Categories
Intisari Cahaya Ilmu Jihad

Perang Hunain: Kesalahan dalam Jihad, Bangga dengan Jumlah

Perang Hunain: Jumlah yang banyak (mayoritas) dengan banyaknya dosa dan penyimpangan tidaklah bermanfaat sama sekali. Lihatlah, bagaimana para Shahabat mengalami kekalahan tatkala terjadi perang Hunain, padahal jumlah mereka sangat banyak.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

Terjemah:

“Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) dibanyak medan perang, dan (ingatlah) perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang.” – Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: ayat nomor 25.

Bergabung dengan orang-orang yang berbuat kesyirikan, bid’ah, maksiat dan kemunkaran lainnya tidak dapat menegakkan syari’at Islam dan tidak akan mengembalikan kejayaan ummat Islam.

Sumber:

[list icon=”fa-book”]

  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‎حفظه الله. Jihad Dalam Syariat Islam. hal. 17-18.

[/list]

Categories
Intisari Cahaya Ilmu Kaidah Fiqih

Kaidah Fiqh: Menghilangkan Madharat Didahulukan Daripada Mengambil Maslahat

Tinjauan Kaidah Fiqh: Madharat – Maslahat

Kaidah fiqh dimaksud berbunyi, “Menghilangkan ke-madharat-an lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemaslahatan.”

Lafadzh Kaidah Fiqh

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَلِحِ

Transliterasi kaidah:

Dar’ul Mafsidi Awla Min Jalbil-Masholihi.

Terjemah kaidah:

“Menghilangkan kemadharatan lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemaslahatan.”[1]

Makna Kaidah

Maksudnya adalah apabila berbenturan antara menghilangkan sebuah kemadharatan dengan yang membawa kemaslahatan dan-atau manfaat, maka didahulukan menghilangkan kemadharatan, kecuali madharat itu lebih kecil dibandingkan dengan maslahat yang akan ditimbulkan.

Dalil Kaidah

Allah عزَ وجل berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Terjemah:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. … ” – Q.S. al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 108.”[2]

Tafsir:

“Wahai kaum muslimin, janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang diibadahi oleh orang-orang musyrik –sebagai tindakan kehati-hatian- agar tidak menyebabkan mereka memaki Allah secara bodoh dan membabi buta tanpa dasar ilmu. …”[3]

Sisi pengambilan dalil dari ayat ini ibahwa memaki sesembahan orang kafir terdapat manfaat yakni merendahkan agama dan sesembahan mereka, namun tatkala maslahat itu berdampak mereka akan mencela dan memaki Allah عزَ وجل, maka Allah عزَ وجل melarang mencela sesembahan mereka.

Timbangan Maslahat dan Mafsadah

Pertama, jika mafsadahnya lebih besar disbanding maslahatnya, maka menghindari mafsadah itu dikedepankan daripada meraih kemaslahatan tersebut.

Kedua, Jika maslahatnya jauh lebih besar dibandingkan dengan mafsadah yang akan timbul, maka meraih maslahat itu lebih diutamakan daripada menghindari mafsadahnya.

Oleh karena itu jihad berperang melawan orang kafir disyariatkan, karena meskipun ada mafsadahnya yakni hilangnya harta, jiwa dan lainnya, namun maslahat menegakkan kalimat Allah عزَ وجل dimuka bumi jauh lebih utama dan lebih besar.

Ketiga, apabila Maslahat dan mafsadahnya seimbang, maka secara umum saat itu menolak mafsadah lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan yang ada.

Contoh Penerapan Kaidah

Pertama, dilarang jual beli khomr/ khamr/ minuman keras/ minuman beralkohol, babi dan lainnya meskipun ada maslahat dari sisi ekonomi (memperoleh profit/ keuntungan).

Kedua, apabila bercampur antara daging yang halal dan yang haram serta tidak dapat dipisahkan antara keduanya, maka semuanya tidak boleh dimakan, karena menolak mafasadah makan daging yang haram lebih dikedepankan daripada maslahat daging yang halal.

Ketiga, larangan membuat jendela rumah apabila dengan itu dapat membuka peluang untuk memlihat aurat tetangganya, walaupun itu (membuat jendela) ada maslahat dari sisi pembuat.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

[1] Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islam (Qowaid Fiqhiyyah), (Gresik : Pustaka al-Furqon, 1435 H/ 2013 M), hal. 101-103.

[2] Kitab Suci Al-Qur’an, surat Al-An’am, ayat nomor 108.

[3] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd, Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar, (Surakarta : YSPII & Al-Qowam Group, 1437 H/ 2016 M), hal. 141. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu

Arti ad-Dhoror dan ad-Dhiror

Memaknai ad-Dhoror dan ad-Dhiror

Pendapat Ulama’

Terdapat khilaf/ perbedaan pendapat di antara Ulama’ dalam memaknai lafdzh ad-Dhoror (الضَرَر) dan ad-Dhiror (الضِرَار).

Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu yusuf menukil pendapat Ulama’ (para ‘Alim) dalam kitabnya, Qowaid Fiqhiyyah, dia menuturkan bahwa,

al-Khusyani berkata, dhoror adalah sesuatu yang membahayakan, yang engkau dapat memetik manfaatnya akan tetapi juga membahayakan orang lain. Sedangkan dhiror adalah suatu perbuatan yang sama sekali tidak ada manfaatnya serta membahayakan orang lain.

Pendapat Lainnya

Para ‘Alim yang lain berkata bahwa makna dhoror adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain akan tetapi si pelaku tidak berbuat suatu hal yang membahayakan dirinya. Sedangkan makna dhiror adalah berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain yang mana dia berbuat jahat kepadanya kalau hal itu tidak dilakukan untuk membela sebuah kebenaran.

Diintisarikan dari:

  • Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islam (Qowaid Fiqhiyyah), (Gresik : Pustaka al-Furqon, 1435 H/ 2013 M), hal. 86-87.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer