Categories
Syair Arab

Syair Arab tentang Teman Dekat

Syair Arab tentang teman dekat: Untuk mengenal seseorang, maka dapat dilakukan dengan jalan mengetahui dengan siapa dirinya berteman. Sebab keberadaan teman dekat akan sangat mempengaruhi seseorang dalam kehidupannya.

Mutiara Hadits mengenai Teman Dekat

Dari Abu Hurairah رضى الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman. – Hasan (Al-Albani): Abu Dawud no. 4833 (كتاب الأدب).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

اَلْمَرْءُ عَلَىٰ دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung dari Agama sahabat karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat karib. – Hasan: Abu Dawud no. 4833, at-Tirmidzi no. 2378.

Jelang 1 Ramadhan 1441 H (April 2020 M), Sambut Lailatul Qadar: Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih.

Syair Arab mengenai Teman Dekat

Juga dikenal sebuah perkataan,

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ
فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

Janganlah kau tanya mengenai seseorang, akan tetapi tanyalah tentang teman dekatnya,
Karena setiap teman dekat mengikuti orang yang dijadikan teman dekatnya.

Shafiyyuddin Al-Huliy berkata dalam sya’irnya,

لِــقَاءُ النَّــاسِ لَيْــسَ يُــفِيْدُ شَيْئًــا
سِــوَى الْــهَــذَيَــانِ مِــنْ قِــيْــلٍ وَقَــالِ
فَــأَقْــلِــلْ مِــنْ لِــقَــاءِ النَّــاسِ إِلَّا
لِأَخْــذِ الْــعِــلْــمِ أوْ إِصْــلَاحِ حَــالِ

Berkumpul dengan manusia tidak ada manfaatnya,
Selain berbicara tak karuan dan desas-desus,
Maka sedikitkanlah berkumpul dengan manusia,
Kecuali jika untuk menuntut ilmu dan memperbaiki keadaan.

Artinya seseorang itu harus benar-benar selektif dalam berteman dan memilih teman dekat serta harus serius dalam menyaring mereka. Dapat diungkapkan dalam sebuah analogi bahwa tatkala seseorang hendak membeli sepatu yang akan dia pergunakan sebagai alas kaki untuk menginjak tanah dan kotoran, menjaga dari benda-benda yang dapat melukai, dirinya sudah barang tentu akan mengamati sepatu-sepatu tersebut secara silih berganti. Hingga pandangannya tertuju kepada sepatu yang menarik perhatiannya dan dia merasa cocok dengannya. Bukankah memilih teman jauh lebih penting daripada itu?

Sesungguhnya teman dekat dan sahabat memiliki pengaruh mendalam bagi seseorang, apalagi bila teman tersebut memiliki kepribadian yang kuat dan memiliki sifat berkualitas, maka sangat cepat mempengaruhi pikiran dan perilakunya, dan menjadi duplikatnya.

Olehkarenanya saudara dapat mengetahui lebih lanjut ihwal asas dalam memilih teman.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Adab;
  • Dr. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qadhi. 1437 H/ 2016 M. Kiat-Kiat Untuk Tetap Istiqamah. Jakarta: Darul Haq. Buku terjemah dari judul asli: Al-Istiqamah wa ats-Tsabat.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1435 H/ 2014 M. Waktumu Dihabiskan Untuk Apa. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Syair Arab

Syair Arab: Berilmu Sebelum Berucap dan Beramal

Berilmu Sebelum Berucap dan Beramal: Dalam bukunya, Zindiq (Munafiq) Madrasah Orientalis atau Yahudi Gaya Baru , Ustdaz Abdul Hakim bin Amir Abdat menuturkan bahwa,

Syair Arab Berilmu Sebelum Berucap dan Beramal

Dengan sebab ilmu, maka kita akan beragama bukan dengan kejahilan. Akan tetapi dengan Hujjah dan alasan. Karena Islam telah mendasari segala sesuatunya dengan ilmu sebagaimana kaidah yang telah disepakati, yaitu:

العلم قبل القول والعمل

Ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat.

Syair arab tersebut mengingatkan setiap orang yang membaca dan mengetahuinya, bahwa betapa besar kebutuhan seseorang terhadap ilmu sebelum dirinya berbicara dan-atau melakukan sesuatu.

Sebab seseorang yang berbuat tanpa dasar ilmu, lebih banyak melakukan kesalahan dan kerusakan.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dinukil dari Abdul Hakim bin Amir Abdat. 1431 H/ 2010 M. Zindiq (Munafiq) Madrasah Orientalis atau Yahudi Gaya Baru. Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Syair Arab

Sya’ir Arab: Usia Sebuah Kedustaan

Sya’ir Arab

وَمَهْمَاتَكُنْ عِنْدَ امْرِئٍ مِنْ خَلِيْقَةٍ
وَإِنْ خَالَهَا تَخْفَى عَلَى النَّاسِ تُعْلَمُ

Apapun akhlaq yang terdapat pada diri seseorang.
Meskipun dia sembunyikan dari manusia pasti akan ketahuan juga.

Demikianlah sya’ir Arab tentang dusta, oleh sebab itu hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa jujur adalah merupakan tanda kewibawaan, kemuliaan jiwa, kebersihan hati, ketinggian cita-cita, kuatnya akal, kecintaan antar sesama, senangnya kebersamaan, dan penjagaan terhadap Din (Agama). Oleh karena inilah kejujuran menjadi Fardhu ‘Ain (kewajiban bagi setiap manusia), maka alangkah meruginya orang yang tidak memilikinya, dan barangsiapa yang tidak jujur, maka berarti dia telah mengotori jiwa dan ilmunya dengan penyakit.

Jika dengan kedustaan seseorang itu dapat berhasil, maka tentunya dengan kejujuran akan lebih menjamin keberhasilan.

Dan kebohongan (dusta) itu tidak akan berlangsung lama, karena dengan cepat akan terungkaplah kebohongannya.

Jika seseorang takut bahwa dengan berkata jujur itu akan membahayakan dirinya, maka hendaknya dia bersabar.

Sebab sesungguhnya kejujuran itu menghantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan menghantarkan ke Surga.

Dan jika seseorang selalu berbuat jujur, maka Allāh عَزَّ وَجَلَّ akan mencatat disisi-Nya bahwa dia adalah seorang yang jujur.

Catatan Penting:

Juga dikenal istilah (الصديق); Ash-Shiddiq, yakni seseorang yang membenarkan perkataan dengan perbuatan.

Diintisarikan dari:

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1426 H/ 2005 M), hal. 193. — Edisi terjemah bahasa Indonesia dari judul asli: Syarh Hilyah Thālibil ‘Ilmi; (شرح حلية طالب العلم).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer