Categories
Arti Kata Jihad

Arti Istisyhad

Arti Istisyhad (Mencari Syahid)

Arti istisyhad adalah mencari syahid (mati dalam berperang di jalan Allah).

Pahala bagi orang yang memohon Syahadah kepada Allah dengan tulus dari lubuk hatinya

Dari Anas bin Malik, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ طَلَبَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا أُعْطِيَهَا وَلَوْ لَمْ تُصِبْهُ ‏

Barangsiapa memohon syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan sungguh-sungguh, maka sungguh dia akan diberi pahala seperti pahala mati syahid meskipun dia tidak mati syahid. – Shahih Muslim nomor 1908 (كتاب الإمارة).

Dari Shahabat Sahl bin Hunaif رضى الله عنه, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Barangsiapa yang benar-benar memohon syahid kepada Allah dengan jujur, niscaya Allah mengantarkannya kepada derajat para Syuhada’ meskipun dia mati di atas ranjangnya. – Shahih Muslim nomor 1909 (كتاب الإمارة).

Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata,

Derajat orang yang berjihad terkadang dapat diraih oleh orang yang tidak berjihad (berperang). Bisa jadi karena niatnya yang tulus atau bisa juga disebabkan amal shalih yang menyamainya. Setelah menjelaskan bahwasanya Surga Firdaus itu dipersiapkan untuk orang-orang yang berjihad, Allah pun memerintahkan kita untuk berdo’a meminta Surga Firdaus.

Tetap memperoleh pahala walaupun mati di atas kasur

Dari Mu’adz bin Jabal رضى الله عنه, bahwasanya ia mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ سَأَلَ اللهَ الْقَتْلَ مِنْ نَفْسِهِ صَادِقًا ثُمَّ مَاتَ أَوْ قُتِلَ فَإِنَّ لَهُ أَجْرَ شَهِيدٍ

Barangsiapa yang berperang fi sabilillah (walaupun selama) jarak antara dua kali perahan susu unta* maka sungguh wajib atasnya surga. Dan barangsiapa yang meminta kematian (dalam perang) kepada Allah dengan jujur dari hatinya kemudian ia meninggal atau dibunuh maka baginya pahala seorang syahid. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi, ia menshahihkannya, juga Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim, ia berkata, “Shahih ‘ala Syarthihima”, dan Ibnu Hibban, namun ia berkata, “Dan barangsiapa yang memohon syahadah kepada Allah dengan ikhlas, maka Allah akan memberinya pahala seorang syahid meskipun ia meninggal di atas kasurnya.” (Diriwayatkan Hakim dan ia berkata, “Shahih ‘Ala Syarthihima.”) – Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud no. 2541 (كتاب الجهاد), Tirmidzi no. 1654 (كتاب فضائل الجهاد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), Nasa’i 6/25, Ibnu Majah n0. 2792 (كتاب الجهاد), Hakim 2/77 serta dishahihkan oleh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih no. 3825.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Jihad Dalam Syariat Islam (Bogor : Pustaka At-Taqwa, 1432 H/ 2011 M), hal. 269 – 270.
  • Syaikh Syarafuddin bin Khalaf ad-Dimyathi. 2010 M. Ensiklopedi Pahala. Jakarta: Pustaka As-Sunnah. hal. 485 – 487.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Kaidah dan Syarat-Syarat Jihad

Syarat Jihad: Jihad memiliki kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.[1]

Pembahasan mengenai syarat jihad ini adalah pembahasan yang sangat penting dalam jihad, yaitu mengetahui bahwa jihad disyariatkan dalam Islam dengan kaidah-kaidah dan syarat- syarat jihad yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم juga Atsar dari para Salafush Shalih.

Maka jihad di jalan Allah عزَ وجل tidak sempurna dan tidak menjadi amal shalih yang diterima di sisi Allah عزَ وجل kecuali dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat tersebut, mengikutinya dan mengamalkannya. Di antara kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang paling penting yakni (8 Syarat Jihad):

1. Jihad Harus Dibangun di Atas Dua Syarat yang Merupakan Dasar dari Setiap Amal Shalih yang Diterima, yakni Ikhlas dan Mutaba’ah

Allah عزَ وجل tidak menerima jihadnya seseorang yang berjihad kecuali dia mengikhlaskan niat hanya karena Allah عزَ وجل, dan mengharap keridhaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَلىٰ. Jika dalam jihadnya dia mengharap untuk kemaslahatan dirinya, atau menginginkan kekuasaan dan semisalnya maka jihad ini tidak diterima oleh Allah عزَ وجل.

Allah عزَ وجل juga tidak menerima jihad seseorang yang berjihad jika dia tidak mengikuti contoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam berjihad. Maka wajib bagi yang ingin berhijad di jalan allah عزَ وجل untuk melihat dan mengikuti Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, juga mengikuti petunjuk beliau dan berjalan di atas manhajnya dalam berjihad dan dalam semua ibadah.

2. Jihad Harus Sesuai dengan Maksud dan Tujuan Jihad

Harus sesuai dengan maksud dan tujuan disyariatkannya jihad, yaitu seorang muslim berjihad agar agama Islam ini tegak dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, seperti dalam hadits, bahwasanya dikatakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم,

“Wahai Rasulullah, seseorang berperang (karena ingin dikatakan) berani, seorang (lagi) berperang (karena ingin dikatakan) gagah, seorang (lagi) berperang karena riya’ (ingin dilihat orang), maka yang mana yang termasuk jihad di jalan Allah?” Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barangsiapa yang berperang (dengan tujuan) untuk menjadikan kalimat Allah yang paling tinggi, maka ia (berada) fii sabiilillaah (di jalan Allah).” – Shahih al-Bukhari nomor 7458 (كتاب التوحيد), Shahih Muslim nomor 1094 (كتاب الإمارة).

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

3. Jihad Harus dengan Ilmu

Jihad tersebut harus ditegakkan dengan ilmu dan pemahaman mengenai agama, karena jihad ini termasuk ibadah yang paling agung dan ketaatan yang paling mulia seperti yang telah disebutkan.

Suatu ibadah tidak benar jika tidak dengan ilmu dan pemahaman tentang agama, karena itulah seorang ulama Salaf berkata,

“Barangsiapa yang menyembah Allah tanpa ilmu maka apa yang dia rusakkan lebih banyak dari apa yang dia perbaiki.”

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله‎‎ berkata,

“Ilmu itu imamnya amal, dan amal mengikutinya.”

Ini jelas, bahwa niat dan amal jika tidak dengan ilmu akan menjadi kebodohan, kesesatan, dan mengikuti hawa nafsu.

Maka wajib bagi orang yang berjihad mengetahui ilmu tentang hakikat dan tujuan dari jihad, macam-macamnya dan tingkatan-tingkatannya, serta wajib juga mengetahui tentang keadaan di mana dirinya berjihad padanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله‎‎ mengatakan,

“Wajib menjadikan tolak ukur dalam perkara-perkara jihad ini kepada ahli agama yang memiliki pengalaman dalam hal dunia, tidak mengambil contoh dari ahlud-dunyaa (yang memiliki pengalaman tentang dunia) yang kebanyakan hanya melihat agama dari zhahirnya saja. Maka pendapat mereka tidak boleh diambil, dan pendapatnya ahli agama yang tidak memiliki pengalaman dalam hal dunia (juga tidak boleh dijadikan tolak ukur).”

Footnote:
[1] Dinukil dari Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله, Jihad dalam Syariat Islam, hal. 129-143.

Categories
Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Perang Hunain: Kesalahan dalam Jihad, Bangga dengan Jumlah

Perang Hunain: Jumlah yang banyak (mayoritas) dengan banyaknya dosa dan penyimpangan tidaklah bermanfaat sama sekali. Lihatlah, bagaimana para Shahabat mengalami kekalahan tatkala terjadi perang Hunain, padahal jumlah mereka sangat banyak.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

Terjemah:

“Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) dibanyak medan perang, dan (ingatlah) perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang.” – Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: ayat nomor 25.

Bergabung dengan orang-orang yang berbuat kesyirikan, bid’ah, maksiat dan kemunkaran lainnya tidak dapat menegakkan syari’at Islam dan tidak akan mengembalikan kejayaan ummat Islam.

Sumber:

[list icon=”fa-book”]

  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله. Jihad Dalam Syariat Islam. hal. 17-18.

[/list]