Categories
Kabar Perlindungan Konsumen

Tashwir dalam Publikasi Digital | Perlindungan Konsumen

Hendaklah seorang muslim/ setiap orang/ badan usaha hukum serta badan usaha non hukum memperhatikan nash-nash berikut, yang berkenaan dengan Tashwir (lukisan atau gambar makhluk hidup bernyawa: manusia dan hewan), tatkala menentukan konten yang dimuat dalam publikasi digital maupun cetak.

Nash Kitabullāh

Allāh عزَ وجل berfirman,

‎إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا

“Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allāh dan Rasul-Nya, Allāh akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan adzab yang menghinakan bagi mereka.” – Q.S. Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) [33]: 57.

Dalam At-Tafsirul Muyassaru mushaf al-Madinah an-Nabawiah dalam menafsirkan ayat ini, ditegaskan bahwa,

“Sungguh, orang-orang yang menyakiti Allāh dengan melakukan kesyirikan atau kemaksiatan lain serta menyakiti Rasulullāh dengan ucapan dan perbuatan, Allāh pasti akan menjauhkan mereka dari setiap kebaikan di dunia dan akhirat serta menyiapkan azab yang menghinakan mereka di akhirat.”

Dalam Hukum Musik & Gambar berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah (Pustaka Ibnu ‘Umar) disebutkan bahwa,

“‘Ikrimah mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang yang menggambar makhluk bernyawa. – Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dalam al-Hilyah.”

Nash Hadits

Dari hadits al-‘Alā bin ‘Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah رضى الله عنه bahwa Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ يَجْمَعُ الله النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَا مَتِ فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَطَّلِعُ عَلَيْهِمْ رَبُّ الْعَلَمِيْنَ وَيَقُوْلُ أَلَا يَتبَعُ كُلُّ إنْسَانٍ مَا كَنُوْا يَعْبُدُوْنَهُ. فَيُمَثَّلُ لِصَاحِبِ الصَّلِيْبِ صَلِيْبُهُ وَلِصَاحِبِ التَّصَاوِيْرِ تَصَا وِيرُهُ وَلِصَاحِبِ النَّارِ نَارُهُ فَيَتْبَعُوْنَ مَا كَنُوْا يَعْبُدُوْنَ

“Allāh mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat di satu tanah datar. Kemudian Allāh Rabb semesta alam menghadap kepada mereka seraya berfirman: ‘Setiap manusia hendaklah mengikuti sesembahan mereka di dunia’. Maka salib dijelmakan untuk para penyembah salib. Gambar pun dijelmakan untuk para penyembah gambar. Dan api pun dijelmakan bagi para penyembah api. Lalu mereka pun mengikuti apa yang mereka sembah.” — at-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih.

Dalam ash-Shahīhaīn (al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, ia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa).” — Hadits Muttafaq ‘Alaih (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما dia berkata: Aku mendengar Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِيْ الدُّنْيَا كُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَا فِخٍ

“Barangsiapa menggambar suatu gambar di dunia, maka (pada hari kiamat) dia akan dibebankan untuk meniupkan ruh kedalam gambar itu, sementara dia tidak akan mampu meniupkannya.” — Hadits Muttafaq ‘Alaih. — Pustaka Ibnu ‘Umar, Hukum Musik & Gambar berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Pustaka Ibnu ‘Umar : 1436 H/ 2015 M), hlm. 23.

Dalam riwayat yang lain,

‎كُلُّ مُصَوِّرٍ فِى النَّارِ يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِيْ جَهَنَّمَ

“Setiap tukang gambar berada di Neraka. Allāh mewujudkan setiap gambar yang digambar oleh si tukang gambar, lalu penampakan gambar-gambar itu menyiksanya di neraka jahannam.” — Pustaka Ibnu ‘Umar, Hukum Musik & Gambar berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Pustaka Ibnu ‘Umar : 1436 H/ 2015 M), hlm. 24.

Sebagaimana juga ditegaskan dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah al-Ifta nomor 18828 bahwa Membuat lukisan dan gambar dalam memberikan pendidikan Agama serta penafsiran Kitabullāh dan Hadits bukanlah metode yang dikehendaki Syara’ (Agama). Begitu juga dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 2 Juni tahun 1988.

Konklusi

Oleh karenanya dapat dimengerti bahwa kaum Muslimin adalah objek dakwah yang dilindungi secara hukum. Maka hendaklah para pembuat konten kreatif (orang/ badan usaha hukum serta badan usaha non hukum) memperhatikan betul asas-asas yang berlaku dalam hukum Islam serta-secara khusus nash-nash yang menunjukkan keharaman Tashwir sebagaimana telah dinukil di atas.

Hal tersebut juga berarti setiap orang yang membuat konten kreatif dituntut untuk memiliki wawasan yang baik atas perundang-undangan nasional, secara khusus Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU PK) pasal 7 huruf b, “memberikan informasi yang benar” serta mengetahui bahwa perbuatan tersebut, Tashwir, adalah perbuatan yang dilarang berdasar Undang-Undang Republik Indomesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 dan 28, “berita bohong dan menyesatkan”.

Sehingga tidak ada lagi alasan ketidaktahuan dan ketidaksengajaan yang dijadikan dalih oleh setiap orang/ badan usaha pembuat konten kreatif tatkala mereka membuat dan-atau menyebarluaskan publikasi yang mengandung konten terlarang yakni Tashwir (lukisan/ gambar makhluk hidup bernyawa: manusia dan hewan).

Catatan Penting

[ads script=”1″ ]

Adapun pelarangan Tashwir disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yakni:

[1] Sebagai bentuk Bara’ah (berlepas diri/ antipati) terhadap kaum kuffar [fa size=”13px” icon=”fa-link”], musyrikin dan ahlu bid’ah dalam menjalani kehidupan Agama dan keduniaan;

[2] Memenuhi asas “laa dharara wa laa dhirara/ menghindari perbuatan yang dapat membahayakan” serta asas “sadd az-zari’ah/ preventif ” dari regresi dan dekonstruksi Tauhid dan Aqidah yang disebabkan oleh Tashwir;

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Perlindungan Konsumen

Sampah Dakwah Visual | Perlindungan Konsumen

Sampah Dakwah Visual: Mengingat terminologi “Sampah Visual” yang digagas dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Sekolah Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta [fa size=”13px” icon=”fa-link”]Dr. Sumbo Tinarbuko, M.Sn [fa size=”13px” icon=”fa-link”], yang berbicara ihwal iklan luar ruang, nampaknya dapat diadopsi kedalam ranah media sosial.

Hal ini tidak lain mengetahui bahwa ruang dunia maya secara khusus media sosial tengah mengalami peningkatan kuantitatif atas ragam publikasi visual edukasi agama yang bersifat prematur konsep. Atau lebih jauh dapat dikatakan termasuk kedalam publikasi yang mengandung konten menyesatkan dalam edukasi agama.

Para pembuat konten (yakni desainer grafis/ pendakwah visual) dalam dakwah visual notabene memiliki kompetensi teknis yang kampiun dalam proses produksi hingga finishing, didukung dengan skill ilustrasi, fotografi, tipografi, vector art, digital imaging (photo manipulation), hingga kombinasi antara hal-hal tersebut, yang pada akhirnya menghasilkan karya desain grafis dan-atau digital art yang ciamik, hingga dapat menarik perhatian orang yang meliatnya serta mengundang decak kagum.

Siapa Saja?

Apabila secara khusus menyoroti konten pendidikan Agama Islam (Tarbiah Islam/ edukasi agama) maka saat ini tidak terhitung eksistensi pendakwah visual atau desainer grafis “religi”. Baik perorangan, komunitas hingga badan/ lembaga institusi yang mereka terus meningkatkan produktifitasnya dalam publikasi digital.

Namun sayangnya kreatifitas dakwah visual tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas, padahal konsumen (dalam hal ini masyarakat muslim) memiliki kebutuhan yang tinggi akan publikasi informatif serta syarat akan nilai-nilai ilmiah dan kebenaran berdasar timbangan yang pasti yakni Al-Qur’an dan Sunnah serta Metode Salaf.

Bicara soal kualitas desain dalam mimbar digital ia bukan hanya terbatas pada tampilan visual yang menarik, dahsyat, mengundang decak kagum, menarik ribuan jempol biru, bukan hanya itu. Namun juga sepatutnya ditinjau kembali, apakah konten yang dimuat dalam tampilam visual dimaksud telah sesuai dengan ketentuan syara‘ (Agama) dalam menyampaikan pendidikan Islam.

Hal ini disebabkan tingkat kematangan yang berbeda-beda yang dikuasai oleh pendakwah visual/ para desainer grafis “religi” dalam tahap penyusunan konsep desain.

Disiplin Ilmu yang Bersifat Cross-Disciplinary Knowledge

Padahal Desain Grafis secara khusus Desain Komunikasi Visual (DKV) adalah sebuah disiplin ilmu yang bersifat Cross-Disclipinary Knowledge, hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Guru Besar DKV, Yongky Safanayong dalam bukunya Desain Komunikasi Visual Terpadu.

Artinya selain memiliki kecakapan dalam ranah teknis, seorang pendakwah visual/ desainer grafis “religi” yang membuat konten publikasi digital edukasi Agama Islam (Tarbiah Islam) juga dituntut untuk memahami secara totalitas materi/ permasalahan yang dituangkan dalam hasil karya desainnya dan juga dituntut untuk mempelajari disiplin ilmu lainnya.

Analisa Substantif

Misal seorang desainer grafis yang membuat publikasi edukasi agama, atau meminjam terminologi yang mereka buat sendiri sebagai “Dakwah Visual”, maka sepatutnya dia melakukan analisa mendasar seperti:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Apakah dirinya memiliki kompetensi dalam mengangkat masalah yang dituangkan dalam publikasi digital yakni mengetahui istidlal (pendalilan) dan penjelasannya sesuai Manhaj (metode/ cara) yang benar;
  • Adab dalam menukil dan menyampaikan suatu riwayat hadits;
  • Hal-hal yang dilarang/ haram dalam Islam (misal larangan melukis makhluk hidup bernyawa atau dikenal dalam terminologi barat sebagai Aniconism); serta
  • Amanah ilmiah lain dalam pendidikan Islam yang sepatutnya dipenuhi.

[/list]

Masyarakat Muslim Berhak Atas Berita yang Shah

Apabila hal tersebut tidak diindahkan oleh pendakwah visual/ Desainer Grafis “Religi”, maka masyarakat muslim konsumen publikasi digital di Indonesia secara sadar atau tidak masih berada dalam posisi yang lemah (weak bargain position) atas ekses negatif informasi yang menyesatkan, sehingga hak-hak mereka dalam memperoleh informasi dan berita yang bernilai shah (benar) masih dikesampingkan.

Olehkarenanya para pendakwah visual/ desainer grafis yang secara khusus membuat publikasi edukasi agama sepatutnya berusaha betul mengaktualisasi diri terhadap asas-asas itikad baik dan asas kehati-hatian (dalam terminologi Islam dikenal sebagai Wara’) yang terkandung dalam UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Masyarakat Muslim Dilindungi Secara Hukum

Mafhumah secara khusus masyarakat muslim adalah objek dakwah yang dilindungi secara hukum/ dilindungi oleh syari’at Islam.

Dari Abdullah bin ‘Amr Al-‘Ash رضى الله عنه: Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku walau satu ayat. — Sahih al-Bukhari nomor 3461.

Hal ini berarti seseorang itu tidak dibenarkan menyampaikan ihwal Agama kecuali dirinya dapat menjamin bahwa apa yang dia sampaikan benar-benar dari Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم dan dengan Manhaj/ metode yang dikehendaki Syara’/ Agama.

Hadits Dha’if Tidak Untuk di-Masyhur-kan

Oleh karenanya para pendakwah visual/ desainer grafis konten religi mengambil peran sebagai Problem-Resolver bukan malah menduduki peran sebagai Komunikator Kebohongan dengan turut me-masyhur-kan hadits-hadits dha’if (lemah) dan ma’udhu (palsu) melalui tampilan visual yang ciamik.

Pendakwah yang Berada di Pintu-Pintu Jahannam

Dan hendaknya para pendakwah visual/ pegiat mimbar digital membangun sikap Wara’ (yakni sikap hati-hati dalam urusan Agama) dengan jalan menumbuhkan perasaan takut (al-Khauf) kalau-kalau mereka termasuk kedalam Da’aatun (para da’i) yang dimaksud dalam sebuah hadits masyhur yang matan-nya cukup panjang, dari Hudzaifah bin Yaman. Kami nukil sebagai berikut,

… دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَحَنَّمَ…

… Para da’i yang berada di pintu-pintu Jahannam … — al-Bukhari nomor 3606, 3607, 7084 dan Muslim nomor 1847.

Dalam kitabnya, Zindiq (Munafiq) Madrasah Orientalis, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat men-syarah-kan hadits tersebut. Dia bertutur bahwa Da’aatun adalah bentuk jamak dari da’i. Mereka ini adalah orang-orang yang menyeru, menyampaikan atau berdakwah dengan dakwah yang sesat dan menyesatkan. Oleh sebab itu Nabi yang Mulia Ash-Shadiqul Masduq Shalallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan bahwa mereka berada di “Abwabi Jahannam”: “أَبْوَابِ جَحَنَّمَ”: “Pintu-pintu Jahannam.”

Sampah Dakwah Visual

Oleh sebab itu tidak berlebihan apabila karya desain grafis/ publikasi digital yang bermuatan nilai-nilai menyimpang/ menyelisihi Agama/ menyelisihi Sunnah dapat pula dikatakan sebagai “Sampah Visual Edukasi Agama” dan-atau “Sampah Dakwah Visual” yang keberadaannya patut dimusnahkan agar kaum muslimin tidak terpapar oleh ekses negatif  yang bersifat regresif dan dekonstruktif terhadap Aqidah dan Tauhid.

Dalam ash-Shahiihaiin (al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, ia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa). — Hadits Muttafaq ‘Alaih (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Kabar Perlindungan Konsumen Regional

Konsumerisme Awwam Produk Syariah | Perlindungan Konsumen

Perlindungan Konsumen Produk Syariah

Game Islami/ Software Edukasi Islam/ Game Anak Muslim

Lemahnya perlindungan atas hak-hak konsumen muslim di Indonesia realitanya disebabkan beberapa faktor internal dari sisi konsumen sendiri.

Konsumen Berpendidikan Tinggi

Setiap tahun jumlah pekerja/ pegawai lulusan Universitas dan Perguruan Tinggi di Indonesia menembus angka 2 juta orang. Berdasar naskah publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia nomor 03220.1709 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 terdapat sejumlah 2.360.206 orang, angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2016 mencapai 2.400.446 orang yang bekerja di sektor publik. Belum lagi ditambah dengan jumlah sarjana yang bekerja sebagai pegawai korporasi swasta.

Masih dalam publikasi yang sama juga ditunjukkan bahwa jumlah mahasiswa (negeri dan swasta) di bawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan mencapai total angka 5.377.106 orang.

[ads script=”3″ ]

Idealnya, dengan capaian jenjang pendidikan tinggi (Pendidikan Tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Sementara itu Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, atau institut), konsumen semestinya memiliki tingkat kesadaran yang baik dalam mengkonsumsi produk-produk komersil.

Apa yang menjadi pokok permasalahan?

Namun nyatanya hal tersebut tidak berlaku atas para sarjana (para orangtua/ para pekerja sektor publik dan swasta) yang juga merupakan konsumen software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami. Mereka tidak menyadari bahwa dalam produk yang sedang dikonsumsi terdapat nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, yang dengan nyata berpengaruh kepada keimanan dan aqidah. Yakni perbuatan menggambar/ melukis karakter para Nabi dan Rasul ‘Alaihim as-Salatu wa as-Salam.

Bisnis Software dalam Timbangan Ekonomi Islam

Bisnis Software termasuk kedalam mu’amalat yang memiliki keluangan yang besar dalam syari’at Islam guna memenuhi kebutuhan/ hajat kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada larangan bagi kaum muslimin, secara khusus pelaku usaha, dalam membuat software yang bertujuan untuk pendidikan/ edukasi, terlebih edukasi yang diusung adalah tarbiah Islam/ Game Islami yang memiliki fungsi dan tujuan untuk:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Membantu tenaga pengajar dalam proses mengajar dengan menggunakan perangkat komputer yang telah dipasang software edukasi;
  • Memberikan manfaat ilmiah bagi pengguna software edukasi melalui perangkat komputer, smartphone serta gadget lainnya;
  • Memberikan kemudahan bagi pengguna software edukasi dalam mencari sumber rujukan ilmiah;
  • Memberikan bimbingan ilmiah bagi seorang muslim sebelum beramal;
  • Tersebarnya ajaran Islam dengan daya sebar yang lebih cepat dan daya jangkau yang lebih luas dengan koneksi jaringan Internet.

[/list]

Akan tetapi keluangan dalam jual-beli software, mengambil manfaat serta tujuan ilmiah di atas tidak akan diperoleh apabila dalam software edukasi yang dibuat nyatanya mengandung konten yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, yakni terjadinya tindakan penggambaran sosok khayalan para Nabi dan Rasul ‘Alaihim as-Salatu wa as-Salam. Yang secara khusus hal ini dungkap dalam teori anikonimse atau Laa Tashwiir.

[ads script=”3″ ]

[line]

Mengapa fenomena ini dapat terjadi pada sarjana muslim di Indonesia?

Diketahui bahwa terdapat perbedaan substansial antara ilmu pengetahuan dunia/ sains dengan ilmu Agama. Perbedaan dimaksud yakni sumber pengambilannya:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Ilmu dunia bersumber dari hasil penelitian, pengamatan, eksperimen, serta pendapat-pendapat manusia/ ra’yu para pakar. Mafhum akal dan nafsu manusia disifati sebagai sesuatu yang selalu berubah; sementara itu
  • Ilmu Agama bersumber dari dua wahyu yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang memiliki ketetapan sepanjang waktu.

[/list]

Para sarjana Muslim yang kompeten dalam disiplin ilmu dunia sebagaimana dimaksud di atas, belum mengikat dirinya kepada ketentuan-ketentuan Agama secara kaffah, yang hal ini hanya akan dapat diperoleh dengan aktualisasi diri terhadap kewajiban menuntut ilmu Agama bagi setiap Mukallaf.

[ads script=”3″ ]

[line]

Apa Penyebabnya?

Dengan bersikap kontra produktif terhadap kewajiban menuntut ilmu Agama, maka tidak heran tatkala konsumen software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami juga tidak mengetahui adanya hal-hal yang dilarang dan/ atau hal-hal yang harus dipenuhi. Misal:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Larangan menggambar/ melukis makhluk hidup bernyawa. Terlebih gambar para Nabi dan Rasul ‘Alaihima Shalatu Wa Sallam serta para Shahabat Radhiy-Allaahu-Ta’aala-‘Anhum dan orang-orang Shalih Rahimahumullah yang mengikuti jalan kehidupan dan beragama mereka yang lurus;
  • Kewajiban menulis sumber rujukan (dari sisi pembuat software) sebagai bentuk tanggung jawab ‘ilmiyyah serta agar konsumen dapat menelaah lebih dalam pada rujukan ‘ilmiyyah yang ditulis.

[/list]

[ads script=”3″ ]

[line]

Tarbiyatul Aulad

Melalaikan pendidikan ilmu Agama bagi diri sendiri juga berarti melalaikan Tarbiyatul-Aulad/ pendidikan anak yang berdasar kepada nilai-nilai ajaran Islam.

Kewajiban para Sarjana, Orangtua, dan Anggota Keluarga

Sehingga menjadi maklum tatkala para sarjana, yang notabene orangtua konsumen software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami, mengabaikan barang-barang apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya atau anggota keluarganya serta pengarahan dan bimbingan mengenai bagaimana pola konsumsinya.

Rasionalitas Tidaklah Cukup

Dalam kalimat lain dapat dikemukakan bahwa rasionalitas para sarjana tidak cukup untuk menumbuhkan kesadaran dalam mengkonsumsi produk-produk syariah serta dalam memproduksi barang atau jasa (dari sisi pelaku usaha).

Oleh sebab itu para pelaku ekonomi (pelaku usaha dan komsumen akhir) perlu mengikat dirinya kepada ketentuan-ketentuan yang dikehendaki syara’. Yakni dengan menundukkan akal/ logika/ ra’yu dihadapan wahyu, atau dalam kalimat yang sederhana dapat dikatakan akal sehat adalah akal yang mendorong jiwa untuk mengerjakan perintah/ amr dan meninggalkan apa-apa yang dilarang/ nahy.

[ads script=”3″ ]

[line]

Konsumerisme Awwam Produk Syariah/ Software Edukasi Islam/ Game Islami

Apabila hal ini tetap diabaikan maka tidak berlebihan apabila penulis merumuskan sebuah terminologi yang berbunyi, “Konsumerisme Awwam Produk Syariah.”

Sikap Tercela yang Harus Dihindari dalam Mu’amalat

Sementara itu, para pelaku usaha yang memproduksi barang dan jasa syariah (software edukasi berbasis tarbiah Islam/ Game Islami) hendaknya menghindarkan diri dari sikap-sikap tercela dan perbuatan melawan hukum:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Menggunakan agama atau amalan shalih (menuntut ilmu agama) untuk memperoleh keuntungan dunia tanpa memperhatikan dan memenuhi hak-hak konsumen muslim;
  • Menggunakan istilah-istilah syar’i untuk menamai suatu produk, atau menjadikan istilah syar’i sebagai Trade Mark/ Merek Dagang padahal kontennya belum memenuhi standar mutu atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini tentunya menuntut kepedulian Otoritas dalam pre market-control (mulai dari legalitas perusahaan hingga pengesahan merek dagang yang didaftarkan oleh pelaku usaha atau korporasi) dan post market-control (pengawasan oleh Otoritas, LPKSM (Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat), serta pengawasan secara mandiri oleh konsumen akhir);
  • Membuat iklan atau mempromosikan produk dengan unsur Khidaa’ (penipuan), dengan jalan membuat gambar/ lukisan khayalan para Nabi dan Rasul ‘Alaihima Shalaatu Was-Salaam guna menarik minat konsumen akhir yang awwam terhadap persoalan Agama (ini yang menjadi pokok masalah hukum yang sedang diangkat). Hal ini merujuk kepada dalil-dalil Naqliyyah[1] yang secara tegas melarang perbuatan Tashwiir, kaidah-kaidah fiqih”[2], Fatwa yang dikeluarkan para ‘Ulama dan Lajnah Daimah[3], Fatwa MUI 2 Juni tahun 1988 mengeluarkan fatwa dengan tajuk: Hukum Memerankan Nabi/ Rasul dan Orang Suci dalam Film”[4], hingga Pasal 13 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 (UU Pers 1999) yang di dalamnya terdapat larangan (Verbod) bagi pelaku usaha untuk memuat iklan: a. “Yang berakibat merendahkan martabat suatu agama… “;
  • Menafsirkan Wahyu Al-Qur’an dan Sunnah dengan metode yang dilarang syari’at. Merujuk Nash-Nash Kitabullah dan Sunnah berkenaan dengan larangan Tashwiir, serta kaidah fiqih yang berlaku, fatwa yang serupa yang dikeluarkan Lajnah Daimah, hingga pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menentukan bahwa ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, yang mencakup: “… tafsir”.

[/list]

Berdasar hal-hal tersebut di atas dapat dimengerti bahwa kebebasan al-Bay’u; (الْبَيْعُ); jual-beli dalam Islam harus diikuti dengan kesadaran etika dan kecakapan pengetahuan hukum pelaku usaha, baik hukum Agama maupun hukum negara.

[ads script=”3″ ]

[line]

Refleksi Standar Mutu dan Kualitas

Kemudian dengan adanya peningkatan jumlah pengguna software edukasi interaktif berbasis tarbiah Islam/ Game Islami yang indikasinya dapat dilihat dari peningkatan angka unduh software dimaksud, seharusnya dapat dijadikan refleksi bagi pelaku usaha (startup/ software developer/ perusahaan e-commerce pemula) guna meningkatkan mutu produk atau setidaknya memenuhi standar mutu, memenuhi standar mutu produk syariah. Dengan terpenuhinya standar mutu, diharapkan bahwa hak-hak konsumen muslim untuk memperoleh produk ilmiah komersil yang berkualitas dan bernilai benar dapat dipenuhi, bi-idznillāh.

Footnote:

[1] Kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat nomor 57, surat An-Nuur ayat nomor 63, surat Nuh  ayat nomor 23. Hadits Qudsi, Shahih al-Bukhari bab At-Tauhiid, nomor 7559, Sunan an-Nasa’i nomor 5357, 5364, Shahih al-Bukhari nomor 2238, 5950, 5951, 6109, Shahih Muslim nomor 2107, 2108, 2109, Sunan Abi Dawud nomor 4031.

[2]( لَا ضَرَرَ وَ لَا ضِرَارَ); “Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan,” (سد الذرائع); “Tindakan preventif/ pencegahan dari jalan-jalan yang haram.”

[3] Para ‘Ulama Arab Saudi dalam al-Lajnah ad-Daimah al-Ifta (Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) juga telah mengeluarkan serangkaian fatwa mengenai pelarangan menggambar makhluk hidup bernyawa. Di antaranya yakni: Fatwa Komite Tetap, Kumpulan Kedua, Jilid pertama (akidah),التصوير, Tafsir al-Quran dengan lukisan dan gambar, Fatwa nomor 18828.

[4] Fatwa Majelis Ulama Indonesia Hukum Memerankan Nabi, Rasul dan Orang Suci Dalam Film.