Categories
Taaruf Tata Cara Muslim

Cara Menolak Taaruf Sesuai Kaidah Muamalah

Bagaimana cara menolak taaruf yang baik?

Tidak ada standar baku dalam kaifiah/ cara menolak taaruf. Hal ini tersirat dalam buku Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. Cara menolak taaruf dikembalikan kepada adab muamalah dalam menyelesaikan persoalan yang dikenal dalam syari’at.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” – HR. Bukhari, Muslim.

Apabila tidak berkenan untuk ta’aruf, cukup bagi seseorang yang diundang ta’aruf dengan mengatakan:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • “Saya tidak suka,”;
  • “Saya tidak berkenan,”;
  • “Saya tidak teratarik,”;
  • dan seterusnya.

[/list]

Rasulullah (‎صلى الله عليه وسلم) bersabda,

‎الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“… Perkataan yang baik adalah sedekah …” – Shahih Bukhari nomor 2989 (كتاب الجهاد والسير)

[ads script=”1″ ]

Bagaimana menyikapi penolakan (apabila anda ditolak)?

Tidak perlu bagi seseorang lelaki yang ditolak undangan ta’aruf-nya oleh wanita yang dia sukai merasa berat hati dan-atau rendah diri. Sebab setiap pihak yang terlibat dalam ta’aruf memiliki hak yang sama dalam menerima atau menolak, meninggalkan atau membatalkan.”[1]

Mengapa sulit untuk mengakhiri atau menolak taaruf?

إِنَّكَ لَنْ تَدَ عَ شَيْئًا لِلهِ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ الله بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allāh ‘Azza Wa Jalla (Allāh yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia), kecuali Allāh akan menggantikan untukmu sesuatu yang lebih baik. – H.R. Waki’ dalam Az Zuhd 2/68, Ahmad 5/363 dan Al Qudha’i dalam Musnad Syihab 1135 dengan sanad shahih sesuai syarat Muslim. Lafadzh ini dinukil dari Qowa’id Fiqhiyyah, hal. 300.

Didapati fenomena di mana seseorang itu sulit untuk mengakhiri ta’aruf, hingga bimbang dalam mencari cara menolak ta’aruf. Padahal dasar untuk menolak taaruf telah jelas nampak tanda-tandanya, yakni telah diketahui akhlaq tercela pada diri orang yang sedang dalam proses ta’aruf.

Perasaan sulit ini (masyaqqah) disebabkan dirinya telah menaruh perasaan cinta kepada orang yang baru dikenal. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim tidak tatsabbut (tergesa-gesa) dalam membangun perasaan cinta (mahabbah).

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebelum membangun perasaan cinta terhadap seseorang adalah dengan jalan meneliti terlebih dahulu orang tersebut, dengan cara:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Memperhatikan tabi’atnya;
  • Dengan siapa dia bergaul atau berteman;
  • Bagaimana sikapnya dalam menanggapi suatu persoalan.

[/list]

Teliti tidak sama dengan tajassus atau memata-matai. Perbedaannya adalah bahwa yang dimaksud teliti yakni memperhatikan suatu hal yang nampak yang ada pada dirinya.

Sementara untuk ihwal yang tidak nampak atau tersembunyi, maka serahkan saja urusannya antara dia dengan Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Sebab hukum asal seorang muslim adalah jujur dan amanah. Oleh karenanya dikedepankan asas prasangka baik atau Khusnu-Zhan.

Perlukah dijelaskan alasan menolak taaruf?

Tidak perlu bagi seseorang untuk menjelaskan alasan menolak taaruf. Mafhum ada kalanya penyebab-penyebab menolak taaruf dapat dinyatakan dan ada kalanya tidak dapat diungkapkan dengan lisan maupun tulisan, akan tetapi hanya ada terpendam dalam hati yang sangat memberatkan apabila didengarkan atau disampaikan.”[2]

Perlu juga diketahui beberapa alasan yang kuat (alasan syar’i) bagi seseorang untuk menolak taaruf dan-atau menghentikan ta’aruf:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah Mubtadi’ (seorang ahli bid’ah/ pelaku ajaran baru dalam peribadatan);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang al-Mujahir (pelaku maksiat terang-terangan: perokok, peminum khamr/ minuman keras, maisir/ judi dan yang semakna dengannya);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang mukallaf yang meninggalkan shalat;
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang penggemar lahwal hadiits (musik);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang yang gemar mencela Umara‘ (penguasa) atau Ulil Amri (pemerintah) misal kelompok ekstremis, khawarij dan hizbuttahrir atau di Indonesia dikenal Hizbuttahrir Indonesia (HTI);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang pezina yang belum bertaubat.[/list]

Meskipun demikian dalam menjalani segala urusan terkait ta’aruf dan nazhar, harus dibangun di atas landasan niat yang baik dan benar (asas itikad baik). Namun apabila dalam proses ta’aruf terjadi pembatalan karena sesuatu yang baru diketahui belakangan, yang hal itu menimbulkan perasaan menyesal, maka Agama tidak melarang dan membebani apa pun atas penolakan atau pembatalan dimaksud.

Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” – HR. At-Tirmidzi.

[ads script=”1″ ]

Kalimat Menolak Taaruf

Untuk mengetahui bagaimana cara menolak ta’aruf yang baik, saudara dapat memperhatikan 3 (tiga) cara menolak taaruf di bawah ini:

Cara Menolak Ta’aruf 1

[ads script=”3″ ]

Bismillāhirrahmānirrahīm.

Saudara muslim yang sama-sama kita mengharap Rahmat Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

Melalui ini saya hendak mengucap terimakasih untuk segala kebaikan, semoga saudara dan saya istiqamah di atasnya.

Dengan menimbang beberapa hal, saya menetapkan untuk tidak melanjutkan ta’aruf ini. Oleh karena suatu alasan yang saya tidak dapat mengutarakannya. Artinya setelah ini, tidak ada lagi pembicaraan ihwal pernikahan. Semoga tidak ada permusuhan di antara kita yang semata-mata mengharap Wajah Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

Jazakallāh-Khayran: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudara dengan yang jauh lebih baik.

Your sister in Islam, (tulis nama saudari tanpa tanda kurung).

Cara Menolak Taaruf 2

[ads script=”3″ ]

Bismillāh.

Saudariku yang aku cintai karena Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Yang sama-sama kita mengharap Wajah-Nya.

Semoga hati kita diberikan kelapangan dalam membaca tulisan ini.

Aku manusia yang lemah hatinya, yang berusaha kuat dengan yakin terhadap kuasa-Nya. Aku juga manusia yang banyak salah, yang berusaha menghindari berbuat salah dengan sekuat daya dan upaya, yang kekuatan itu merupakan rizki dari-Nya.

Aku yang berusaha menjaga lisan sebab benci menyakiti perasaan orang lain, sehingga sulit bagiku untuk berkata jujur dengan kalimat yang halus tanpa menggores perasaan. Sebab kita sama-sama mengetahui bahwa kejujuran tidak selalu berarti berisi hal-hal yang menyenangkan bagi orang lain yang mendengarnya.

Pada saat pertama kita bertemu walau jarak dan ruang memisahkan, nyatanya hal itu tidak dapat menghentikan dahsyatnya impian untuk merasakan kebahagiaan yang lebih. Perasaan suka yang terus berkembang setiap waktu. Hingga mulai tumbuh cinta.

Akan tetapi sulit juga bagi hati ini, untuk menerima kenyataan, yang waktu belakangan baru aku ketahui.

Meskipun demikian, (yang engkau juga mengetahuinya) aku tidak menyerah. Aku terus berusaha untuk menafikan rasa kalah, cemburu, amarah dan kecewa. Dengan jalan kembali memikirkan hal-hal yang pada waktu pertama membuat aku “betapa bahagia bertemu denganmu.”

Namun nyatanya, hati ini terus menyimpan kegelisahan yang tak terelakkan. Sulit bagiku mengingatmu tanpa merasa cemburu. Cemburu yang sangat membakar. Sebuah perasaan kalah oleh kenangan masa lalu.

Dengan menguatkan hati, aku mohon pamit. Aku memutuskan untuk mengakhiri ta’aruf ini. Dan itu berarti tidak ada lagi pembicaraan mengenai nikah dan walimah. Aku berharap, semoga tidak ada sikap saling benci di antara kita, sehingga kita dapat bermuamalah sebagaimana mestinya.

Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ mengganti dan mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik dariku. Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ menutup aib-aib kita, mengganti kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi dengan amal shalih. Insya-Allāhu-Ta’āla.

Jazakillah Khairan: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudara dengan yang jauh lebih baik.

Your brother in Islam, (tulis nama saudara tanpa tanda kurung).

Cara Menolak Taaruf 3

[ads script=”3″ ]

Bismillāhirrahmānirrahīm.

Sejak awal kita kenal (ta’aruf) hingga hari ini, belum ada kesempatan bagi saya untuk bertamu ke rumah dengan maksud untuk nazhor (melihat).

Aku memohon maaf, apabila selama kita berkomunikasi dan saling mengenal ada di antara ucapanku yang kelewat batas, demikianlah diriku yang dha’if (lemah) yang terus belajar untuk istiqamah dalam kebaikan.

Aku mencukupkan ta’aruf sampai di sini (diwaktu sekarang ini), tidak berlanjut khitbah (lamaran) dan nikah.

Jazakillah Khairan: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudari dengan yang jauh lebih baik.

Your brother in Islam, (tulis nama saudara tanpa tanda kurung).

Konklusi Cara Menolak Taaruf

Demikianlah cara menolak taaruf baik dari sisi laki-laki (cara menolak taaruf 2 & 3) mapun sisi wanita (cara menolak ta’aruf 1). Hendaklah para pihak yang berurusan dalam ta’aruf membekali dirinya dengan ilmu agama, secara khusus bab nikah. Sehingga mereka memiliki pengetahuan yang komprehensif ihwal ta’aruf, khitbah, nikah, walimah dan berumah tangga.

Kehormatan dan Harga Diri adalah Sesuatu yang Diwariskan

Dengan demikian (dengan mempelajari bab nikah secara komprehensif) segala kekurangan, kesalahan dan aib yang didapati selama masa ta’aruf tidak disebarluaskan dan mencederai kehormatan dan harga diri seorang muslim. Sebab kehormatan adalah sesuatu yang diwariskan.

Asas Keridhaan Para Pihak yang Terlibat

Dalam Islam tidak ada paksaan dalam ranah privat/ muamalah, semua berdasar kepada asas keridhaan para pihak yang berkepentingan/ yang bermuamalah.

Take It or Leave It

Sementara itu dalam terminologi asing dikenal “Take It or Leave It.” Olehkarenanya hendaklah seseorang itu tidak memaksa orang lain untuk terikat dalam suatu perjanjian/ akad yang dia tidak menghendakinya/ yang baginya tidak memberi manfaat/ tidak banyak memberi manfaat.

Footnote:

[1] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, (Jakarta: Maktabah Mu’Awiyah bin Abi Sufyan, cetakan ke-tiga 1436 H/ 2015 M), hal. 142.

[2] Ibid, hal. 161.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Hadiah Taaruf Tata Cara Muslim

Contoh CV Taaruf Akhwat yang Baik

Apresiasi bagi pemuda yang Hijrah fi Sabilillah

Ukhti Fillah, Semangat Hijrah fi Sabilillah pada waktu sekarang ini (1439 H/ 2018 M) telah nampak dari determinasi pelajar muslim usia remaja maupun pemuda (dewasa) dengan keberadaan mereka memadati tempat-tempat kajian ilmiah/ Dakwah Sunnah/ Dakwah Tauhid/ Dakwah Salaf.

Walaupun belum mencapai angka mayoritas pemuda/ pelajar (di Indonesia), hal ini perlu diapresiasi dengan baik sebab para pemuda yang saat ini telah mengenal Dakwah Sunnah dapat berpotensi sebagai asbab pembuka jalan (hidayah) bagi anggota keluarganya, serta teman-teman pergaulannya yang lain untuk turut dalam langkah ketaatan yakni hidup sesuai dengan pedoman sunnah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, bi-idznillah.

Tanda Kecerdasan Seorang Wanita Beragama Islam

Hidup sesuai Sunnah juga berarti memilih dengan siapa seseorang itu akan menjalani kehidupan berumah tangganya kelak. Hal ini  berdasar sabda Nabi صلى الله عليه وسلم mengenai seseorang yang baik agama dan akhlaqnya. Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَحُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِنْ لَا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

Terjemah,

Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang agama dan akhlaqnya kamu ridhai, maka nikahkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. — Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, nomor 270. — Lafazh ini dinukil dari: Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, Pustaka Ibnu ‘Umar hal. 16 .

Dengan siapa aku menikah?

Memikirkan “Dengan siapa aku akan menikah?” bukanlah hal yang tercela dan memalukan, justru hal tersebut merupakan ciri tanda baiknya keimanan dan tanda kecerdasan seorang muslimah dalam beragama.

Haram menikah dengan lelaki kafir dan musyrik, bagaimana maksudnya?

Haram hukumnya seorang wanita beragama Islam menikah dengan laki-laki kafir dan-atau musyrik.”[1]

Allah عزَ وجل berfirman,

وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Terjemah,

“… Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 221.

Tafsir,

“… Jangan pula menikahkan wanita-wanita kalian yang beriman, baik yang berstatus budak maupun merdeka, dengan para laki-laki musyrik sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (masuk Islam). Ketahuilah bahwa seorang budak laki-laki yang beriman itu, sekalipun miskin, lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia itu mengagumkan kalian. Mereka yang memiliki karakter syirik itu, baik laki-laki maupun perempuan; semuanya menyeru setiap orang yang bergaul dengan mereka kepada sesuatu yang membawanya kepada Neraka. Sedangkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ menyeru para hamba-Nya kepada Din-Nya (Agama-Nya) yang benar, yang akan mengantarkan mereka ke Surga dan kepada pengampunan dosa-dosa mereka dengan seizin-Nya. Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum ketetapan-Nya kepada umat manusia agar mereka selalu ingat serta mengambil pelajaran.”[2]

Apakah seorang muslimah (wanita beragama Islam) itu hendak hidup dengan seseorang yang memperhatikan urusan akhirat, atau justru menghabiskan waktu hidup di dunia yang betapa singkat ini dengan orang yang melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, seorang suami, seorang ayah, seorang pemimpin rumah tangga.

Padahal kehidupan dunia hanyalah sarana menuju kehidupan akhirat yang kekal, yang niscaya dimintai pertanggungjawabannya, apakah Neraka atau Jannah (nama surga) sebagai jawabannya?

Menikah dengan seorang muslim yang memahami dan mengamalkan Agama

Di antara tanda-tanda bagusnya keimanan seorang lelaki dapat dilihat apakah dirinya senantiasa menjaga shalat berjama’ah di masjid, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,

إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِالْإِيْمَانِ

“Jika kalian melihat seorang laki-laki yang bolak-balik ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman.”[3]

Selain itu dirinya (lelaki muslim) tidak memiliki pemahaman aqidah yang menyimpang seperti syi’ah, mu’tazilah, neo-mu’tazilah (seperti kelompok hizbuttahrir), khawarij (hizbuttahrir), pluralis (kelompok yang menganggap bahwa semua agama baik), ahmadiyah dan selainnya. Memiliki loyalitas (wala’) yang tinggi terhadap agama dan orang-orang mukmin, dirinya tidak mencintai orang kafir, tidak tasyabbuh/ meniru-niru adat jahiliyah dan kaum kuffar seperti merayakan valentine, hari-hari besar wathaniyah, tahun baru, ulang tahun, turun ke jalan-jalan untuk demonstrasi, “aksi bela”, dan seterusnya.[4]

Membuat CV Taaruf Akhwat Dengan Baik

Oleh sebab itu hendaklah seorang muslimah berusaha untuk benar-benar Hijrah fi Sabilillah dengan niat yang ikhlas semata karena Allah عزَ وجل dan dengan cara mutaba’ah yakni berpedoman kepada Sunnah yang Shahih. Adapun ihwal pernikahan, hendaklah kaum muslimin berusaha mencari pasangan hidup yang terbaik sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan syara’ dan dengan cara-cara yang dibenarkan dalam syari’at Islam yakni dengan: taaruf nazhor, khitbah (melamar), nikah, nikah hingga walimah dan berumah tangga dengan niat ibadah.

Mengapa harus memahami adab-adab muamalah secara menyeluruh?

Menjalani ta’aruf bukan semata mengetahui makna terminologi, akan tetapi seseorang itu, baik lelaki maupun wanita beragama Islam, perlu memadati ruang ilmiahnya dengan pengetahuan adab-adab muamalah hingga adab dalam menyelesaikan sengketa. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi ta’aruf itu tidak berjalan dengan baik apabila salah satu di antara keduanya, laki-laki maupun wanita, menafikan adab-adab dalam bermuamalah. Misal bertutur kata yang kasar, tajassus, namimah, ghibah, dusta, banyak berjanji, hingga membuka aib sendiri di masa lalu, dan seterusnya, wal-‘iyadzu-billah.

Bagi seorang wanita untuk mendukung proses taaruf, maka hal itu dapat diusahakan dengan jalan membuat CV Taaruf Akhwat.

Apa Saja yang Harus Ditulis dalam CV Taaruf Akhwat?

Secara umum, dalam penulisan CV Taaruf Akhwat, tidak ada perbedaan antara bagian-bagian utama yang disusun dan diisi dalam CV Taaruf Ikhwan. Keduanya perlu diisi dengan lengkap serta dengan mempertimbangkan beberapa aspek berikut:

  • Jujur tidak melebih-lebihkan;
  • Tata bahasa yang baik sehingga mudah dipahami oleh pihak yang membaca;
  • Konsistensi antara satu bagian dengan bagian yang lain;
  • Menulis dengan susunan kalimat yang singkat bukanlah suatu kesalahan, akan tetapi hendaknya jelas dan tidak menimbulkan mispersepsi;
  • Menulis capaian akademis tidak sama dengan menyombongkan diri, maka hendaklah menggunakan tata bahasa yang sifatnya lini-masa saja, berdasar time-line. Tidak perlu ditulis dalam pargraf deskriptif dengan kalimat-kalimat yang menjelaskan “Bagaimana hal itu terjadi?”, “Mengapa hal itu terjadi?”.

Bolehkah Mempercantik Diri Sebelum Difoto?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, maka sepatutnya dikaji terlebih dahulu publikasi yang berjudul Hukum Mempercantik Diri.

Bagian-bagian Utama dalam CV Taaruf Akhwat

Setelah memahami beberapa permasalahan di atas, saudari dapat menyiapkan dokumen dengan menyusun bagian-bagian utama seperti di bawah ini:

  • Profil: Nama lengkap, Nomor telepon, Manhaj, Anak ke, Alamat tinggal, Provinsi, Kota kelahiran, Status nikah, Suku;
  • Gambaran Fisik: Bentuk Fisik, Warna Kulit, Tipe Rambut, Warna Rambut, Warna Mata, Cacat Fisik (apabila ada), Tinggi Badan, Berat Badan, Olahraga Digemari, Riwayat Penyakit, Ciri Khas / Tanda Lahir;
  • Latar Pendidikan;
  • Gambaran Pribadi: Moto, Target Hidup, Hobi, Kegiatan Diwaktu Luang, Hal Disukai, Sifat Positif, Sifat Negatif;
  • Pengalaman Pekerjaan dan-atu Organisasi;
  • Persiapan Pernikahan: Persiapan Finansial, Jangka Waktu yang Dibutuhkan Sebelum Menikah, Visi & Misi pernikahan, Ilmu Mengenai Pernikahan;
  • Kriteria Pasangan: Kriteria Fisik (Bentuk Fisik, Warna Kulit, Tipe Rambut, Warna Rambut, Warna Mata, Cacat Fisik (menerima cacat fisik atau tidak), Tinggi Badan, Berat Badan, Riwayat Penyakit, Ciri Khas / Tanda Lahir) dan Kriteria Non-Fisik (Usia, Domisili, Suku (dapat ditulis “Suku: Tidak Membatasi” ), Pendidikan, Status Pernikahan (dapat ditulis “Status Pernikahan: Belum Pernah Menikah.” ), Sifat, Lain-Lain (dapat ditulis “Lain-Lain: Tidak Suka dengan Lelaki Perokok”));
  • Harapan-Harapan: Sumber Dana Acara Pernikahan, Gambaran Acara Pernikahan, Keturunan dan Pendidikan Anak, Target Jangka Pendek, serta Target Jangka Panjang.

Bagian-bagian CV Taaruf Akhwat di atas, diadaptasi dari form isian Biodata Taaruf Mawaddah Indonesia.

Download Contoh CV Taaruf Akhwat

Untuk memudahkan dalam membuat CV Ta’aruf Akhwat, ukhti dapat mengunduh Contoh CV Ta’aruf yang dibuat oleh temanshalih.com. Bagian-bagiannya dapat disesuaikan/ dirubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu baik ikhwan atau akhwat.

Grup WhatsApp Akhwat (2019)

Gabung di grup WhatsApp temanshalih.com untuk memperoleh update informasi.

Footnote:

[1] Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, (Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar), hal. 14. Lihat juga Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, (Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 1436 H/ 2015 M), hal. 75.

[2] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd, Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar, (Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group, 1437 H/ 2016 M), hal. 35. Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

[3] At-Tirmidzi, beliau mengatakan, “Hadits hasan gharib.”

[4] Dinukil secara makna dari Abu Muhammad Ibnu SHalih bin Hasbullah, Sejak Memilih Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah, (Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar), hal. 15-16.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Taaruf Tata Cara Muslim

Macam-Macam Karakter Orang yang Mengikuti Program Ta’aruf Online

Bagi teman-teman yang belum terbiasa dengan platform Taaruf Online, saat ini dapat segera mendaftar dan menentukan sendiri kriteria calon pasangan hidup sesuai dengan kriteria masing-masing dan membaca panduannya [fa size=”13px” icon=”fa-external-link-square”]  terlebih dahulu.

Berdasar analisa yang kami lakukan, ada 2 (dua) tipe peserta taaruf online apabila dilihat dari konten biodata taaruf yang diisi:

[list icon=”fa-check-square”]

  • Pertama, mereka (ikhwan dan akhwat) yang menulis biodata dengan lengkap dan terperinci;
  • Kedua, mereka yang menulis biodata dengan singkat, namun ini tidak berarti jelas dan padat.

[/list]

Karakter pertama adalah orang yang lebih banyak mendengarkan, meneliti, daripada bertanya. Sementara karakter kedua adalah orang yang lebih banyak bertanya daripada membaca (biodata taaruf pasangannya).

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

Bertanya bukanlah hal yang salah, ia adalah cara  untuk mengetahui sesuatu yang belum nampak atau sesuatu yang ingin dipahami lebih jauh. Terlebih pertanyaan itu diajukan dengan tata bahasa yang baik, maka ini lah cerminan seorang muslim yang beradab. Akan tetapi, hendaklah seseorang itu tidak banyak bertanya ihwal yang sudah tertulis dalam biodata taaruf pasangannya. Bagi sebagian orang (yang ditanya), sikap seperti ini masih dapat dimaklumi dan dimaafkan.

Akan tetapi apabila pihak yang bertanya sering menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah ditulis dalam biodata taaruf, hal ini berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Hal yang demikian itu juga mencerminkan sikap kurang perhatian. Padahal untuk melakukan suatu pembuktian yang besar seseorang itu harus memulai dari langkah yang paling dasar, yakni: mengetahui, memahami karakter, serta memperhatikan seseorang yang kelak akan menjadi pasangan hidupnya.

Terutama memperhatikan kebaikan Agama yang ada pada dirinya. Sebab ini lah penentu akhir. Khitbah (melamar), atau Cari yang Lain.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer