetail. Akan tetapi, anda tetap perlu melakukan prosesi Nazhor (melihat secara langsung kondisi fisik calon teman hidup dimaksud hingga batasan-batasan yang dibenarkan secara Syara’), hal tersebut untuk memastikan bahwa calon teman hidup sudah sesuai dengan apa yang menjadi kecenderungan jiwa.

Kriteria Fisik

VII. Kriteria Calon (Fisik)

Bentuk Fisik:[1] Chubby/ wanita bertubuh kencang berisi/ memiliki payudara besar dan-atau payudara kencang berisi;
[2] Memiliki bentuk puting payudara yang mencuat kencang. Serta memiliki lingkar areola yang berwarna cokelat matang dan-atau cokelat pudar;
[3] Memiliki bentuk bokong yang menonjol/ bundar, lembut sekaligus kencang.
Warna Kulit:Tidak Membatasi.
Tipe Rambut:Tidak Membatasi.
Warna Rambut:Tidak Membatasi.
Warna Mata:Tidak Membatasi.
Cacat Fisik:Tidak.
Tinggi Badan:161 s.d. 170 cm.
Berat Badan:61 s.d. 70 Kg.
Riwayat Penyakit:Tidak; Tidak ada penyakit dalam atau keturunan.
Ciri Khas / Tanda Lahir:Tidak Membatasi.

Kriteria Non-Fisik

VIII. Kriteria Calon (Non-Fisik)

Usia:18 s.d. 25 Tahun.
Domisili:Bogor, Yogyakarta, Pontianak, Bandung, Jakarta, Medan, Solo (atau dapat ditulis 'Tidak Membatasi' pada format konvensional non-online).
Suku:Tidak Membatasi.
Pendidikan:SMA Sederajat dan-atau S1.
Status Pernikahan:Single/Belum pernah Menikah. Catatan Khusus: [1] Apabila pada masa sebelumnya pernah berpacaran dianjurkan untuk bertaubat terlebih dahulu dari dosa berpacaran sebelum memulai proses taaruf. [2] Pihak ikhwan tidak akan mempertanyakan mengenai kehidupan masa lalu pihak akhowat.
Sifat:Pencemburu, Penyayang, Penyabar, Rajin.
Lain-Lain:Tidak membatasi kriteria; namun diutamakan cantik jelita dan-atau manis, tubuh kencang berisi. Akan tetapi penentu akhir adalah Agamanya (kadar kecintaannya terhadap Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wa Sallam).

Harapan

IX. Harapan

No.Harapan KedepanKeterangan
1.Sumber Dana Acara Pernikahan:Untuk menyelenggarakan acara pernikahan insyaAllah kami (pihak ikhwan) yang menanggung.
2.Gambaran Acara Pernikahan:Merujuk kepada kaifiah/tata cara pernikahan yang dikehendaki syari'at; kalaupun dari pihak perempuan tidak dapat mengikuti secara totalitas (menyeluruh) maka tidak dipermasalahkan apabila ada ketenuan-ketentuan lain selama tidak menyelisihi kitabullah dan sunnah. Sangat diinginkan tidak terjadinya kemaksiyatan berupa panggung hiburan musik.

Sementara itu untuk walimah (pesta pernikahan); dana yang disiapkan dialokasikan untuk memenuhi fasilitas tempat undangan berupa meja dan kursi yang nyaman, ergonomis artinya tidak sempit, juga disediakan area bagi para undangan yang hendak makan dengan cara makan bersama di atas loyang, serta dengan menghidangkan menu makanan terbaik yang sehat. Memenuhi kuota daftar undangan dengan orang-orang shalih dan orang-orang miskin.

Catatan Penting: Dana yang disiapkan tidak dihambur-hamburkan untuk dekorasi tempat pernikahan dan walimah, adapun dekorasi mengambil konsep Traditional Morocco; dengan dominasi warna Putih, Cokelat Khaki, dan warna-warna Gurun Pasir serta taman Oasis.
3.Domisili:InsyaAllah pasca walimah berdomisili di Bogor dan-atau Yogyakarta.
4.Karier Kedepan:[1] Terus mengembangkan usaha sebagaimana yang telah kami jelaskan pada kolom sebelumnya 'Persiapan Finansial', dengan terus berinovasi membuat ragam produk kreatif yang fungsional. [2] dan-atau melanjutkan karier yang pernah kami geluti pada institusi pendidikan pemerintah (yang detailnya dapat dibaca pada kolom 'Pengalaman Bekerja'); baik sebagai Analis Data Pendidikan ataupun Dosen.
5.Keturunan dan Pendidikan Anak:[1] Anak didik di bawah pengawasan kedua orang tua hingga mencapai masa tamat Sekolah Dasar, [2] Tatkala mencapai masa SMP & SMA disekolahlan di Ma'had sunnah insyaAllah di Ma'had Al-Irsyad, Tengaran Salatiga [3] Sementara itu terus dibimbing dan dimotivasi oleh kedua orang tua untuk melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia.
6.Target Jangka Pendek:[1] Memperkuat jaringan dagang dengan asas kejujuran dan keuntungan bersama atas produk-produk yang kami komersilkan khususnya di wilayah Kalimantan Barat mengingat jumlah kompetitor dalam segmen produk yang kami pasarkan masih tergolong sedikit.

[2] Menyelesaikan Master's Thesis (4 bulan) yang mengangkat polemik penyimpangan aqidah dan ilmu pengetahuan yang menyesatkan yang disebarkan melalui perangkat lunak edukatif yang dibuat oleh developer software yang awwam terhadap perkara Agama.

[3] Segera Menikah.
7.Target Jangka Panjang:[1] Adapun bisnis/usaha yang telah disebutkan pada kolom-kolom sebelumnya diusahakan terus berkembang secara kuantitas produk maupun peningkatan kualitas yang berdampak pada peningkatan profit/keuntungan. Yang keuntungan tersebut digunakan untuk memenuhi hajat kehidupan serta dapat pula digunakan untuk mengembangkan usaha yang baru. [2] yang pada akhirnya usaha-usaha bisnis ini dapat diwariskan badan usahanya kepada anak-keturunan, dan begitu seterusnya.
8.Memperbolehkan istri untuk bekerja:Istri diperkenankan dan difasilitasi untuk mengembangkan kemampuan/bakat/keahlian/kepintaran yang ia miliki dengan tidak menafikan ketentuan-ketentuan syara'. Yang pada akhirnya apa-apa yang dimaksud dapat diajarkan/diteruskan oleh anak-keturunan. Adapun harta yang diperoleh dari pengembangan keahlian istri, misal produksi kue, makanan olahan dan selainnya, menjadi hak sepenuhnya istri, kekayaannya sendiri.

Tanya jawab seputar pembuatan CV Taaruf/ Biodata Taaruf

Apa yang harus dilakukan dalam langkah awal membuat CV Taaruf/ biodata taaruf?

Dalam menulis CV Taaruf/ Biodata Taaruf dan-atau kemudian dirinya mendatangi orang yang hendak dilamar maka keutamaan bagi seorang mukallaf  untuk:

  • Mengikhlaskan niatnya semata mengharap Ridha Allah ‘Azza Wa Jalla;
  • Benar-benar ingin menikah dan Ittiba’-ur-Rasul/ mengikuti Sunnah Rasul-Nya ﷺ;
  • Bukan sekedar ingin berlezat-lezat pandangan tanpa i’tiqad untuk melamar atau benar-benar ingin menikah.

Mengapa sikap jujur dalam menulis CV taaruf/ biodata taaruf itu penting?

Syaikh al-‘Utsaimin menuturkan dalam kitabnya, Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi, mengenai kejujuran bahwasanya jujur itu merupakan tanda kewibawaan, kemuliaan jiwa dan kebersihan hati, ketinggian cita-cita, kuatnya akal, kecintaan antar sesama, senangnya kebersamaan, dan penjagaan terhadap Din (Agama).

Oleh sebab itu, ikhwati fillah, hendaklah bersikap jujur dengan menuliskan data diri sesuai dengan keadaan tanpa melebih-lebihkan atau berdusta . Adapun NazharNazhor/ melihat secara langsung perempuan yang akan dipinang, adab-adabnya dapat dikaji secara komprehensif di dalam buku berjudul Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin karya Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullah (Ustadz Abu Unaisah) dan secara singkat dapat dikaji di dalam buku saku Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah.

Mengapa ta’aruf dikatakan sebagai “persoalan ilmiah”?

Sebab segala sesuatu yang bersumber dari Islam adalah perkara Ilmiah. Ta’aruf – nazhor/ melihat, khitbah/ melamar, nikah dan walimah/ pesta nikah adalah sesuatu yang bersumber dari Islam.

Sesuatu itu disebut ilmiah artinya harus dijalankan/ diamalkan berdasar kepada ilmu, bukan sekedar tau arti dan makna semata.

Seseorang yang akan ta’aruf dan nazhor dan di-nazhor hendaknya keduanya memahami hal ini secara totalitas, sehingga apabila pada masa nazhor didapati hal-hal yang tidak berkenan, ditemukan aib, didapati ketidak cocokan, dan akhirnya batal atau tidak jadi untuk khitbah/ lamaran, maka segala yang buruk akan terjaga. Tidak dibicarakan di tempat lainnya yang dapat menjatuhkan seseorang kedalam dosa ghibah dan merusak nama baik saudara Muslim.

Apa saja bagian-bagian dalam CV taaruf yang harus ditulis?

  • Profil
  • Gambaran Fisik
  • Latar Pendidikan
  • Gambaran Diri
  • Pengalaman Pekerjaan dan-atu Organisasi
  • Persiapan Pernikahan
  • Kriteria Pasangan
  • Harapan-harapan
  • Serta informasi singkat mengenai keluarga (Ayah, Ibu, Kakak, Adik).
Foto CV Taaruf
Foto seorang diri dengan mengenakan tata busana yang baik.

Apakah CV taaruf/ biodata taaruf dibuat dalam bentuk baris teks (paragraf) atau tabel?

Biodata Taaruf/ CV Taaruf dimaksud di atas sebaiknya disusun dalam bentuk tabel agar mudah dibaca, baik taaruf yang dilakukan secara konvensional maupun berbasis platform taaruf online dan benar-benar ditulis sesuai kemampuan tata bahasa sendiri dan wawasan ilmu pengetahuan sendiri bukan copy-paste.

Adapun media taaruf online, ikhwati fillah dapat membaca lebih lanjut mengenai Mawaddah Indonesia  yang dikelola oleh Ustadzuna-Shalih Khalid Basalamah. Untuk menulis biodata taaruf dalam mawaddahindonesia.com hendaknya saudara membaca Panduan Lengkap Pendaftaran Online Taaruf Mawaddah .

Foto CV taaruf apakah menggunakan foto sendiri atau foto grup?

Untuk lampiran foto  sebaiknya menggunakan foto  seorang diri artinya bukan foto  grup (foto beramai-ramai). Hal ini agar tidak memunculkan kebingungan dari sisi orang yang membaca CV Taaruf, terlebih apabila orang tersebut memang belum pernah bertemu/ belum pernah melihat secara langsung.

Busana apa yang digunakan saat berfoto?

Saat berfoto untuk Biodata Taaruf/ CV Taaruf kenakanlah tata busana muslim yang baik sebelum berfoto, hal ini juga perlu diperhatikan tatkala bertamu ke rumah akhwat (wanita) untuk me-nazhor (melihat).

foto cv taaruf
Foto seorang diri, namun tata busana seperti ini (T-Shirt) tidak sesuai apabila dilampirkan dalam CV Taaruf.

Bagaimana dengan busana berupa kaos/ T-Shirt?

Hindari penggunaan T-Shirt atau kaos dalam foto yang digunakan sebagai lampiran CV Taaruf. Sebab kaos umumnya digunakan dalam aktivitas informal. Misal pada saat saudara memperbaiki kendaraan, pada saat membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah, pada saat bermain ketangkasan dengan anak, dan seterusnya.

Mengapa harus menghindari pemakaian kaos dalam kesempatan ini?

Sebab menggunakan foto dengan busana kaos dalam lampiran CV Taaruf dapat mencerminkan bahwa saudara adalah seorang lelaki yang tidak peka dan kurang perhatian terhadap suatu persoalan. Hendaklah menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan haknya dan dengan cara yang haq/ cara yang benar.

Bagaimana apabila CV taaruf/ biodata taaruf sudah terlanjur dikirim ke pihak akhwat?

Namun apabila CV Taaruf/ Biodata Taaruf dengan lampiran foto berbusana kaos sudah terlanjur diserahkan kepada pihak akhwat yang saudara sukai, hendaklah tetap menjaga lisan dari perkataan munkar serta menjaga hati dari menyalahkan sesuatu yang sudah terjadi dengan mengucapkan, “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al “, dengan itikad untuk menghindari kesalahan pada kesempatan Nazhor (Melihat Keadaan Fisik) calon pasangan hidup dengan cara berpenampilan yang lebih baik sebagaimana penjelasan yang sudah tuntas disampaikan di atas.

Tatkala masa taaruf sudah cukup, lantas apa tahap selanjutnya?

Hendaklah saudara tetap mengindahkan adab-adab muamalah saat bertamu ke rumah akhwat dalam ranah me-Nazhor dengan cara: bertutur kata yang baik, menampakkan wajah yang berseri-seri, mendoakan tuan rumah, dan jangan ber-khalwat (berdua-dua-an)Lihatlah sesuatu yang ada pada dirinya yang dapat menumbuhkan perasaan cinta atau perasaan suka atau perasaan ingin menikahinya, sebab inilah tujuan utama dari Nazhor.

Konklusi

Demikianlah contoh Biodata Taaruf/ CV Taaruf yang disusun dalam format tabel yang bagian-bagiannya diadaptasi dari struktur biodata Mawaddah Indonesia Taaruf. Adapun kami setuju dengan format tabel sebab ia lebih nyaman dibaca karena tata letak tulisan tersusun rapih sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Membuat biodata ta’aruf dalam bentuk tabel dapat dilakukan dengan menggunakan software Microfost Office Word atau Microsoft Office Excel, atau dapat juga dibuat dengan menggunakan Google Docs dan Google Sheet .

Download CV Ta’aruf

Contoh CV taaruf
Contoh cv taaruf ikhwan.

Download CV Ta’aruf versi 5.1.20 melalui tautan di bawah serta bookmark halaman ini guna memperoleh CV Ta’aruf versi terbaru.Untuk memudahkan dalam membuat CV Ta’aruf, saudara dapat mengunduh/ men-download Contoh CV Ta’aruf yang dibuat oleh temanshalih.com. Bagian-bagiannya dapat disesuaikan/ dirubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Versi 1.2.18
Versi 3.2.18
Versi 4.3.19 (Maret 2019)
Versi 5.1.20 (Januari 2020):

  • Ukuran foto 3*4 cm;
  • Cara penulisan gelar setelah nama yang benar;
  • Judul bagian-bagian utama dibuat lebih besar dengan font Myriad 14 pt;
  • Penambahan elemen dekorasi;
  • Update tabel “Kriteria Calon (Fisik)”;
  • Baris isian rumus sidik jari (opsional);
  • Baris isian golongan darah (opsional);
  • Baris isian nomor kartu tanda penduduk.

Download (*.pdf, *.doc):

Categories
Taaruf Tata Cara Muslim

Cara Menolak Taaruf Sesuai Kaidah Muamalah

Untuk memperoleh gambaran yang utuh ihwal tata cara yang benar dalam menolak taaruf, anda dapat memanfaatkan tabel daftar isi berikut ini untuk menemukan konten yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Bagaimana cara menolak taaruf yang baik?

Tidak ada standar baku dalam kaifiah/ cara menolak taaruf. Hal ini tersirat dalam buku Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin, karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.

Agar seseorang itu mendapati cara menolak taaruf yang baik, maka sudah sepatutnya dikembalikan kepada adab muamalah dalam menyelesaikan persoalan yang dikenal dalam syari’at.

Jelang 1 Ramadhan 1441 H (April 2020 M): Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih.

Hal tersebut, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Transliterasi matan hadits:

Wa Man Kaana Yu’minu Billaahi Wal Yawmil Aakhir, Falyaqul Khayran aw Liyashmut.

Terjemah:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” – HR. Bukhari, Muslim.

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

‎الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

Transliterasi matan hadits:

al-Kalimatu Thayyibahh Shadaqah!

Terjemah:

“… Perkataan yang baik adalah sedekah …” – Shahih Bukhari nomor 2989 (كتاب الجهاد والسير)

Oleh sebab itu, hendaklah menolak taaruf dengan pemilihan kata dan kalimat yang tepat agar orang lain yang menerima kabar penolakan dapat dengan baik menerima keputusan anda.

Selanjutnya apabila tidak berkenan untuk ta’aruf, cukup bagi seseorang yang diundang ta’aruf mengatakan:

  • “Saya tidak suka,”;
  • “Saya tidak berkenan,”;
  • “Saya tidak teratarik,”;
  • dan seterusnya.

Ditolak taaruf, bagaimana menyikapinya?

Tidak perlu bagi seseorang lelaki yang ditolak undangan ta’aruf-nya oleh wanita yang dia sukai merasa berat hati dan-atau rendah diri. Sebab setiap pihak yang terlibat dalam ta’aruf memiliki hak yang sama dalam menerima atau menolak, meninggalkan atau membatalkan.”[1]

Cukuplah baginya untuk mengucapkan Qadarullah, sebab perkataan ini dapat menjaga dirinya dari berandai-andai. Mafhum, berandai-andai adalah pintu masuk bagi syaithan.

Mengapa sulit untuk mengakhiri atau menolak taaruf?

إِنَّكَ لَنْ تَدَ عَ شَيْئًا لِلهِ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ الله بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allāh ‘Azza Wa Jalla (Allāh yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia), kecuali Allāh akan menggantikan untukmu sesuatu yang lebih baik. – H.R. Waki’ dalam Az Zuhd 2/68, Ahmad 5/363 dan Al Qudha’i dalam Musnad Syihab 1135 dengan sanad shahih sesuai syarat Muslim. Lafadzh ini dinukil dari Qowa’id Fiqhiyyah, hal. 300.

Didapati fenomena di mana seseorang itu sulit untuk mengakhiri ta’aruf, hingga bimbang dalam mencari cara menolak ta’aruf. Padahal dasar untuk menolak taaruf telah jelas nampak tanda-tandanya, yakni telah diketahui akhlaq tercela pada diri orang yang sedang dalam proses ta’aruf.

Perasaan sulit ini (masyaqqah) disebabkan dirinya telah menaruh perasaan cinta kepada orang yang baru dikenal. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim tidak tatsabbut (tergesa-gesa) dalam membangun perasaan cinta (mahabbah).

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebelum membangun perasaan cinta terhadap seseorang adalah dengan jalan meneliti terlebih dahulu orang tersebut, dengan cara:

  • Memperhatikan tabi’atnya;
  • Dengan siapa dia bergaul atau berteman;
  • Bagaimana sikapnya dalam menanggapi suatu persoalan.

Teliti tidak sama dengan tajassus atau memata-matai. Perbedaannya adalah bahwa yang dimaksud teliti yakni memperhatikan suatu hal yang nampak yang ada pada dirinya.

Sementara untuk ihwal yang tidak nampak atau tersembunyi, maka serahkan saja urusannya antara dia dengan Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Sebab hukum asal seorang muslim adalah jujur dan amanah. Oleh karenanya dikedepankan asas prasangka baik atau Khusnu-Zhan.

Alasan Syar’i Menolak Taaruf/ Alasan Tidak Melanjutkan Taaruf

Tidak perlu bagi seseorang untuk menjelaskan alasan menolak taaruf. Mafhum ada kalanya penyebab-penyebab menolak taaruf dapat dinyatakan dan ada kalanya tidak dapat diungkapkan dengan lisan maupun tulisan, akan tetapi hanya ada terpendam dalam hati yang sangat memberatkan apabila didengarkan atau disampaikan.”[2]

Perlu juga diketahui beberapa alasan yang kuat (alasan syar’i) bagi seseorang untuk menolak taaruf dan-atau menghentikan ta’aruf:

  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah Mubtadi’ (seorang ahli bid’ah/ pelaku ajaran baru dalam peribadatan);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang al-Mujahir (pelaku maksiat terang-terangan: perokok, peminum khamr/ minuman keras, maisir/ judi dan yang semakna dengannya);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang mukallaf yang meninggalkan shalat;
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang penggemar lahwal hadiits (musik);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang yang gemar mencela Umara‘ (penguasa) atau Ulil Amri (pemerintah) misal kelompok ekstremis, khawarij dan hizbuttahrir atau di Indonesia dikenal Hizbuttahrir Indonesia (HTI);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang pezina yang belum bertaubat.

    Meskipun demikian dalam menjalani segala urusan terkait ta’aruf dan nazhar, harus dibangun di atas landasan niat yang baik dan benar (asas itikad baik).

    Namun apabila dalam proses ta’aruf terjadi pembatalan karena sesuatu yang baru diketahui belakangan, yang hal itu menimbulkan perasaan menyesal, maka Agama tidak melarang dan membebani apa pun atas penolakan atau pembatalan dimaksud.

    Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda:

    مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

    Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” – HR. At-Tirmidzi.

    Kalimat Menolak Taaruf

    Untuk mengetahui bagaimana cara menolak ta’aruf yang baik, saudara dapat memperhatikan 3 (tiga) cara menolak taaruf di bawah ini:

    Contoh Kalimat Pernyataan Menolak Ta’aruf 1

    Bismillāhirrahmānirrahīm.

    Saudara muslim yang sama-sama kita mengharap Rahmat Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

    Melalui ini saya hendak mengucap terimakasih untuk segala kebaikan, semoga saudara dan saya istiqamah di atasnya.

    Dengan menimbang beberapa hal, saya menetapkan untuk tidak melanjutkan ta’aruf ini. Oleh karena suatu alasan yang saya tidak dapat mengutarakannya. Artinya setelah ini, tidak ada lagi pembicaraan ihwal pernikahan. Semoga tidak ada permusuhan di antara kita yang semata-mata mengharap Wajah Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

    Jazakallāh-Khayran: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudara dengan yang jauh lebih baik.

    Your sister in Islam, (tulis nama saudari tanpa tanda kurung).

    Contoh Kalimat Pernyataan Menolak Ta’aruf 2

    Bismillāh.

    Saudariku yang aku cintai karena Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Yang sama-sama kita mengharap Wajah-Nya.

    Semoga hati kita diberikan kelapangan dalam membaca tulisan ini.

    Aku manusia yang lemah hatinya, yang berusaha kuat dengan yakin terhadap kuasa-Nya. Aku juga manusia yang banyak salah, yang berusaha menghindari berbuat salah dengan sekuat daya dan upaya, yang kekuatan itu merupakan rizki dari-Nya.

    Aku yang berusaha menjaga lisan sebab benci menyakiti perasaan orang lain, sehingga sulit bagiku untuk berkata jujur dengan kalimat yang halus tanpa menggores perasaan. Sebab kita sama-sama mengetahui bahwa kejujuran tidak selalu berarti berisi hal-hal yang menyenangkan bagi orang lain yang mendengarnya.

    Pada saat pertama kita bertemu walau jarak dan ruang memisahkan, nyatanya hal itu tidak dapat menghentikan dahsyatnya impian untuk merasakan kebahagiaan yang lebih. Perasaan suka yang terus berkembang setiap waktu. Hingga mulai tumbuh cinta.

    Akan tetapi sulit juga bagi hati ini, untuk menerima kenyataan, yang waktu belakangan baru aku ketahui.

    Meskipun demikian, (yang engkau juga mengetahuinya) aku tidak menyerah. Aku terus berusaha untuk menafikan rasa kalah, cemburu, amarah dan kecewa. Dengan jalan kembali memikirkan hal-hal yang pada waktu pertama membuat aku “betapa bahagia bertemu denganmu.”

    Namun nyatanya, hati ini terus menyimpan kegelisahan yang tak terelakkan. Sulit bagiku mengingatmu tanpa merasa cemburu. Cemburu yang sangat membakar. Sebuah perasaan kalah oleh kenangan masa lalu.

    Dengan menguatkan hati, aku mohon pamit. Aku memutuskan untuk mengakhiri ta’aruf ini. Dan itu berarti tidak ada lagi pembicaraan mengenai nikah dan walimah. Aku berharap, semoga tidak ada sikap saling benci di antara kita, sehingga kita dapat bermuamalah sebagaimana mestinya.

    Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ mengganti dan mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik dariku. Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ menutup aib-aib kita, mengganti kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi dengan amal shalih. Insya-Allāhu-Ta’āla.

    Jazakillah Khairan: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudara dengan yang jauh lebih baik.

    Your brother in Islam, (tulis nama saudara tanpa tanda kurung).

    Contoh Kalimat Pernyataan Menolak Ta’aruf 3

    Bismillāhirrahmānirrahīm.

    Sejak awal kita kenal (ta’aruf) hingga hari ini, belum ada kesempatan bagi saya untuk bertamu ke rumah dengan maksud untuk nazhor (melihat).

    Aku memohon maaf, apabila selama kita berkomunikasi dan saling mengenal ada di antara ucapanku yang kelewat batas, demikianlah diriku yang dha’if (lemah) yang terus belajar untuk istiqamah dalam kebaikan.

    Aku mencukupkan ta’aruf sampai di sini (diwaktu sekarang ini), tidak berlanjut khitbah (lamaran) dan nikah.

    Jazakillah Khairan: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudari dengan yang jauh lebih baik.

    Your brother in Islam, (tulis nama saudara tanpa tanda kurung).

    Konklusi Cara Menolak Taaruf

    Demikianlah cara menolak taaruf baik dari sisi laki-laki (cara menolak taaruf 2 & 3) mapun sisi wanita (cara menolak ta’aruf 1). Hendaklah para pihak yang berurusan dalam ta’aruf membekali dirinya dengan ilmu agama, secara khusus bab nikah. Sehingga mereka memiliki pengetahuan yang komprehensif ihwal ta’aruf, khitbah, nikah, walimah dan berumah tangga.

    Kehormatan dan Harga Diri adalah Sesuatu yang Diwariskan

    Dengan demikian (dengan mempelajari bab nikah secara komprehensif) segala kekurangan, kesalahan dan aib yang didapati selama masa ta’aruf tidak disebarluaskan dan mencederai kehormatan dan harga diri seorang muslim. Sebab kehormatan adalah sesuatu yang diwariskan.

    Asas Keridhaan Para Pihak yang Terlibat

    Dalam Islam tidak ada paksaan dalam ranah privat/ muamalah, semua berdasar kepada asas keridhaan para pihak yang berkepentingan/ yang bermuamalah.

    Take It or Leave It

    Sementara itu dalam terminologi asing dikenal “Take It or Leave It.” Olehkarenanya hendaklah seseorang itu tidak memaksa orang lain untuk terikat dalam suatu perjanjian/ akad yang dia tidak menghendakinya/ yang baginya tidak memberi manfaat/ tidak banyak memberi manfaat.

    Maraaji’ (Senarai Pustaka)

    [1] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, (Jakarta: Maktabah Mu’Awiyah bin Abi Sufyan, cetakan ke-tiga 1436 H/ 2015 M), hal. 142.

    [2] Ibid, hal. 161.

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
    Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

    مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
    Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

    Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

    Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Hadiah Taaruf Tata Cara Muslim

Contoh CV Taaruf Akhwat yang Baik (Desain Elegan)

Guna memudahkan anda dalam membaca contoh CV Taaruf Akhwat, gunakanlah daftar isi berikut ini untuk menemukan konten yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Apresiasi bagi pemuda yang Hijrah fi Sabilillah

Ukhti Fillah, Semangat Hijrah fi Sabilillah pada waktu sekarang ini (1439 H/ 2018 M) telah nampak dari determinasi pelajar muslim usia remaja maupun pemuda (dewasa) dengan keberadaan mereka memadati tempat-tempat kajian ilmiah/ Dakwah Sunnah/ Dakwah Tauhid/ Dakwah Salaf.

Jelang 1 Ramadhan 1441 H (April 2020 M): Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih.

Walaupun belum mencapai angka mayoritas pemuda/ pelajar (di Indonesia), hal ini perlu diapresiasi dengan baik sebab para pemuda yang saat ini telah mengenal Dakwah Sunnah dapat berpotensi sebagai asbab pembuka jalan (hidayah) bagi anggota keluarganya, serta teman-teman pergaulannya yang lain untuk turut dalam langkah ketaatan yakni hidup sesuai dengan pedoman sunnah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, bi-idznillah.

Tanda Kecerdasan Seorang Wanita Beragama Islam

Hidup sesuai Sunnah juga berarti memilih dengan siapa seseorang itu akan menjalani kehidupan berumah tangganya kelak. Hal ini  berdasar sabda Nabi صلى الله عليه وسلم mengenai seseorang yang baik agama dan akhlaqnya. Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَحُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِنْ لَا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

Terjemah,

Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang agama dan akhlaqnya kamu ridhai, maka nikahkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. — Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, nomor 270. — Lafazh ini dinukil dari: Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, Pustaka Ibnu ‘Umar hal. 16 .

Dengan siapa aku menikah?

Memikirkan “Dengan siapa aku akan menikah?” bukanlah hal yang tercela dan memalukan, justru hal tersebut merupakan ciri tanda baiknya keimanan dan tanda kecerdasan seorang muslimah dalam beragama.

Haram menikah dengan lelaki kafir dan musyrik, bagaimana maksudnya?

Haram hukumnya seorang wanita beragama Islam menikah dengan laki-laki kafir dan-atau musyrik.”[1]

Allah عزَ وجل berfirman,

وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Terjemah,

“… Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 221.

Tafsir,

“… Jangan pula menikahkan wanita-wanita kalian yang beriman, baik yang berstatus budak maupun merdeka, dengan para laki-laki musyrik sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (masuk Islam). Ketahuilah bahwa seorang budak laki-laki yang beriman itu, sekalipun miskin, lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia itu mengagumkan kalian. Mereka yang memiliki karakter syirik itu, baik laki-laki maupun perempuan; semuanya menyeru setiap orang yang bergaul dengan mereka kepada sesuatu yang membawanya kepada Neraka. Sedangkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ menyeru para hamba-Nya kepada Din-Nya (Agama-Nya) yang benar, yang akan mengantarkan mereka ke Surga dan kepada pengampunan dosa-dosa mereka dengan seizin-Nya. Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum ketetapan-Nya kepada umat manusia agar mereka selalu ingat serta mengambil pelajaran.”[2]

Apakah seorang muslimah (wanita beragama Islam) itu hendak hidup dengan seseorang yang memperhatikan urusan akhirat, atau justru menghabiskan waktu hidup di dunia yang betapa singkat ini dengan orang yang melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, seorang suami, seorang ayah, seorang pemimpin rumah tangga.

Padahal kehidupan dunia hanyalah sarana menuju kehidupan akhirat yang kekal, yang niscaya dimintai pertanggungjawabannya, apakah Neraka atau Jannah (nama surga) sebagai jawabannya?

Menikah dengan seorang muslim yang memahami dan mengamalkan Agama

Di antara tanda-tanda bagusnya keimanan seorang lelaki dapat dilihat apakah dirinya senantiasa menjaga shalat berjama’ah di masjid, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,

إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِالْإِيْمَانِ

“Jika kalian melihat seorang laki-laki yang bolak-balik ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman.”[3]

Selain itu dirinya (lelaki muslim) tidak memiliki pemahaman aqidah yang menyimpang seperti syi’ah, mu’tazilah, neo-mu’tazilah (seperti kelompok hizbuttahrir), khawarij (hizbuttahrir), pluralis (kelompok yang menganggap bahwa semua agama baik), ahmadiyah dan selainnya. Memiliki loyalitas (wala’) yang tinggi terhadap agama dan orang-orang mukmin, dirinya tidak mencintai orang kafir, tidak tasyabbuh/ meniru-niru adat jahiliyah dan kaum kuffar seperti merayakan valentine, hari-hari besar wathaniyah, tahun baru, ulang tahun, turun ke jalan-jalan untuk demonstrasi, “aksi bela”, dan seterusnya.[4]

Membuat CV Taaruf Akhwat Dengan Baik

Oleh sebab itu hendaklah seorang muslimah berusaha untuk benar-benar Hijrah fi Sabilillah dengan niat yang ikhlas semata karena Allah عزَ وجل dan dengan cara mutaba’ah yakni berpedoman kepada Sunnah yang Shahih.

Adapun ihwal pernikahan, hendaklah kaum muslimin berusaha mencari pasangan hidup yang terbaik sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan syara’ dan dengan cara-cara yang dibenarkan dalam syari’at Islam yakni dengan: taaruf nazhor, khitbah (melamar), nikah, nikah hingga walimah dan berumah tangga dengan niat ibadah.

Apakah harus memahami adab-adab muamalah secara menyeluruh?

Menjalani ta’aruf bukan semata mengetahui makna terminologi, akan tetapi seseorang itu, baik lelaki maupun wanita beragama Islam, perlu memadati ruang ilmiahnya dengan pengetahuan adab-adab muamalah hingga adab dalam menyelesaikan sengketa. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi ta’aruf itu tidak berjalan dengan baik apabila salah satu di antara keduanya, laki-laki maupun wanita, menafikan adab-adab dalam bermuamalah. Misal bertutur kata yang kasar, tajassus, namimah, ghibah, dusta, banyak berjanji, hingga membuka aib sendiri di masa lalu, dan seterusnya, wal-‘iyadzu-billah.

Bagi seorang wanita untuk mendukung proses taaruf, maka hal itu dapat diusahakan dengan jalan membuat CV Taaruf Akhwat.

Apa Saja yang Harus Ditulis dalam CV Taaruf Akhwat?

Secara umum, dalam penulisan CV Taaruf Akhwat, tidak ada perbedaan antara bagian-bagian utama yang disusun dan diisi dalam CV Taaruf Ikhwan. Keduanya perlu diisi dengan lengkap serta dengan mempertimbangkan beberapa aspek berikut:

  • Jujur tidak melebih-lebihkan;
  • Tata bahasa yang baik sehingga mudah dipahami oleh pihak yang membaca;
  • Konsistensi antara satu bagian dengan bagian yang lain;
  • Menulis dengan susunan kalimat yang singkat bukanlah suatu kesalahan, akan tetapi hendaknya jelas dan tidak menimbulkan mispersepsi;
  • Menulis capaian akademis tidak sama dengan menyombongkan diri, maka hendaklah menggunakan tata bahasa yang sifatnya lini-masa saja, berdasar time-line. Tidak perlu ditulis dalam pargraf deskriptif dengan kalimat-kalimat yang menjelaskan “Bagaimana hal itu terjadi?”, “Mengapa hal itu terjadi?”.

Bagian-bagian Utama dalam CV Taaruf Akhwat

Setelah memahami beberapa permasalahan di atas, saudari dapat menyiapkan dokumen dengan menyusun bagian-bagian utama seperti di bawah ini:

  • Profil: Nama lengkap, Nomor telepon, Manhaj, Anak ke, Alamat tinggal, Provinsi, Kota kelahiran, Status nikah, Suku;
  • Gambaran Fisik: Bentuk Fisik, Warna Kulit, Tipe Rambut, Warna Rambut, Warna Mata, Cacat Fisik (apabila ada), Tinggi Badan, Berat Badan, Olahraga Digemari, Riwayat Penyakit, Ciri Khas / Tanda Lahir;
  • Latar Pendidikan;
  • Gambaran Pribadi: Moto, Target Hidup, Hobi, Kegiatan Diwaktu Luang, Hal Disukai, Sifat Positif, Sifat Negatif;
  • Pengalaman Pekerjaan dan-atu Organisasi;
  • Persiapan Pernikahan: Persiapan Finansial, Jangka Waktu yang Dibutuhkan Sebelum Menikah, Visi & Misi pernikahan, Ilmu Mengenai Pernikahan;
  • Kriteria Pasangan: Kriteria Fisik (Bentuk Fisik, Warna Kulit, Tipe Rambut, Warna Rambut, Warna Mata, Cacat Fisik (menerima cacat fisik atau tidak), Tinggi Badan, Berat Badan, Riwayat Penyakit, Ciri Khas / Tanda Lahir) dan Kriteria Non-Fisik (Usia, Domisili, Suku (dapat ditulis “Suku: Tidak Membatasi” ), Pendidikan, Status Pernikahan (dapat ditulis “Status Pernikahan: Belum Pernah Menikah.” ), Sifat, Lain-Lain (dapat ditulis “Lain-Lain: Tidak Suka dengan Lelaki Perokok”));
  • Harapan-Harapan: Sumber Dana Acara Pernikahan, Gambaran Acara Pernikahan, Keturunan dan Pendidikan Anak, Target Jangka Pendek, serta Target Jangka Panjang.

Bagian-bagian CV Taaruf Akhwat di atas, diadaptasi dari form isian Biodata Taaruf Mawaddah Indonesia.

Bolehkah Mempercantik Diri Sebelum Difoto?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, maka sepatutnya dikaji terlebih dahulu publikasi yang berjudul Hukum Mempercantik Diri.

Download Contoh CV Taaruf Akhwat

Untuk memudahkan dalam membuat CV Ta’aruf Akhwat, ukhti dapat mengunduh Contoh CV Ta’aruf yang dibuat oleh temanshalih.com. Bagian-bagiannya dapat disesuaikan/ dirubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu baik ikhwan atau akhwat.

Grup WhatsApp Akhwat (2020)

Gabung di grup WhatsApp temanshalih.com untuk memperoleh update informasi.

Footnote:

[1] Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, (Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar), hal. 14. Lihat juga Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, (Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 1436 H/ 2015 M), hal. 75.

[2] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd, Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar, (Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group, 1437 H/ 2016 M), hal. 35. Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

[3] At-Tirmidzi, beliau mengatakan, “Hadits hasan gharib.”

[4] Dinukil secara makna dari Abu Muhammad Ibnu SHalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, (Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar), hal. 15-16.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer